Polisi: Yang mulia, lelaki ini membunuh Tuti.

Hakim: Hm…, kalau begitu dia harus dihukum seberat-beratnya. Sudah pantas kita jatuhi hukuman mati. Tapi bagaimana cara dia melakukan itu?

Polisi: Sadis yang mulia. Dia memukul korban sampai tewas, lalu memutilasinya.

Hakim: Luar biasa penjahat ini. Saya benar-benar akan menjatuhkan hukuman mati untuknya.

Lauhar: Maaf yang mulia, saya sama sekali tidak melakukan itu. Saya bertemu Tuti dalam keadaan linglung di jalan, lalu saya beri makanan, pakaian, dan memberinya tumpangan berteduh. Banyak saksinya dan saya bisa menghadirkan para saksi.

Hakim: Tidak, kamu harus dihukum mati. Kamu memperparah kejahatanmu dengan bersikap sombong di sini. Sangat tidak pantas pelaku kejahatan bersikeras menyatakan dirinya orang baik!

Lauhar: Tapi yang mulia, saya berkata benar dan ada saksi yang bisa menguatkan pengakuan saya.

Hakim: Apa? Kau sudah membunuh Tuti, memisahkan bagian-bagian tubuhnya. Lalu sekarang berlagak tak berdosa? Sombong sekali engkau anak muda.

Maaf yang mulia…” teriak dari kursi pengunjung sidang.

Hakim: Siapa… siapa yang berbicara itu?

Wanita Muda: Saya Tuti yang mulia.

Lauhar: Syukurlah…, lihatlah yang mulia, ini Tuti. Dia masih hidup. Saya tidak pernah membunuhnya kan?

Hakim: Hm… apakah benar ini Tuti yang Bapak Polisi maksud tadi?

Polisi: Benar yang mulia.

Tuti: Iya, saya Tuti yang dibahas dari tadi.

Hakim: Dia tidak membunuhmu. Lalu bagaimana dengan mutilasinya, apakah dia melakukannya?

Tuti: Tidak yang mulia. Dia tidak melakukannya. Sebaliknya, dia yang menolongku dan memberikanku makanan. Pakaian juga.

Lauhar: Anda dengar sendiri yang mulia. Saya tidak berbohong.

Hakim: Baik. Kamu terbebas dari tuduhan membunuh dan memutilasi. Tapi kamu tetap dihukum atas tuduhan ketiga. Kamu tetap dihukum mati karena kesombonganmu.

Dimodifikasi sedikit dari percakapan pembuka Buku Max Havelaar karya Multatuli (E. Douwes Dekker). Dialog ini diberi catatan: Drama yang tidak Dipublikasikan.

LEAVE A REPLY