Bisikan Selepas Ziarah Kubur

0

MINGGU lalu aku memutuskan pergi ziarah kubur ke makam sahabat baikku. Tujuh tahun sudah ia meninggalkan alam fana ini. Aku hanya pernah sekali ziarah ke makamnya dan itu sudah lama sekali. Sampai-sampai ketika tiba di sana aku lupa posisi makamnya dimana dan harus minta bantuan orang lain untuk menunjukkan makam yang ingin aku kunjungi.

Aku merasa dijatuhi perasaan bersalah yang teramat dalam. Bila seorang sahabat, apalagi keluarga, kelak sampai melupakan posisi makamku mungkin akan terasa sakit sekali dengan ukuran sakit dunia. Tapi entahlah, di alam sana kita masih bisa merasakan sedih seperti itu atau tidak, tapi aku merasa bersalah kepada diriku sendiri.

“Kenapa tiba-tiba ziarah?” pasti ada yang bertanya begitu.

Apakah aku perlu jelaskan motif ziarah? Bukankah ziarah kubur adalah sesuatu yang dianjurkan, bahkan dalam Islam status hukumnya sunnah? Tapi baiklah, aku akan ceritakan alasannya karena memang ingin cerita saja. He..he…

Beberapa bulan setelah wafatnya almarhum sahabatku ini, berkali-kali aku bertemu dengannya dalam mimpi. Menariknya, di setiap pertemuan itu aku selalu dalam keadaan sudah paham bahwa ia sudah tidak ada di alam dunia ini tapi kami tetap ngobrol seperti biasa saja. Aku pun tidak merasa ada ketakutan walau di mimpi itu aku tahu sedang berbicara dengan ia yang telah wafat.

Mimpi ini terjadi beberapa kali. Puncaknya adalah ketika aku ada tugas keluar kota sekitar lima hari, pernah dalam satu malam aku bermimpi bertemu dengannya secara marathon nyaris sepanjang malam. Terbangun beberapa kali dengan tubuh keringat dingin, begitu tertidur lagi mimpinya bersambung seperti film berseri. Aku sama sekali tak mengerti makna apa dari mimpi itu. Tidak ada pesan khusus, hanya pertemuan dalam mimpi semata.

Mungkin ada yang almarhum belum sempat sampaikan. Jangan-jangan aku punya utang. Jangan-jangan ada tanggung jawab yang almarhum ingin aku lanjutkan. Atau, mungkinkah ada sesuatu yang harus aku tunaikan? Entahlah, lelah aku mencarinya. Aku tak punya tempat untuk menemukan jawab atau konfirmasi.

Atas pengalaman tak terjelaskan itu (aku enggan pakai istilah mistis), aku hanya mampu berikhtiar sesuai pemahaman dan kapasitasku saja. Apa itu? Tak elok bila aku elaborasi di sini, kita lewati saja. He..he…

Lantas, beberapa bulan terakhir aku mengalami hal yang sama lagi. Beberapa kali bertemu almarhum dalam mimpi. Pengalamannya masih relatif mirip, hanya ngobrol dan jalan-jalan saja di alam mimpi. Meskipun di dalam mimpi aku mahfum sedang ngobrol dengan sahabat yang telah wafat tapi sama sekali tidak ada rasa takut. Pendeknya, ini bukan mimpi buruk.

Sama seperti sebelumnya, pertemuan di alam mimpi ini tak dapat aku simpulkan maknanya. Jadi, aku putuskan saja untuk ziarah ke makam almarhum. Silaturahmi duniawi memang sudah tak bisa terwujud lagi, setidaknya aku masih punya kesempatan menunaikan ziarah. Sekaligus, aku juga ingin curhat suatu hal yang hanya “aman” bila aku lakukan dengan orang yang telah tiada. He..he..

Setelah dua bulan tertunda, akhirnya aku jadi juga ziarah kubur ke makam almarhum. Aku mengayuh sepeda sejauh 27 km menuju makamnya. Lalu kembali lagi ke rumah melewati jalan yang sama sehingga menempuh tidak kurang dari 50 km. Lumayan, sambil ziarah aku bisa olah raga sekaligus curhat yang aman.

Setelah menunggu dan mencari posisi makam lebih dari 45 menit, akhirnya aku menemukan makam almarhum. Berkecamuk perasaan yang ada di dalam dada. Terkenang lagi 7 tahun silam mengantarkannya ke sini. Aku pernah tulis selepas kepergian almarhum: Belajar Gigih dari Aden edCoustics.

Aku panjatkan doa-doa terbaik untuk almarhum. Sambil menerawang di mana kelak aku dikebumikan jika ruh telah lepas dari raga ini?

Ketika matahari tengah terik, aku pulang ke rumah. Dalam perjalanan ini aku mendapat pengalaman menarik. Mungkin bagi sebagian orang pengalaman seperti ini masuk kategori pengalaman mistis, tapi bagiku biasa saja. Beberapa kali dalam hidupku aku mengalami hal yang sama. Sebuah pengalaman seperti sedang dikucuri ilham, dibisikkan sesuatu oleh entah siapa.

Aku ingat, dulu sewaktu aku dan almarhum pernah tinggal satu kontrakan kami pernah diskusi pengalaman seperti ini. Ternyata ia juga sering mengalami pengalaman “mistis” seperti ini. Dia adalah seorang penyanyi sekaligus penulis lagu. Menurutnya, seringkali lirik dan melodi itu seolah-olah diturunkan kepadanya dari sumber yang sulit dijelaskan.

Sambil gowes santai menuju rumah, aku pun “mendengar” bisikan itu lagi. Tapi “suara bisikannya” hanya terdengar di benakku saja.

“Lanjutkanlah menulis lagu…”

Kurang lebih itu kalimat yang aku dengar berulang-ulang dengan berbagai variasinya.

Aku merasa sangat terbebani oleh “suara” ini. Memang benar, aku dan almarhum pernah punya proyek musik. Sebagian sudah aku ceritakan juga di blog ini. Tapi, posisiku hanyalah sekedar mengurusi bisnisnya semata. Sama sekali tidak masuk (dan memang tidak ingin) ke domain kreatifnya.

Aku sadar diri, aku bukanlah orang yang lahir dengan talenta musik. Nol sama sekali. Waktu sekolah dulu, ketika pelajaran seni bernyanyi aku selalu jadi siswa paling bloon. Teman-temanku sekolahku bahkan masih menyimpan memori sampai sekarang bahwa aku identik dengan siswa kucel dengan suara fals.

Aku juga tidak mahir dalam musik. Hanya bisa secuil saja bermain piano dan gitar. Sama sekali belum lanyak sebagai modal mumpuni untuk menulis lagu. Aku belum khatam memahami teori musik, bagaimana mungkin bisa menulis komposisi sendiri?

Pendeknya, aku hanya sebatas penikmat musik saja. Berkarya di bidang musik bukanlah “jalan ninjaku.”

Tapi bisikan itu semakin kencang setiap aku berusaha untuk menegasikannya. Jadi, aku biarkan saja ia terus bersuara. Sambil menikmati kayuhan sepeda dan pemandangan di sepanjang jalur pulang aku mendengarkannya tanpa membantah lagi.

Menurut si pembisik ini, aku hanya perlu sedikit belajar dan berusaha. Setidaknya sudah punya bekal menulis, tinggal meneruskan membuat komposisi musik sehingga menjadi lagu yang layak dengar. Begitu kira-kira kesimpulan rayuannya.

Baiklah, aku coba mendobrak pintu yang selama ini tak ingin aku buka yaitu wilayah kreatif musik. Tapi apa salahnya untuk dicoba bukan? Aku juga penasaran, ingin sekali menguji suara bisikan ini. Jika memang tak bisa, anggap saja memang bukan jalan ninjaku & pintunya kita tutup kembali. Tapi kalau ternyata bisa, yaa… alhamdulillah. Berarti aku salah selama ini.

Bila suatu saat nanti aku bisa menulis lagu, ini adalah cerita pendahuluannya. Tapi jika aku gagal, berarti tak semua bisikan ilham layak untuk ditindaklanjuti.

Bismillah, aku ingin memanen makna dan nada dulu.

Tujuh Pilihan Motivasi Pelari

0

MOTIVASI sangat menentukan perilaku berikutnya. Tindakan kita sehari-hari tidak dapat dilepaskan dari motivasi yang melekat dalam benak kita. Contohnya, dua orang guru yang memiliki motivasi berbeda akan menjalani profesi tersebut secara berbeda pula. Katakanlah guru yang satu memiliki motivasi dasar ingin mendermakan ilmunya dengan mendidik dan guru yang lain motivasi utamanya adalah mendapatkan penghasilan. Keduanya akan sangat berbeda menjalani profesi tersebut.

Lari pun begitu. Kita perlu menentukan motivasi yang tepat sesuai kondisi pribadi masing-masing. Terutama bagi pelari pemula, mengikuti grup lari baik klub offline maupun grup whatsapp kadang malah jadi insecure. Kita jadi merasa terintimidasi atas diskusi yang terjadi. Mereka sudah mampu melesat dengan kecepatan pelari profesional dan jarak yang membayangkannya saja kita sudah lelah sendiri.

Nah… supaya lari tetap nyaman dan sesuai kondisi kita masing-masing, berikut saya rangkum beberapa jenis motivasi yang dapat kita pilih. Teman-teman bisa memilih satu saja movitasi utama berlari. Bisa juga mengombinasikan dua atau lebih motivasi sekaligus. Tetapi sebaiknya tetap pilih satu motivasi utama sehingga kita lebih mudah mengatur kegiatan lari secara rutin.

Pilihan motivasi ini juga bisa tumbuh. Misalnya, kita sudah nyaman dengan satu motivasi utama dan ingin menaikkan level tantangan berlari. Tinggal pindah saja ke motivasi yang lebih tinggi.

Menurut dr Samuel Oetoro (pakar gizi klinis), ada tiga tujuan berlari yaitu rekreasi, kesehatan, dan prestasi. Tapi menurut saya tujuan (dapat kita sebut motivasi juga) berlari alternatifnya lebih dari tiga pilihan itu saja.

Nah… inilah tujuh motivasi berlari yang dapat teman-teman pilih berikut bagaimana menentukan perilaku berlari kita sehari-hari.

1. Prestasi

Pelari dengan motivasi prestasi tentu saja ingin meraih prestasi dalam kejuaraan lari. Kejuaraan lari banyak sekali jenisnya. Mulai dari kejuaraan profesional sampai kejuaraan amatir. Kejuaraan lari ini umumnya disebut race.

Pelari dengan motivasi ini biasanya kelas atlet, pelari elit, dan memang menargetkan di race yang ia ikuti namanya masuk ke podium dan berhak mendapat hadiah. Oleh karena itu, pelari bermotivasi prestasi harus berhitung siapa lawan tandingnya dan bagaimana agar ia bisa masuk di papan atas.

Ukuran yang dikejar pelari prestasi adalah kecepatan lari sesuai kelas jarak larinya. Ia harus mampu tiba paling cepat di garis finish. Maka, pola latihannya sangat ketat. Pelari prestasi juga umumnya dibantu banyak orang untuk mempersiapkan dirinya menjadi yang terbaik. Ia memiliki pelatih yang mampu memberikan menu latihan dan memantau perkembangannya. Pelatih juga tidak cukup satu, ada pelatih lari, pelatih kebugaran, pelatih kekuatan fisik, dan ahli gizi.

Apa manfaatnya menjadi pelari prestatif? Selain namanya masuk papan atas, pelari prestatif adalah sebuah pekerjaan profesional. Kita bisa mewakili daerah, perusahaan, atau organisasi yang bersedia membayar kita. Beberapa brand juga mungkin akan menawari kontrak sebagai brand ambassador.

2. Kompetisi

Motivasi menjadi pelari kompetitif satu jenjang di bawah pelari prestatif. Pelari di kelas ini tidak menargetkan sebagai peraih juara. Ia sudah merasa cukup jika namanya tercantum di papan atas walaupun bukan yang teratas.

Dedikasi pelari kompetitif tak kalah berat dibanding pelati prestatif. Ia harus mampu berlari dengan kecepatan jauh di atas rata-rata pelari lain yang mengikuti race. Maka, patokan target yang ia kejar juga sama dengan pelari prestatif yaitu kecepatan berlari di kelas larinya masing-masing. Sebab, hingga saat ini satu-satunya ukuran race adalah kecepatan berlari. Belum ada race yang menentukan pemenang berdasarkan harga outfit, berat badan, atau keindahan gerak larinya.

Pelari kompetitif akan memiliki training plan yang cukup ketat, walaupun tidak seketat pelari prestatif. Berlari bukanlah profesi pelari kompetitif, tapi pola latihan dan dedikasi berlarinya hampir mendekati pelari prestatif.

Jika memilih motivasi kompetisi dalam berlari, Anda harus menjadi nerd dalam berlari. Semua teknik harus dikuasasi dengan benar, disiplin mengikuti menu latihan yang cukup berat, dan mengikuti berbagai race sebagai ajang pembuktian pilihan motivasi ini.

3. Gaya Hidup

Pelari lifestyle saat ini sedang tumbuh subur. Penyebabnya adalah dalam beberapa tahun terakhir, demam olah raga berlari tengah mewabah. Banyak yang tergerak hatinya turut berlari dan berhubung masih pemula maka berlari adalah pilihan gaya hidup sehat yang patut dicoba.

Dalam dunia marketing, menjadikan sebuah produk sebagai bagian dari gaya hidup adalah strategi yang paling ampuh mendorong penjualan. Sebab, jika sudah menjadi gaya hidup maka energi untuk belanja dan menikmati produk tersebut sangat besar. Orang dengan suka rela dan bahkan kadang tanpa berpikir panjang untuk belanja jika sudah menyangkut gaya hidup. Oleh karena itu, banyak sekali brand yang menyasar kelompok pelari gaya hidup dan menyesuaikan narasi marketingnya sesuai dengan minat gaya hidup lari.

Pelari bermotif gaya hidup berlum perlu sampai pada kecepatan para pelari kompetitif, apalagi pelari prestatif. Mereka bukan lawan pelari gaya hidup. Menggunakan pendekatan kurva normal, pelari gaya hidup menempati area paling banyak. Pelari kategori ini adalah pelari yang paling banyak populasinya.

Pelari gaya hidup akan selalu mengikuti tren dalam berlari, terutama outfit lari yang tengah digandrungi banyak orang. Banyak sekali outfit yang diburu dan diperbincangkan. Sebut saja sepatu, kaus kaki, leg compressor, knee support, celana lari, runnig belt, smart watch untuk lari, vest lari, t-shirt dry fit, head-lamp, running-id, kacamata lari, buff, topi lari, bluetooth earphone, nutrition, dan banyak lagi. Semua ini seru pembahasannya dan menggoda-goda dompet untuk turut belanja. Seolah ada sugesti dengan memiliki outfit nan trendi itu lari kita tambah kencang.

Dalam race atau latihan rutin, pelari gaya hidup paling mencolok penampilannya. Segala aksesoris lari dikenakan, bahkan yang tidak penting sekalipun. Tetapi bagi pelari gaya hidup semua itu penting makanya dibeli dan dipakai. Pelari di kelas motivasi ini juga adalah pelari yang paling sadar kamera dan sehabis race biasanya paling aktif memburu fotonya. Bertanya ke panitia atau mencari sendiri ke fotografer yang bertugas.

Meskipun sangat peduli dengan penampilan saat berlari dengan segala outfit yang tengah tren, dedikasi pelari gaya hidup terbilang sangat tinggi. Mereka seperti orang yang tengah jatuh cinta pada lari dan sedang kesemsem dengan olah raga ini.

4. Rekreasi

Skill berlari pelari rekreasional dapat dibilang sebelas-duabelas dengan pelari gaya hidup. Perbedaannya hanya pada apa yang paling ia pedulikan. Jika pelari gaya hidup sangat peduli dengan tren dan outfit, pelari rekreasional lebih peduli dengan suasana lingkungan saat berlari. Makanya, pelari rekreasional umumnya adalah pelari yang lebih menyukai trail running (berlari di alam) karena lebih peduli dengan environment selama berlari.

Jika ikut race lari, pelari rekreasional menjadikan ajang lari tersebut sebagai sarana untuk menikmati suasana baru di tempat baru. Pelari dengan motivasi rekreasi ini tidak terlalu peduli dengan pace berlari mereka karena tujuannya bukan ingin jadi juara. Yang penting tidak melewati batas maksimal waktu yang diperkenankan dan bisa menikmati suasana baru sudah cukup.

Foto-foto selama berlari juga tetap penting seperti halnya pelari gaya hidup. Itu sebabnya, pelari rekreasional sebelas-duabelas dengan pelari gaya hidup. He..he..

5. Kesehatan

Pelari dengan motivasi kesehatan umumnya pelari sangat pemula. Bisa karena dianjurkan dokter untuk rutin olah raga dan lari adalah salah satu pilihan yang dokter sarankan. Bisa juga karena kesadaran sendiri ingin lebih sehat, misalnya karena terlalu gemuk, ingin bebas dari kebiasaan rokok, atau ingin hidup lebih sehat.

Saya pernah bertemu seorang kakek usia 70 tahun saat berlari. Ia bercerita rutin berlari sejak usia 50 tahun karena ingin masa tuanya selalu sehat dan tidak merepotkan anak dan cucunya. Larinya yang ringan-ringan saja, sekedar menjaga kebugaran tubuh. Tidak terlalu memaksakan diri, yang penting rutin.

Pelari dengan motivasi kesehatan umumnya tidak berlari seperti pelari-pelari lain. Pilihan geraknya lebih ke jogging (lari kecil) atau jalan. Maka, pace lari sama sekali tidak relevan bagi pelari motivasi kesehatan. Tapi jangan salah tafsir, pelari kesehatan bisa segera pindah ke kelas pelari cepat juga jika ia merasa sanggup dan tetap sehat.

Hanya saja, pelari motivasi sehat sering menghadapi kondisi dilematis. Setelah rutin berlari, ia malah sering jatuh sakit padahal motivasi awalnya adalah untuk sehat. Nah…, ini kapan-kapan kita bahas terpisah. Tapi singkatnya, pelari yang terlalu memaksakan diri cenderung rentan jatuh sakit saat menjalani rutinitas berlarinya.

5. Partisipasi

Pelari partisipatif adalah pelari musiman. Ia masih enggan berlari rutin. Motivasi ikut lari lebih dominan karena niat turut berpartisipasi. Pelari partisipatif juga akan turut serta untuk kegiatan lain.

Walaupun tidak berlatih lari secara rutin, pelari partisipatif sudah memiliki pengalaman lari sebelumnya sehingga ia berani turut berpartisipasi. Setidaknya ia berani menanggung risiko cidera otot ringan sehabis berlari.

Saya pernah menemukan beberapa pelari partisipatif ini. Ia bukan pelari rutin, tetapi kalau ada event lari yang diikuti kantor, teman seangkatan kuliah, atau race lari yang cocok diikuti keluarga ia akan turut mengaspal.

Kecepatan? Jangan terlalu berharap, sepanjang jalur lari lebih banyak berjalan dan foto-foto saja. Tapi kita perlu menaruh respect dan mendukung pelari partisipatif sebab ia sudah memiliki modal cukup besar untuk berlari rutin. Selangkah lagi ia sudah berada di jenis motivasi lainnya sehingga ia menjadi pelari yang lebih rutin dan berdedikasi.

7. Terpaksa

Pelari terpaksa tetap saya masukkan karena ternyata kategori pelari di motivasi ini cukup banyak juga. Ada yang harus lari karena sedang program bersama di kantor. Mau tidak mau harus ikut karena sang bos sedang keranjingan lari sehingga anak buahnya harus turut berlari juga. Ada juga yang dipaksa suami, istri, atau pacar untuk berlari karena pasangannya merasa ia sudah terlalu berlebih berat badan.

Pelari terpaksa juga bisa karena program belajar atau kuliah mewajibkan adanya kegiatan lari. Suka tidak suka mereka harus lari meskipun sambil mengutuk-ngutuk yang mewajibkan program ini.

Kalau Anda berada dalam situasi ini, belajar menikmati lari dulu saja. Tidak perlu dilawan, meskipun dalam hati karena sakitnya akan double. Sudahlah lelah fisik akibat lari, hati juga ikutan lelah karena merasa terpaksa.

Cara mengurangi rasa keterpaksaan ini adalah dengan banyak-banyak membaca atau menonton alasan kenapa orang banyak berlari. Jangan-jangan, dari tadinya benci lari karena dipaksa malah jadi suka.

Nah, itulah tadi tujuh motivasi pelari yang mungkin sedang kita alami. Dengan mengenali motivasi utama saat ini kita berlari, lebih mudah bagi kita menentukan bagaimana memaknai dunia perlarian ini. Kalau masih nyaman dengan motivasi rekreasional misalnya, jangan terlalu ambil hati dengan teman-teman yang tengah berada di motivasi kompetitif. Maqam yang berbeda menentukan pemaknaan kita terhadap proses yang tengah berjalan.

Terakhir, saya setuju dengan istilah “motives determine your actions.” Jadi, peluklah satu motivasi utama dalam berlari dan jalani proses berlari sesuai motivasi tersebut. Selamat berlari.

Photo credit: https://unsplash.com/@alexanderredl

Dua Musim dalam Bisnis

0

UNTUK kesekian kali, aku dengar lagi ungkapan “Kalau ingin kaya ya jadi pengusaha, jangan jadi karyawan atau PNS”.  Setiap mendengar hal ini aku merasa geli sendiri. Berapa besar sih persentase pengusaha yang benar-benar jadi kaya karena pilihan hidupnya itu? Memang aku belum punya data (masih nyari maksudnya). Tapi aku yakin, persentasenya kecil saja. Justru lebih banyak pengusaha yang masih bergelut dalam ombang-ambing untung dan rugi.

Memang, untuk memiliki harta melimpah dan sanggup beli ini itu, jalan yang paling masuk akal adalah jadi pengusaha. Tapi tentu saja dengan catatan ia pengusaha yang akumulasi keuntungannya sudah positif. Padahal, untung dan rugi dalam bisnis bagaikan musim kemarau dan musim hujan di negara tropis. Selalu datang bergantian, saling bertukar keadaan. Kalau sedang untung, alhamdulillah hati jadi senang dan pikiran tetap tenang. Tapi saat musim rugi datang, aduhai… pusingnya setengah mati.

Kondisi yang dihadapi pengusaha di “musim” rugi inilah yang jarang diketahui orang kebanyakan. Mungkin saja penyebabnya saat kita meraup untung mudah untuk terlihat dan mudah pula memperlihatkannya (pamer). Berbeda saat musim rugi melanda, kita cenderung akan menutupinya. Padahal sudah kehabisan jurus ngutang kesana kemari untuk mengamankan dana lancar.

Menurutku, kemampuan untuk tetap waras saat musim untung maupun musim rugi tiba adalah inti dari seni menjadi seorang enterpreneur. Di musim untung tetap waras untuk tidak lengah dan selalu bertindak rasional. Tidak belanja ini-itu yang tak penting. Sebab, seringkali kala kita dalam kondisi puasa panjang, saat dahaga yang sudah lama itu terbasuhkan, ada hasrat yang ikut-ikutan menggejolak.

Juga tetap waras juga ketika musim rugi menghadang. Sebab, kita tidak boleh mengajak karyawan ikut-ikutan sengsara. Seorang enterpreneur harus mau menanggung kesengsaraan itu sendirian. Nah…, kondisi inilah yang jarang diketahui oleh mereka yang belum merasakan menjadi enterpreneur.

Endurance seorang pebisnis akan terlatih saat menghadapi kedua musim ini. Apalah jadinya kalau enterpreneur cengeng saat laporan keuangan merah (rugi)? Cukuplah menangis sendiri, tapi tetap tampil tegar di hadapan semua orang.

Dalam setahun umumnya kita melewati dua musim. Sejak kecil kita sudah berdamai dengan kedua musim tersebut. Saat hujan harus rela kehujanan, bahkan kebanjiran. Bila kemarau tiba, jalanan penuh debu dan sulitnya mendapat air. Maka, dalam berbisnis kita pun harus berdamai dengan situasi ketika untung dan rugi.

Photo credit: https://unsplash.com/@worthyofelegance

Alasan Lebih Suka Menjadi Solo Runner

0

AKU termasuk pelari yang lebih nyaman lari sendirian. Tadinya sempat khawatir, “jangan-jangan preferensi lari sendirian ini adalah manifestasi dari sifatku yang sesungguhnya yaitu egois?” Aku sangat terganggu dengan hal ini. Egois tentu saja sebuah sifat yang tidak baik dan aku tidak ingin sifat itu melekat dalam diriku.

Tapi setelah beberapa kali mencoba lari sendirian dan berkelompok. Kesimpulan akhir tetap jatuh pada aku lebih suka lari sendiri. Kenapa begitu? Aku coba renungkan alasan kenapa kok lebih senang lari sendiri dibandingkan lari bersama teman-teman? Padahal aku ikut beberapa komunitas lari dan mereka senang sekali mengadakan kegiatan lari bersama. Berikut beberapa alasanku lebih suka menjadi solo runner. Ingat, ini alasan ya bukan argumentasi. Jadi bersifat tentative, sewaktu-waktu bisa berubah dan jangan didebat. He..he..

Aku tidak ingin menjadi beban.

Sebagai pelari kelas siput yang kecepatan berlarinya cenderung terseok-seok, aku selalu merasa menjadi beban bagi yang lain. Terutama bagi mereka yang sudah nyaman berlari di kecepatan jauh di atasku. Aku merasa menjadi beban mereka. Pada beberapa kesempatan lari bareng, aku merasakan hal ini. Boleh jadi aku overthinking, tapi hal itu memang aku rasakan.

Aku tidak ingin menjadi teman lari yang menyebalkan.

Nah ini kebalikan dari poin sebelumnya. Di poin ini jika ada teman lari yang lebih lambat dariku, aku jadi bingung sendiri. Apakah ia nyaman kalau aku memperlambat kecepatan dan mengikuti kecepatannya? Atau lebih baik aku lari lebih awal dan menunggu di beberapa titik tertentu supaya bisa bareng lagi?

Kombinasi membingungkan.

Dua hal bertolak belakang di poin 1 dan 2 tersebut membuatku bingung. Mungkin bagi kebanyakan orang ini tidak masalah, tapi terus terang aku tetap memikirkannya. Either menjadi yang lebih lambat ataupun lebih cepat, keduanya membingungkanku.

Aku menikmati perjalan sendirian.

Munkin karena pada dasarnya aku lebih dominan introvert, dalam berlari aku jauh lebih dapat menikmati jalur perlarian ketika sendiri. Aku sering berhenti saat melihat view yang menarik untuk mengambil foto atau sekedar mengamati. Hal ini tentu aneh kalau aku lakukan saat berlari bersama teman-teman. Bisa saja sih berhenti bareng-bareng, tapi perhatianku terhadap beberapa view menarik berbeda dengan preferensi kebanyakan orang. Misal, setiap lari dan ketemu anjing kampung aku selalu berhenti. Nah… ini kan aneh buat kebanyakan orang yang justru menghindari anjing.

Lari solo memungkinkanku untuk berlari nyaman karena hanya mempertimbangkan kondisi sendiri.

Dalam berlari ada kalanya tubuh kita sedang dalam kondisi prima sehingga enak sekali diajak berlari. Setelah beberapa kilometer, kondisi tubuh cenderung melemah–meskipun nanti prima kembali. Jika berlari sendiri, aku bisa mengatur kapan harus memacu, kapan santai saja, kapan diubah menjadi mode berjalan, atau bahkan kapan harus istirahat. Semuanya sangat tergantung pada situasi sendiri. Ini berbeda kalau berlari bersama orang lain, situasi keprimaan tubuh setiap orang berbeda meskipun sedang berlari bersama. Misalnya, aku sedang dalam kondisi prima dan ingin memacu lari tapi teman sudah lunglai. Aku terpaksa harus menurunkan tempo supaya teman berlari tidak ketingggalan. Begitupun sebaliknya. Kembali, serba salah timbul dalam situasi seperti ini.

Pada beberapa kesempatan lari sendiri, aku sering mendapat pertanyaan sama yang diajukan oleh penjaga warung, petani yang berpapasan di jalan, atau rombongan pesepeda. Mereka selalu menanyakan “lari sendiri saja?”.

Karena sering ditanya begitu aku jadi nyadar ternyata lari sendirian itu tidak begitu lazim bagi kebanyakan orang. Padahal, aku benar-benar lebih dapat menikmati lari saat sendirian. Tapi bukan berarti aku anti lari bersama-sama ya. Ini hanya soal preferensi, mana yang lebih suka. Bukan mana yang suka dan mana yang tidak suka.

Credit photo: https://unsplash.com/@jennyhill

Lima Pil Pahit Bisnis

2

MENJADI PENGUSAHA SUKSES tentu idaman banyak orang. Uang berlimpah, harta banyak, dan hidup terjamin. Sudah kaya, terkenal pula.

Ya…, kira-kira begitulah gambaran kebanyakan orang memandang pebisnis. Di seminar-seminar bisnis kita juga akan mendapatkan imagi yang sama. Hanya pebisnis sukses yang layak mengisi seminar. Lagi pula untuk apa mengundang pebisnis “kalah”?

Padahal, semua pebisnis akan “menelan” setidaknya lima pil pahit ini. Jadi, bagi yang ingin memulai usaha, saya saran berdamailah dengan kelima pil pahit ini. Tidak semua sanggup merasakan pahitnya, itu sebabnya harus berkenalan sejak dini. Jika nanti harus menelannya, pahit itu seringkali tidak berbuah manis. Kadang malah pahit ya pahit saja. Tapi setidaknya saat harus berhadapan dan menelannya, kita sudah siap dan tidak kagetan.

1. Gagal

Saat menjalankan usaha, hampir dapat dipastikan kita akan bertemu dengan bab gagal. Kegagalan produk, gagal menang tender, gagal secara keuangan, komplain yang tak berkesudahan, dan banyak peristiwa pahit lainnya yang dapat kita kelompokkan sebagai kejadian gagal.

Gagal itu memang menyakitkan dan kadang-kadang malah traumatis. Tidak ada pengusaha yang merencanakan kegagalan, tapi bagaimanapun kegagalan tetap saja akan kita alami. Gagal itu seperti sakit flu atau demam, tak ada yang ingin tapi ketika sudah tiba masanya kita tak bisa mengelak.

Jadi kita harus berdamai dengan kemungkinan hadirnya gagal itu. Tapi tidak perlu terlalu risau. Anggap saja seperti demam yang kadang harus kita terima. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga kondisi tubuh, konsumsi makanan yang bergizi, dan berolahraga rutin. Tapi itu juga tidak menjamin kita terbebas seratus persen dari demam. Semua upaya itu hanya memperkecil kemungkinan terjadinya sakit, bukan menghilangkan semua peluang. Begitu juga dengan gagal. Bila masanya tiba, ikhlaskan saja. Mencoba berdamai dengannya sembari instropeksi diri untuk bekal perbaikan berikutnya.

2. Kas Lancar

Ada pepatah yang mengatakan “Cash is king and cash flow is queen“. Usaha kita bisa saja memiliki volume bisnis yang besar, tetapi kalau kasnya tidak lancar sang pengusahanya akan dilanda kepusingan tak terperi. Bisnis kita juga bisa saja di akhir tahun membukukan laba besar, tapi jika ada 1 minggu saja kehabisan cadangan kas bisa banyak masalah yang muncul. Vendor yang belum dibayar teriak-teriak, kita tidak bisa bayar gaji dan honor, belanja penting harus ditunda, dan segudang problem lainnya.

Oleh karena itu, dalam menjalankan usaha kita harus menaruh perhatian khusus supaya “aliran darah” berupa kas tetap tersedia. Kadang kita harus berhutang untuk menjaga aliran darah bisnis sehat. Tetapi jangan sampai terjebak utang yang tidak sehat.

Utang sehat adalah pinjaman yang membuat kita tumbuh lebih baik. Sebaliknya, utang penyakit adalah pinjaman yang kita gunakan untuk konsumsi yang sekedar menghabiskan uang. Tidak memiliki daya dongkrak untuk menumbuhkan usaha kita lebih baik. Contoh utang tidak sehat misalnya, pinjaman untuk beli kendaraan, untuk pergi jalan-jalan, untuk meningkatkan prestise gaya hidup, dan hal-hal konsumtif lainnya.

Menjaga kas lancar selalu tersedia juga bisa kita lakukan dengan menabung dan mencadangkan uang. Ia hanya dikeluarkan sewaktu kita memang sangat membutuhkan kas lancar. Kontrol penggunaannya harus seketat mungkin karena kalau tidak demikian kita akan mudah sekali kebablasan.

3. Penghianatan

Penghianatan banyak bentuknya. Mulai dari yang ekstrem sampai khianat tak terdeteksi. Tapi yang jelas, dalam menjalankan usaha kita akan bertemu dengan peristiwa-peristiwa yang dapat kita kategorikan sebagai pengkhianatan.

Spektrum pengkhianatan ini memang cukup lebar.

Mulai dari khianat kategori ringan berupa perbuatan tidak menepati janji. Kategori ini umumnya mudah saja kita maafkan.

Khianat sedang berwujud tindakan tidak setia. Kita sudah sama-sama berjanji, eh… di tengah jalan ada yang berbelok dan melanggar janji setia tersebut. Ada yang bisa berdamai dengan ini, ada pula yang bikin pusing tujuh keliling.

Lalu, penghianatan yang paling parah adalah tipu daya. Kita ditipu mentah-mentah oleh pelaku yang berkhianat. Ia sengaja berbaik-baik di awal untuk mengambil hati dan langsung “menusuk” pada saat yang tidak kita duga. Dampak dari khianat kategori berat ini cukup menggunjang. Maka, siapkanlah mental sedari awal kalau-kalau suatu saat nanti kita menghadapi kejadian pengkhiatan kadar berat ini.

4. Komplain Keras

Akan ada masanya kita mendapat komplain yang melemahkan semangat. Sudah bersusah payah mewujudkan agar produk atau jasa kita sampai di tangan konsumen, ternyata feed back yang kita peroleh adalah rasa kecewa berupa komplain keras.

Komplain biasa seperti kecewa karena terlambat, kualitas kurang memuaskan, atau pelayanan yang tidak sesuai mungkin masih dapat kita netralkan dengan mudah dan cepat. Akan tetapi, komplain yang saya maksud dalam hal ini adalah rasa kecewa kustomer yang diungkapkan dengan membawa implikasi serius terhadap bisnis kita. Beberapa contoh komplain keras yang bikin tidak bisa tidur misalnya:

  1. Ketidakpuasan yang diikuti dengan tuntutan hukum. Misalnya klien merasa dirugikan karena produk atau jasa kita tidak sesuai dengan ekspektasi mereka atau bahkan keluar dari perjanjian semula. Lalu mereka melakukan upaya hukum dengan berbagai alasan. Bisa untuk mengamankan kepentingannya, bisa juga agar kita hancur dan jera berbisnis lagi.
  2. Memasukkan perusahaan kita dalam daftar hitam sehingga bisnis terancam serius. Saya memang belum pernah menghadapi kondisi ini, tetapi teman-teman pengusaha lain sering bercerita bahwa mereka merasa tidak dalam posisi salah. Tapi tiba-tiba keluar surat pemberitahuan sudah masuk dalam perusahaan daftar hitam. Ketika masuk dalam daftar hitam ini, maka perusahaan kita akan kehilangan hampir seluruh potensi bisnis di masa mendatang. Sebab, masuk daftar hitam berarti tidak dipercaya lagi oleh seluruh entitas dalam lingkup bisnis kita.
  3. Komplain yang berujung pada persekusi di media sosial. Pada situasi ini, kita seolah masuk dalam hukum rimba dunia maya. Yang tidak puas mungkin hanya satu atau dua orang saja, tapi yang gregetan dan mencaci kita adalah netizen yang luar biasa buasnya.

5. Lilitan Utang

Dalam bisnis, utang itu ibarat pisau bermata dua. Untuk satu benda yang sama kadang berfungsi membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Di waktu lain ia malah menusuk dan bisa membunuh kita.

Sebagai pengusaha, utang harus kita jadikan sebagai sarana untuk tumbuh. Berutanglah ketika utang tersebut sudah kita pastikan akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar dibandingkan kita tidak berutang. Jangan berutang hanya karena ingin mendapatkan uang untuk membeli keinginan.

Utang menjadi jahat ketika masa untuk membayarnya sudah jatuh tempo sementara kita belum memegang uang cash untuk membayarnya. Bisa jadi karena bisnis kita sedang terpuruk atau bisa juga karena kita belum menerima pembayaran dari klien (piutang).

Kita harus punya sikap mental utang adalah utang. Utang bukan pemberian dan bukan sesuatu yang bisa kita hindari begitu saja. Utang adalah janji yang harus kita tunaikan. Utang punya dua sifat: (1) harus kembali di waktu yang tepat; (2) terdapat imbal balik yang disepakati.

Kalau kita berutang tanpa mempertimbangkan kedua sifat utang tadi, bukan tidak mungkin kita akan terjerat lilitan utang berlipat-lipat. Misalnya, demi mengamankan pengembalian satu utang kita meminjam utang lain. Istilah “dangdutnya” gali lubang tutup lubang. Inilah yang suatu saat nanti akan menjerat leher kita sebagai pengusaha. Bahkan jika jeratannya terlalu kencang, kita masuk dalam risiko bangkrut, risiko tuntutan hukum, atau bahkan risiko dicederai secara fisik.

Nah… itulah lima pil pahit yang akan kita hadapi saat memilih menjadi pengusaha. Di balik cerita manis para pengusaha sukses, kadang malah lebih banyak porsi cerita pahitnya. Hanya saja mereka tidak mengumbar terlalu banyak pengalaman mereka menelan pil pahit tersebut.

Pesan saya adalah bersiaplah menelan pil pahit tersebut. Kita bisa hindari sekuat tenaga agar tidak sampai menelannya. Tapi itu tidak lantas menjamin bahwa dalam perjalanan bisnis kita tidak menghadapi pil pahit tersebut. Bersiap pada seluruh kondisi–baik dan buruk–adalah langkah paling tepat untuk berbisnis. Tidak perlu alergi dengan seluruh pil pahit tersebut karena ia bagian dari “permainan” yang harus kita lalui. Sama halnya seperti bermain game, tantanganlah yang membuat game terasa seru.

Credit photo: https://unsplash.com/@ashkfor121

Lari: Pertarungan Berat di Pagi Hari

0

HAMBATAN TERBERAT dalam membiasakan lari adalah meneguhkan niat di pagi hari. Malam sebelumnya sudah niat untuk berlari selepas bangun pagi. Semua sudah disiapkan, pokoknya besok pagi siap berlari.

Tapi tak semudah itu ternyata fergusso. Begitu tersadar dari tidur malam sewaktu fajar mulai hadir, badan masih enak dibawa bermalasan. Lelap lagi adalah godaan terbesarnya. Meskipun malam sebelumnya sudah berniat lari, tapi situasi di pagi hari berbeda cerita. Berbagai kalkulasi mulai berdentangan di kepala. “Ah…, hari ini istirahat dulu lah. Larinya jadi besok saja,” begitu suara bergema menguasai diri.

Pagi esoknya, situasi ogah berlari tetap terulang. Kekuatan gravitasi di tempat tidur meningkat berkali lipat. Kelopak mata turut merayu untuk menunda lagi lari esok hari.

Aku yakin situasi ini pasti dialami oleh kebanyakan pelari. Terutama pelari pemula dan amatiran sepertiku. Rasanya berat sekali memulai lari, apalagi di pagi hari.

Padahal, rasa malas dan berat itu hanya ada sebelum kita mulai bergerak. Lima menit setelah berlarian perasaan bahagia karena hormon endorfin mulai membanjiri tubuh kita. Bahkan di kilometer pertama kita jadi geli sendiri mengingat-ingat sikap malas beberapa waktu sebelum berlari. Hayo para pelari, merasakan hal yang sama kan?

Hambatan memulai ini hampir sama dengan menulis. Di dunia menulis, hambatan memulai ini disebut dengan writer’s block dan di dunia belari terminologi yang dipakai hampir sama: runner’s block. Sama seperti writer’s block, hambatan itu sesungguhnya hanya ada dalam pikiran kita. Tetapi benar-benar mampu menguasai diri. Satu-satunya cara untuk mengatasi jenis hambatan seperti ini adalah menjadi lebih besar dibandingkan sang penghambat.

Maksudnya, kita harus merasa lebih kuat dulu sehingga hambatan tersebut tidak keburu menguasai diri kita sendiri. Coba ingat-ingat atau rasakan kembali, ketika menghadapi runner’s block itu kita pasti sulit sekali lepas darinya. Tapi begitu lepas, hambatan tadi seolah-olah tak berarti sama sekali. Ia hanya penghalang semu. Tapi sungguh mampu menguasai diri kita.

Runner’s block akan semakin menjadi jika lari kita jadikan sebagai kegiatan yang membebani. Harus bisa berlari di pace tertentu sebagai contoh. Sebagai pemula kita hanya sanggup berlari dengan pace 9 misalnya (9 menit untuk menempuh 1 km), sementara teman-teman kita kebanyakan sudah berlari di pace 5 atau 6. Beban terlalu besar untuk kita pikul jika ingin loncat dari pace 9 ke pace 5. Prosesnya tidak secepat dan semudah itu. Kita masih perlu menyesuaikan banyak hal. Yang penting adalah kalaupun suatu saat nanti kita bisa berlari di pace 5, maka berlari di kecepatan tersebut harus nyaman untuk tubuh kita. Yang bikin tidak nyaman adalah ingin cepat-cepat loncat dari pace bebek ke pace kijang.

Keinginan untuk menyamai jarak lari teman-teman pelari lain juga bisa menjadi penyebab menguatnya runner’s block. Bayangkan, misalnya kita baru sanggup berlari nyaman 5 kilometer dan ingin sekali lari half marathon (21 km). Percaya deh, ini adalah loncatan yang tidak sehat. Terlalu berat tubuh dan mental kita melompat dari satu beban ke beban lain dengan disparitas yang begitu besar.

Intinya, kitalah yang paling paham kadar nyaman dalam berlari. Tak perlu dulu membandingkan diri dengan orang lain. Berlari adalah tentang mengalahkan diri sendiri, bukan mengalahkan orang lain. Memang ada saatnya kita sudah pada fase layak tarung dengan orang lain. Tapi di tahap awal, jangan lakukan itu karena engkau akan trauma dengan berlari. Atau paling tidak, runner’s block yang engkau rasakan di setiap akan berlari semakin menjadi.

Kuncinya adalah mempertahankan kenyamanan. Pelari konsisten bukan tidak mengalami lagi runner’s block tetapi sudah berhasil menjadikan lari sebagai aktivitas yang nyaman dan menyenangkan. Sementara pelari kambuhan masih belum berhasil menemukan rasa nyaman tersebut.

Yuk berlari nyaman. Salam pelari siput.

Credit foto: https://unsplash.com/@ndmphotography

Utang yang Tertunda

0

ALBUM 2 edCoustic adalah proyek nekad dengan seminim mungkin perhitungan bisnis. Kalau banyak-banyak berhitung, tentu album 2 edCoustic tidak akan pernah ada. Kami melewatkan proses feasibility study karena kalau dilakukan kesimpulannya sudah jelas, album 2 edCoustic tidak feasible sama sekali dengan penghambat utama: ketersediaan dana.

Walaupun kami sudah berupaya secermat mungkin menyusun langkah kerja dan mencari solusi atas masalah keterbatasan dana di tengah perjalanan, ada hal yang masih belum kami lakukan dengan maksimal. Menurutku ini masih jadi utang besar album 2 edCoustic. Tapi saat itu aku sudah sampai titik untuk menyerah saja dengan keadaan, toh album 2 sudah kami hadirkan. Meskipun harus “berdarah” cukup serius.

Tahap promosi bisa dibilang merupakan tahapan paling banyak yang kami tinggalkan. Membuat video clip, promosi ke sana kemari untuk mendongkrak penjualan, dan berbagai rencana lain harus kami bekukan.

Aku pribadi tertohok cukup parah beberapa bulan setelah grand launching album. Bajakan lagu edCoustic sudah beredar dimana-mana, sementara penjualan album sangat memprihatinkan. Terbayang, begitu banyak uang yang sudah aku keluarkan (dengan standar saat itu) dan kemungkinan besar tidak akan kembali.

Ditambah lagi, di fase ini aku terkena tipu salah seorang yang mengaku sebagai distributor kaset. Ia membawa lebih dari 1.000 keping kaset dan tak pernah ada kejelasan apakah kaset itu terjual atau tidak. Aku merasa lelah mengurusi penjualan yang cukup menguras waktu dan emosi itu. Sebenarnya aku tidak boleh begitu karena setiap masalah harusnya ada solusinya. Tapi pengalaman berjualan retail belum pernah aku dapatkan jadi agak shock dengan situasi yang ada.

Setahun berselang sebenarnya penjualan album 2 edCoustic sudah berhasil mengembalikan seluruh dana yang aku keluarkan. Ditambah lagi di era youtube dan platform musik digital, revenue stream album 2 edCoustic malah terus mengalir. Hanya saja, aku memutuskan untuk tidak terlalu berhitung lagi dengan revenue stream tersebut. Aku masih dihantui rasa bersalah belum menyelesaikan utang yang harusnya kami selesaikan. Oleh karena itu, aku ikhlaskan saja seluruh revenue stream dari produk digital album 2 edCoustic mengalir kepada ahli waris almarhum Deden. Mereka tentu lebih membutuhkan, sekaligus menebus utang yang masih menghantuiku.

Sebenarnya masih ada cerita lain yang menarik untuk dikisahkan, tapi ceritanya aku tutup sampai di sini saja. Terima kasih sudah membaca. Aku kembali menutup lembaran cerita bersama edCoustic. Semoga grup ini terus berjaya dan memberi manfaat meskipun sudah ditinggal personil kuncinya. Aamiin.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Muhasabah Cinta: Sesuatu yang Harusnya tidak Menjadi Kenyataan

0

BOLEH DIBILANG, lagu Muhasabah Cinta adalah lagu edCoustic yang paling populer. Viewer video lagu ini di youtube terbilang tinggi meskipun sebagai produser aku tidak pernah membuat video clip lagu ini. Malahan, tim dari negeri jiran Malaysia yang meminta izin untuk membuatkan video clip-nya.

Yang membuat aku sedih dengan lagu ini adalah ternyata substansi cerita lagu Muhasabah Cinta benar-benar dialami oleh penulis dan penyanyi lagunya. Padahal, lagu ini terinspirasi dari pengalaman orang lain (lihat cerita di balik lagunya di sini). Tapi Deden ditakdirkan mengalami sendiri peristiwa yang ia lukiskan dalam lagu Muhasabah Cinta.

Lima tahun selepas kami merilis lagu Muhasabah Cinta, Deden mengalami sakit yang mengharuskan ia berjuang melawan sakitnya di rumah sakit. Aku paham betul begitu berat perjuangannya melawan sakit yang akhirnya menghantarkan ia ke penghujung hidup yang fana ini. Desember 2013 Deden melepas hidupnya dan kembali kepada Sang Pencipta.

Banyak orang yang menyangka bahwa lagu Muhasabah Cinta adalah curhat sang penulis lagu saat menderita sakit. Sesungguhnya bukan begitu. Lagu itu tercipta lama sebelum ia sakit. Malahan, ketika menulis lagu itu Deden sedang dalam performa fisik terbaiknya. Ia rajin berolah raga dan jarang sakit ringan, sementara sebelumnya ia sering sakit flu atau kelelahan karena jenis pekerjaan yang kurang sesuai untuk mendapatkan kondisi kesehatan yang baik.

Aku menyaksikan sendiri begitu banyak orang yang menghayati lagu Muhasabah Cinta sebagai penyemangat di masa sakit. Pilihan tema lagu ini cukup unik dan relatif jarang diangkat dalam lagu. Dengan begitu, Muhasabah Cinta sangat kuat pesannya. Selain lirik yang kuat, melodinya juga easy listening.

Hanya saja lagi-lagi aku masih sedih karena Deden harus mengalami sendiri cerita yang ia gariskan dalam lagu Muhasabah Cinta. Kita memang tidak boleh mengutuki takdir. Allah punya rencana terbaik untuk hambaNya. Di balik kesedihan itu, aku tetap merasa bangga Deden pernah menghasilkan karya berupa lagu Muhasabah Cinta. Banyak yang merasa tergerak dan mendapat manfaat dari lagu ini. Kiranya cukuplah itu sebagai penawar rasa sedih karena ada amal jariah yang mengalir lewat karyanya.

Alfatihah…

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Cerita di Balik Setiap Lagu

0

PADA BAGIAN terdahulu aku pernah menceritakan bahwa untuk urusan pemilihan dan penulisan lagu di album dua edCoustic ini kami bersepakat menjadi area previliege Deden seorang. Ia ingin sekali mendapat kemerdekaan menentukan susunan materi lagu, menulis lagunya, dan akhirnya menyanyikan lagu tersebut. Itu adalah pengalaman pertama Deden berkarya secara total dan aku lihat ia sangat menikmatinya.

Tapi ada baiknya aku ceritakan latar belakang setiap materi lagu yang kami tuangkan dalam album dua edCoustic ini. Hanya saja aku perlu kasih disklaimer, sudut pandangku terhadap materi lagu ini sangat subjektif sesuai sudut pandangku seorang. Untuk lebih utuhnya, mungkin perlu informasi tambahan. Tapi aku cukupkan satu perspektif saja untuk kemudahan proses menulis.

Setiap lagu yang ada di album dua edCoustic memiliki cerita di belakang layar. Menurutku cerita latar tersebut penting juga aku ceritakan. Pembaca bisa saja memberikan penafsiran pribadi kepada lagu-lagu tersebut. Tidak perlu mengikuti tafsiran yang aku tulis di sini karena ini sifatnya hanya informasi satu sisi saja. Sebagaimana lagu pada umumnya, tafsiran terhadap lagu tersebut adalah milik pendengarnya.

Baiklah, kita mulai sesuai urutan lagu ya.

1. Muhasabah Cinta
Sejak awal Deden menjadikan lagu ini sebagai lagu andalan di album 2 edCoustic. Aku sebenarnya kurang setuju lagu ini dijadikan andalan, tetapi Deden berhasil mencapai prediksinya. Walaupun jadi lagu andalan, kami tidak menjadikan lagu ini sebagai judul album dengan pertimbangan ada lagu lain yang lebih menjiwai konsep keseluruhan album.

Muhasabah Cinta lahir setelah Deden menjenguk teman (atau saudara?), aku lupa persisnya, di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Deden cerita padaku bahwa ia membayangkan apa yang dirasakan oleh yang sedang mendapat ujian sakit di rumah sakit itu. Apalagi mereka yang sudah menjelang ajalnya di bilik perawatan gedung itu.

Aku tidak mengikuti proses kreatif Deden menulis lagu Muhasabah Cinta. Ujug-ujug dia sudah selesai merekam senandung Muhasabah Cinta di handphone miliknya. O ya, Deden punya kebiasaan merekam sendiri lagunya di HP dalam bentuk senandung (tanpa lirik) atau beberapa juga sudah dengan lirik.

Reaksi pertamaku saat mendengar lagu Muhasabah Cinta ini adalah langsung ok. Terutama dari kekuatan liriknya. Kalau dari sisi lagu, menurutku lagu ini sangat Melly Goeslaw. Aku paham Deden sangat menyenangi karya-karya Melly, jadi lagu ini cenderung aman secara komersial karena pasti mudah diterima.

Aku mau cerita lebih banyak tentang lagu Muhasabah Cinta ini di seri khusus.

2. Sepanjang Perjalanan
Lagu ini sebenarnya ditulis jauh sebelum proyek album 2 edCoustic. Aku ingat persis lagu ini Deden tulis pada saat kami menempuh perjalanan dari Bandung ke Jakarta melalui jalur puncak. Saat itu edCoustic mendapat kesempatan tampil beberapa lagu di event book fair di Jakarta Convention Center (JCC).

Sesampainya di JCC, sambil menunggu giliran tampil Deden mengambil gitar yang dipegang oleh Eggie. Ia menulis lagu di belakang panggung hanya dalam waktu singkat. Lagu ini bercerita tentang indahnya pemandangan di sepanjang perjalanan. Perjalanan yang menginspirasi dia menulis adalah saat melihat pemandangan di Puncak – Bogor. Saat itu kami melewati puncak ketika waktu pagi jadi suasananya memang sedang indah-indahnya.

3. Sebiru Hari Ini
Lagu ini memang sengaja ditulis untuk album 2 edCoustic. Temanya terinspirasi dari kehangatan teman-teman pendengar setia edCoustic di seluruh lokasi yang pernah kami singgahi. Kami juga perlu sebuah lagu yang bisa menjadi antheme di akhir setiap penampilan edCoustic. Lagu ini cocok untuk mengisi posisi itu karena temanya tentang perpisahan yang mengharu biru.

Kami juga ingin ada lagu yang bisa menjadi perekat memori. Kami berharap dengan mendengar lagu Sebiru Hari Ini, beberapa tahun mendatang pendengar memiliki memory effect yang melekat di lagu ini. Saya tidak tahu apakah rencana ini berhasil atau tidak, hanya pendengar edCoustic yang bisa memberikan klarifikasi apakah rencana kami akurat atau tidak.

4. Aku Ingin Mencintai-Mu
Ini merupakan satu-satunya lagu di album 2 edCoustic yang aku tidak mengikuti proses cipta kreatifnya. Deden tiba-tiba sudah punya materi lagu ini. Ketika menyimak lirik lagu ini, aku protes ke Deden untuk mengganti salah satu lirik yang menurutku keliru. Tapi hingga selesai rekaman, ternyata liriknya belum diubah. Di tengah keterbatasan dana akhirnya kami tetap bungkus lagu itu tapi dengan risiko harus bisa mengkaunter kontroversi yang mungkin muncul di masa mendatang.

Potongan lirik yang aku permasalahkan adalah ini:
“Dalam fitrahku sebagai manusia
Untuk menghambakan-Mu”

Aku paham maksud Deden adalah menjadi hamba Allah. Tapi kalau pilihan liriknya seperti itu artinya malah sebaliknya karena dalam struktur penggalan lirik “Untuk menghambakan-MU”, Allah (dengan kata ganti -Mu) adalah objek. Artinya yang menjadi hamba adalah Allah. Ini kan keliru besar. Tapi saat itu Deden berkilah, maksudnya bukan begitu. Ya ga mungkinlah Allah malah menjadi hamba karena maksudnya adalah kita sebagai hamba Allah. Nah… justru itu aku minta ia mengganti liriknya supaya aman. Tapi sayangnya lirik itu tak kunjung diganti hingga rekaman selesai.

5. Sepotong Episode
Cerita latar lagu sepotong episode adalah pengalaman Deden di organisasi remaja masjid di kompleks rumahnya. Sebagai latar belakang, aktif di remaja masjid merupakan salah satu momentum hijrahnya Deden. Ia memiliki memori yang sangat berkesan di pengalaman tersebut.

Lagu ini menceritakan sebuah potongan kisah saat aktif menjadi remaja masjid. Lagu ini juga sekaligus kami jadikan judul album karena mewakili ruh konsep album dua edCoustic yang materi lagu di dalamnya adalah potongan cerita yang dapat dirasakan oleh kebanyakan pendengar.

6. Sendiri Menyepi
Lagu ini sudah aku ceritakan lebih detail di salah satu seri tulisan ini. Buatku lagu Sendiri Menyepi adalah lagu spesial di album dua edCoustic karena satu-satunya lagu yang aku request harus ada di album.

Cerita di balik tema lagu Sendiri Menyepi adalah pengalaman pribadi Deden sebagai penulis lagu. Aku tidak pernah mendapat cerita lebih rinci darinya tentang duduk cerita sesungguhnya. Tapi substansi lagu ini menurutku sangat mewakili tema kontemplatif yang aku inginkan.

7. Jangan Bersedih
Lagu ini sesungguhnya adalah mewakili perasaan kami ketika memutuskan untuk menggarap sendiri album dua edCoustic. Sebelumnya kami mengalami proses patah arang yang cukup menyesakkan. Hingga pada suatu titik kami bersedia menerima semua kekalahan dan bergegas mengganti lembaran baru untuk terus melaju dengan alternatif jalan berikutnya.

Di masa itu, buku La Tahzan (Jangan Bersedih) sedang naik daun. Jadi lagu ini juga sedikit banyak terpengaruh dari isi buku tersebut. Saling menguatkan dengan ungkapan “Jangan Bersedih”.

Hanya saja, aku pribadi merasa produksi lagu ini belum tuntas sepenuhnya. Masih ada yang rasanya kurang, tapi akhirnya kami putuskan sudahlah bungkus saja. Paradoks sebenarnya, lagu yang mewakili perasaan kami sebagai produser tapi pada prosesnya jadi lagu “anak tiri”, he..he…

8. Duhai Pendampingku
Lagu ini merupakan lagu spesial Deden untuk calon istrinya. Saat awal menyusun album 2 edCoustic, Deden memang belum menikah. Ia menikah di tengah proyek kami mengerjakan album 2 edCoustic. Lagu Duhai Pendampingku sekaligus sebagai hadiah pernikahan Deden kepada istrinya. Lagu ini juga menjadi benang merah tema lagu religi romantis yang ada di album 1 edCoustic.

9. Kupergi
Cerita di balik lagu kupergi aku paham betul. Saat ia menulis lagu ini, Deden tengah berseteru dengan beberapa orang yang tak mungkin aku sebutkan di sini. Perseteruan itu akhirnya berujung Deden harus mengalah pergi. Jadi lagu ini sejenis ungkapan rasa kesalnya tapi bisa dimaknai pergi dalam konteks global juga.

Pada beberapa kesempatan wawancara di radio, ada pertanyaan berulang yang jawabannya adalah lagu ini. Pertanyaannya begini, “lagu apa yang paling disenangi di album 2 edCoustic?” Aku selalu menjawab “Kupergi.” Alasannya apa? Suka memang kadang tidak perlu alasan. Hal ini berlaku untuk lagu Kupergi.

Itulah sekelumit cerita di balik setiap lagu. Dalam proses kreatif menulis lagu ini, aku selalu mengingatkan Deden agar lagu yang kita produksi harus relate dengan pendengar. Hanya dengan begitu kita dapat diterima oleh pendengar.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Strategi Partnership

0

DI TAHAP AWAL proses produksi album 2 edCoustic, kami sudah merancang berbagai aktivitas dan anggaran yang dibutuhkan di setiap tahapan. Cerita mengenai tahapan tersebut sudah aku ceritakan di salah satu bagian seri tulisan ini.

Namun, di pertengahan jalan tantangan berat berupa kehabisan anggaran membuat proyek album 2 edCoustic ini tidak sesuai dengan rencana semula. Kami harus banyak melakukan adjustment, mengubah rencana, dan menunda proses. Semua karena keterbatasan dana.

Salah satu adjustment yang terpaksa kami lakukan adalah proses yang seharusnya mudah dan sederhana menjadi berat dilakukan. Lagi-lagi kehabisan dana adalah alasan utamanya. Agar tetap berjalan, kami harus putar otak bagaimana melakukan proses yang sudah direncanakan tetap berjalan walaupun kami sudah tidak punya uang. Melakukan partnership adalah cara yang paling masuk akal. Mencoba menjalin kerja sama dengan orang lain dengan seminim-minimnya biaya tetapi tetap saling menguntungkan.

Berikut aku ceritakan beberapa proses yang harus kami tempuh dengan jalur partnership. Semuanya tidak ada di rencana awal. Ini adalah adjustment di tengah jalan yang sesungguhnya menyulitkan karena untuk mencapai kata sepakat dalam partnership bukanlah proses yang mudah.

Pemotretan untuk Cover Album
Kami harus menawarkan proposal ke beberapa rumah fotografi di Bandung agar bersedia barter promosi. Pemotretan untuk cover album gratis dan sebagai gantinya kami memberikan spot iklan yang cukup signifikan di cover album. Setelah beberapa kali mengajukan penawaran, alhamdulillah salah satu rumah fotografi di Bandung bersedia. Kami akhirnya berhasil memperoleh foto dengan kualitas yang profesional tanpa harus membayar mahal.

Pemakaian Venue dan Sewa Studio untuk Sayembara Lagu Muhasabah Cinta
Pada saat menyelenggarakan sayembara lagu Muhasabah Cinta, kami mengajukan kerja sama dengan studio rekaman untuk mendapat diskon signifikan proses rekaman seluruh peserta. Penawaran kami adalah semakin banyak yang mengetahui studio tersebut maka di masa mendatang akan menjadi pilihan utama talenta-talenta muda. Alhamdulillah, studio juga bersedia dengan penawaran tersebut.

Kemudian untuk event final sayembara kami mengajukan kerja sama dengan produsen busana muslim yang sedang naik daun masa itu yaitu Rabbani. Mereka memiliki tempat yang sangat representatif di lokasi strategis. Kami mendapatkan fasilitas free sewa gedung dan juga gratis sound system. Bekal penawaran kami adalah segmen pasar yang hadir pada event tersebut merupakan kelompok yang sama dengan segmen pasar utama Rabbani.

Media Partner untuk Promosi Album
Kami melobi beberapa stasiun radio dan majalah untuk bersedia menjadi media partner. Kami menawarkan agar mereka bersedia mempromosikan album dua edCoustic dengan imbalan balik penawaran berupa pencantuman logo serta bersedia mengisi slot waktu berupa wawancara.

Pemakaian Venue untuk Grand Launching
Grand launching merupakan momentum penting sebagai pendobrak promosi. Kami harus mendapatkan tempat dan waktu yang strategis agar peluang orang hadir di acara tersebut sebesar-besarnya. Pilihan utama kami adalah launching di Sabuga ITB, tetapi sulit sekali terjalin kerjasama dengan modal minim. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Daarut Tauhiid. Mereka memiliki venue yang selama ini terbukti dapat mendatangkan banyak orang. Kami memang tidak berhasil memperoleh kerjasama pemakaian tempat secara gratis, tetapi kami masih diberikan diskon yang cukup signifikan.

Alhamdulillah event grand launching tersebut berhasil menjadi pintu pembuka untuk kegiatan promosi berikutnya. Memang ada insiden kecil selama proses launching, tapi aku putuskan tidak menceritakan insiden tersebut. He..he..

Kontrak Aranger Musik
Aranger musik sangat krusial dalam proyek album dua edCoustic ini. Kami harus mampu menemukan aranger yang sesuai dengan kualitas yang kami harapkan tetapi juga tidak berat di biaya. Kami melobi salah seorang teman musisi religi yang kebetulan saat itu sudah selesai belajar mengaransemen utuh lagu. Kami melobi agar ia bersedia dibayar dengan jumlah yang ala kadarnya dan dibayarkan di akhir. Jujur saja hal ini sebenarnya melanggar prinsipku dalam berbisnis. Keterampilan adalah hal sesuatu yang harus dihargai secara materiil dan non materiil selayaknya. Dalam hal ini, kami belum mampu menghargai keterampilan tersebut sesuai dengan yang sepantasnya. Tapi alhamdulillah, teman kami ini bersedia dan kami bisa bernafas lega karena salah satu tantangan berat bisa teratasi.

Aranger musik album 2 edCoustic sebenarnya ada dua orang, yaitu Indra Shaffix dan Pak Roni. Khusus lagu Muhasabah Cinta kami meminta Pak Roni sebagai aranger karena lagu ini sangat cocok dengan gaya bermusik beliau selama ini. Dari total 9 lagu di album 2 edCoustic, Indra mengaransemen 8 lagu dan Pak Roni kebagian 1 lagu.

Barter Promosi Percetakan
Kami juga menjalin kerjasama dengan salah satu percetakan dengan imbalan penayangan iklan di album. Kami mendapat diskon yang cukup signifikan dan meringankan.

Semua ini merupakan proses yang menghasilkan penghematan cukup signifikan bagi kami. Jika dana kami cukup, kemungkinan besar proses menjalan kerja sama ini tak pernah kami tempuh. Meskipun lebih melelahkan dan menempuh lebih panjang proses, kami bersyukur pernah mendapat tantangan seperti ini karena memberikan pengalaman berharga bagaimana menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dengan orang lain.

Yuk pindah ke cerita lainnya.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda