TEMAN-TEMAN yang sedang berada di luar negeri sering sekali menggunakan kata “Indo” untuk merujuk tanah air Indonesia dalam percakapan sehari-hari di jagad maya. Entah sejak kapan kebiasaan ini dimulai dan sejak kapan pula menjadi sesuatu yang lazim. Bagi yang paham kenapa harus menggunakan Indo, alih-alih Indonesia atau tanah air, bolehlah menyumbangkan pencerahannya.

Tentu saja mereka tidak punya niat buruk menyingkat Indonesia dengan kata Indo. Sama sekali tidak. Jika pun ternyata iya, ya biarkanlah. Tapi aku tetap merasa sedikit terganggu dengan itu. Jadi, izinkanlah ketergangguan ini kuutarakan. Jika kamu terganggu denganku, maka kita impas telah saling mengganggu. He..he…

Melepaskan Indo dari Indonesia agak-agak berbahaya. Kenapa? Kita mulai dari gagasan lahirnya nama Indonesia. Wilayah yang sekarang dinamakan Indonesia ini dulunya berupa kepulauan-kepulauan yang lebih rumit dibandingkan sekarang karena masih terpisah satu sama lain. Jadi, untuk merujuk kumpulan pulau-pulau di garis khatulistiwa ini beberapa bangsa di masa lalu menyebut dengan berbagai istilah. Bangsa Arab menyebut wilayah ini dengan Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Bangsa India memberikan nama Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang). Setiap bangsa punya penyebutannya masing-masing tetapi sama-sama satu maksud yaitu menunjukkan daerah kepulauan yang kita diami sekarang. Meski berbeda penyebutan, tapi gagasannya sama yakni menunjuk area kepulauan. Nama Indonesia nantinya juga tidak terlepas dari gagasan kepulauan ini.

Akhirnya disepakati secara evolutif menggunakan kata Indonesia yang diadopsi dari artikel yang terbit di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia karya George Samuel Windsor Earl pada 1847. Tiga puluh tujuh tahun kemudian, etnolog Jerman bernama Adolf Bastian mempopulerkan kembali nama Indonesia melalui bukunya yang bertajuk . Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (“Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu”). Sejak saat itu, nama Indonesia lebih populer dibandingkan nama-nama lain yang juga digunakan secara bersamaan untuk menyebut wilayah nusantara ini. Jadi, nama Indonesia relatif masih baru dibandingkan nama-nama negara lain.

Indonesia memang berasal dari dua kata yaitu Indo dan Nesia yang keduanya diadopsi dari Bahasa Yunani. Indo (Indus dalam Yunani) merupakan penyesuaian dari kata Hindia yang berarti wilayah yang didiami beberapa kelompok etnis di wilayah timur India. Indo juga bisa bermakna ras, yaitu ras campuran Hindia dengan Eropa alias blasteran. Kamus Bahasa Indonesia sendiri mengambil definisi berorientasi ras yaitu “peranakan Eropa dengan Indonesia”. Lalu Nesia, berasal dari kata Nesos yang berarti pulau atau kepulauan.

Dengan begitu, Indonesia adalah sebuah frasa yang membentuk kata baru sama sekali yaitu merujuk pada wilayah geografis. Jika disingkat dan dipecah, artinya sudah berbeda lagi. Sebagai analogi, rumah sakit adalah sebuah frasa yang kalau disingkat dengan menyebutkan frasa pembentuknya akan menghasilkan makna yang sama sekali berbeda. Tak ada yang menyingkat rumah sakit dengan menyebut rumah saja atau sakit saja. Begitu juga dengan Indonesia, janganlah akibat rasa malas menyebut nama Indonesia sehingga disederhanakan dengan Indo.

Ada yang pernah bilang, nama Indonesia terlalu panjang. Jadi Indo lebih ringkas. In-do-ne-sia, lima suku kata memang panjang sih. Negara lain paling banter hanya empat suku kata. Kalau ada nama negara yang jumlah suku katanya sebanyak Indonesia, bolehlah kasih info. Tapi tidak kah itu terlalu “cetek” untuk dijadikan alasan?

Kembali ke urusan “terganggu” tadi. Menyebut tanah kelahiran sendiri dengan Indo memang membuat terganggu. Sebab, Indo lebih dekat dengan penyebutan ras (blasteran Indonesia-Eropa) dibandingkan merujuk nama geografis sebuah negara. Indo malah lebih dekat ke penyebutan bernada merendahkan yaitu Indon. Ngomong-ngomong, Indon kan bisa juga dipakai alasan menyingkat Indonesia bukan? Malah, di era tahun 60-an Indon sering sekali dipakai untuk menyingkat nama Indonesia.

Jadi, please… berhentilah menyingkat-nyingkat nama Indonesia. Sebutkan lengkap sebagai bagian dari rasa bangga akan negara sendiri. Kalaupun merasa suku katanya kepanjangan, pakai tanah air saja. Itu sudah, hidup Indonesia…!

TINGGALKAN BALASAN