SAAT masih mahasiswa dan aktif di kegiatan organisasi kemahasiswaan, aku pernah melakukan sesuatu yang sesungguhnya adalah sebuah manifestasi pemberontakan diri. Ini cerita tentang pemberontakan yang konstruktif, he..he…

Setelah berkelana ke beberapa organisasi untuk mengasah keterampilan diri, aku berlabuh ke organisasi mahasiswa yang bernama Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (KARISMA) – ITB. Kenapa ke lingkungan masjid? Sederhanya saja, aku selalu merasa tentram berada di Masjid. Jadi mengapa tak aktif saja sekalian di lingkungan ini? Toh sejak kecil aku telah akrab dengan kegiatan di masjid.

Dari sekian banyak fragmen dan dinamika yang terjadi selama aktif di Karisma-ITB, ada satu kejadian yang tetiba teringat kembali. Tepatnya terpaksa harus mengingat.

Ceritanya begini.

Berawal dari telepon

Aku mendapat telepon dari salah seorang adik binaan Karisma-ITB. Kebetulan ia sekarang berkarir di salah satu perusahaan teknologi yang besar dan berpengaruh di negeri ini. Ia memegang tanggung jawab di area SDM. Ia mengatakan berencana mengadakan program training untuk karyawan baru. Sejenis ospek kalau mahasiswa. Untuk perusahaan, program ini penting karena menjadi pintu masuk untuk menyelaraskan budaya kerja, sikap kerja, dan menyesuaikan dengan lingkungan kerja. Mengingat, setiap karyawan baru berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dengan budaya yang juga berbeda. Program ini tujuannya untuk menyelaraskan kepentingan itu dan meminimalkan timbulnya friksi.

O ya, sekedar info penjelas bahwa Karisma-ITB itu adalah organisasi yang membina remaja usia sekolah di Kota Bandung. Para pembinanya adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung. Relasi yang terjadi adalah pembina (mahasiswa) menjalankan program pembinaan kepada adik binaan (siswa tingkat SMP hingga SMA).

Lantas mantan adik binaanku ini mengatakan bahwa ia merasa dari sekian banyak program outbound ataupun kegiatan-kegiatan training yang pernah ia alami ada satu kegiatan yang membekas istimewa di hatinya. Kegiatan yang ia maksud adalah training yang pernah aku jalankan sekitar 15 tahun lalu. Lalu ia bertanya apakah aku bisa menyelenggarakan kembali kegiatan seperti itu untuk tempatnya bekerja?

Ditanya seperti itu aku bingung sendiri. Aku memang ingat kegiatannya, tapi itu sudah lama sekali sehingga hanya ingat samar-samar. Aku sudah tak punya dokumennya sama sekali. Kalaupun diadakan harus susun ulang dari awal. Tapi setelah diskusi cukup panjang, aku akhirnya setuju menyelenggarakannya kembali. Mantan adik binaanku ini membantu sekali karena ia lebih banyak ingat detail kegiatan dibandingkan aku sendiri. Dengan begitu aku setuju menjalankannya, walau risikonya aku harus punya energi ekstra untuk merealisasikan itu semua.

Dulu, program itu hanya berlangsung sekali saja tanpa ada kelanjutan berikutnya karena aku tidak berhasil meyakinkan semua rekan-rekan bahwa program itu bagus. Atau bisa juga, mereka tak bersedia karena program itu adalah manifestasi pemberontakanku.

Loh kok bisa?

Eksperimen dengan experiental learning

Jadi begini. Di awal tahun 2000an, konsep experiental learning sedang marak dan menggema di mana-mana. Banyak buku yang terbit dan membahas pendekatan baru dalam pembelajaran. Singkatnya, experiental learning metode pembelajaran yang paling cocok untuk manusia dewasa. Tesisnya adalah di usia dewasa manusia sudah tidak efektif lagi dengan dicekoki materi untuk belajar sesuatu. Sang pembelajar harus aktif menemukan dan menyerap sendiri. Ia juga harus mengalami sendiri suatu peristiwa, menghayatinya, dan akhirnya mampu menarik hikmah serta pembelajaran dari pengalaman tersebut. Aku tak banyak bahas konsep experiental learning di sini. Semoga penjelasan singkat itu bisa mewakili. Yang ingin belajar lebih lanjut konsep ini, sumbernya banyak sekali. Buku dan artikel di internet sudah banyak bertebaran.

Lalu, banyak yang mengadopsi experiental learning ini dengan cara menyisipkan ke program pendidikan konvensional. Pembelajaran konvensional/klasikal menghadirkan guru sebagai sumber ilmu dan peserta sebagai penyerap ilmu. Metode experiental learning kemudian disisipkan dengan cara membuat permainan menarik di sela-sela kegiatan belajar. Menarik memang, kegiatan belajar dan training jadi tidak monoton.

Namun, dalam pengamatanku aksi menyusupkan experiental learning ini terlalu dangkal untuk mengimplementasikan experiental learning. Kita jadi hanya sibuk mencari permainan-permainan menarik. Sekedar hiburan pelepas penat. Parahnya, sebagian “permainan” itu malah jadi kegiatan “mengerjai” peserta training. Aku merasa ada yang keliru dengan pendekatan susupan ini. Tapi begitu mengutarakan ketidaksetujuanku, tentu semua orang akan menjadi lawanku.

Daripada berdebat tak tuntas-tuntas, begitu ada kesempatan menyelenggarakan sebuah training dan saat itu bertepatan teman-teman tidak ada konsep training yang jelas. Aku mengajukan diri untuk menyelenggarakan training yang aku konsep sendiri. Waktu yang dibutuhkan hanya satu minggu. Membuat konsep dalam sebuah tim dalam waktu sesingkat itu adalah pekerjaan yang agak-agak mustahil. Mungkin karena kondisi itu, aku diberi kartu hijau untuk menyelenggarakan training dengan konsep sendiri. Maka, pemberontakanku terhadap training yang menyusupkan experiental learning ke dalam kegiatan konvensional dimulai.

Aku setuju dengan konsep experiental learning tapi tidak setuju dengan impelementasi yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain. Maka, aku harus mendesain kegiatan yang benar-benar sejalan dengan semangat belajar dari pengalaman.

Selama tiga hari penuh aku menyusun kegiatan adik-adik binaan yang sudah mendaftar mengikuti training. “Ini harus jadi pengalaman tak terlupakan untuk mereka,” begitu aku terus berafirmasi untuk menjaga semangat. Aku harus membuat sebuah game besar yang bisa dimainkan secara kolosal dalam waktu tiga hari penuh. Sejak hari pertama hingga penutupan mereka harus masuk ke sebuah alur permainan yang di dalamnya berisi rangkaian pengalaman yang bisa mereka maknai pembelajarannya.

Namun sialnya, dua hari berpikir keras aku tak menemukan permainan yang memenuhi kriteria ini. Aku hampir berada di ujung kegagalan. Beruntung malam itu aku menemukan kembali sebuah modul training bisnis yang pernah aku ikuti beberapa tahun sebelumnya. Aha… ketemu. Menjalankan bisnis itu kompleks, “kenapa tidak dijadikan sebuah permainan saja?”

Business game

Tanpa pikir panjang aku tetapkan permainan ini dalam bentuk business game. Peserta akan aku ajak bermain bisnis dengan segala kompleksitas dan permasalahannya. Aku lalu menyusun skenario agar permainan terasa mengalir tapi di dalamnya harus muncul berbagai masalah untuk mereka selesaikan dan harus ada unsur kejutan (element of surprise). Rinciannya tak dapat aku uraikan di sini, terlalu panjang he..he…

Pendeknya, konsep telah aku susun adalah sebuah skenario belajar kolosal dengan satu permainan: business game. Peserta akan aku bagi menjadi beberapa kelompok yang sekaligus sebagai sebuah entitas bisnis yang saling bersaing. Mereka akan mengalami proses yang belum pernah mereka ketahui saat menjalani bisnis.

Aku mendesain agar dari kegiatan ini mereka mendapat pembelajaran mengenai kepemimpinan, komunikasi, bersikap hati-hati, berpikir kreatif, kerja sama tim, dan persisten menjalani proses. Semuanya tidak diajarkan secara satu arah. Biar mereka mengalami sendiri. Aku sediakan waktu khusus untuk refleksi, memetik pembelajaran dari pengalaman yang mereka lalu.

Untuk belajar komunikasi dan kerja sama tim misalnya, kita bisa saja membuatkan materi ajar untuk membahas kedua terminologi itu. Tapi, pada praktiknya banyak orang yang lupa teori kerja sama tim kalau sudah emosional. Nah… aku biarkan mereka merasakan semua itu. Setelahnya barulah mereka sendiri yang menggali hikmah pembelajaran. Kami sebagai pembina hanya bertugas mengarahkan dan memancing hikmah pembelajaran itu keluar pada sesi refleksi.

Tantangan berikutnya, aku harus bisa mengajak rekan-rekan pembina lain untuk menyukseskan kegiatan ini. Berhubung waktunya sempit sekali, aku tak punya waktu untuk menjelaskan satu persatu rangkaian kegiatan kepada mereka. Inilah kesalahan paling fatal sehingga di kesempatan berikutnya program ini dianggap tidak layak untuk diteruskan. Aku tak punya waktu banyak untuk menjelaskan fisolofi setiap kegiatan karena harus menyelamatkan terselenggaranya kegiatan. Jadi, fokusku adalah agar setiap pembina bisa memainkan peran yang telah aku rancang. Tidak lebih dari itu.

Alhamdulillah, saat kegiatan berlangsung seluruh skenario yang aku rancang berjalan dengan baik. Memang ada beberapa kendala yang belum terpikirkan sebelumnya. Tapi secara keseluruhan, sesuai dengan rencana. Peserta “termakan” konflik yang aku ciptakan. Mereka juga mengalami element of surprise yang aku desain dan mereka benar-benar terkejut, bahkan ada yang sampai bertengkar dan menangis. Tapi itu tak mengapa karena bagian dari proses.

Selepas kegiatan itu aku kelelahan luar biasa. Puas sekali rasanya menjalankan skenario “pemberontakan”. Tapi satu hal yang aku pelajari, puas tidak cukup. Kita harus punya energi lebih untuk mempertahankannya. Nah, saat itu aku merasa sudah tak punya energi lagi untuk mempertahankan program itu jadi sebuah kegiatan yang berulang. Ditambah lagi aku sudah memasuki masa tingkat akhir yang perlu fokus lebih.

Menggali eksperimen lama

Kemudian, 15 tahun setelahnya aku mengulang kembali hal sama. Semua karena salah seorang peserta menyatakan bahwa itu adalah kegiatan paling berkesan selama ia mengikuti berbagai training dan outbound sepanjang karirnya. Aku merasa terpanggil karena program itu sudah seperti anak sendiri buatku.

Lucunya, timeline yang dibutuhkan untuk merealisasikan itu hampir sama mepetnya dengan kejadian 15 tahun lalu. Aku pun terjebak di masalah yang sama yaitu tak punya waktu menjelaskan filosofi rancangan kegiatan secara lengkap. Aku harus prioritaskan kegiatan teknisnya aman dulu.

Walau cukup melelahkan karena harus memulai lagi dari awal dan mengawal seluruh rangkaian skenario, aku merasakan hal yang sama seperti 15 tahun lalu. Peserta mengikuti skenario dengan segala permasalahan dan element of surprise yang aku desain. Berharap mereka bisa belajar banyak hal dalam sebuah rangkaian permainan besar.

Ini sedikit cuplikan kegiatan tersebut. Aku memang belum minta izin menayangkan cuplikan video ini kepada perusahaan yang menghidupkan kembali business game yang pernah aku desain dulu. Izin akan diproses kemudian, jika tidak diberikan videonya akan aku take down. He…he…

Millennial Camp untuk Arjasa, menggunakan Business Game yang aku rancang 15 tahun sebelumnya

Lalu apa?

Beberapa rekan panitia maupun peserta memberikan masukan secara personal kalau kegiatan itu unik. Selama dua hari peserta dan panitia bermain bersama. Menikmati alur yang bersahabat, seru, dan pakai drama segala. Aku masih belum punya rencana ini mau dibawa ke mana. Apakah aku teruskan dengan memodifikasi beberapa bagian? Apakah perlu aku tawarkan ke perusahaan lain berbekal kegiatan sebelumnya?

Jujur, aku tidak tahu. Dan kejujuran kadang menyakitkan kawan. Aku bahkan siap jika ternyata konsep ini dijalankan orang lain dan ia menikmati itu. Seperti kata orang-orang, ide dan inovasi bagaikan anak bagi penemunya. Ia sayang sekali kepada ide itu. Tapi kini aku sudah meredefinisi rasa sayangku. Jika pun diteruskan dan dikembangkan orang lain, aku merasa cukup pernah punya kenangan memberontak secara konstruktif.

Bila pun nantinya akan dikembangkan, kegiatan ini harus disempurnakan dengan ikhtiar yang lebih matang. Aku tak percaya sebuah produk bisa bagus hanya dengan sekali “pukul”. Ia harus dikembangkan dengan rancangan yang lebih baik dan dengan pengukuran yang dapat dipertanggung-jawabkan. Kita lihat saja bagaimana kelanjutannya nanti.

TINGGALKAN BALASAN