SEBENTAR LAGI Ramadhan akan menghampiri. Setiap masuk bulan Ramadhan, suasananya selalu khas. Ada yang punya kebiasaan sendiri menyambut Ramadhan, terlepas dari apakah itu kebiasaan syar’i atau budaya yang dibuat-buat. Menyambut bulan istimewa ini selalu punya keistimewaan sendiri yang membuat rindu.

Pernahkah merasakan Ramadhan yang monoton karena sudah melaluinya berkali-kali? Materi ceramah di masjid-masjid juga seperti daur-ulang. Para penceramah membongkar materi lama dan membangkitkan kembali sesuai musim bulan puasa. Ayolah… pasti pernah kan?

Sejujurnya aku juga pernah merasakan itu. Kenapa bulan puasa yang dulu terasa istimewa jadi kurang bermakna? Hanya terjebak pada rutinitas tahunan dan acara televisi yang didesain hingar bingar sebagai pengisi puasa. Pendeknya, puasa hanya irama sahur sambil menonton komedi dan kuis di televisi. Siangnya berlapar dan menahan haus. Menjelang sore berburu makanan untuk berbuka. Lalu malam ikut taraweh dengan materi ceramah yang cukup mudah ditebak.

Aku pun bertanya, bagaimana mengembalikan “rasa” Ramadhan sehingga istimewa kembali? Berbagai cara aku coba, tetapi selalu bertemu dengan jawaban kosong.

Dalam mengurai pertanyaan itu, akhirnya aku menemukan sebuah jawaban yang dapat mengembalikan suasanya Ramadhan kembali istimewa. Jawabannya adalah kita sendiri yang harus memberi makna pada bulan istimewa ini. Bukan menunggu keistimewan itu datang menghampiri.

Memberi makna untuk Ramadhan bisa kita tempuh secara filosofis ataupun praktis. Kunci keduanya adalah kita harus menemukan proses penghayatan yang lebih dari sekedar menjalankan kewajiban puasa semata. Untuk saat ini kita bahas pendekatan praktis saja. Yang filosofisnya kapan-kapan kita bahas ya.

Pendekatan praktis yang aku maksud adalah sebelum masuk bulan Ramadhan, tetapkan sebuah tema yang ingin dilakukan, yang ingin dicapai, atau yang ingin dialami. Bisa berorientasi akhirat, bisa pula hanya urusan duniawi. Yang penting sepanjang bulan Ramadhan nanti kita punya sebuah tema pribadi sehingga saat menjalani puasa kita sedang dalam penuntasan misi diri juga. Coba deh pendekatan ini. Ramadhanmu akan berbeda dari biasanya.

Kita ambil beberapa contoh tema. Ini sekedar contoh, tak perlu diikuti serta-merta. Silakan dikembangkan atau dicari sendiri. Yang penting sesuai dengan kondisi dan kenyamanan masing-masing.

Contoh tema Ramadhan berorientasi akhirat, sepanjang Ramadhan tahun ini saya akan:

  1. Menguasai baca Al Qur’an sesuai tajwid yang benar.
  2. Menyalurkan infak dan sedekah rutin setiap hari.
  3. Tidak melewatkan satu rakaat pun sholat sunnah di bulan Ramadhan.
  4. Belajar bahasa Arab.
  5. Menghapal 1 juz Al Qur’an.
  6. dll, silakan diteruskan.

Contoh tema Ramadhan dengan muatan duniawi, sepanjang Ramadhan tahun ini saya akan:

  1. Tuntas membaca lima buku favorit.
  2. Menguasai keterampilan baru.
  3. Menulis satu judul buku.
  4. Menyelesaikan skripsi atau tesis.
  5. Belajar satu bahasa asing.
  6. Menurunkan berat badan dengan olah raga.
  7. dll, silakan dilanjut.

Dengan punya sebuah tema berupa misi yang harus kita tuntaskan, maka Ramadhan akan jadi berbeda dan akan teringat terus. Di masa mendatang kita juga akan selalu ingat bahwa misi itu kita tuntaskan saat bulan Ramadhan.

Yuk… bikin Ramadhan tahun ini lebih bermakna dan personal.

Photo by Zosia Korcz on Unsplash

LEAVE A REPLY