ALKISAH, ada empat mahasiswa yang sepakat membolos dari ruang kuliah. Mereka merasa jenuh menjalani perkuliahan yang monoton. Lalu rencana itu pun mereka wujudkan dan sepanjang hari mereka pergi jalan-jalan mencari tempat berwisata.
Menjelang sore, salah seorang dari mereka menerima pesan singkat dari temannya yang masuk kelas.
“Kalian kenapa tidak masuk? Hari ini ada ujian dadakan dari dosen dan dianggap sebagai UTS,” tanya sang teman sekaligus kasih informasi.
Sontak mereka kaget. Kenapa ujian kok tiba-tiba begini? Mana mereka lagi bolos kuliah. Ditambah lagi hasilnya dianggap sebagai UTS.
Keempat teman sepermainan ini akhirnya bersepakat untuk merancang alasan agar mereka diterima ikut ujian susulan. Mereka berencana menghadap sang dosen esok hari dan meminta ujian susulan. Untuk meyakinkan dosen tersebut mereka bersepakat mengemukakan asalan bahwa mereka tidak dapat masuk karena ban mobil bocor dan perlu waktu untuk mencari tambal ban.
Begitu bertemu dosen esok hari, mereka langsung mengutarakan alasan tersebut dan meminta untuk diperbolehkan ikut ujian susulan. Mendengar penjelasan itu, sang dosen setuju dan meminta mereka untuk mengerjakan ujian di ruangan terpisah supaya tidak saling contek.
Dosen tersebut mengatakan akan menilai hasil ujian mereka kalau mereka berkata jujur. Sebaliknya, jika tidak jujur maka apapun hasil ujian itu tak akan dinilai. Keempat mahasiswa itu pun setuju. “Betapa mudah urusan hari ini,” ungkap salah satu diantaranya.
Setelah mengerjakan seluruh soal yang diberikan. Sang dosen memberikan kertas ujian tambahan. Ia mengatakan, ini lembar ujian tambahan yang harus kalian selesaikan.
Nama lengkap: _______________
Hanya satu soal dan pilih jawaban yang paling tepat. Selamat ujian!
Ban mobil yang bocor kemarin adalah:
a. Ban kanan-depan
b. Ban kiri-depan
c. Ban kanan-belakang
d. Ban kiri-belakang
Ternyata jawaban mereka saling beda karena ban bocor itu adalah sebuah dusta. Sang dosen cukup jeli menguji kebohongan mereka karena kebohongan identik dengan ketidak-konsistenan. Sebaliknya, keempat mahasiswa itu tak terpikir akan diuji seperti itu.
Alhasil, keempat mahasiswa itu pun dinyatakan tidak lulus dalam matakuliah yang sedang mereka ambil. Begitulah kebohongan, kita bisa menutupinya tapi tak mungkin selamanya.
TEMAN-TEMAN yang sedang berada di luar negeri sering sekali menggunakan kata “Indo” untuk merujuk tanah air Indonesia dalam percakapan sehari-hari di jagad maya. Entah sejak kapan kebiasaan ini dimulai dan sejak kapan pula menjadi sesuatu yang lazim. Bagi yang paham kenapa harus menggunakan Indo, alih-alih Indonesia atau tanah air, bolehlah menyumbangkan pencerahannya.
Tentu saja mereka tidak punya niat buruk menyingkat Indonesia dengan kata Indo. Sama sekali tidak. Jika pun ternyata iya, ya biarkanlah. Tapi aku tetap merasa sedikit terganggu dengan itu. Jadi, izinkanlah ketergangguan ini kuutarakan. Jika kamu terganggu denganku, maka kita impas telah saling mengganggu. He..he…
Melepaskan Indo dari Indonesia agak-agak berbahaya. Kenapa? Kita mulai dari gagasan lahirnya nama Indonesia. Wilayah yang sekarang dinamakan Indonesia ini dulunya berupa kepulauan-kepulauan yang lebih rumit dibandingkan sekarang karena masih terpisah satu sama lain. Jadi, untuk merujuk kumpulan pulau-pulau di garis khatulistiwa ini beberapa bangsa di masa lalu menyebut dengan berbagai istilah. Bangsa Arab menyebut wilayah ini dengan Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Bangsa India memberikan nama Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang). Setiap bangsa punya penyebutannya masing-masing tetapi sama-sama satu maksud yaitu menunjukkan daerah kepulauan yang kita diami sekarang. Meski berbeda penyebutan, tapi gagasannya sama yakni menunjuk area kepulauan. Nama Indonesia nantinya juga tidak terlepas dari gagasan kepulauan ini.
Akhirnya disepakati secara evolutif menggunakan kata Indonesia yang diadopsi dari artikel yang terbit di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia karya George Samuel Windsor Earl pada 1847. Tiga puluh tujuh tahun kemudian, etnolog Jerman bernama Adolf Bastian mempopulerkan kembali nama Indonesia melalui bukunya yang bertajuk . Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (“Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu”). Sejak saat itu, nama Indonesia lebih populer dibandingkan nama-nama lain yang juga digunakan secara bersamaan untuk menyebut wilayah nusantara ini. Jadi, nama Indonesia relatif masih baru dibandingkan nama-nama negara lain.
Indonesia memang berasal dari dua kata yaitu Indo dan Nesia yang keduanya diadopsi dari Bahasa Yunani. Indo (Indus dalam Yunani) merupakan penyesuaian dari kata Hindia yang berarti wilayah yang didiami beberapa kelompok etnis di wilayah timur India. Indo juga bisa bermakna ras, yaitu ras campuran Hindia dengan Eropa alias blasteran. Kamus Bahasa Indonesia sendiri mengambil definisi berorientasi ras yaitu “peranakan Eropa dengan Indonesia”. Lalu Nesia, berasal dari kata Nesos yang berarti pulau atau kepulauan.
Dengan begitu, Indonesia adalah sebuah frasa yang membentuk kata baru sama sekali yaitu merujuk pada wilayah geografis. Jika disingkat dan dipecah, artinya sudah berbeda lagi. Sebagai analogi, rumah sakit adalah sebuah frasa yang kalau disingkat dengan menyebutkan frasa pembentuknya akan menghasilkan makna yang sama sekali berbeda. Tak ada yang menyingkat rumah sakit dengan menyebut rumah saja atau sakit saja. Begitu juga dengan Indonesia, janganlah akibat rasa malas menyebut nama Indonesia sehingga disederhanakan dengan Indo.
Ada yang pernah bilang, nama Indonesia terlalu panjang. Jadi Indo lebih ringkas. In-do-ne-sia, lima suku kata memang panjang sih. Negara lain paling banter hanya empat suku kata. Kalau ada nama negara yang jumlah suku katanya sebanyak Indonesia, bolehlah kasih info. Tapi tidak kah itu terlalu “cetek” untuk dijadikan alasan?
Kembali ke urusan “terganggu” tadi. Menyebut tanah kelahiran sendiri dengan Indo memang membuat terganggu. Sebab, Indo lebih dekat dengan penyebutan ras (blasteran Indonesia-Eropa) dibandingkan merujuk nama geografis sebuah negara. Indo malah lebih dekat ke penyebutan bernada merendahkan yaitu Indon. Ngomong-ngomong, Indon kan bisa juga dipakai alasan menyingkat Indonesia bukan? Malah, di era tahun 60-an Indon sering sekali dipakai untuk menyingkat nama Indonesia.
Jadi, please… berhentilah menyingkat-nyingkat nama Indonesia. Sebutkan lengkap sebagai bagian dari rasa bangga akan negara sendiri. Kalaupun merasa suku katanya kepanjangan, pakai tanah air saja. Itu sudah, hidup Indonesia…!
SETIAP MANUSIA tentu ingin bahagia. Siapa sih yang tak ingin bahagia? Banyak malah yang sampai jungkir balik atau menghalalkan cara buruk atas nama mengejar kebahagiaan diri. Bahagia seperti apa yang sesungguhnya kita cari? Jangan-jangan selama ini kita hanya mengejar bahagia semu yang sebenarnya bukanlah kebahagiaan itu sendiri.
Umumnya, kebahagiaan itu diasosiasikan dengan kegembiraan, rasa puas, dan kesenangan. Kita bahagia saat merasa senang dan gembira. Kira-kira itu pula yang dilukiskan pada lagu yang nge-top beberapa tahun lalu “Because I’m Happy” yang dinyanyikan Pharrell Williams bersama Daft Punk.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga mengambil definisi Bahagia adalah “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).” Kata kuncinya lagi-lagi perasaan senang. Lebih-lebih lagi wikipedia, kebahagiaan diidentikkan dengan “kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.”
Bahkan, Indonesia jadi salah satu negara yang sudah mengakui secara resmi Indeks Kebahagiaan. Indeks ini mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap sepuluh aspek ini:
kesehatan,
pendidikan,
pekerjaan,
pendapatan rumah tangga,
keharmonisan keluarga,
ketersediaan waktu luang,
hubungan sosial,
kondisi rumah dan aset,
keadaan lingkungan, dan
kondisi keamanan.
Bisa dilihat kan, dari 10 indikator itu bahagia masih erat dengan memiliki sesuatu.
Pertanyaanya, apakah benar demikian? Bahwa rasa puas, kesenangan, dan kegembiraan adalah sesuatu yang membentuk rasa bahagia?
Aku jadi teringat pernah menonton wawancara beberapa artis Indonesia yang memutuskan melipir dari dunia glamour yang menawarkan begitu banyak kesempataan untuk merasakan kesenangan dan kepuasan hidup. Mereka bercerita, di masa-masa itu semua sarana untuk merasakan bahagia mudah sekali terpenuhi. Hidup penuh dengan senang-senang. Duit tersedia berlimpah. Sanjung dan puji mengalir tanpa henti. Siapa pun pasti ingin merasakan kegembiraan, keriangan, dan kenikmatan intens seperti itu.
Ketika ditanya lebih lanjut, kenapa malah meninggalkan kebahagiaan seperti itu? Mereka rata-rata menjawab dengan satu alasan yang sama, yakni tidak merasa bahagia dan jauh lebih bahagia dengan pilihan hidup yang sederhana dan berhikmat akan sesuatu.
Lah, ini bagaimana? Mencari bahagia dan sudah ketemu kok malah mengaku tidak bahagia?
Ternyata bahagia bukanlah perkara kesenangan, kenikmatan, dan kepuasan yang intens. Sama sekali bukan. Jika pun kita merasa bahagia dengannya, itu hanya bersifat sementara. Jadi kebahagiaan yang berorientasi memiliki sesuatu dan merasakan kegembiraan adalah kebahagiaan semu.
Kebahagiaan yang sejati adalah merasakan ketentraman dan ketenangan batin. Sesederhana itu. Kita bisa tetap bahagia walau tanpa terpenuhinya syarat keberpunyaan seperti yang digambarkan pada indeks kebahagiaan tadi. Hati yang tenang dan tentram, itulah kebahagiaan yang sejati.
Meskipun tak punya pendidikan tinggi, kita tetap bisa merasa hati yang tentram dan tenang. Walau pekerjaan tidak sementereng orang kebanyakan, tapi hati tetap bisa bahagia. Atau…, walau sedang menderita sakit menahun. Itu bukan alasan untuk tidak bahagia.
Menurutku, bahagia yang sejati adalah seperti yang digambarkan dalam salah satu ayat terakhir Surat Al-Fajr.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
QS Al-Fajr, ayat 27.
Hati yang terasa tenang dan tentram adalah kebahagiaan hakiki yang bila mencapai rasa itu, hal-hal duniawi sudah tak menarik lagi. Bukan berarti menafikkan arti penting materi duniawi. Tapi hati kita tak tertambat padanya. Kebahagiaan tak kita sandarkan pada hal-hal yang riang-gembira, kesenangan, atau kelimpahan materi.
Dengan begitu, siapa saja bisa bahagia. Yuk…, kita bahagia.
SEBENTAR LAGI Ramadhan akan menghampiri. Setiap masuk bulan Ramadhan, suasananya selalu khas. Ada yang punya kebiasaan sendiri menyambut Ramadhan, terlepas dari apakah itu kebiasaan syar’i atau budaya yang dibuat-buat. Menyambut bulan istimewa ini selalu punya keistimewaan sendiri yang membuat rindu.
Pernahkah merasakan Ramadhan yang monoton karena sudah melaluinya berkali-kali? Materi ceramah di masjid-masjid juga seperti daur-ulang. Para penceramah membongkar materi lama dan membangkitkan kembali sesuai musim bulan puasa. Ayolah… pasti pernah kan?
Sejujurnya aku juga pernah merasakan itu. Kenapa bulan puasa yang dulu terasa istimewa jadi kurang bermakna? Hanya terjebak pada rutinitas tahunan dan acara televisi yang didesain hingar bingar sebagai pengisi puasa. Pendeknya, puasa hanya irama sahur sambil menonton komedi dan kuis di televisi. Siangnya berlapar dan menahan haus. Menjelang sore berburu makanan untuk berbuka. Lalu malam ikut taraweh dengan materi ceramah yang cukup mudah ditebak.
Aku pun bertanya, bagaimana mengembalikan “rasa” Ramadhan sehingga istimewa kembali? Berbagai cara aku coba, tetapi selalu bertemu dengan jawaban kosong.
Dalam mengurai pertanyaan itu, akhirnya aku menemukan sebuah jawaban yang dapat mengembalikan suasanya Ramadhan kembali istimewa. Jawabannya adalah kita sendiri yang harus memberi makna pada bulan istimewa ini. Bukan menunggu keistimewan itu datang menghampiri.
Memberi makna untuk Ramadhan bisa kita tempuh secara filosofis ataupun praktis. Kunci keduanya adalah kita harus menemukan proses penghayatan yang lebih dari sekedar menjalankan kewajiban puasa semata. Untuk saat ini kita bahas pendekatan praktis saja. Yang filosofisnya kapan-kapan kita bahas ya.
Pendekatan praktis yang aku maksud adalah sebelum masuk bulan Ramadhan, tetapkan sebuah tema yang ingin dilakukan, yang ingin dicapai, atau yang ingin dialami. Bisa berorientasi akhirat, bisa pula hanya urusan duniawi. Yang penting sepanjang bulan Ramadhan nanti kita punya sebuah tema pribadi sehingga saat menjalani puasa kita sedang dalam penuntasan misi diri juga. Coba deh pendekatan ini. Ramadhanmu akan berbeda dari biasanya.
Kita ambil beberapa contoh tema. Ini sekedar contoh, tak perlu diikuti serta-merta. Silakan dikembangkan atau dicari sendiri. Yang penting sesuai dengan kondisi dan kenyamanan masing-masing.
Contoh tema Ramadhan berorientasi akhirat, sepanjang Ramadhan tahun ini saya akan:
Menguasai baca Al Qur’an sesuai tajwid yang benar.
Menyalurkan infak dan sedekah rutin setiap hari.
Tidak melewatkan satu rakaat pun sholat sunnah di bulan Ramadhan.
Belajar bahasa Arab.
Menghapal 1 juz Al Qur’an.
dll, silakan diteruskan.
Contoh tema Ramadhan dengan muatan duniawi, sepanjang Ramadhan tahun ini saya akan:
Tuntas membaca lima buku favorit.
Menguasai keterampilan baru.
Menulis satu judul buku.
Menyelesaikan skripsi atau tesis.
Belajar satu bahasa asing.
Menurunkan berat badan dengan olah raga.
dll, silakan dilanjut.
Dengan punya sebuah tema berupa misi yang harus kita tuntaskan, maka Ramadhan akan jadi berbeda dan akan teringat terus. Di masa mendatang kita juga akan selalu ingat bahwa misi itu kita tuntaskan saat bulan Ramadhan.
Yuk… bikin Ramadhan tahun ini lebih bermakna dan personal.
AKU BERENCANA mau menuliskan beberapa materi mentoring bisnis yang pernah aku lakukan. Pada mentoring tersebut memang belum ada sistematika materi yang disusun sengaja. Sebab, mentoring ini bersifat dadakan dan angin-anginan. Pesertanya ada benaran mewujudkan bisnisnya, ada pula yang sambil lalu dan hilang seperti tertiup angin. Mungkin ia kecewa karena mentornya tak memehuni ekspektasi, ha..ha..
Aku ingat-ingat kembali, beberapa materi yang aku sampaikan itu justru lebih relevan untuk diriku sendiri. Tapi tetap aku ucapkan terima kasih kepada mereka yang pernah singgah ikut mentoring tersebut karena justru dari pertanyaan-pertanyaan merekalah materi ini muncul.
Jadi, jangan terlalu berharap ini materi yang canggih. Bisa dibilang mayoritas yang akan aku rangkum adalah materi yang bersifat sporadis. Tergantung apa yang sedang ditanyakan oleh peserta mentoring atau tantangan yang tengah mereka alami.
Materinya akan aku pecah-pecah seingatku saja. Berhubung tidak sistematis, mungkin topiknya akan loncat ke sana-kemari. Jadwal postingnya juga akan tidak teratur. Pokoknya suka-suka deh, sama seperti kegiatan mentoring offlinenya.
SEIRING USIA yang terus melaju. Aku kadang merasa fisikku sudah tak setangguh dulu. Begitu juga dengan belajar, sepertinya otakku sudah tak selancar dulu untuk memahami dan menguasasi ilmu baru.
Pernah merasa seperti itu kan? Bilangan usia kita jadikan alasan untuk bersembunyi. Ya, sengaja aku beri tanda tebal untuk menegaskan itu hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri.
Aku akhirnya mengoreksi cara pandang seperti itu. Bukan usia yang membuat kita tak sanggup lagi, melainkan kita mengaku kalah dengan bisikan rasa nyaman yang ingin menikmati masa santai.
Aku punya dua pengalaman yang membuatku yakin bahwa persepsi bertambahnya usia tidak boleh jadi alasan untuk merasa tak sanggup lagi.
Pertama, beberapa tahun terakhir aku berniat punya olah raga rutin. Aku putuskan lari adalah olah raga yang akan aku jalani. Ternyata memulai lari itu, amboi… betapa sulit rasanya. Kaki, tubuh, dan otak sudah tak lagi selaras. Aku merasa sudah terlalu tua untuk berlari lagi karena sudah tak sanggup melakukan “perlarian”, bahkan cenderung tersiksa.
Tapi, perlahan aku coba membenahi diri. Mulai dari me-reset sikap mental, membiasakan diri dengan disiplin, dan mempraktikkan anjuran untuk pelari pemula. Btw, sebenarnya kita bukanlah pelari pemula. Kita hanya ingin mencoba berlari kembali setelah begitu lama meninggalkannya karena terlalu nyaman dengan segala kemudahan yang ada.
Ternyata lari tak sesulit bayangan awal. Usia tak jadi alasan untuk bisa berlari dengan nyaman. Malahan, di sela “perlarian” rutin aku sering bertemu pelari berusia sangat lanjut tetap bergerak lincah dan nyaman. Maka, tak sanggup lagi karena alasan usia langsung runtuh dalam persepsiku. Ini anggapan salah yang sayangnya sudah lama aku simpan.
Kedua, aku dulu pernah menguasai sebuah keterampilan pemrograman komputer. Bahkan, banyak kegiatan profesional di masa laluku adalah di bidang ini. Memang aku sempat meninggalkan dunia pemrograman dengan alasan fokus dengan bisnis yang aku geluti dan memang tidak berhubungan dengan dunia pemrograman komputer lagi.
Sepertinya lebih dari 10 tahun aku meninggalkan dunia pemrograman dan begitu melihat perkembangan di masa sekarang, aduhai… ternyata perubahannya begitu banyak. Sampai pusing aku dibuatnya. Apa yang aku kuasai dulu cepat sekali menjadi kuno. Jika ingin mengikuti roda zaman, mau tak mau aku harus belajar lagi.
Awalnya sikap mentalku sama seperti awal hendak olah raga berlari tadi. “Ah, aku sudah terlalu tua mempelajari ini semua.” Berat rasanya karena otak tidak “seencer” dulu mencerna dan menguasai skill baru. Tapi aku beranikan diri untuk tidak menggunakan sikap mental itu.
Lalu aku coba pelajari dari awal semua yang sedang tren di masa sekarang. “Turun gunung” belajar lagi dari teori hingga implementasinya. Ternyata, mudah kok. Coba kalau aku tetap berada di sikap mental “tak sanggup lagi karena alasan usia” tadi, pastinya aku tak punya kesempatan untuk mempelajari hal baru.
Terakhir, ada perasaan yang begitu menggembirakan saat kita mempelajari hal baru. Dan aku ingin tetap merasakan itu hingga ruh dan jasad sudah berpisah nanti. Kegembiraan ini harus aku pelihara.
SAAT masih mahasiswa dan aktif di kegiatan organisasi kemahasiswaan, aku pernah melakukan sesuatu yang sesungguhnya adalah sebuah manifestasi pemberontakan diri. Ini cerita tentang pemberontakan yang konstruktif, he..he…
Setelah berkelana ke beberapa organisasi untuk mengasah keterampilan diri, aku berlabuh ke organisasi mahasiswa yang bernama Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (KARISMA) – ITB. Kenapa ke lingkungan masjid? Sederhanya saja, aku selalu merasa tentram berada di Masjid. Jadi mengapa tak aktif saja sekalian di lingkungan ini? Toh sejak kecil aku telah akrab dengan kegiatan di masjid.
Dari sekian banyak fragmen dan dinamika yang terjadi selama aktif di Karisma-ITB, ada satu kejadian yang tetiba teringat kembali. Tepatnya terpaksa harus mengingat.
Ceritanya begini.
Berawal dari telepon
Aku mendapat telepon dari salah seorang adik binaan Karisma-ITB. Kebetulan ia sekarang berkarir di salah satu perusahaan teknologi yang besar dan berpengaruh di negeri ini. Ia memegang tanggung jawab di area SDM. Ia mengatakan berencana mengadakan program training untuk karyawan baru. Sejenis ospek kalau mahasiswa. Untuk perusahaan, program ini penting karena menjadi pintu masuk untuk menyelaraskan budaya kerja, sikap kerja, dan menyesuaikan dengan lingkungan kerja. Mengingat, setiap karyawan baru berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dengan budaya yang juga berbeda. Program ini tujuannya untuk menyelaraskan kepentingan itu dan meminimalkan timbulnya friksi.
O ya, sekedar info penjelas bahwa Karisma-ITB itu adalah organisasi yang membina remaja usia sekolah di Kota Bandung. Para pembinanya adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung. Relasi yang terjadi adalah pembina (mahasiswa) menjalankan program pembinaan kepada adik binaan (siswa tingkat SMP hingga SMA).
Lantas mantan adik binaanku ini mengatakan bahwa ia merasa dari sekian banyak program outbound ataupun kegiatan-kegiatan training yang pernah ia alami ada satu kegiatan yang membekas istimewa di hatinya. Kegiatan yang ia maksud adalah training yang pernah aku jalankan sekitar 15 tahun lalu. Lalu ia bertanya apakah aku bisa menyelenggarakan kembali kegiatan seperti itu untuk tempatnya bekerja?
Ditanya seperti itu aku bingung sendiri. Aku memang ingat kegiatannya, tapi itu sudah lama sekali sehingga hanya ingat samar-samar. Aku sudah tak punya dokumennya sama sekali. Kalaupun diadakan harus susun ulang dari awal. Tapi setelah diskusi cukup panjang, aku akhirnya setuju menyelenggarakannya kembali. Mantan adik binaanku ini membantu sekali karena ia lebih banyak ingat detail kegiatan dibandingkan aku sendiri. Dengan begitu aku setuju menjalankannya, walau risikonya aku harus punya energi ekstra untuk merealisasikan itu semua.
Dulu, program itu hanya berlangsung sekali saja tanpa ada kelanjutan berikutnya karena aku tidak berhasil meyakinkan semua rekan-rekan bahwa program itu bagus. Atau bisa juga, mereka tak bersedia karena program itu adalah manifestasi pemberontakanku.
Loh kok bisa?
Eksperimen dengan experiental learning
Jadi begini. Di awal tahun 2000an, konsep experiental learning sedang marak dan menggema di mana-mana. Banyak buku yang terbit dan membahas pendekatan baru dalam pembelajaran. Singkatnya, experiental learning metode pembelajaran yang paling cocok untuk manusia dewasa. Tesisnya adalah di usia dewasa manusia sudah tidak efektif lagi dengan dicekoki materi untuk belajar sesuatu. Sang pembelajar harus aktif menemukan dan menyerap sendiri. Ia juga harus mengalami sendiri suatu peristiwa, menghayatinya, dan akhirnya mampu menarik hikmah serta pembelajaran dari pengalaman tersebut. Aku tak banyak bahas konsep experiental learning di sini. Semoga penjelasan singkat itu bisa mewakili. Yang ingin belajar lebih lanjut konsep ini, sumbernya banyak sekali. Buku dan artikel di internet sudah banyak bertebaran.
Lalu, banyak yang mengadopsi experiental learning ini dengan cara menyisipkan ke program pendidikan konvensional. Pembelajaran konvensional/klasikal menghadirkan guru sebagai sumber ilmu dan peserta sebagai penyerap ilmu. Metode experiental learning kemudian disisipkan dengan cara membuat permainan menarik di sela-sela kegiatan belajar. Menarik memang, kegiatan belajar dan training jadi tidak monoton.
Namun, dalam pengamatanku aksi menyusupkan experiental learning ini terlalu dangkal untuk mengimplementasikan experiental learning. Kita jadi hanya sibuk mencari permainan-permainan menarik. Sekedar hiburan pelepas penat. Parahnya, sebagian “permainan” itu malah jadi kegiatan “mengerjai” peserta training. Aku merasa ada yang keliru dengan pendekatan susupan ini. Tapi begitu mengutarakan ketidaksetujuanku, tentu semua orang akan menjadi lawanku.
Daripada berdebat tak tuntas-tuntas, begitu ada kesempatan menyelenggarakan sebuah training dan saat itu bertepatan teman-teman tidak ada konsep training yang jelas. Aku mengajukan diri untuk menyelenggarakan training yang aku konsep sendiri. Waktu yang dibutuhkan hanya satu minggu. Membuat konsep dalam sebuah tim dalam waktu sesingkat itu adalah pekerjaan yang agak-agak mustahil. Mungkin karena kondisi itu, aku diberi kartu hijau untuk menyelenggarakan training dengan konsep sendiri. Maka, pemberontakanku terhadap training yang menyusupkan experiental learning ke dalam kegiatan konvensional dimulai.
Aku setuju dengan konsep experiental learning tapi tidak setuju dengan impelementasi yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain. Maka, aku harus mendesain kegiatan yang benar-benar sejalan dengan semangat belajar dari pengalaman.
Selama tiga hari penuh aku menyusun kegiatan adik-adik binaan yang sudah mendaftar mengikuti training. “Ini harus jadi pengalaman tak terlupakan untuk mereka,” begitu aku terus berafirmasi untuk menjaga semangat. Aku harus membuat sebuah game besar yang bisa dimainkan secara kolosal dalam waktu tiga hari penuh. Sejak hari pertama hingga penutupan mereka harus masuk ke sebuah alur permainan yang di dalamnya berisi rangkaian pengalaman yang bisa mereka maknai pembelajarannya.
Namun sialnya, dua hari berpikir keras aku tak menemukan permainan yang memenuhi kriteria ini. Aku hampir berada di ujung kegagalan. Beruntung malam itu aku menemukan kembali sebuah modul training bisnis yang pernah aku ikuti beberapa tahun sebelumnya. Aha… ketemu. Menjalankan bisnis itu kompleks, “kenapa tidak dijadikan sebuah permainan saja?”
Business game
Tanpa pikir panjang aku tetapkan permainan ini dalam bentuk business game. Peserta akan aku ajak bermain bisnis dengan segala kompleksitas dan permasalahannya. Aku lalu menyusun skenario agar permainan terasa mengalir tapi di dalamnya harus muncul berbagai masalah untuk mereka selesaikan dan harus ada unsur kejutan (element of surprise). Rinciannya tak dapat aku uraikan di sini, terlalu panjang he..he…
Pendeknya, konsep telah aku susun adalah sebuah skenario belajar kolosal dengan satu permainan: business game. Peserta akan aku bagi menjadi beberapa kelompok yang sekaligus sebagai sebuah entitas bisnis yang saling bersaing. Mereka akan mengalami proses yang belum pernah mereka ketahui saat menjalani bisnis.
Aku mendesain agar dari kegiatan ini mereka mendapat pembelajaran mengenai kepemimpinan, komunikasi, bersikap hati-hati, berpikir kreatif, kerja sama tim, dan persisten menjalani proses. Semuanya tidak diajarkan secara satu arah. Biar mereka mengalami sendiri. Aku sediakan waktu khusus untuk refleksi, memetik pembelajaran dari pengalaman yang mereka lalu.
Untuk belajar komunikasi dan kerja sama tim misalnya, kita bisa saja membuatkan materi ajar untuk membahas kedua terminologi itu. Tapi, pada praktiknya banyak orang yang lupa teori kerja sama tim kalau sudah emosional. Nah… aku biarkan mereka merasakan semua itu. Setelahnya barulah mereka sendiri yang menggali hikmah pembelajaran. Kami sebagai pembina hanya bertugas mengarahkan dan memancing hikmah pembelajaran itu keluar pada sesi refleksi.
Tantangan berikutnya, aku harus bisa mengajak rekan-rekan pembina lain untuk menyukseskan kegiatan ini. Berhubung waktunya sempit sekali, aku tak punya waktu untuk menjelaskan satu persatu rangkaian kegiatan kepada mereka. Inilah kesalahan paling fatal sehingga di kesempatan berikutnya program ini dianggap tidak layak untuk diteruskan. Aku tak punya waktu banyak untuk menjelaskan fisolofi setiap kegiatan karena harus menyelamatkan terselenggaranya kegiatan. Jadi, fokusku adalah agar setiap pembina bisa memainkan peran yang telah aku rancang. Tidak lebih dari itu.
Alhamdulillah, saat kegiatan berlangsung seluruh skenario yang aku rancang berjalan dengan baik. Memang ada beberapa kendala yang belum terpikirkan sebelumnya. Tapi secara keseluruhan, sesuai dengan rencana. Peserta “termakan” konflik yang aku ciptakan. Mereka juga mengalami element of surprise yang aku desain dan mereka benar-benar terkejut, bahkan ada yang sampai bertengkar dan menangis. Tapi itu tak mengapa karena bagian dari proses.
Selepas kegiatan itu aku kelelahan luar biasa. Puas sekali rasanya menjalankan skenario “pemberontakan”. Tapi satu hal yang aku pelajari, puas tidak cukup. Kita harus punya energi lebih untuk mempertahankannya. Nah, saat itu aku merasa sudah tak punya energi lagi untuk mempertahankan program itu jadi sebuah kegiatan yang berulang. Ditambah lagi aku sudah memasuki masa tingkat akhir yang perlu fokus lebih.
Menggali eksperimen lama
Kemudian, 15 tahun setelahnya aku mengulang kembali hal sama. Semua karena salah seorang peserta menyatakan bahwa itu adalah kegiatan paling berkesan selama ia mengikuti berbagai training dan outbound sepanjang karirnya. Aku merasa terpanggil karena program itu sudah seperti anak sendiri buatku.
Lucunya, timeline yang dibutuhkan untuk merealisasikan itu hampir sama mepetnya dengan kejadian 15 tahun lalu. Aku pun terjebak di masalah yang sama yaitu tak punya waktu menjelaskan filosofi rancangan kegiatan secara lengkap. Aku harus prioritaskan kegiatan teknisnya aman dulu.
Walau cukup melelahkan karena harus memulai lagi dari awal dan mengawal seluruh rangkaian skenario, aku merasakan hal yang sama seperti 15 tahun lalu. Peserta mengikuti skenario dengan segala permasalahan dan element of surprise yang aku desain. Berharap mereka bisa belajar banyak hal dalam sebuah rangkaian permainan besar.
Ini sedikit cuplikan kegiatan tersebut. Aku memang belum minta izin menayangkan cuplikan video ini kepada perusahaan yang menghidupkan kembali business game yang pernah aku desain dulu. Izin akan diproses kemudian, jika tidak diberikan videonya akan aku take down. He…he…
Millennial Camp untuk Arjasa, menggunakan Business Game yang aku rancang 15 tahun sebelumnya
Lalu apa?
Beberapa rekan panitia maupun peserta memberikan masukan secara personal kalau kegiatan itu unik. Selama dua hari peserta dan panitia bermain bersama. Menikmati alur yang bersahabat, seru, dan pakai drama segala. Aku masih belum punya rencana ini mau dibawa ke mana. Apakah aku teruskan dengan memodifikasi beberapa bagian? Apakah perlu aku tawarkan ke perusahaan lain berbekal kegiatan sebelumnya?
Jujur, aku tidak tahu. Dan kejujuran kadang menyakitkan kawan. Aku bahkan siap jika ternyata konsep ini dijalankan orang lain dan ia menikmati itu. Seperti kata orang-orang, ide dan inovasi bagaikan anak bagi penemunya. Ia sayang sekali kepada ide itu. Tapi kini aku sudah meredefinisi rasa sayangku. Jika pun diteruskan dan dikembangkan orang lain, aku merasa cukup pernah punya kenangan memberontak secara konstruktif.
Bila pun nantinya akan dikembangkan, kegiatan ini harus disempurnakan dengan ikhtiar yang lebih matang. Aku tak percaya sebuah produk bisa bagus hanya dengan sekali “pukul”. Ia harus dikembangkan dengan rancangan yang lebih baik dan dengan pengukuran yang dapat dipertanggung-jawabkan. Kita lihat saja bagaimana kelanjutannya nanti.
Hakim: Hm…, kalau begitu dia harus dihukum seberat-beratnya. Sudah pantas kita jatuhi hukuman mati. Tapi bagaimana cara dia melakukan itu?
Polisi: Sadis yang mulia. Dia memukul korban sampai tewas, lalu memutilasinya.
Hakim: Luar biasa penjahat ini. Saya benar-benar akan menjatuhkan hukuman mati untuknya.
Lauhar: Maaf yang mulia, saya sama sekali tidak melakukan itu. Saya bertemu Tuti dalam keadaan linglung di jalan, lalu saya beri makanan, pakaian, dan memberinya tumpangan berteduh. Banyak saksinya dan saya bisa menghadirkan para saksi.
Hakim: Tidak, kamu harus dihukum mati. Kamu memperparah kejahatanmu dengan bersikap sombong di sini. Sangat tidak pantas pelaku kejahatan bersikeras menyatakan dirinya orang baik!
Lauhar: Tapi yang mulia, saya berkata benar dan ada saksi yang bisa menguatkan pengakuan saya.
Hakim: Apa? Kau sudah membunuh Tuti, memisahkan bagian-bagian tubuhnya. Lalu sekarang berlagak tak berdosa? Sombong sekali engkau anak muda.
“Maaf yang mulia…” teriak dari kursi pengunjung sidang.
Hakim: Siapa… siapa yang berbicara itu?
Wanita Muda: Saya Tuti yang mulia.
Lauhar: Syukurlah…, lihatlah yang mulia, ini Tuti. Dia masih hidup. Saya tidak pernah membunuhnya kan?
Hakim: Hm… apakah benar ini Tuti yang Bapak Polisi maksud tadi?
Polisi: Benar yang mulia.
Tuti: Iya, saya Tuti yang dibahas dari tadi.
Hakim: Dia tidak membunuhmu. Lalu bagaimana dengan mutilasinya, apakah dia melakukannya?
Tuti: Tidak yang mulia. Dia tidak melakukannya. Sebaliknya, dia yang menolongku dan memberikanku makanan. Pakaian juga.
Lauhar: Anda dengar sendiri yang mulia. Saya tidak berbohong.
Hakim: Baik. Kamu terbebas dari tuduhan membunuh dan memutilasi. Tapi kamu tetap dihukum atas tuduhan ketiga. Kamu tetap dihukum mati karena kesombonganmu.
Dimodifikasi sedikit dari percakapan pembuka Buku Max Havelaar karya Multatuli (E. Douwes Dekker). Dialog ini diberi catatan: Drama yang tidak Dipublikasikan.
Malam ini aku baru selesai menuntaskan bacaan yang sepertinya telah teronggok tiga tahun lebih di pertengahan buku. Buku yang mungkin cukup populer, biografi seorang pengusaha dari Inggris – Richard Branson. Di penutup bukunya Richard mengutip sebuah puisi yang cukup menggelitik benakku. Jadi aku tulis ulang saja di sini. Berhubung buku yang aku baca adalah terjemahan, maka kutipan puisinya juga yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.
JIKA
Rudyard Kipling
Jika kau mampu menegakkan kepala, ketika orang-orang
di sekitarmu kehilangan segalanya dan saling menyalahkan.
Jika kau mampu meyakini dirimu,
ketika semua orang meragukanmu.
Namun kau tetap mampu memahami keraguan mereka.
Jika kau bisa menunggu dan tidak lelah menunggu.
Atau dibohongi, namun tidak berbohong.
Atau dibenci, tapi tidak membenci.
Namun semua itu masih tidak terlalu baik,
atau tidak terlalu bijaksana.
Jika kau dapat bermimpi, dan tidak ada yang memaksamu bermimpi.
Jika kamu dapat berpikir, dan tidak ada yang memaksamu untuk berpikir.
Jika kau dapat menerima kemenangan dan bencana
Dan menerima keduanya dengan cara yang sama.
Jika kau mampu mendengarkan kebenaran yang terucap oleh bibirmu.
Meski terhalang kemuslihatan yang menjerat si dungu.
Atau menyaksikan segala hal yang kita bangun hancur.
Namun memungutnya dan membangunnya kembali dengan alat yang usang.
Jika kau dapat menumpuk kemenangan.
Dan terus membumbung tinggi.
Lalu kalah dan memulai segalanya dari awal.
Dan tidak pernah mengungkit-ungkit kekalahan.
Jika kita dapat menguatkan hati, dan syaraf, dan otot daging.
Untuk membuatmu bertahan atas kekalahan.
Dan tetap bertahan, meski kau tak punya satu pun lagi.
Kecuali kehendak yang mengatakan “bertahanlah!”
Jika kau dapat berbicara di depan orang dan tetap menjaga martabat.
Atau berjalan dengan Raja, tanpa lupa sebagai orang biasa.
Jika tak seorang pun musuh dan teman bisa melukaimu.
Jika semua orang membantumu, tapi tidak terlalu banyak.
Jika kau bisa mengisi saat yang menyakitkan.
Dengan nilai enam puluh detik penentuan lari jarak jauh.
Milikmu adalah Bumi dan semua yang terkandung di dalamnya.
Dan lebih dari itu, kau kan menjadi seorang manusia, anakku!
PANDEMI COVID-19 yang kini tengah berulang tahun pertama mengalihkan jalur sejarah bumi. Hanya dalam kurun setahun banyak cerita yang berubah, banyak hal yang terenggut paksa, dan begitu banyak yang covid ambil dari hidup kita.
Sejauh ini aku belum berkenalan langsung dengan virus penyebar teror ini. Tapi aku sudah dalam keadaan menerima andaikan pun suatu saat nanti ia menegur dan menguji kesabaran. Tapi seiring serangan yang covid-19 ini gencarkan, aku malah mengalami ujian yang sepertinya menurutku jauh lebih dahsyat dampaknya kepada diri ini daripada terpapar covid. Jika pandemi tak sedang menguji kesabaran makhluk manusia satu planet bumi, aku mungkin sudah takluk dan terkapar karena tak sanggup menanggung ujian itu.
Ujian apakah gerangan itu? Aku tak mungkin uraikan di sini. Bahkan aku tak sanggup menceritakan ke siapapun. Aku hanya mampu mengadu kepada Sang Kuasa dan curhat kepada tembok yang takkan mungkin merespon kembali. Seberat itu kah? Sungguh…, ini ujian paling mengguncang dalam hidupku. Tapi sudahlah…, aku harus menghadapinya. Tak boleh kalah dan jangan sampai kalah.
Merenungi kembali ujian ini, aku jadi teringat sebuah buku bagus yang berjudul “Man’s Search for Meaning” karya Victor Frankl. Tugas kita sebagai manusia adalah mencari makna. Salah satu jalan pencarian makna itu justru lewat penderitaan.
But there was no need to be ashamed of tears, for tears bore witness that a man had the greatest of courage, the courage to suffer.
Victor Frankl
“Tak perlu malu dengan tangisan, air mata itu menjadi saksi kalau seseorang memiliki keberanian, keberanian untuk menanggung penderitaan.” kata Victor.
Saat menghadapi ujian itu aku sangat takut dengan diriku sendiri. Bagaimana aku harus bereaksi terhadapnya? Jangan-jangan aku jadi lepas kendali dan merusak segalanya?
Beruntung Tuhan masih membimbing hati ini untuk tetap tenang dan berpikir dengan kepala dingin. Aku harus pegang kendali atas diriku sendiri. Tak boleh lepas walau dentuman yang menghantam sebegitu kerasnya, aku tak boleh lalai lepas kendali.
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms–to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way.
Victor Frankl
Semua bisa direnggut dari manusia kecuali satu hal: kebebasannya sebagai manusia–yakni sikap yang ia pilih sendiri dalam suatu keadaan tertentu, untuk memilih jalannya sendiri.
Akhirnya aku diberi kesempatan merasakan sendiri apa yang Frankln katakan dalam bukunya bahwa kita bisa mendapatkan makna dari sebuah penderitaan. Walau tengah menderita jangan berpikir sebagai seorang korban, sebab lewat penderitaan itu kita dapat menangkap makna hidup.
Apakah aku terguncang dan goyah ujian itu? Awalnya ya…, aku ingin sekali (dan memang mampu) mengambil respons membalas. Tapi aku memilih menjadi manusia merdeka dan memilih jalan yang lebih baik serta terhormat.
Aku jadi lebih menghayati betapa sedihya Nabi Muhammad (SAW) pada tragedi Bir Ma’una. Sebuah peristiwa pengkhianatan yang begitu mengguncang baginda nabi. Kebaikan dan pertolongan yang ternyata dibalas dengan pembantaian 70 orang sahabat terbaik Rasulullah. Dikisahkan, sampai-sampai Malaikat Jibril menawarkan agar Rasulullah memanjatkan doa penghukuman seperti halnya nabi-nabi terdahulu ketika dizalimi oleh umatnya. Beruntung Rasul tak mengikuti tawaran itu. Nabi Muhammad SAW mengikuti perintah Allah SWT untuk memanjatkan doa yang kini kita kenal sebagai doa Qunut.
Rasulullah SAW apabila hendak mendoakan untuk kebaikan seseorang atau doa atas kejahatan seseorang, maka beliau doa qunut setelah ruku.’
HR Bukhori dan Ahmad
Perbuatan zalim seseorang kepada orang lain akan disegerakan balasnya di dunia ini. Itulah dasarnya mengapa kita harus hati-hati sekali dengan doa orang yang terzalimi sebab tak ada lagi penghalang antara doanya dengan Allah SWT.
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.
QS. Asy-Syura ayat 42
Namun, dalam menghadapi kezaliman itu Rasulullah malah mengajarkan doa yang baik bukan doa meminta pembalasan. Aku merasa beruntung pernah belajar hal ini dan Allah SWT berkenan memberi kesempatan agar aku mempraktikkannya.
Kebajikan itu bukanlah membalas luka dengan luka. Meski luka yang telah dirasa, sebagai manusia yang merdeka kita punya pilihan yang lebih baik yaitu memohon dilimpahkan kesabaran dan meminta pertolongan agar dihindarkan dari kejahatan orang yang zalim.
Kini aku telah merasa mampu melewati yang tadinya aku kira sebuah penderitaan. Aku harus mulai berjalan kembali setelah sempat terhenti oleh sebuah hantaman keras di kepala. Apapun itu, biarlah Tuhan yang menentukan karena aku memegang erat rasa yakin bahwa Ia Maha Adil dan Bijaksana.
Seperti kata Victor dalam buku pencairan manusia akan makna, “penderitaan akan terhenti pada saat kita menemukan makna dari penderitaan itu.“
Aku sudah menutup “buku” itu. Berharap ia tak pernah terbuka lagi. Aku bertanggung jawab terhadap diriku sendiri dan keputusanku. Dan aku memilih menjadi orang yang selurus mungkin.