Keputusan dari Keputusasaan

0
346
edcoustic

AKU TERLIBAT dengan edCoustic ketika masih duduk di bangku kuliah. Saat itu, grup ini sudah membuat sebuah album. Aku masuk ke edCoustic sebagai manager setelah mereka memiliki materi album yang diproduksi secara indie melalui label Yess Production. 

Aku ikut mengawal perjalanan edCoustic sejak awal mereka “brojol” sebagai sebuah grup bernama edCoustic. Perjuangan membesarkan nama edCoustic hingga saat itu cukup dikenal di beberapa kota besar di Indonesia punya cerita sendiri, tapi aku skip saja cerita itu karena fokus kita saat ini bicara tentang album kedua edCoustic.

Pada proses membesarkan edCoustic di masa album 1, aku dan Deden (vokalis edCoustic) saat itu punya cita-cita sebuah grup musik pada umumnya yaitu bisa diterima dan diproduseri oleh major label. Pada masa itu (awal tahun 2000an), indikator keberhasilan sebuah grup musik adalah mendapat kontrak rekaman dengan major label. Sebab, merekalah penjaga pintu industri musik. Kita hanya mampu berhasil di industri musik jika memenuhi kriteria yang diinginkan major label. 

Memang ada beberapa grup musik saat itu yang berhasil dengan produksi indie. Seingatku Pas Band memulai dengan indie label dan akhirnya dilirik oleh major label. Kami ingin menempuh skenario seperti itu. Laluna juga berangkat dari indie label dan cukup bisa diterima masyarakat Indonesia. Di masa itu, bisa dibilang major label adalah satu-satunya pintu untuk berhasil. Bekerja sama dengan mereka satu-satunya rumus sukses.

Kami pun berupaya sekuat tenaga untuk mampu menembus tembok kokoh major label. Aku ingat, pernah mengirim puluhan CD album pertama dan proposal pengenalan kepada seluruh major label yang ada di Indonesia. Mencoba menawarkan konsep baru dalam industri musik Indonesia. Tetapi sayangnya tidak ada satupun major label yang tertarik. Bahkan, yang membalas dengan menyatakan sudah menerima demo saja tidak ada. Artinya, konsep yang kami tawarkan tidak sesuai keinginan mereka.

Berbagai jurus telah aku coba. Mulai dari mengirim demo, memohon waktu agar dapat diperkenankan bertemu dan menjelaskan, sampai menghubungi orang-orang yang kiranya bisa menjadi perantara. Tapi semuanya tidak membuahkan hasil. Hingga pada saat itu aku berkesimpulan edCoustic memang belum layak dalam industri musik tanah air. Tidak ada tempat dan peluang komersial yang sesuai untuk edCoustic. 

Di tengah kegelapan tersebut, aku masih berharap-harap semoga keberuntungan masih mau menghampiri. Tapi setelah berbulan-bulan hasilnya tetap sama. Aku putus asa. Aku kehabisan jurus. Di sinilah titik yang akhirnya aku harus sadari dan terima, tak semua yang kita impikan bisa menjadi kenyataan. Sebuah catatan pahit dalam hidupku. Gagal setelah berkali-kali mencoba.

Lalu kami diskusi (aku dan Deden). Kebetulan saat itu Deden bekerja di perusahaan yang aku kelola. Biasanya di jam kerja kami menjalankan amanah di perusahaan tersebut lalu sore hingga ke malam biasanya kami isi dengan diskusi memajukan edCoustic. Termasuk bagaimana caranya di album berikutnya (album kedua) dapat diproduksi oleh Major Label. Pokoknya, major label adalah harga mati saat itu. Sayangnya cerita kami tak semanis kisah novel, kami akhirnya menemukan jalan buntu.

Singkat ceritanya, di tengah keputusasaan itu akhirnya kami memutuskan untuk memproduksi sendiri saja album kedua edCoustic. Memang ketika itu ada beberapa pihak indie label yang juga tertarik memproduksi album kedua edCoustic. Tapi kami sepakat untuk memproduksi sendiri saja. 

Masalahnya, memproduksi sebuah album musik itu tidaklah mudah. Di era itu, alat-alat produksi musik rumah tidak sebaik saat ini. Intinya, hampir seluruh proses butuh uang. Kami harus membayar sewa studio, membayar jasa para musisi pengisi instrument, biaya lagi untuk kegiatan produksi kaset/CD, dan membiayai sendiri kegiatan promosi. Produksi memang tidak lepas dari uang…uang… dan uang.

Terus terang, saat itu kami berdua sama-sama tidak memiliki uang tabungan. Jadi, keputusan memproduksi sendiri album dua edCoustic adalah keputusan tanpa perhitungan bisnis yang memadai. Bahasa Sunda-nya “kumaha engke weh”, gimana nanti lah.

Bagaimana tantangannya? Lanjut di cerita berikutnya.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

LEAVE A REPLY