MINGGU lalu aku memutuskan pergi ziarah kubur ke makam sahabat baikku. Tujuh tahun sudah ia meninggalkan alam fana ini. Aku hanya pernah sekali ziarah ke makamnya dan itu sudah lama sekali. Sampai-sampai ketika tiba di sana aku lupa posisi makamnya dimana dan harus minta bantuan orang lain untuk menunjukkan makam yang ingin aku kunjungi.

Aku merasa dijatuhi perasaan bersalah yang teramat dalam. Bila seorang sahabat, apalagi keluarga, kelak sampai melupakan posisi makamku mungkin akan terasa sakit sekali dengan ukuran sakit dunia. Tapi entahlah, di alam sana kita masih bisa merasakan sedih seperti itu atau tidak, tapi aku merasa bersalah kepada diriku sendiri.

“Kenapa tiba-tiba ziarah?” pasti ada yang bertanya begitu.

Apakah aku perlu jelaskan motif ziarah? Bukankah ziarah kubur adalah sesuatu yang dianjurkan, bahkan dalam Islam status hukumnya sunnah? Tapi baiklah, aku akan ceritakan alasannya karena memang ingin cerita saja. He..he…

Beberapa bulan setelah wafatnya almarhum sahabatku ini, berkali-kali aku bertemu dengannya dalam mimpi. Menariknya, di setiap pertemuan itu aku selalu dalam keadaan sudah paham bahwa ia sudah tidak ada di alam dunia ini tapi kami tetap ngobrol seperti biasa saja. Aku pun tidak merasa ada ketakutan walau di mimpi itu aku tahu sedang berbicara dengan ia yang telah wafat.

Mimpi ini terjadi beberapa kali. Puncaknya adalah ketika aku ada tugas keluar kota sekitar lima hari, pernah dalam satu malam aku bermimpi bertemu dengannya secara marathon nyaris sepanjang malam. Terbangun beberapa kali dengan tubuh keringat dingin, begitu tertidur lagi mimpinya bersambung seperti film berseri. Aku sama sekali tak mengerti makna apa dari mimpi itu. Tidak ada pesan khusus, hanya pertemuan dalam mimpi semata.

Mungkin ada yang almarhum belum sempat sampaikan. Jangan-jangan aku punya utang. Jangan-jangan ada tanggung jawab yang almarhum ingin aku lanjutkan. Atau, mungkinkah ada sesuatu yang harus aku tunaikan? Entahlah, lelah aku mencarinya. Aku tak punya tempat untuk menemukan jawab atau konfirmasi.

Atas pengalaman tak terjelaskan itu (aku enggan pakai istilah mistis), aku hanya mampu berikhtiar sesuai pemahaman dan kapasitasku saja. Apa itu? Tak elok bila aku elaborasi di sini, kita lewati saja. He..he…

Lantas, beberapa bulan terakhir aku mengalami hal yang sama lagi. Beberapa kali bertemu almarhum dalam mimpi. Pengalamannya masih relatif mirip, hanya ngobrol dan jalan-jalan saja di alam mimpi. Meskipun di dalam mimpi aku mahfum sedang ngobrol dengan sahabat yang telah wafat tapi sama sekali tidak ada rasa takut. Pendeknya, ini bukan mimpi buruk.

Sama seperti sebelumnya, pertemuan di alam mimpi ini tak dapat aku simpulkan maknanya. Jadi, aku putuskan saja untuk ziarah ke makam almarhum. Silaturahmi duniawi memang sudah tak bisa terwujud lagi, setidaknya aku masih punya kesempatan menunaikan ziarah. Sekaligus, aku juga ingin curhat suatu hal yang hanya “aman” bila aku lakukan dengan orang yang telah tiada. He..he..

Setelah dua bulan tertunda, akhirnya aku jadi juga ziarah kubur ke makam almarhum. Aku mengayuh sepeda sejauh 27 km menuju makamnya. Lalu kembali lagi ke rumah melewati jalan yang sama sehingga menempuh tidak kurang dari 50 km. Lumayan, sambil ziarah aku bisa olah raga sekaligus curhat yang aman.

Setelah menunggu dan mencari posisi makam lebih dari 45 menit, akhirnya aku menemukan makam almarhum. Berkecamuk perasaan yang ada di dalam dada. Terkenang lagi 7 tahun silam mengantarkannya ke sini. Aku pernah tulis selepas kepergian almarhum: Belajar Gigih dari Aden edCoustics.

Aku panjatkan doa-doa terbaik untuk almarhum. Sambil menerawang di mana kelak aku dikebumikan jika ruh telah lepas dari raga ini?

Ketika matahari tengah terik, aku pulang ke rumah. Dalam perjalanan ini aku mendapat pengalaman menarik. Mungkin bagi sebagian orang pengalaman seperti ini masuk kategori pengalaman mistis, tapi bagiku biasa saja. Beberapa kali dalam hidupku aku mengalami hal yang sama. Sebuah pengalaman seperti sedang dikucuri ilham, dibisikkan sesuatu oleh entah siapa.

Aku ingat, dulu sewaktu aku dan almarhum pernah tinggal satu kontrakan kami pernah diskusi pengalaman seperti ini. Ternyata ia juga sering mengalami pengalaman “mistis” seperti ini. Dia adalah seorang penyanyi sekaligus penulis lagu. Menurutnya, seringkali lirik dan melodi itu seolah-olah diturunkan kepadanya dari sumber yang sulit dijelaskan.

Sambil gowes santai menuju rumah, aku pun “mendengar” bisikan itu lagi. Tapi “suara bisikannya” hanya terdengar di benakku saja.

“Lanjutkanlah menulis lagu…”

Kurang lebih itu kalimat yang aku dengar berulang-ulang dengan berbagai variasinya.

Aku merasa sangat terbebani oleh “suara” ini. Memang benar, aku dan almarhum pernah punya proyek musik. Sebagian sudah aku ceritakan juga di blog ini. Tapi, posisiku hanyalah sekedar mengurusi bisnisnya semata. Sama sekali tidak masuk (dan memang tidak ingin) ke domain kreatifnya.

Aku sadar diri, aku bukanlah orang yang lahir dengan talenta musik. Nol sama sekali. Waktu sekolah dulu, ketika pelajaran seni bernyanyi aku selalu jadi siswa paling bloon. Teman-temanku sekolahku bahkan masih menyimpan memori sampai sekarang bahwa aku identik dengan siswa kucel dengan suara fals.

Aku juga tidak mahir dalam musik. Hanya bisa secuil saja bermain piano dan gitar. Sama sekali belum lanyak sebagai modal mumpuni untuk menulis lagu. Aku belum khatam memahami teori musik, bagaimana mungkin bisa menulis komposisi sendiri?

Pendeknya, aku hanya sebatas penikmat musik saja. Berkarya di bidang musik bukanlah “jalan ninjaku.”

Tapi bisikan itu semakin kencang setiap aku berusaha untuk menegasikannya. Jadi, aku biarkan saja ia terus bersuara. Sambil menikmati kayuhan sepeda dan pemandangan di sepanjang jalur pulang aku mendengarkannya tanpa membantah lagi.

Menurut si pembisik ini, aku hanya perlu sedikit belajar dan berusaha. Setidaknya sudah punya bekal menulis, tinggal meneruskan membuat komposisi musik sehingga menjadi lagu yang layak dengar. Begitu kira-kira kesimpulan rayuannya.

Baiklah, aku coba mendobrak pintu yang selama ini tak ingin aku buka yaitu wilayah kreatif musik. Tapi apa salahnya untuk dicoba bukan? Aku juga penasaran, ingin sekali menguji suara bisikan ini. Jika memang tak bisa, anggap saja memang bukan jalan ninjaku & pintunya kita tutup kembali. Tapi kalau ternyata bisa, yaa… alhamdulillah. Berarti aku salah selama ini.

Bila suatu saat nanti aku bisa menulis lagu, ini adalah cerita pendahuluannya. Tapi jika aku gagal, berarti tak semua bisikan ilham layak untuk ditindaklanjuti.

Bismillah, aku ingin memanen makna dan nada dulu.

LEAVE A REPLY