Kehabisan Dana

0

DI TENGAH proses produksi album dua edCoustic kami sempat menghadapi kendala yang cukup pelik: kehabisan uang. Sebagai produser eksekutif, dana menjadi area tanggung jawabku. Tapi saat itu aku benar-benar kehabisan jurus. Seluruh uang tabungan pribadiku sudah dikeluarkan untuk proyek album ini. Dengan risiko uang itu bisa saja hilang kalau album dua edCoustic tidak laku. Aku hanya bisa pasrah. Apapun hasilnya kelak, aku sudah ikhlaskan jikapun nanti tidak kembali.

Hanya saja kami masih setengah jalan. Masih banyak biaya yang harus kami keluarkan untuk sewa studio dan membayar jasa para musisi. Akhirnya aku ceritakan ke Deden kalau aku sudah kehabisan jurus. Kita harus cari cara bersama-sama mengatasi agar proyek ini tetap jalan.

Diskusi yang kami lakukan cukup panjang. Tapi aku singkat saja. Akhirnya kami menemukan jalan keluar dengan cara menyelenggarakan sayembara menyanyikan lagu edCoustic. Pemenangnya akan mendapat hadiah ikut bernyanyi di album kedua edCoustic. Seluruh peserta kami pungut biaya pendaftaran. Jujur saja, biaya pendaftaran itu sebenarnya menjadi penyambung hidup proyek album kedua edCoustic. Bagi peserta yang pernah mendaftar saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf di balik layar yang terjadi adalah kami hampir bangkrut sebelum proyek ini selesai.

Hitungan kami, saat itu edCoustic sedang banyak dikenal oleh pendengar muda di berbagai kota besar. Kami memang memungut biaya pendaftaran untuk sayembara ini. Tapi seluruh peserta punya kesempatan rekaman di studio profesional. Kalaupun tidak juara, setidaknya mereka punya oleh-oleh hasil rekaman suaranya sendiri di studio musik profesional. Kalau nanti menang, mereka dapat hadiah yang lebih bernilai dari uang yaitu ikut serta dalam album edCoustic.

Total pendaftar resmi sayembara ini adalah 250 peserta dari berbagai kota. Lagu yang kami sayembarakan adalah lagu yang akan dijadikan andalan dalam album 2 edCoustic yaitu Muhasabah Cinta. Seluruh peserta mendapat copy minus one lagu Muhasabah Cinta dan mereka diberi kesempatan latihan seminggu. Kemudian kami menjadwalkan rekaman untuk seluruh peserta. Dari hasil rekaman tersebut kami memilih 10 peserta terbaik dan mereka tampil di gedung Rabbani di Jalan Dipatiukur Bandung. Event itu sendiri kami tawarkan dengan sistem kerja sama sehingga kami tidak harus mengeluarkan dana.

Antusias peserta sayembara sangat luar biasa. Tapi aku sebagai salah satu juri gempor juga mendengarkan ratusan versi lagu Muhasabah Cinta. Sampai-sampai aku eneg sendiri mendengar lagu tersebut. Di acara grand final kami memilih pemenang grup vocal yang menamakan dirinya Soultan. Menentukan pemenang ini juga sangat tricky. Kami berdebat cukup panjang menentukan siapa yang jadi pemenang.

Setelah terpilih, kami menunaikan janji bahwa pemenang punya hak berduet mengisi lagu Muhasabah Cinta di album 2 edCoustic. Ini merupakan pilihan di luar skenario awal kami. Ada konsep duet sejatinya berawal dari kehabisan bahan bakar untuk melanjutkan proyek album dua edCoustic. Sebagian sisa biaya pendaftaran berhasil menyambung proyek kami yang terhenti. Setelah itu alhamdulillah aku punya rezeki lagi sehingga bisa melanjutkan lagi rencana semula.

Simak cerita berikutnya ya.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Lagu Pesanan yang Bikin Berantem

0

SEWAKTU tahap penyusunan konsep kreatif, sebagai produser eksekutif aku request spesial kepada Deden selaku pencipta lagu. “Aku ingin ada satu lagu yang sangat kontemplatif,” pintaku. Lagu itu harus bisa kita dengarkan di saat sendiri sambil menghitung-hitung salah diri.

Kenapa begitu? Sebelumnya, aku pernah jatuh hati dengan tiga lagu kontemplatif milik Deden. Sayangnya dia tidak pernah menyayikan lagu itu. Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar lagu ini, bagi yang belum pernah silakan berburu. He..he..

  1. Jelas, dipopulerkan oleh Hani & Ina.
  2. Keimanan, dipopulerkan oleh Haris Shafix.
  3. Sholatku, dipopulerkan oleh Hani & Ina.

Nah… aku bilang ke Deden di album 2 edCoustic harus ada minimal 1 lagu kontemplatif. Itu request spesial dari aku. Dia pun menyanggupi walaupun di proses pembuatannya, ternyata Deden sangat terbebani dengan request ini. Ditambah lagi beberapa insiden yang membuat lagu ini nyaris gagal kami produksi.

Setelah menulis semua materi lagu, Deden menyampaikan lagu yang aku request itu judulnya “Sendiri Menyepi”. Pertama kali mendengar lirik dan lagunya, aku langsung suka dan tidak banyak tawar menawar. Berhubung ini request khusus, aku menyampaikan bahwa lagu ini hanya boleh diisi dengan gitar akustik dan cello saja. Ini murni hanya selera pribadiku saja. Aranger dan pengisi musik mungkin tidak setuju dengan konsep ini. Tapi gue kan produser, he..he… Jika dulu aku menyebalkan, mohon maaf ya…

Insiden terjadi ketika kami merekam vocal Sendiri Menyepi. Deden tidak berhasil menyanyikan lagu ini dengan baik walaupun kami sudah menghabiskan 3 shift sewa studio. Dia bilang tidak berhasil mendapatkan emosi lagu ini. Mungkin karena aku terlalu ikut campur dengan konsep lagunya. Sampai-sampai cara bermain gitarnya juga aku ikut ngatur-ngatur padahal aku tidak bisa bermain gitar. Mungkin aku terlalu menyebalkan saat itu sehingga Deden tidak berhasil menyanyikan lagu ini dengan maksimal. Malahan, dia sampai sakit untuk memperjuangkan lagu ini enak dinyanyikan.

Karena Deden sampai sakit, aku akhirnya menyerah juga. Sudahlah, rekaman terakhir kita bungkus saja walaupun aku masih tidak puas dengan hasilnya. Eh… ternyata setelah menghabiskan tiga shift sewa studio, rekaman tersebut hilang. Deden kewalahan, dia melapor kalau CD yang dipakai untuk menyimpan rekaman suara versi studio lagu tersebut error. Kami berharap di studio masih disimpan filenya, tapi ternyata juga sudah dihapus oleh operator. Praktis, kami tidak punya rekaman lagu Sendiri Menyepi padahal sudah menghabiskan dana untuk menyewa tiga shif studio. Amboi… situasi ini membuat suasana semakin tidak nyaman.

Mungkin karena merasa bersalah, Deden bilang kepadaku bahwa dia akan rekaman lagi dengan biayanya sendiri untuk mengganti lagu tersebut. Aku yang sedang senewen mengiyakan dan tidak mau ikut mendampinginya merekam ulang. Akhirnya Deden pergi sendiri ke studio, merekam ulang lagunya yang hilang dan membayar sendiri ongkos sewa studio. Tapi aku merasa tak tega juga, di pertengahan sesi aku samperin Deden ke studio. Saat itu ia mengambil shift malam studio.

Masya Allah, aku merinding ketika ia bernyanyi. Bukan kan karena lagu ini request spesialku, tapi ia bernyanyi sambil menitikkan air mata. Entah karena merasa bersalah atau karena terlalu menghayati lagunya sendiri. Tapi hasilnya jauh lebih bagus dari rekaman-rekaman sebelumnya dan benar-benar sesuai dengan ekspektasiku tentang bagaimana ia harusnya menyanyikan lagu ini. Deden juga mengubah sebagian lirik di rekaman terakhir tersebut dan hasilnya lebih ok dibandingkan lagu awal. Hasil akhir lagu ini cukup berbeda dengan konsep lagu versi demonya dan aku puas. Di versi demo malah lagu kontemplatif ini diaransemen dengan bit yang cocok buat jejingkrakan.

Yang belum pernah dengar, bolehlah melipir ke youtube atau spotify mendengarkan lagu Sendiri Menyepi yang di dalamnya ada cello section yang sudah aku ceritakan di bagian sebelumnya.

Lanjut ke cerita lainnya ya…

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Rahasia Alat Musik Cello

0

SEJAK AWAL MUNCUL, edCoustic tetap pada jalur musik yang mengusung konsep religi. Istilah tradisionalnya nasyid, tapi kami kurang sependapat dengan itu karena cara bermain musik edCoustic rada jauh dari genre nasyid pada umumnya. Kelompok nasyid juga tentu tidak suka edCoustic mengaku-ngaku di genre nasyid. Jadi, gampangnya kami berada di jalur musik religi. Belakangan istilah ini diubah oleh teman-teman penggiat genre ini menjadi musik positif. Okelah, yang mana saja tidak masalah. Karena yang kita bahas di era tahun 2008 maka kita pakai istilah musik religi saja.

Pada cerita terdahulu, aku sudah pernah sampaikan bahwa di album dua kami harus menggunakan alat musik signature yang mampu menimbulkan perasaan emosional pendengar. Ada dua alat musik yang kami putuskan akan menjadi signature di album kedua edCoustic yaitu gitar akustik dan cello. Untuk gitar akustik, aku kira tak perlu kita elaborasi karena edCoustic erat sekali dengan alat musik ini. Sedangkan cello, ini kami pilih setelah mendengar beberapa referensi lagu-lagu yang terasa sangat menyentuh. Kesimpulan kami, karakter suara alat musik gesek ini sangat cocok untuk lagu-lagu sendu. Sebagian lagu terpilih di album 2 edCoustic memang berirama sendu dan cocok sebagai lagu yang emosionil. Maka kami harus memasukkan setidaknya 1 lagu yang berisi gesekan cello.

Masalahnya, kami saat itu tidak memiliki kenalan yang bisa memainkan cello. Bahkan kami berdua belum pernah melihat langsung bagaimana alat musik cello itu. Putar-putar otak, akhirnya kami mengambil strategi melakukan audisi musisi cello di Bandung. Kami menyebar pamflet dan pengumuman tentang audisi ini. Beberapa pemain cello mendaftar mengikuti audisi dan kami membagikan materi demo lagu yang harus mereka isi musiknya dengan alat musik cello.

Seingatku ada tiga orang yang mengikuti audisi ini. Kami terpincut oleh keterampilan bermain cello seorang mahasiswa seni musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Singkat cerita, akhirnya kami memilih dia untuk mengisi dua buah lagu menggunakan cello, yaitu lagu yang berjudul: (1) Muhasabah Cinta; dan (2) Sendiri Menyepi. Keduanya berkarakter sendu dan kami pikir akan bagus sekali jika diisi dengan alat musik cello beneran.

Ia pun berlatih sekitar 2 minggu untuk mengisi cello section. Pada saat rekaman di studio ada cerita menarik dan aku kira tak pernah didengar oleh fans edCoustic karena cerita ini kami rahasiakan. Tapi di sini tak apalah aku sampaikan.

Satu shift studio durasinya 6 jam. Untuk cello section ini kalau tidak keliru kami booking 2 shift studio karena akan digunakan untuk merekam suara gitar akustik juga. Nah… ketika tiba break maghrib, rekaman kami hentikan sementara dan mengajak seluruh anggota tim yang ada di studio untuk sholat berjamaah di masjid sekitar studio.

Saat itu aku yang mengajak pemain cello untuk break sholat maghrib. “Maaf Kang, saya tidak sholat,” ungkapnya halus dan mengatakan akan menunggu di studio saja. Sontak saya kaget, “kenapa tidak sholat?”.

“Saya non muslim Kang,” katanya sambil tersenyum. O alah…, saya salah tafsir karena selama ini tidak pernah sampai kepikiran masalah ini.

Selepas sholat maghrib saya ajak dia diskusi dan meminta maaf. Saya sama sekali tidak ada masalah dengan album edCoustic diisi oleh siapapun, termasuk player non-muslim. Tapi selama ini dia pasti tidak nyaman karena harus mengisi lagu religi Islam. Apalagi di diskusi itu saya baru tahu kalau ia adalah anggota band gereja. Namun, ia mengatakan tidak masalah sama sekali malah sangat suka dengan musik dan lirik kedua lagu yang ia isi cello section-nya itu.

Kami memutuskan tidak membicarakan hal ini ke siapapun karena bisa malah ditanggapi terlalu liar. Sebagian orang bisa saja tidak terima, dua buah buah lagu religi islami edCoustic ternyata dicampuri oleh player yang non muslim. Buat saya sih clear, itu tidak masalah tapi orang lain belum tentu. Jadi, cerita ini sengaja tidak kami sampaikan ke siapapun demi kebaikan bersama.

Bagi yang belum pernah dengar kedua lagu mellow tersebut, silakan cari di youtube atau spotify

  1. Muhasabah Cinta
  2. Sendiri Menyepi

Simak juga cerita lainnya ya.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Tahapan Memproduksi Album Musik

0

DI BAGIAN INI aku merangkum catatanku saat memproduksi album 2 edCoustic. Aku ingin berbagai cerita bagaimana kami membagi tugas menyelesaikan album tersebut.

Aku pribadi belum pernah terlibat memproduksi sebuah album secara utuh. Tapi Deden sudah pernah ikut serta memproduksi beberapa album di bawah indie label. Hal ini memberikan suntikan keyakinan bagi kami berdua untuk bahu-membahu menyelesaikan misi album kedua edCoustic. Kami membagi peran sebagai berikut. Aku bertindak sebagai produser eksekutif, yang memiliki tanggung jawab penuh secara keuangan dan keseluruhan mata rantai produksi album. Adapun Deden bertindak sebagai produser, yang bertanggung jawab memastikan produksi dapat berjalan lancar. Tentu saja selain sebagai produser ia juga merangkap sebagai penulis lagu dan penyanyi.

Pada titik ini kami sudah merelakan gagalnya skenario masuk sebagai artis Major Label. Kami sudah bisa berdamai dengan kenyataan. Berikutnya adalah bagaimana bisa sukses dengan pilihan produksi sendiri.

Tahap awal kami saat itu adalah menentukan nama label yang akan mengusung album dua edCoustic. Aku sendiri belum punya ide. Tapi saat itu Deden menawarkan sebuah nama yang membuat aku geli sebenarnya. Ia menawarkan nama dan logo indie label kami yaitu Mika Musik. Buatku nama itu cukup menggelikan karena Deden mengambil nama indie label kami dari nama istriku sendiri, yaitu Mika. Aku awalnya tidak setuju karena sebaiknya kita ambil nama yang lebih netral dan aman. Tapi Deden punya argumen saat itu bahwa diksi nama label tersebut punya rima yang asyik. Ia merasa yakin nama itu punya kekuatan brand yang baik di masa mendatang. Akhirnya aku mengalah karena aku juga tidak memiliki alternatif yang lebih baik.

Setelah nama selesai diputuskan. Kami lantas menyusun tujuh tahapan produksi sebagai berikut.

  1. Konsep Kreatif
  2. Aransemen
  3. Produksi Lagu
  4. Mastering dan Mixing
  5. Produksi Kaset dan CD
  6. Promosi Album
  7. Penjualan Album

Mari kita bahas apa yang kami lakukan di masing-masing tahap secara singkat. Beberapa detail menarik akan aku tulis di bagian terpisah. Ingat, di setiap tahap ini muncul biaya dan biaya tersebut adalah tanggung jawabku sebagai seorang produser eksekutif. Problemnya, di titik pertama kami berangkat saja pun aku sudah tidak punya uang. Ini benar-benar akan menjadi perjalanan paling menyesakkan karena harus bekerja dalam kehampaan uang.

Konsep Kreatif
Kami menyelesaikan konsep album kedua hanya dalam hitungan dua atau tiga hari. Berikut aku cuplik catatanku saat kami membahas konsep album 2 edCoustic.

  • Album ini harus lebih mature dibandingkan album 1 edCoustic
  • Kita harus dapat membuat pendengar benar-benar merasakan emosi setiap lagu karena kekuatan lirik lagu yang pengalamannya dapat dirasakan kebanyakan orang. Oleh karena itu, lirik lagu harus dipilih sedapat mungkin mewakili cerita yang dekat dengan keseharian pendengar.
  • Kita harus memiliki benang merah konsep lagu dengan album 1. Kami memutuskan beberapa lagu harus memiliki ruh yang sama dengan album sebelumnya.
  • Nuansa gitar akustik harus lebih kental karena kita menggunakan nama edCoustic, oleh karena itu cita rasa akustiknya harus lebih terasa.
  • Kami ingin ada alat musik signature dalam album 2 edCoustic. Tujuannya agar pendengar langsung “ngeh” begitu mendengar musiknya dan hanyut dalam emosi lagu tersebut. Dua alat musik yang masuk dalam kategori konsep ini adalah gitar akustik dan cello. Setelah kami riset, cello memiliki kekuatan magis dalam sebuah lagu. Suara gesekan cello seolah mewakili rasa hati yang tengah teriris-iris. Aku akan cerita satu bagian khusus tentang cello ini nanti.

Setelah menyepakati konsep tersebut, Deden pun menjalankan tugasnya menulis lagu sesuai dengan konsep yang kami susun. Seingatku saat itu Deden mengajukan sebuah previliege khusus yaitu boleh menentukan sendiri lagu. Alias dia punya hak prerogatif menentukan sendiri pilihan lagu. Aku setuju dengan memberikan hak khusus ini karena aku percaya dia sebagai produser sekaligus penulis lagu ia lebih paham apa yang dikerjakan dibandingkan aku sendiri.

Meskipun begitu, pada kenyataannya kami sempat berdebat serius tentang pilihan lagu. Saat itu kami punya 15 pilihan lagu. Tapi, di tengah perbebatan tersebut ia selalu keluarkan kartu bahwa kami sudah sepakat dia punya hak prerogatif memilih lagu. Dan aku akhirnya terpaksa mengalah.

Aransemen
Sewaktu masih berburu masuk major label, kami pernah bercita-cita suatu saat musik edCoustic harus diaransemen oleh Toh Pati. Di masa itu, Toh Pati adalah aranger musik yang paling kami sukai. Aransemen musiknya sangat enak dan sekaligus dapat diterima pasar.

Tapi sayangnya dengan produksi sendiri, kami jelas tak punya kekuatan dana untuk menyewa Toh Pati sebagai aranger album kedua edCoustic. Situasi kami bagai punguk merindukan bulan. Biarlah ini sekedar impian indah yang tak pernah kesampaian.

Pilihan aranger musik akhirnya kami jatuhkan kepada teman kami, seorang personil grup Shafix yaitu Indra. Selama ini Indra sudah sangat dekat dengan edCoustic, baik secara personal maupun secara musik. Ia paham selera edCoustic dan ia satu-satunya aranger yang bersedia dibayar dengan paket hemat dengan sistem pembayaran di akhir project. Kalau dihitung-hitung kembali, budget yang kami sediakan untuk Indra aku yakin sangatlah tidak pantas dengan effort yang ia harus dedikasikan. Untuk ini aku merasa punya utang besar kepada Indra. Kesediaannya mengaransemen album kedua edCoustic menyelesaikan lebih dari 30 persen masalah yang kami harus selesaikan.

Produksi Lagu
Setelah tandatangan kontrak dengan Indra sebagai aranger musik, ia mulai menyusun konsep aransemen lagu. Aku tak terlalu banyak terlibat dalam diskusi aransemen lagu ini karena di saat yang bersamaan aku harus menyelesaikan masalah yang sama pentingnya: mencari uang.

Setelah aransemen dasar lagu mulai terbentuk, kami menjadwalkan rekaman vocal dan alat musik di studio. Rekaman alat musik elektronik saja yang dikerjakan di rumah Indra. Sisanya harus kami kerjakan di studio karena saat itu hanya studio musik yang memiliki fasilitas rekaman yang memadai. Aku sempat pusing dan mual-mual saat melihat jadwal studio yang harus kami booking. Ketika dikonversi ke rupiah, dadaku terasa terhantam. Bagaimana tidak, dengan uang terbatas kami harus bayar sewa studio dan kebutuhan produksi lainnya seperti konsumsi dan jasa para musisi yang mengisi musik atau backing vocal.

Untuk mengatasi kendala uang ini, kami harus atur-atur jadwal sesuai keadaan kantong. Pas ada uang, sewa studio. Jika lagi cekak, istirahat dulu. Nanti aku cerita beberapa detail lain di masa produksi ini.

Mixing dan Mastering
Mixing dan mastering adalah tahapan penting setelah seluruh musik diaransemen. Kedua kegiatan ini untuk memenuhi standar minimal kualitas album rekaman yang baik. Mixing adalah pekerjaan untuk memadu-madankan hasil aransemen, kurang lebih ini adalah proses akhir dalam memasak yaitu memastikan rasa yang pas. Adapun mastering adalah proses lanjutan dari mixing yang merupakan tahap akhir. Analogi dalam memasak, mastering adalah tahap plating atau menyajikan hasil masakan untuk siap disantap. Hasil akhirnya adalah sebuah master lagu yang siap untuk dilanjutkan ke tahap produksi. Untuk melakukan mixing dan mastering, kami menyewa jasa tenaga mixing dan mastering di studio Yess Bandung. Aku kehilangan catatan berapa besar biaya yang kami harus keluarkan untuk keperluan ini, tapi seingatku aku harus pinjam duit untuk menutupinya dan baru dapat aku kembalikan setahun kemudian.

Produksi Kaset dan CD
Situasi industri musik di tahun 2008 sangatlah tidak menentu. Industri musik sedang lesu-lesunya. Kaset sudah mulai ditinggalkan orang. Meskipun masih ada yang memutar kaset di masa itu, tetapi penjualan kaset secara nasional jatuh drastis. Sementara, CD player belum establish penggunaannya. Teknologi membajak lagu dari sekeping CD juga sangatlah mudah. Begitu kita memiliki album musik dalam bentuk CD, maka siap-siaplah dibajak dan disimpan dalam bentuk MP3.

Tapi kami tidak punya pilihan. Memproduksi kaset dan CD masih jadi satu-satunya jalan keluar agar kami bisa mengembalikan puluhan juta dana yang keluar akibat produksi album ini. Kami pun berdamai dengan risiko dibajak. Dan memang, tiga minggu setelah launching aku merasakan hantaman yang begitu keras di dada. Penjualan CD dan kaset kami belum mencapai angka 200 keping, tapi bajakan lagu edCoustic sudah beredar di mana-mana. Pada titik itulah akhirnya aku menyadari bahwa membajak itu benar-benar jahat. Padahal sebelumnya, terus terang aku juga penikmat produk bajakan. He..he… ini sebuah karma yang benar-benar nyata adanya.

Dalam catatanku, saat itu kami memproduksi CD dan kaset masing-masing 1.500 keping. Menurut perhitunganku, kami harus berhasil menjual setidaknya total 6.000 keping CD dan kaset untuk menutupi biaya produksi. Alhamdulillah, di tahun kedua album edCoustic sebenarnya sudah BEP (break event point). Walaupun, aku masih ingat kami pernah ditipu seorang distributor kaset hingga lebih dari 1.000 kaset raib entah kemana. Sampai hari ini masih belum ada titik terangnya, tapi sudahlah aku ikhlaskan saja kerugian itu.

Promosi Album
Promosi album jadi tantangan sendiri. Major label mengeluarkan dana yang luar biasa untuk mendongkrak penjualan dengan promosi album. Sementara kami, indie label yang bermodal nekad ini sudah kehabisan “darah” saat masuk masa promosi album. Seluruh sumber daya dana habis ludes di tahap produksi dan kami hanya mengandalkan promosi super hemat.

Dalam catatanku, awalnya kami merencanakan aktivitas promosi ini untuk mendorong penjualan album dua edCoustic.

  1. Launching dengan berbagai event di beberapa kota. Rencana ini hanya terealisasi sampai grand launching di Bandung saja dan nebeng acara orang lain di kota lainnya.
  2. Membuat video musik sebagai senjata untuk masuk ke televisi nasional. Tapi ini tak pernah terlaksana karena anggaran sudah habis.
  3. Roadshow ke radio-radio. Hanya tercapai di Kota Bandung saja. Sisanya nebeng promo ke radio jika ada acara di kota lain.
  4. Pasang iklan di majalah dan koran. Ini tak pernah terwujud.
  5. Mengurus kerja sama dengan provider telekomunikasi untuk ring back tone (RBT). Alhamdulillah ini terwujud karena berbiaya murah.

Terus terang, aku sudah kehabisan energi dalam tahap promosi album ini dan kami menjalaninya dengan promosi seadanya dan sekenanya. Promosi yang proper tidak pernah terwujud di album 2 edCoustic. Nafas kami tak sanggup lagi untuk berlari di fase ini.

Penjualan Album
Penjualan album kami lakukan melalui titip edar dengan beberapa agen penjualan kaset dan CD. Selain itu, kami juga mencari partner penjualan perseorangan di beberapa kota. Hal ini sulit sekali karena kami tidak memiliki jaringan, padahal edCoustic sudah di kenal di beberapa kota di Indonesia. Upaya membangun jaringan penjualan sendiri inilah yang kelak menjadi cikal bakal organisasi fans edCoustic. Kami tidak dapat mengandalkan distributor yang potongannya mencekik sekali dan kurang menguntungkan.

Nah… berikutnya aku akan cerita beberapa seluk beluk menarik lainnya. Jangan lupa baca juga ya…

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Kenapa Membuat Album?

0

KENAPA sebuah grup musik harus membuat album? Apakah ini masalah eksistensi atau idealisme dalam berkarya?

Menurutku jawaban jujurnya album adalah kendaraan sebuah grup musik agar bisa bertahan hidup. Hanya dengan karya (album) sendiri, sebuah grup musik punya daya tawar dan bisa memperoleh penghasilan lanjutan. Penjualan album hanya salah satu saja. Tetapi yang paling penting dari adanya album adalah grup musik memiliki materi segar sehingga kegiatan show offlinenya tetap jalan.

edCoustic pun demikian. Pendengar dan pihak-pihak yang mengundang edCoustic untuk tampil tentu akan bosan jika terus disuguhi materi dari album lama. Kita perlu album baru agar tetap layak hadir dengan materi yang segar. Musik adalah tentang kebaruan. Musik itu seperti roda yang terus berjalan. Pendengar butuh disuguhi materi baru terus menerus atau mereka pindah ke musisi lain yang punya materi segar.

Oleh karena itu, keputusan membuat album kedua edCoustic adalah sebuah keniscayaan. Walaupun kami tidak berhasil menembus major label, tapi kami harus memiliki album baru. Hanya itu satu-satunya cara mempertahankan eksistensi. Kalau kami tidak membuat album, tamat sudahlah riwayat edCoustic. Orang akan mulai meninggalkan dan melupakan edCoustic. Kami tentu tidak mau itu terjadi. Apapun kondisinya, kami harus mengeluarkan album baru.

Bagaimana perjalanan album baru ini kami lalui? Simak di bagian berikutnya ya.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Keputusan dari Keputusasaan

0

AKU TERLIBAT dengan edCoustic ketika masih duduk di bangku kuliah. Saat itu, grup ini sudah membuat sebuah album. Aku masuk ke edCoustic sebagai manager setelah mereka memiliki materi album yang diproduksi secara indie melalui label Yess Production. 

Aku ikut mengawal perjalanan edCoustic sejak awal mereka “brojol” sebagai sebuah grup bernama edCoustic. Perjuangan membesarkan nama edCoustic hingga saat itu cukup dikenal di beberapa kota besar di Indonesia punya cerita sendiri, tapi aku skip saja cerita itu karena fokus kita saat ini bicara tentang album kedua edCoustic.

Pada proses membesarkan edCoustic di masa album 1, aku dan Deden (vokalis edCoustic) saat itu punya cita-cita sebuah grup musik pada umumnya yaitu bisa diterima dan diproduseri oleh major label. Pada masa itu (awal tahun 2000an), indikator keberhasilan sebuah grup musik adalah mendapat kontrak rekaman dengan major label. Sebab, merekalah penjaga pintu industri musik. Kita hanya mampu berhasil di industri musik jika memenuhi kriteria yang diinginkan major label. 

Memang ada beberapa grup musik saat itu yang berhasil dengan produksi indie. Seingatku Pas Band memulai dengan indie label dan akhirnya dilirik oleh major label. Kami ingin menempuh skenario seperti itu. Laluna juga berangkat dari indie label dan cukup bisa diterima masyarakat Indonesia. Di masa itu, bisa dibilang major label adalah satu-satunya pintu untuk berhasil. Bekerja sama dengan mereka satu-satunya rumus sukses.

Kami pun berupaya sekuat tenaga untuk mampu menembus tembok kokoh major label. Aku ingat, pernah mengirim puluhan CD album pertama dan proposal pengenalan kepada seluruh major label yang ada di Indonesia. Mencoba menawarkan konsep baru dalam industri musik Indonesia. Tetapi sayangnya tidak ada satupun major label yang tertarik. Bahkan, yang membalas dengan menyatakan sudah menerima demo saja tidak ada. Artinya, konsep yang kami tawarkan tidak sesuai keinginan mereka.

Berbagai jurus telah aku coba. Mulai dari mengirim demo, memohon waktu agar dapat diperkenankan bertemu dan menjelaskan, sampai menghubungi orang-orang yang kiranya bisa menjadi perantara. Tapi semuanya tidak membuahkan hasil. Hingga pada saat itu aku berkesimpulan edCoustic memang belum layak dalam industri musik tanah air. Tidak ada tempat dan peluang komersial yang sesuai untuk edCoustic. 

Di tengah kegelapan tersebut, aku masih berharap-harap semoga keberuntungan masih mau menghampiri. Tapi setelah berbulan-bulan hasilnya tetap sama. Aku putus asa. Aku kehabisan jurus. Di sinilah titik yang akhirnya aku harus sadari dan terima, tak semua yang kita impikan bisa menjadi kenyataan. Sebuah catatan pahit dalam hidupku. Gagal setelah berkali-kali mencoba.

Lalu kami diskusi (aku dan Deden). Kebetulan saat itu Deden bekerja di perusahaan yang aku kelola. Biasanya di jam kerja kami menjalankan amanah di perusahaan tersebut lalu sore hingga ke malam biasanya kami isi dengan diskusi memajukan edCoustic. Termasuk bagaimana caranya di album berikutnya (album kedua) dapat diproduksi oleh Major Label. Pokoknya, major label adalah harga mati saat itu. Sayangnya cerita kami tak semanis kisah novel, kami akhirnya menemukan jalan buntu.

Singkat ceritanya, di tengah keputusasaan itu akhirnya kami memutuskan untuk memproduksi sendiri saja album kedua edCoustic. Memang ketika itu ada beberapa pihak indie label yang juga tertarik memproduksi album kedua edCoustic. Tapi kami sepakat untuk memproduksi sendiri saja. 

Masalahnya, memproduksi sebuah album musik itu tidaklah mudah. Di era itu, alat-alat produksi musik rumah tidak sebaik saat ini. Intinya, hampir seluruh proses butuh uang. Kami harus membayar sewa studio, membayar jasa para musisi pengisi instrument, biaya lagi untuk kegiatan produksi kaset/CD, dan membiayai sendiri kegiatan promosi. Produksi memang tidak lepas dari uang…uang… dan uang.

Terus terang, saat itu kami berdua sama-sama tidak memiliki uang tabungan. Jadi, keputusan memproduksi sendiri album dua edCoustic adalah keputusan tanpa perhitungan bisnis yang memadai. Bahasa Sunda-nya “kumaha engke weh”, gimana nanti lah.

Bagaimana tantangannya? Lanjut di cerita berikutnya.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda

Kisah Di Sebalik Album 2 edCoustic

0

KEMARIN, seorang teman lama tiba-tiba kontak melalui WA, “Wah… lagu Muhasabah Cinta tembus lebih dari 4 juta viewers ya?” lapornya.

Apa makna 4 juta viewers tersebut? Kalau kamu pernah membuat video di youtube dan berhasil menembus angka 1 juta tentu akan lebih paham maksudnya.

Tergelitik dengan celetukan itu, aku penasaran untuk cek langsung ke kanal youtube. Memang benar, total view lagu Muhasabah Cinta pada 4 Agustus 2020 adalah 4.434.909 kali ditonton. Aku cek di platform musik digital spotify, hasilnya juga cukup bagus. Tiga lagu teratas edCoustic paling banyak diputar di spotify adalah dari list lagu album 2 edcoustic.


Kesimpulan sementara, dari total empat album edcoustic hingga saat ini, album kedualah yang lebih diterima pendengar dari ukuran jumlah pendengar dan jumlah viewers di youtube.

Kebetulan di album 2 edCoustic aku terlibat sebagai produser eksekutif. Sebenarnya aku sudah lama sengaja menutup lembaran cerita untuk album 2 edCoustic yang aku produseri ini, tapi sayang juga kalau ceritanya tertutup begitu saja. Aku coba membuka kembali beberapa catatan saat memproduksi album tersebut. Cerita di baliknya dan bagaimana perjuangan menelurkan itu album.

Tulisan aku bagi menjadi beberapa cerita. Ini akan menjadi beberapa seri. Sebagian cerita perlu sudut pandang orang lain memang agar utuh dan objektif. Tapi aku tidak punya waktu untuk riset ke orang lain, jadi aku putuskan untuk bercerita menggunakan sudut pandangku sendiri. Menggunakan catatan yang masih aku simpan. Setelah oprek-oprek hardisk eksternal, ternyata aku masih menyimpan beberapa catatan penting saat masa pra produksi hingga penjualan album edcoustic kedua tersebut.

Bagiku sendiri, cerita di balik album 2 edcoustis ini menyimpan begitu banyak pergulatan batin yang tidak mudah aku lewati. Sangkin tidak mudahnya, aku sampai pernah memutuskan untuk menutup seluruh cerita album 2 edCoustic dan melanjutkan hidupku dengan cerita yang lain.

Ini cerita 12 tahun yang lalu (tahun 2008). Perlu diketahui, iklimnya sudah berubah. Tantangan dan peluangnya tak sama lagi. Tapi aku berharap bisa memberikan tambahan perspektif, khususnya bagi teman-teman yang masih bergerak di industri musik. Aku pribadi saat ini hanya sekedar penikmat musik saja. Sudah meninggalkan sama sekali seluk-beluk industri musik. Tulisan ini bolehlah disebut semacam tanda pisah yang tertunda (lama sekali). He..he..

Yuk… ikuti ke bagian berikutnya.

  1. Kisah di Sebalik Album 2 edCoustic
  2. Keputusan dari Keputusasaan
  3. Kenapa Membuat Album?
  4. Tahapan Memproduksi Album Musik
  5. Rahasia Alat Musik Cello
  6. Lagu Pesanan yang Bikin Berantem
  7. Kehabisan Dana
  8. Strategi Partnership
  9. Cerita di Balik Setiap Lagu
  10. Yang Seharusnya tidak Menjadi Kenyataan
  11. Utang yang Tertunda


Memulai Lari

0

SETAHUN terakhir saya mulai coba-coba olah raga lari. Kenapa ikut-ikutan berlari? Ini yang mau saya share.

Sebelum berlari sebenarnya saya sudah punya aktivitas olah raga favorit: renang. Memang belum bisa dibilang rutin sih, tapi renang adalah olah raga yang paling sesuai untuk saya. Sempat juga dicoret di blog ini http://www.sudutlancip.com/renangbanci/

Setelah menekuni dunia perlarian setahun terakhir, saat ini saya masih berada di maqom pelari rekreasional. Sama sekali belum menjejaki pelari kompetitif. Dalam hati kecil memang ada harap suatu saat nanti bisa mencicipi kelas kompetitif, tapi untuk sementara ini lari buat saya adalah jalan mencari keseimbangan hidup.

Kenapa berlari? Ini semua dimulai saat di beberapa pertemuan dengan teman lama saya selalu mendapat komentar bernada seragam: “gendutan ya sekarang?” Awalnya saya sama sekali tak menaruh risau atas komentar itu, saya merasa sudah terbiasa mengabaikan semua komentar negatif selama ini. Tetapi feedback itu membuat saya berpikir ulang. Masalahnya, saya baru sadar ternyata dalam beberapa tahun terakhir ukuran celana memang membesar beberapa angka.

Saya pun berdamai dengan komentar tersebut. Kadang memang penting mendengar feedback dari orang lain karena kita sendiri yang mengalaminya tidak sadar akan perubahan tersebut. Berat yang bertambah, rambut yang mulai putih, atau kulit yang semakin keriput tidak terasa dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Terinspirasi dari teman-teman yang sudah berlari, saya pun mencoba hal yang sama. Semuanya demi kembalinya tubuh ke kondisi yang lebih prima. Menjadi lebih gendut memang tidak asyik sama sekali. Segala sesuatu terasa tidak pas, bukan hanya baju dan celana yang menyempit, tubuh juga ternyata tidak terlalu bugar. Mudah terserang sakit atau lebih gampang merasa lelah.

Di percobaan pertama lari, saya benar-benar mengutuki diri. Bayangkan, jarak lari pertama saya hanya 2 km saya hampir pingsan. Parahnya lagi, jarak sependek itu kebanyakan saya tempuh dengan berjalan, bukan lari. Tiba-tiba saya merasa gagal menjadi manusia dan saya kaget karena cepat sekali tubuh ini menjadi tua. Hanya 2 km dan penuh perjuangan? Lemah betul…!

Hari itu juga saya hampir mengambil keputusan menyerah. “Lari bukan untukku!,” jerit hati. Sambil merapi kaki yang terserang nyeri pasca lari (delayed onset muscle soreness/DOMS), saya coba merenung lagi nasib perlarian ini. Saya sadar, segala sesuatu tidak boleh tiba-tiba. Apalagi gerakan lari yang sudah sangat lama saya tinggalkan. Di perenungan itu terputar kembali memori agedan lari-lari penuh ceria sewaktu masih kecil dulu. Rasanya berlarian ke sana ke mari tidak ada beban sama sekali. Kaki dan tubuh masih seirama bergerak lincah. Tapi sekarang rasanya semua feeling itu sirna, berganti dengan susah-payah yang teramat berat.

Saya bertekad untuk melewati ini semua. Saya lantas memasang target, dua kilometer dan terhempas harus bisa ke kelas marathon dengan aman dalam waktu dua tahun. Target yang terukur dengan kerangka waktu yang jelas akan memudahkan untuk menyusun strategi mencapainya. Begitu saya berpikir saat itu. Meskipun kalau dihitung-hitung kembali, dari 2 km ke 42 km adalah usaha bunuh diri. Tapi saya yakin kalau orang lain bisa, saya juga pasti bisa. Jangan-jangan malah bisa di atas itu semua nanti. Semoga… Saat menulis ini saya masih berada dalam perjuangan mencapai target itu.

Perjalanan 2 km ke 42 km ini akan saya ceritakan di lain kesempatan. Di tulisan ini saya hanya ingin merekam bahwa lari adalah agenda pribadi saya untuk menjadi insan yang lebih seimbang. Saya ingin tetap sehat sampai usia tua. Umur memang tidak ada yang bisa prediksi karena tidak ada dalam kendali kita, tapi upaya hidup sehat hingga masa tua adalah sesuatu yang bisa kita kendalikan. Ini juga yang menjadi alasan saya tidak ingin tergoda menjadikan lari ini sebagai ajang olah raga kompetitif, karena untuk masuk ke kelas itu saya harus berdedikasi lebih. Lagian, saya bukan atlet, cukuplah lari rekreasional yang menyehatkan saja.

Sampai bertemu di cerita lari dari runner amatir berkecepatan siput ini.

Tembok Awal Ide Bisnis

0

DALAM menjalani bisnis, ide bagaikan peluru yang melesat kencang dari moncong senjata. Berharap peluru itu mencapai sasaran secepat mungkin seperti yang kita impikan saat melahirkan gagasan bisnis tersebut. Hanya saja kenyataannya tak seindah itu.

Setelah melangkah lebih jauh, tiba-tiba ada tembok yang menghalangi laju sang peluru ide. Ini ujian tahap pertama yang pasti dihadapi seluruh pebisnis. Lulus tidaknya di tahap ini sangat tergantung pada sang pelakon bisnis. Dinding ini seolah benar-benar menghentikan seluruh energi yang tadinya memehuhi ruang diri.

Tembok apakah itu gerangan?

Anda yang sudah pernah memiliki bisnis pasti pernah mengalami kondisi seperti ini. Kita berpikir bahwa ide bisnis yang kita miliki sangat cemerlang dan potensial. Orang lain sepertinya tidak kepikiran akan ide tersebut. Kita seolah berada dalam situasi Archimedes yang sedang berendam di kamar mandi lantas berteriak Eureka…! Berhari-hari kita terbius dengan ide yang kadang datang seperti ilham yang sedang dicucurkan dari langit kepada kita.

Lalu masuklah dalam tahap mengembangkan ide dan kita terkejut bahwa apa yang ingin kita kembangkan ternyata sudah ada yang melakukan. Sudah jalan beberapa tahun bahkan dan mereka sepertinya sedang menikmati sukses. Kenyataan ini begitu menyakitkan. Dalam beberapa interaksi saya dengan para calon pebisnis, ini adalah pembunuh ampuh semangat bisnis mereka. Menyadari kenyataan ini mereka perlahan mundur karena idenya ternyata tidak secemerlang yang dibayangkan semula.

Bagi mereka yang sudah pernah melewati ujian ini pasti sepakat dengan saya bahwa tembok ini harus dilompati. Bukan jadi penghambat sehingga memutuskan mundur. Kalau ingin keluar rumah, ya siap saja jika tiba-tiba hujan datang padahal beberapa saat sebelumnya cuaca begitu cerahnya. Yang tidak siap dengan kenyataan hujan ini, pilihannya tentu mengurungkan niat keluar. Tapi bagi yang sudah bertahun-tahun bersahabat dengan hujan akan punya solusi menghadapi sang hujan. Banyak caranya, urusan hujan ini tak perlu saya uraikan di sini.

Begitu pula dengan tembok awal bisnis ini. Yang tidak siap pasti mengambil pilihan berhenti. Tapi bagi yang sudah menyadarinya, semua ini merupakan proses yang sangat alami dan lumrah sehingga ia akan melompatinya dengan penuh percaya diri.

Jika ide yang tadinya kita anggap sangat genuine itu ternyata sudah dijalankan oleh orang lain menurut saya justru pertanda bagus. Artinya, ekosistem bisnis itu setidaknya sudah mulai terbangun. Kita tidak sedang sendirian di gurun kering dan ingin menghijaukannya. Banyak yang berpikir sama dan pasar sudah mulai siap menerima ide kita.

Tugas berikutnya yang paling penting adalah mencari cara bagaimana agar bisnis kita bisa stand out di antara bisnis yang sudah berjalan. Bukan malah mundur dan mencari lagi ide lain karena situasinya akan selalu sama, tembok itu hadir lagi.

Memori dan Waktu yang Terhenti

0

SEORANG kakek yang sudah berusia lanjut tetiba menghilang dari rumah. Lima tahun sudah dia pikun. Setiap hari ingatannya kian menipis. Banyak nama yang terlupakan, ratusan peristiwa sudah terhapus dari memori. Apalagi jalan pulang ke rumah tak mungkin lagi ia menuntaskan tugas itu.

Kini genap empat hari sang Kakek pergi sehingga menerbitkan kepanikan di seisi rumah. Sebar pengumuman, lapor polisi, tanya sana kemari, semua alternatif dicoba, meski hasilnya tetap nihil. 

Hingga suatu hari ada saran tak lazim dari tetangga. “Biasanya, kalau tiba-tiba hilang seperti itu, mereka pergi ke tempat masa mudanya,” ungkapnya serius. “Coba cari ke sekolahnya,” tambahnya lagi.

Sambil menunggu hasil pencarian oleh Polisi, beberapa anggota keluarga mengikuti saran absurd sang tetangga. Meskipun jarak ke sekolahnya ratusan kilometer, mereka tetap berusaha walau tak yakin upaya ini berbuah hasil.

Betapa terkejutnya, kakek itu memang benar duduk di pinggir pagar sekolah SMA-nya dulu. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya sudah lusuh, dan terlihat lelah. Menurut penjaga kantin sekolah, tiga hari lalu kakek itu datang ke sekolah. Setiap tiba jam masuk sekolah ia ikut serta membuntuti anak-anak sekolah sampai gerbang, lalu menunggu sampai kelas bubar di pinggir pagar. Begitu seterusnya. Warga sudah coba membujuk untuk tidak berdiam diri di situ lagi. Tapi si kakek tak mau turut. Akhirnya warga hanya menganggap si kakek orang gila baru di kampungnya.

Ternyata benar, ingatannya di masa muda belum ikut terkikis. Memori dan waktu seolah terhenti baginya di tempat itu. Sama seperti jam gadang sekolah saya di atas, sejak dua puluhan tahun lalu ia terhenti berputar. Sebuah “penunjuk waktu” yang tak bersedia lagi menjalankan fungsinya. Melihat jam ini, beberapa puluh tahun lagi mungkin ada kakek atau nenek yang tetiba nongkrong di bawah jam itu karena memorinya juga terhenti di situ. He..he..