Lagu Pesanan yang Bikin Berantem

0
149
edcoustic

SEWAKTU tahap penyusunan konsep kreatif, sebagai produser eksekutif aku request spesial kepada Deden selaku pencipta lagu. “Aku ingin ada satu lagu yang sangat kontemplatif,” pintaku. Lagu itu harus bisa kita dengarkan di saat sendiri sambil menghitung-hitung salah diri.

Kenapa begitu? Sebelumnya, aku pernah jatuh hati dengan tiga lagu kontemplatif milik Deden. Sayangnya dia tidak pernah menyayikan lagu itu. Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar lagu ini, bagi yang belum pernah silakan berburu. He..he..

  1. Jelas, dipopulerkan oleh Hani & Ina.
  2. Keimanan, dipopulerkan oleh Haris Shafix.
  3. Sholatku, dipopulerkan oleh Hani & Ina.

Nah… aku bilang ke Deden di album 2 edCoustic harus ada minimal 1 lagu kontemplatif. Itu request spesial dari aku. Dia pun menyanggupi walaupun di proses pembuatannya, ternyata Deden sangat terbebani dengan request ini. Ditambah lagi beberapa insiden yang membuat lagu ini nyaris gagal kami produksi.

Setelah menulis semua materi lagu, Deden menyampaikan lagu yang aku request itu judulnya “Sendiri Menyepi”. Pertama kali mendengar lirik dan lagunya, aku langsung suka dan tidak banyak tawar menawar. Berhubung ini request khusus, aku menyampaikan bahwa lagu ini hanya boleh diisi dengan gitar akustik dan cello saja. Ini murni hanya selera pribadiku saja. Aranger dan pengisi musik mungkin tidak setuju dengan konsep ini. Tapi gue kan produser, he..he… Jika dulu aku menyebalkan, mohon maaf ya…

Insiden terjadi ketika kami merekam vocal Sendiri Menyepi. Deden tidak berhasil menyanyikan lagu ini dengan baik walaupun kami sudah menghabiskan 3 shift sewa studio. Dia bilang tidak berhasil mendapatkan emosi lagu ini. Mungkin karena aku terlalu ikut campur dengan konsep lagunya. Sampai-sampai cara bermain gitarnya juga aku ikut ngatur-ngatur padahal aku tidak bisa bermain gitar. Mungkin aku terlalu menyebalkan saat itu sehingga Deden tidak berhasil menyanyikan lagu ini dengan maksimal. Malahan, dia sampai sakit untuk memperjuangkan lagu ini enak dinyanyikan.

Karena Deden sampai sakit, aku akhirnya menyerah juga. Sudahlah, rekaman terakhir kita bungkus saja walaupun aku masih tidak puas dengan hasilnya. Eh… ternyata setelah menghabiskan tiga shift sewa studio, rekaman tersebut hilang. Deden kewalahan, dia melapor kalau CD yang dipakai untuk menyimpan rekaman suara versi studio lagu tersebut error. Kami berharap di studio masih disimpan filenya, tapi ternyata juga sudah dihapus oleh operator. Praktis, kami tidak punya rekaman lagu Sendiri Menyepi padahal sudah menghabiskan dana untuk menyewa tiga shif studio. Amboi… situasi ini membuat suasana semakin tidak nyaman.

Mungkin karena merasa bersalah, Deden bilang kepadaku bahwa dia akan rekaman lagi dengan biayanya sendiri untuk mengganti lagu tersebut. Aku yang sedang senewen mengiyakan dan tidak mau ikut mendampinginya merekam ulang. Akhirnya Deden pergi sendiri ke studio, merekam ulang lagunya yang hilang dan membayar sendiri ongkos sewa studio. Tapi aku merasa tak tega juga, di pertengahan sesi aku samperin Deden ke studio. Saat itu ia mengambil shift malam studio.

Masya Allah, aku merinding ketika ia bernyanyi. Bukan kan karena lagu ini request spesialku, tapi ia bernyanyi sambil menitikkan air mata. Entah karena merasa bersalah atau karena terlalu menghayati lagunya sendiri. Tapi hasilnya jauh lebih bagus dari rekaman-rekaman sebelumnya dan benar-benar sesuai dengan ekspektasiku tentang bagaimana ia harusnya menyanyikan lagu ini. Deden juga mengubah sebagian lirik di rekaman terakhir tersebut dan hasilnya lebih ok dibandingkan lagu awal. Hasil akhir lagu ini cukup berbeda dengan konsep lagu versi demonya dan aku puas. Di versi demo malah lagu kontemplatif ini diaransemen dengan bit yang cocok buat jejingkrakan.

Yang belum pernah dengar, bolehlah melipir ke youtube atau spotify mendengarkan lagu Sendiri Menyepi yang di dalamnya ada cello section yang sudah aku ceritakan di bagian sebelumnya.

Lanjur ke cerita lainnya ya…

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda
BAGIKAN
Berita sebelumyaRahasia Alat Musik Cello
Berita berikutnyaKehabisan Dana

LEAVE A REPLY