Menjaga Pintu Rezeki

0

SALAH SATU sumber kepusingan seorang pengusaha adalah saat menghadapi tipisnya cadangan dana lancar. Apalagi jika sudah mendekati tanggalnya gajian. Saya yakin, pengusaha yang pernah mengalami halnya akan setuju dengan kondisi ini.

Betapa risaunya hati ini bila berbagai tagihan sudah mulai masuk sementara dana yang tersedia kian menipis dan tagihan ke klien masih perlu waktu untuk realisasi pencairan. Terlebih, saat pembayaran gaji karyawan menjelang waktunya, rasanya sedih sekali membayangkan kalau gaji mereka terlambat dibayarkan bagaimana kondisi mereka? Tidak setiap orang punya tabungan yang memadai sebagai cadangan. Sebagian malah hanya mampu hidup dari tanggal muda ke tanggal muda berikutnya dengan terseok-seok.

Saya pernah dengan terpaksa memundurkan tanggal gajian kepada karyawan karena memang telah kehabisan jurus untuk melancarkan persediaan kas. Saat itu terjadi, saya malu luar biasa kepada diri sendiri. Kewajiban karyawan adalah melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka telah melakukan itu, dan tiba giliran saya untuk menunaikan kewajiban malah saya tak mampu.

Perihal menipisnya dana lancar ini sudah menjadi hal yang kerap saya alami. Bukan sekali atau dua kali. Saat pertama kali menghadapinya saya sempat frustrasi. Kondisi keuangan diri sendiri saja belum stabil, saya harus bergulat mengamankan rezeki orang lain. Malah, harus mengorbankan dana pribadi terlebih dahulu agar para karyawan tetap “selamat.”

Tapi, karena sudah berkali-kali menghadapinya saya akhirnya belajar untuk tidak terjebak lagi di kubangan yang sama. Solusinya adalah berupaya semaksimal mungkin untuk mengamankan cadangan dana lancar jauh-jauh hari sebelum benar-benar kering. Meskipun begitu, sesekali tetap saja masih bertemu dengan kondisi darurat yang sama. Ya… risiko itu tetap ada.

Sebagai seorang pengusaha–meski masih skala kecil–ada hal yang sangat saya syukuri yaitu saat menjadi penjaga pintu rezeki orang lain. Ketika menyalurkan hak para karyawan berupa gaji, ada perasaan haru karena Allah berkenan memberi kesempatan untuk menjaga pintu rezeki bagi mereka. Itu sebabnya saya tidak pernah menggunakan fasilitas payroll otomatis yang ditawarkan bank. Sebab, saya ingin terus mendapatkan perasaan syukur saat menyalurkan gaji tersebut. Itu memang bukan uang saya, itu hak mereka tapi saya ingin terus menjadi penjaga pintu rezeki mereka.

Jika pun dalam memerankan sebagai penjaga pintu rezeki itu saya harus pontang-panting karena kondisi cash flow sedang kurang sehat, semuanya seolah terbayar saat membayarkan gaji para karyawan.

Seri mentoring bisnis

Photo credit: Filip Kominik on Unsplash

Realitas Semu

0

AWAN di langit itu contoh realitas semu. Ia memang nyata, tapi persepsi umum kita terhadapnya semu belaka. Bahwa awan itu lembut, halus, menyenangkan, & nyaman dipakai rebahan.

Realitas semu pada awan itu terjadi karena kita menilainya hanya dengan indera saja yaitu penglihatan. Awan yang sama, bila dinilai dengan menambah satu atau dua indera lain akan membentuk realitas yang berbeda. Itulah hikmahnya Tuhan menitipkan beberapa indera pada kita, supaya bisa menilai lebih utuh.

Jadi, saat menerima apapun informasinya selalu gunakan lebih dari satu perspektif. Supaya tidak terjebak realitas semu.

Hukuman bagi Pembohong

0

SAAT mentari baru saja terbit. Kerajaan hutan heboh. Ratusan hewan teriak-teriak karena sumber air satu-satunya sudah acak-acakan. Sepertinya malam tadi ada hewan yang sengaja mandi dan ia buang kotoran di tempat yang mereka sakralkan itu. Air yang biasanya tenang dan jernih, pagi ini berubah keruh dan bau.

Selama ini singa sang raja hutan menerapkan aturan bahwa sumber air tidak boleh dikotori oleh siapa pun, apalagi dirusak. Singa juga mengatur jadwal minum hewan agar tidak ada perkelahian yang terjadi di sumber air mereka. Semua hewan patuh akan titah ini sehingga mereka bisa hidup dengan damai.

Singa lantas memanggil semua hewan. Ia mengutarakan kekecewaannya atas insiden sumber air yang sudah terjaga puluhan tahun. Singa meminta setelah pertemuan itu, siapapun hewan iseng yang tadi malam mencederai kenyamanan warga datang mengaku. Sang raja hutan berjanji akan mengampuninya jika berani mengaku jujur.

Tiga hari berselang, tak ada satu pun hewan yang datang mengaku. Babon sang menteri utama datang menghadap raja hutan.

“Bagaimana ini paduka?, tak ada satupun hewan yang mengaku.”

Singa menitahkan untuk menunggu 3 hari lagi. Namun, esok harinya seekor semut melapor kepada Babon. Ia bersaksi malam itu ia melihat Kira, seekor monyet jahil masuk ke kolam sumber air. Si semut bahkan membawa saksi lain, seekor burung pipit. Burung itu pun bersumpah menyaksikan hal yang sama.

Setelah laporan itu Babon teruskan kepada raja hutan, Singa lantas memerintahkan untuk membawa Kira ke hadapannya. Mendapat panggilan dari raja hutan, Kira langsung memutar otak. Ia tak ingin ketahuan sang raja hutan bawah ia sudah melakukan keonaran itu.

Sesampainya di hadapan sang raja hutan, Kira memasang wajah seolah tak mengerti apa-apa.

“Malam itu apa yang kamu lakukan Kira?” tanya raja hutan dengan suara rendah tetapi menggetarkan sanubari.

“Saya tidur di pohon yang mulia.”

“Apakah ada yang bisa bersaksi melihatmu tidur di pohon sepanjang malam?”

“Tidak ada yang mulia, tetapi saya bersumpah tidak merusak sumber air negeri ini.”

“Baiklah kamu boleh pulang,” perintah sang raja hutan.

Babon terheran, ia langsung protes kepada Singa.

“Apa yang paduka lakukan? Kenapa semudah itu melepaskannya?”

“Aku tahu ia pelakunya dan dia berbohong, saya belum beritahu apa duduk perkaranya tetapi Kira sudah mengerti akan disalahkan tentang insiden sumber air kita” kata raja.

“Bukankah ia harus kita hukum?” lanjut Babon.

Singa diam saja. Sejenak kemudian.

“Ia akan menghukum dirinya sendiri, kita tak perlu menjatuhkan hukuman lagi padanya.”

“Maksudnya yang mulia?” Babon gelisah dan kecewa.

“Kita sudah tahu kalau dia pelakunya dan dia berbohong. Artinya, kita tak akan pernah memberi kepercayaan lagi padanya. Kita tidak akan mengundangnya di pertemuan warga. Biarkan ia bermandi derita dengan kebohongannya sendiri. Bila kita menghukumnya, kebohongannya itu akan sirna seiring ia menerima hukuman itu.”

Babon pun mengerti dan menggoreskan nama Kira pada daftar buku hitam kerajaan hutan.


Saat berdusta, selalu lah ingat. Seringkali orang lain sudah mahfum kita berbohong dan membiarkan saja kita bergelimang dosa dengan kebohongan itu. Itulah hukuman yang lebih berat bagi sang pembohong karena ia menggali jerat untuk dirinya sendiri.

Sumber foto: dailymail

Tiga Kali Ketinggalan Kereta

0

TUJUH tahun lalu terakhir kali saya berkesempatan mendengarkan penuturan Prof. Gede Raka pada sebuah mata acara di ITB. Beliau salah satu guru besar yang punya sinar yang menginspirasi banyak orang. Termasuk saya sendiri.

Saat masih kuliah dulu, saya pernah ikut sebuah seminar di kampus ITB yang salah seorang pembicaranya adalah Prof. Gede Raka. Saya lupa sama sekali judul seminarnya, tapi kenangan dengan Prof. Gede Raka cukup membekas. Saat itu saya ikut menjadi peserta yang bertanya dan sialnya waktu untuk menjawab pertanyaan sudah habis. Apa yang dosen Teknik Industri ini lakukan? Ia datang ke kursi tempat saya duduk dan meminta nomor telepon dan berjanji menjawab pertanyaan tersebut nanti malam melalui telepon.

Benar saja, malam harinya telepon berdering dan yang berada di ujung telepon adalah Prof Gede Raka sendiri. Ia mengulang pertanyaan yang saya ajukan tadi dan menjawab dengan sangat sabar. Sejak saat itu saya mengonfirmasi bahwa dosen ini memang layak menjadi inspirator para pengusaha lulusan ITB.

Berhubung ini bukan cerita mengenai sosok Prof. Gede Raka, maka kesan tersebut saya hentikan saja pembahasannya sampai di sini. Kita balik ke buah pikiran yang ia sampaikan di acara tahun 2014 lalu.

Prof. Gede Raka memulai paparannya dengan sebuah judul presentasi “Jangan Sampai Ketinggalan Kereta Lagi.” Substansi yang ia sampaikan sesungguhnya adalah pandangan beliau untuk membenahi pendidikan di Indonesia agar memiliki dampak terhadap bangsa Indonesia di masa depan. Cukup banyak yang beliau uraikan, tapi pada tulisan ini saya fokus memotret tentang “ketinggalan kereta” yang ia sampaikan sebagai pembuka paparannya.

Ketinggalan Pertama

Ketinggalan kereta pertama kita adalah dengan Korea Selatan. Pada tahun 1962, posisi Indonesia kurang lebih setara dengan Korea Selatan. Baik dari sisi ekonomi, penguasaan teknologi, dan kebudayaan. Sebagai bangsa yang belum lama mengecap kemerdekaan, Indonesia dan Korea Selatan memiliki suasana batin patriotisme yang juga relatif mirip. Sama-sama ingin melaju mengisi kemerdekaannya.

“Kita dulu berada di garis yang sama, dan sekarang coba lihat seberapa jauh kita ketinggalan kereta dengan Korea Selatan?” tanya Prof. Gede Raka retoris. Tujuh tahun setelah Prof. Gede Raka mengajukan pertanyaan itu, Korea Selatan bahkan sudah lebih jauh meninggalkan Indonesia.

Menurutnya, Korea Selatan bisa meninggalkan Indonesia karena mereka berhasil memelihara sikap patriotisme tersebut secara nasional. Dengan sadar dan secara sengaja, Korea Selatan memelihara dan bahkan mengembangkan api patriotisme masyarakatnya untuk kemajuan bangsa.

Prof. Gede Raka menuturkan saat ia berkunjung ke Korea Selatan, Presiden Korea Institute for International Economic Policy (KIEP) menyampaikan bahwa nilai patriotisme adalah semangat bersama yang menjiwai pengembangan kebijakan ekonomi dan teknologi yang Korea Selatan. Ia menambahkan nilai patriotisme itu sama persis dengan yang kita miliki di tahun 1960an dulu. Saat itu Indonesia masih berani dan berapi-api ingin menunjukkan diri di pentas dunia. Indonesia menjadi negara terdepan yang begitu garang menyuntikkan semangat kepada negara-negara Asia-Afrika untuk menentukan nasib bangsanya dan terlepas dari segala bentuk penjajahan. Malah, kala itu Indonesia berani berkata lantang kepada Amerika yang merayu-rayu Indonesia untuk menanamkan pengaruh di sini “go to hell with yout aid.”

Entah mengapa kini Indonesia malah semakin merasa nyaman dan kehilangan nilai-nilai patriotismenya. Sedangkan Korea Selatan terus memelihara itu. Prof. Gede Raka melanjutkan penuturannya, Korea Selatan di era sekarang masih memelihara semangat untuk tidak mau lagi dijajah oleh Jepang. Penjajahan bukan saja dalam pengertian pendudukan suatu negara atas negara lain, menjadi negara di bayang-bayang Jepang saja tetap mereka anggap sebagai sebuah penjajahan. Oleh karena itu, Korea Selatan melandasi kebijakan pembangunan negara dengan sebuah motivasi besar yaitu mereka tidak mau tunduk kepada negara manapun. Mereka bertekad harus menjadi bangsa yang berdikari dan bisa mempengaruhi dunia.

Hasilnya, Korea Selatan berhasil menjadi negara yang bisa memberdayakan ekonominya dari kumpulan kapabilitas kolektif masyarakatnya. Dengan cetak biru dan peta jalan yang jelas, Korea Selatan menjadi negara yang pengembangan teknologinya nyaris sejajar dengan negara maju lainnya. Menariknya, pengembangan teknologi Korea Selatan selalu berasal dari kebijakan pengembangan teknologi militer. Ratusan paten teknologi telepon pintar yang Samsung kembangkan dan kita rasakan sampai saat ini, dapat dilacak semuanya berasal dari pengembangan teknologi militer Korea Selatan. Militer di sana bukan saja sebagai garda penjaga kedaulatan kata Prof. Gede Raka tapi merekalah konduktor pengembangan teknologi Korea Selatan.

Pemerintahnya sangat memproteksi iklim pengembangan teknologi dan ekonomi Korea Selatan. Meski terkesan sebagai negara penganut ekonomi liberalis, Korea Selatan sesungguhnya sangat memproteksi industri lokal mereka. Merk luar negeri memang tidak dilarang, tapi baik pemerintah maupun masyarakatnya sudah seperti punya suara yang sama bahwa merk lokal harus diutamakan. Jiwa patriotisme mereka dikembangkan ke arah ini. Prof Gede Raka bercerita di Korea Selatan saat itu orang membeli rokok merk luar negeri bisa dilaporkan karena dianggap sebagai penghianatan. Mobil Honda yang menjamur di Indonesia, di Korea Selatan tak begitu diminati. Restoran lokal lebih diakui dari pada merk global seperti KFC dan McD.

Prof Gede Raka mencuplik dialognya dengan President KIEP.

Prof. Gede Raka: “Apakah benar Korea Selatan maju karena bersedia mengikuti angin global dengan kebijakan free market?

Presiden KIEP: “No.., di luar negeri kami memang meminta free market, tetapi di dalam negeri kami memiliki pemerintah yang sangat keras kepala. Untuk menghidupkan UMKM, pemerintah mengeluarkan regulasi-regulasi agar UMKM tersebut terlindungi.”

Ketinggalan Kedua

Kita ketinggalan kereta juga dengan China. Masih di tahun 1960-an, China jauh berada di bawah Indonesia. Revolusi Kebudayaan yang berlangsung di dekade 60-an dan 70-an membuat China babak belur. Tapi begitu ada kesempatan untuk membangun kembali, mereka berhasil bangkit.

Dengan ideologi negara yang cenderung tidak kompatibel dengan negara maju negara lain di dunia, China seolah tidak punya kesempatan untuk maju. Apalagi saat itu ideologi komunis sedang mengalami masa surutnya. Tapi China mengambil langkah berani untuk berdamai dengan sistem global tanpa melepas ideologi negaranya. Mereka melakukan addjustment untuk bisa fit dengan negara-negara lain mengejar ketertinggalannya.

Strategi yang China tempuh memang sedikit berbeda dengan Korea Selatan. Tapi menurut Prof Gede Raka, lagi-lagi kuncinya masih sama yaitu memelihara sikap patriotisme. Sebagai negara yang menganut ideologi sentral, China lebih mudah mengarahkan penduduknya untuk berjalan di rel strategi yang mereka tetapkan. Pendidikan dibenahi, anak-anak muda didorong sekolah sebanyak-banyaknya ke luar negeri, dan aspek governance bernegara mereka rapikan. Hal ini kita kenal dengan sikap tegas China menghukum berat penyelenggara negara yang korupsi. Banyak di antara mereka yang dihukum mati.

China malah lebih ekstrem menunjukkan keberpihakannya kepada industri dalam negeri. Untuk mampu bersaing dengan negara lain, negara bersedia membebaskan pajak dan bahkan menalangi kerugian industri agar mereka tetap tumbuh. Keberpihakan ini membuat industri China yang tadinya tidak kompetitif beralih menjadi industri yang mampu menggulung industri yang sejenis di negara lain. Jumlah penduduknya banyak, berarti pasarnya terbuka besar. Sumber daya produksi mereka berupa tenaga kerja hampir tak terbatas.

China menerapkan strategi menjadi dapur dunia, tempat “memasak” semua kebutuhan masyakarat global. Meski di tahap awal mereka harus berdarah-darah mempertahankan kemampuan dalam negeri untuk menjadi dapur dunia, akhirnya strategi ini membuahkan hasil karena industri lain di berbagai negara tak mampu bersaing dengan China. Pabrik-pabrik di negera lain pada gulung tikar karena tak mampu bersaing dengan pabrik China, terutama dari sisi harga. Ada yang juga yang memindahkan pabrik-pabriknya ke China agar tetap kompetitif. Dalam waktu yang cukup singkat, China berhasil membayangi Amerika Serikat sebagai negara adidaya dalam hal ekonomi dan kapasitas teknologi mereka.

Ketinggalan Ketiga

Saat itu (2014) Prof. Gede Raka memproyeksikan Indonesia akan kembali ketinggalan kereta dari Vietnam. Saya heran, kenapa bukan Singapura, Thailand, atau Malaysia? Prof. Gede Raka menceritakan dari kunjungan-kunjungannya ke beberapa negara tetangga, Vietnam menunjukkan ciri yang sama dengan Korea Selatan dan China. Mereka memang masih banyak PR dalam hal governance karena suap dan korupsi masih lebih parah dibandingkan Indonesia. Tapi sebagai sebuah negara, mereka punya nilai patriotisme yang mirip dengan Korea Selatan dan China. Ini yang akan mengangkat mereka dan melesat lebih maju.

Saat itu Prof. Gede Raka memang masih menerawang. Ia mengatakan, “Kita jangan sampai ketinggalan kereta lagi. Vietnam dan Indonesia seperti kondisi tahun 1960-an dengan China dan Korea Selatan. Dulu kita setara, sekarang sudah tak layak dibandingkan-bandingkan lagi,” ia mewanti-wanti. Ternyata, empat tahun kemudian (2018) Kepala Bappenas mengonfirmasi terawangan Prof. Gede Raka ini. Vietnam menjadi negara yang tengah melaju dan melesat, mereka sudah mulai dadah-dadah meninggalkan Indonesia.

Mendengar penuturan Prof. Gede Raka tujuh tahun silam itu seolah membuka mata saya, kita selama ini kita ternyata sangat nyaman dengan ketidak-berdayaan. Untuk mengembalikan nilai-nilai patriotisme bersama, yang menurut Prof. Gede Raka merupakan fondasi paling penting, semakin sumir saja. Kita malah lebih asyik bertempur ejek-ejekan karena berbeda haluan politik sehingga meruntuhkan kemampuan produktif berbangsa & bernegara. Duh

Curhat Seorang Pegawai

0

SAYA BERKENALAN dengan seorang pegawai yang tergolong masih muda. Selepas kuliah ia mencoba melamar ke lebih dari 15 tujuan bekerja. Kegigihannya mengarungi tes demi tes akhirnya bermuara dengan segenggam SK pengangkatan pegawai di sebuah instansi yang beken di negara ini. Kami berkenalan akibat sebuah pekerjaan dengan posisi perusahaan yang saya kelola sebagai pelaksana kerja dan ia bagian dari tim pemberi kerja.

Pada suatu kesempatan istirahat, kami ngobrol tentang topik apa pun. Yang penting bergulir diskusi. Di tengah obrolan pengisi kekikukan itu ia menyampaikan keresahannya menjadi pegawai di tempat yang begitu mentereng. Ia bercerita betapa besar tekanan hidup yang harus ia hadapi setelah pindah ke ibukota dan memulai karir di gedung impian ribuan bahkan jutaan sarjana.

Katanya, menjadi pegawai telah membunuh separuh jiwanya karena ia bukan lagi makhluk merdeka. Ia merasa hanya menjadi sekrup di mesin yang begitu mewah. Tak ada jalan mengekspresikan idealisme yang menurutnya dulu sungguh menggebu saat masih duduk di bangku kuliah. Ia belum menikah dan kantor tempatnya bekerja seolah telah mengungkung hampir seluruh bagian penting dalam hidupnya. Baginya, kesendirian hanya tersisa di waktu ia akan memejamkan mata. Begitu terbangun kembali hidupnya sudah secara otomatis diset untuk kepentingan kantor.

Kami belum lama berkenalan. Saya merasa sulit memposisikan diri dengan curhat mengeluh dan menyalahkan keadaan seperti ini. Bila banyak berkomentar sedangkan belum paham betul kepribadian yang bersangkutan, bisa-bisa malah kontra produktif nantinya. Untuk amannya sama memutuskan menjadi pendengar yang baik, hanya menanggapi seperlunya atas niat sopan santun saja supaya ia tak merasa curhat dengan dinding.

Berbekal penilaian sementara, saya merasa teman baru ini adalah seorang yang cerdas. Dalam setiap diskusi ia selalu menunjukkan pemikiran yang sistematis dan daya analisisnya juga mendalam. Tapi diskusi kami di sela-sela istirahat itu menunjukkan rasa putus asa yang begitu mendalam.

Ia pun melanjutkan curhatnya. Katanya, menjadi pengusaha seperti yang saya tekuni sesungguhnya impiannya sejak kuliah. Tak harus menjadi pengusaha besar, yang penting masih memiliki ruang indepedensi diri yang tinggi. Saya mulai menangkap makna curhatnya. Sepertinya ia sedang membandingkan secara subjektif hidupnya kini dengan rencana hidupnya di masa lalu yang kebetulan sedikit terwakili dengan pilihan hidup yang tengah saya lakoni.

Kemudian ia menyinggung mengenai beratnya beban hidup yang tengah ia hadapi. Pegawai muda ini ternyata menjadi tulang punggung keluarganya. Ia masih membiayai kuliah seorang adiknya dan orang tuanya sudah pensiun. Praktis, biaya hidup orang tuanya juga menjadi tanggungannya. Baginya, pengeluaran yang begitu besar seolah-olah menempatkan dirinya sebagai seekor sapi yang dipaksa bekerja untuk kenikmatan orang lain.

Saya belum berani berkomentar di titik ia mengeluhkan aspek pengeluaran yang besar itu. Tapi ia mengeluarkan jurus untuk mematahkan pertahanan aman yang saya pasang sedari awal. Ia meminta pendapat bagaimana menyikapi hal itu. Rongrongan pertanyaan ini sulit dijawab dengan sikap aman yang saya pasang. Jawaban normatif hanya akan membuat diskusi segera padam. Akhirnya saya mengambil posisi dialog untuk menjawab pertanyaan itu. Tidak memberikan langsung pendapat, melainkan dengan bertanya untuk mendalami dan memberi tanggapan atas jawabannya.

Dari asesmen singkat dengan metode dialog tersebut, saya mengambil kesimpulan ia hanya sedang mengalami over thinking. Terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya bukanlah masalah besar. Ternyata, komposisi biaya yang harus ia keluarkan untuk orang tua dan biaya sekolah adiknya kurang dari 15 persen total penghasilan setiap bulan yang ia peroleh. Dengan begitu pendapat yang saya sampaikan kepadanya lebih kepada meredakan over thinking-nya yang memang sangat berlebihan. Dapat dipahami memang, anak muda yang baru saja mengalami loncatan penting dalam hidupnya sering gamang dan tersesat dalam pikirannya sendiri.

Tanpa terasa, diskusi untuk meladeni curhatan tersebut telah menyita seluruh waktu istirahat yang tersedia. Ketika mengakhiri diskusi, ia meminta di waktu istirahat makan siang besok ngobrol lagi melanjutkan topik hari ini. Saya tidak bisa menolak. Maka, esok hari diskusi yang sama kami teruskan. Tetap seru karena yang bersangkutan ternyata lebih menggebu ketika diskusi dibandingkan saat curhat monolog.

Begitu diskusi di hari kedua selesai, ia mengatakan bahwa perasaannya kini lebih plong. Gundah gulana yang menerpanya berbulan-bulan seperti menguap. Sebelum mengakhiri obrolan sela istirahat itu saya beranikan bertanya berapa besar penghasilan yang ia peroleh sebagai pegawai yang relatif masih baru. Semata-mata untuk menaruh empati padanya. Ternyata, jumlah penghasilan perbulannya setara dengan penghasilan yang mampu saya peroleh sepuluh bulan.

Beruntung baginya, diskusi hari itu membuatnya lega menjalani hidup. Sial bagiku, ternyata isi nasihat dan pendapat yang saya lontarkan di dua hari ini jauh lebih tepat dialamatkan untuk diri sendiri. Hiks…

Pada Deru Angin

0
Telah aku titipkan resah ini pada deru angin
Agar ia hilang di antara pepohonan
Telah aku lepaskan sebongkah beban dari dada
Karena aku ingin terbang selaksa merpati

Di antara desah daunan itu
Aku sertakan keluh kesah
Biar mereka larut dalam desah angin
Lalu larut bersama hilangnya kabut

Kamu tahu apa yang aku risaukan
Bila masih terbit tanya, 
temui burung gagak di ujung bukit itu
Ia telah kenyang mematuk gelisahku

Daya Skeptis

0

PERNAH, seorang junior menyapa lewat aplikasi pesan instan. Ia menceritakan rencana hidupnya yang menurutku terlalu ambisius. Aku sedikit paham kapasitasnya. Impian seperti itu terlalu tinggi untuk orang sepertia dia. Daya dukung dari lingkungan sekitarnya juga tak akan sanggup mencapai target yang ia sampaikan.

Aku coba untuk menanggapi sewajarnya saja. Sejujurnya hati kecil berkata, “anak ini terlalu percaya diri dan termakan impian yang terlalu besar untuknya.” Saat itu aku sampaikan padanya bahwa cita-citanya itu bagus, tetapi sepertinya sulit terwujud. Berbagai alasan aku sampaikan padanya untuk tidak coba-coba dengan masa depan. Yang realistis sajalah. Sesuaikan dengan kapasitas diri. Bermimpi memang harus tinggi, tapi juga tidak muluk-muluk.

Diskusi yang terjadi sebenarnya cukup panjang. Aku tak sabar untuk memadamkan api di dadanya yang suatu saat bisa-bisa akan membakar habis dirinya. Tapi aku khawatir membuatnya sakit hati. Selepas diskusi berakhir, ia mengirimkan rencana besarnya itu lewat email. Aku baca cepat lampiran yang tertanam di emailnya. “Sial…, ini lebih absurd lagi ternyata.” Benar-benar di luar kemampuannya yang masih “bocah”.

Aku balas emailnya dengan mengungkapkan beberapa butir keraguanku dengan ide tersebut. Aku sampaikan beberapa petuah agar dia lebih realistis lagi. Email itu berbalas beberapa hari kemudian. Ia sampaikan terima kasih tetapi terlihat rasa bahasa yang agak kecewa karena ia sebenarnya ingin didukung bukan dikritik. Tapi aku tak ambil pusing. Kebenaran memang kadang harus disampaikan meski pahit rasanya.

Tiga tahun berselang, aku melihatnya tampil di televisi dengan ide “aneh”-nya lagi. Tapi kali ini dengan versi telah terwujud. Tetiba aku merasa malu sendiri. Aku meragukan sepenuhnya impian itu, tapi kini dia berdiri di sana dengan bukti nyata.

Aku buru-buru sampaikan selamat padanya lewat pesan instan lagi. Ia membalas dengan ucapan terima kasih, terutama sudah pernah memberikan masukan berharga. Aku bilang dulu sangat meragukan idenya itu dan sepertinya tidak ada masukan berarti yang aku berikan untuknya. Jadi, pencapaian itu benar-benar miliknya sendiri.

“Justru keraguan itu yang membuat saya bersemangat untuk membuktikan bahwa itu semua salah,” ungkapnya.

Deg…, aku tertohok. “Kena deh

Skeptis, betapapun negatifnya ia memang sering kali justru jadi pengungkit. Kita memang senang mendapat pujian dan dukungan. Semua orang senang dipuji bukan? Malah banyak yang menuhankan pujian. Banyak yang jatuh saat diragukan, dicemooh, atau bahkan direndahkan. Tapi para petarung menjadikan itu sebagai bahan bakar menyalakan semangat dan persisten dalam dirinya. Aku sadar bahwa orang yang aku kira “bocah” ini ternyata telah tumbuh menjadi seorang petarung.

Sikap skeptis (scepticism) sesungguhnya punya peran penting dalam sejarah peradaban manusia. Sejak zaman Yunani kuno, Descartes misalnya mempopulerkan aliran skeptis dalam berpikir. Jangan terima begitu saja apa yang ada saat ini. Semuanya layak diragukan. Dari sinilah lahir cara berpikir yang kritis dan terbuka yang kelak menjadi akar budaya ilmiah. “Aku berpikir, maka aku ada” inilah sikap skeptis pada awalnya.

Setelah aku renungkan, dalam perjalanan hidupku ternyata banyak juga episode kemenangan yang berawal dari penolakan dan keraguan orang lain. Rasa tak percaya itu selalu melayang dekat di atas ubun-ubun. Sebelum berhasil membuktikan mereka salah dengan skeptisnya itu, aku tak akan berhenti.

Meluncurkan sikap skeptis yang berbuah manis memang tidak cocok untuk semua orang. Ada kalanya malah membuatnya benar-benar terpuruk dan berakhir buruk. Tapi bagi orang tertentu itulah daya pengungkitnya. Untuk kita, jangan jatuh dengan rasa ragu dan ungkapan tak percaya orang lain. Itu bagus, membuat kita hati-hati sekaligus bara di dada tetap menyala untuk mewujudkannya. Tinggal pilih, skeptis orang lain kita gunakan sebagai daya pengungkit atau tembok penghalang maju.

Photo credit nakaridore – www.freepik.com

Mana yang Lebih Baik

0

LELAKI paruh baya itu memecah keheningan karena ia melontarkan pertanyaan yang sedikit di luar konteks. Tadinya mereka sedang mengulas pertandingan sepakbola sambil bermain catur di pos ronda. Tapi, karena sudah lelah dan malam telah masuk ke ambang atas jarum 12. Sementara pertandingan bola yang mereka ulas tadi belum juga akan dimulai. Bila tidur khawatir bablas sampai subuh. Kalau ngobrol, tak tersisa lagi tenaga karena kopi sudah habis dari sore tadi. Akhirnya mereka hanya saling melamun mempertahankan tarikan kantuk demi pertandingan favorit dini hari nanti.

“Coba, lebih baik mana orang yang sholat tapi perilakunya tak terpuji dibandingkan orang yang jarang sholat tapi akhlaknya mulia?” lontarnya sekonyong-konyong.

Anjas, temannya yang diserang pertanyaan dadakan balik bertanya sambil mengucek kedua kelopak matanya.

“Ha…? Gimana tadi Luk?”

“Aku tanya, lebih baik mana orang yang sholat tapi perilakunya tak terpuji dibandingkan orang yang jarang sholat tapi akhlaknya mulia?“ Luluk mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan suara yang lebih bertenaga.

Anjas tidak siap menjawab pertanyaan melelahkan otak di tengah-tengah raganya yang dari tadi minta istirahat. Ia berdiri sejenak membersihkan kulit kacang goreng yang berserakan di kursinya. Anjas mencoba mengulur waktu sambil memutar akal menjawab pertanyaan temannya ini. Ia paham betul, jika malam itu ia tak menjawab pertanyaan si teman usil ini besok Luluk pasti akan menyerangnya lagi dengan pertanyaan yang sama. Luluk adalah sejenis makhluk yang tak mau berhenti jika ia belum merasa puas. Maka, Anjas ingin sekali menghentikan pertanyaan sahabatnya yang tidak terlalu karib ini. Mereka seolah bersahabat hanya karena sama-sama menggemari klub yang akan mereka tonton malam ini.

“Begini, aku punya jawaban atas pertanyaanmu tapi ada syaratnya,” Anjas membuka langkah pembuka diskusi.

“Baik, apa pun itu asal kamu tidak menyaratkan dibayar uang,” sambut Luluk terkekeh sambil melirik-lirik sisa makanan kecil yang mungkin terselip di tempat itu.

“Kita harus sepakat dulu bahwa ada yang jauh lebih baik dari kedua pilihan itu, yakni orang rajin sholat sekaligus memiliki akhlak yang mulia.”

“Bagaimana, sepakat? Jika kamu sepakat, aku akan menjawab pertanyaanmu,” Anjas berusaha mendapatkan konfirmasi.

Luluk merasa diserang balik. Ia tak berharap kesepakatan itu ada karena pertanyaannya bukan tentang yang Anjas tawarkan untuk disepakati. Tapi Luluk penasaran dengan Anjas karena ia terlihat meyakinkan ingin menjawab. Luluk lantas mulai menyusun serangan berikutnya, mana pun yang nantinya lebih baik menurut Anjas ia sudah punya bantahannya. Intinya dia harus menang malam ini, jika pun nanti timnya kalah ia sudah mencicipi nikmatnya menang berdebat.

“Oke… setuju!” Luluk menerima kesepakatan itu.

Anjas mengambil nafas dan meneguk sisa terakhir air putih di gelasnya.

“Supaya mudah, orang yang taat beribadah dan akhlaknya mulia kita beri poin sembilan.”

“Boleh…” Luluk sudah mulai tak sabar ingin menyerang.

“Karena aku lebih menghargai akhlak mulia dibandingkan sekedar menjalankan kewajiban ibadah, maka menurutku mereka yang berakhlak mulia lebih baik dari pada yang rajin sholat sedangkan perilakunya busuk. Ya… aku kasih poin enam lah.” Anjas langsung menunjukkan posisi yang jelas.

“Tapi, apa guna punya budi pekerti baik sedangkan ibadahnya jeblok?” Luluk mulai menjalankan serangannya.

”Memang tidak berguna teman, tapi dia masih lebih baik,” jawab Anjas.

“Loh, tidak bisa begitu. Ibadah itu modal kita untuk jalani hidup selepas di dunia ini. Menurutku yang rajin ibadah lebih baik lah daripada yang sekedar berperilaku baik.” Luluk tambah ngegas.

”Oke, kamu kasih poin berapa dia kalau begitu?” tanya Anjas balik.

“Hm… harus lebih tinggi dari pilihanmu, enam koma lima lah. Ha..ha…” Luluk merasa mulai memegang kendali.

“Kalau begitu aku ikut kamu deh, aku kasih dia poin enam koma satu. Kalau digabung, si rajin sholat tapi berakhlak buruk dapat nilai rata-rata berapa?” Anjas mendukung pilihan Luluk sambil meminta temannya itu menghitung di kalkulator hapenya.

“Hm… sebentar.”

“6,3 Njas!” seru Luluk beberapa detik kemudian. Ia senang karena berhasil menang sekaligus mendapatkan sekutu opini malam itu.

”Ya…ya.., aku setuju pilihanmu. Dia memang lebih baik. Tapi, bagiku mereka sama-sama tidak baik karena keduanya hanya dapat C.” Lanjut Anjas.

”Loh tapi kan sudah jelas pemenangnya,” Luluk protes.

“Mereka sama saja Luk. Sama-sama dapat C. Kenapa kita harus meributkan mereka yang hanya dapat grade C? Buatku grade A lebih baik dan ia pemenang yang sejati.” pungkas Anjas sambil berdiri dan pamit ke toilet.

Luluk masih berusaha mencerna kata-kata Anjas. Sejak awal dia tidak ingin membahas orang yang dapat nilai A. Pertanyaannya kan mana yang lebih baik dari yang sama-sama dapat C. Kenapa kesimpulannya malah yang lebih baik yang dapat A?

Luluk merasa dikerjai oleh temannya ini. Ia mau melancarkan serangan lagi sepulang Luluk kembali dari toilet. Tapi sampai pertandingan yang dinanti mulai tanyang, Anjas belum kembali. Ternyata dia izin pergi ke toilet rumahnya dan selepas itu nonton bola di ruang tamunya sendiri.

Kemenangan Besar Kelompok Paranoid

0

BEBERAPA TAHUN LALU, saat naik travel dari Bandung ke Jakarta ada seorang penumpang yang duduk di sebelah menunjukkan perilaku yang menyebalkan. Sebelum duduk dia sibuk membersihkan kursinya terlebih dahulu menggunakan tisu basah sambil mengomel bergumam dengan tatapan ketus. Penumpang lain yang antri di belakangnya harus menunggu wanita yang tampaknya berusia di atas 40 tahun ini selesai menjalankan ritual paranoia-nya. Ia menggunakan kaca mata hitam, pakai masker, dan memiliki gestur tak bersahabat.

Tiga puluh menit sekali ia menyemprotkan cairan antiseptik ke telapak tangannya. Tatapan matanya senantiasa curiga seolah kami ini adalah sumber penyakit yang tercela. “Paranoid benar orang ini,” batinku. Ia menderita ketakukan berlebihan atas sesuatu yang merisaukan hatinya. Atau, dia terlalu mengimani kalau dunia ini dipenuhi kuman-kuman berbahaya.

Pernah lagi, satu pesawat dengan seorang publik figur. Sejak masuk bandara keberangkatan hingga tiba di bandara tujuan ia tak melepas sama sekali maskernya. Belakangan baru paham bahwa masker, kacamata hitam, dan topi adalah senjata ampuh sebagai perangkat samaran para publik figur agar ia tidak disapa orang-orang yang mengenalnya. Kita yang bukan pesohor mudah saja menjalani kehidupan di tempat publik, santai jalan kesana kemari tanpa terganggu dan terbebani. Kalaupun diganggu di jalanan, sudah pasti pengganggu kita adalah penjahat. Tapi, bagi publik figur semua orang adalah pengganggu. Orang baik baginya juga para pengganggu. Harus mau diajak foto bersama jika tidak ingin dituduh sombong. Harus pasang senyum di setiap momen jepretan itu benar-benar menguras energi kata mereka. Belum lagi kalau diserang para wartawan dengan jepretan lampu kilat kameranya serta pertanyaan menyebalkan.

Perilaku yang dulunya hanya dilakukan penyandang ketakutan berlebihan alias paranoid ini, kini justru menjadi budaya yang harus kita ikuti. Kemana-mana wajib pakai masker, jangan salaman dengan orang lain, tidak boleh dekat-dekat, bicara seperlunya saja tidak perlu umbar obrolan dengan orang banyak. Serius…, dulu hanya orang paranoid yang melakukan itu bukan? Sekarang mereka “memetik kemenangan” bahwa apa yang mereka lakukan dulu adalah sebuah kebenaran yang harus diikuti orang kebanyakan.

Pelajarannya, jangan menjatuhkan penilaian aneh dulu terhadap perilaku orang-orang minor. Bisa saja suatu saat kita yang sebel dengan perilaku itu malah wajib mengikutinya. Di masa awal telepon genggam mulai menginvasi cara manusia berkomunikasi misalnya, lihatlah keanehan mereka. Ngobrol sendirian sambil jalan berputar-putar seperti orang gila. Sekarang, kita semua menjadi gila per defenisi masa itu.

Dunia memang terus bergerak dari satu simpul kenormalan menuju simpul kenormalan lainnya. Yang penting kita tetap menjaga kewarasan dan akal sehat. Penasaran ingin melihat, pergeseran apa yang akan terjadi sepuluh tahun dari sekarang.

Photo by SJ . on Unsplash

Berani Bertinju

0

HIDUP itu seperti masuk ke ring tinju, begitu wasit mempersilakan para petarung memulai, maka tidak ada jalan mundur kecuali harus siap memukul atau dipukul. Petinju tak pernah berharap lawannya akan memukul manja dan lembut. Ia harus siap bertahan dan menangkis. Sebisa mungkin pukulan lawan tak mendarat telak di bagian tubuh terlemahnya.

Hidup pun begitu. Ada kalanya kita berhasil memukul rencana sehingga membuahkan hasil. Terkadang kita mendapat kemenangan yang gilang gemilang karena sukses memukul dengan KO (knock-down) masalah yang menghadang. Tapi ada masanya pula kita yang harus terkapar tak berdaya karena pukulan yang begitu hebatnya sehingga pertahanan tubuh tak sanggup lagi untuk sekedar menopang berdiri.

Apakah petinju itu tidak takut sebelum naik ke ring? Tentu mereka takut. Untuk tak larut dengan rasa takutnya itu, banyak petinju yang menggunakan strategi tampil garang, jumawa, dan urakan sebelum bertanding. Sebenarnya ia tengah berusaha menguasai ketakutannya. Tapi sialnya, kadang strategi ini malah jadi bumerang baginya karena sang lawan malah tambah semangat untuk menghajar sikap petantang-petenteng itu.

Hiduplah seperti petarung, yang harus menyerang tanpa lupa bertahan. Tak segan memukul tapi tak juga cengeng jika dipukul. Memang tinju itu brutal, sama halnya seperti hidup ini kawan. Kita tak selamanya berada tempat nyaman terus. Ganasnya dunia sesekali akan menemui kita. Saat masa itu tiba “pukul lah” ia. Bertinju tidak hanya pakai tenaga tetapi juga gunakan taktik yang cerdik. Sebab, bila hanya tenaga yang engkau andalkan mudah bagi lawan menanti titik lelahmu lalu menghajar dengan pukulan di rahang sehingga terhempas pingsan.

Beranilah bertinju dengan kehidupan, menang kalah soal nanti.