Memulai Lari

0
42
Berlari

SETAHUN terakhir saya mulai coba-coba olah raga lari. Kenapa ikut-ikutan berlari? Ini yang mau saya share.

Sebelum berlari sebenarnya saya sudah punya aktivitas olah raga favorit: renang. Memang belum bisa dibilang rutin sih, tapi renang adalah olah raga yang paling sesuai untuk saya. Sempat juga dicoret di blog ini http://www.sudutlancip.com/renangbanci/

Setelah menekuni dunia perlarian setahun terakhir, saat ini saya masih berada di maqom pelari rekreasional. Sama sekali belum menjejaki pelari kompetitif. Dalam hati kecil memang ada harap suatu saat nanti bisa mencicipi kelas kompetitif, tapi untuk sementara ini lari buat saya adalah jalan mencari keseimbangan hidup.

Kenapa berlari? Ini semua dimulai saat di beberapa pertemuan dengan teman lama saya selalu mendapat komentar bernada seragam: “gendutan ya sekarang?” Awalnya saya sama sekali tak menaruh risau atas komentar itu, saya merasa sudah terbiasa mengabaikan semua komentar negatif selama ini. Tetapi feedback itu membuat saya berpikir ulang. Masalahnya, saya baru sadar ternyata dalam beberapa tahun terakhir ukuran celana memang membesar beberapa angka.

Saya pun berdamai dengan komentar tersebut. Kadang memang penting mendengar feedback dari orang lain karena kita sendiri yang mengalaminya tidak sadar akan perubahan tersebut. Berat yang bertambah, rambut yang mulai putih, atau kulit yang semakin keriput tidak terasa dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Terinspirasi dari teman-teman yang sudah berlari, saya pun mencoba hal yang sama. Semuanya demi kembalinya tubuh ke kondisi yang lebih prima. Menjadi lebih gendut memang tidak asyik sama sekali. Segala sesuatu terasa tidak pas, bukan hanya baju dan celana yang menyempit, tubuh juga ternyata tidak terlalu bugar. Mudah terserang sakit atau lebih gampang merasa lelah.

Di percobaan pertama lari, saya benar-benar mengutuki diri. Bayangkan, jarak lari pertama saya hanya 2 km saya hampir pingsan. Parahnya lagi, jarak sependek itu kebanyakan saya tempuh dengan berjalan, bukan lari. Tiba-tiba saya merasa gagal menjadi manusia dan saya kaget karena cepat sekali tubuh ini menjadi tua. Hanya 2 km dan penuh perjuangan? Lemah betul…!

Hari itu juga saya hampir mengambil keputusan menyerah. “Lari bukan untukku!,” jerit hati. Sambil merapi kaki yang terserang nyeri pasca lari (delayed onset muscle soreness/DOMS), saya coba merenung lagi nasib perlarian ini. Saya sadar, segala sesuatu tidak boleh tiba-tiba. Apalagi gerakan lari yang sudah sangat lama saya tinggalkan. Di perenungan itu terputar kembali memori agedan lari-lari penuh ceria sewaktu masih kecil dulu. Rasanya berlarian ke sana ke mari tidak ada beban sama sekali. Kaki dan tubuh masih seirama bergerak lincah. Tapi sekarang rasanya semua feeling itu sirna, berganti dengan susah-payah yang teramat berat.

Saya bertekad untuk melewati ini semua. Saya lantas memasang target, dua kilometer dan terhempas harus bisa ke kelas marathon dengan aman dalam waktu dua tahun. Target yang terukur dengan kerangka waktu yang jelas akan memudahkan untuk menyusun strategi mencapainya. Begitu saya berpikir saat itu. Meskipun kalau dihitung-hitung kembali, dari 2 km ke 42 km adalah usaha bunuh diri. Tapi saya yakin kalau orang lain bisa, saya juga pasti bisa. Jangan-jangan malah bisa di atas itu semua nanti. Semoga… Saat menulis ini saya masih berada dalam perjuangan mencapai target itu.

Perjalanan 2 km ke 42 km ini akan saya ceritakan di lain kesempatan. Di tulisan ini saya hanya ingin merekam bahwa lari adalah agenda pribadi saya untuk menjadi insan yang lebih seimbang. Saya ingin tetap sehat sampai usia tua. Umur memang tidak ada yang bisa prediksi karena tidak ada dalam kendali kita, tapi upaya hidup sehat hingga masa tua adalah sesuatu yang bisa kita kendalikan. Ini juga yang menjadi alasan saya tidak ingin tergoda menjadikan lari ini sebagai ajang olah raga kompetitif, karena untuk masuk ke kelas itu saya harus berdedikasi lebih. Lagian, saya bukan atlet, cukuplah lari rekreasional yang menyehatkan saja.

Sampai bertemu di cerita lari dari runner amatir berkecepatan siput ini.

BAGIKAN
Berita sebelumyaTembok Awal Ide Bisnis

LEAVE A REPLY