Datang dan Pergi

0

HIDUP ini kita lalui dengan irama kedatangan dan kepergian yang silih berganti. Dibandingkan dengan datang, peristiwa kepergian punya peluang lebih besar mengundang air mata, kepedihan, dan kehilangan.

Kedatangan seseorang seringnya kita sambut dengan suka cita dan penuh cinta. Tapi kadang, kepergian orang yang sama terjadi dengan penuh drama. Malah ada yang dikotori rasa benci.

Kehilangan akibat perginya orang yang telah membekaskan jejaknya di hati lebih sakit lagi. Kita masih menyimpan harap dapat berjalan bersamanya, tetapi berbagai garis takdir ternyata menjadi akhir pertemuan indah itu.

Jadilah seperti pantai yang dengan ikhlas hati menerima kedatangan perahu dan sekaligus melepas perahu yang hendak pergi. Pantai tak pernah menggenggam perahu-perahu itu untuk selalu tinggal bersamanya. Ia membebaskan perahu yang ada menjalani lintasan hidupnya sendiri.

Pada setiap perpisahan, ingatlah bahwa kita bukan terpisah bahkan bila bentuk perpisahan itu adalah kematian. Cukupkanlah sedih dalam kadar yang tak membuat kita merana. Seperti dalam petikan nasihat Rumi di bawah ini.

Janganlah bersedih, segala yang pergi akan datang kembali dalam bentuk yang lain.

MAULANA RUMI

Memimpin Seperti Trafo

0

SALAH satu keterampilan penting ketika memimpin adalah bersedia menjadi “trafo”. Tekanan yang kita hadapi itu ibaratnya tegangan dalam terminologi listrik. Tegangan atau tekanan yang ada harus kita turunkan sampai sesuai dengan kapasitas yang dapat diterima anggota tim. Fungsi menjadi trafo bukan menghilangkan tegangan sama sekali, melainkan menurunkannya agar dampaknya konstruktif.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menjadi transformator step-down sehingga timnya tetap sanggup menghadapi tantangan dan menjawabnya sesuai kapasitasnya.

Sebaliknya, pemimpin buruk adalah pemimpin yang meneruskan begitu saja tekanan yang ia hadapi ke anak buah. Atau lebih buruk lagi malah menjadi transformator step-up: tekanan sesungguhnya tidak seberapa tapi ia mendramatisir keadaan sehingga tekanan yang anak-buahnya terima jauh lebih besar dari yang sebenarnya.

Buang Satu Kata Ini dari Kamus Hidupmu

0

SEORANG pebisnis pemula mengajukan permohonan kepada pebisnis senior agar ia diterima menjadi murid. Pebisnis muda ini ingin sekali menimba ilmu dan pengalaman dari seniornya telah telah membangun usahanya dengan sangat baik.

Pebisnis senior menanyakan motivasi juniornya untuk mengajukan hal tersebut. Sang junior pun menjawab bahwa ia sangat terinspirasi dengan perjalanan bisnis seniornya itu. Ia ingin sekali menempuh jejak yang kurang lebih sama dengan perjalanan yang telah seniornya tempuh selama ini.

Sang pebisnis senior mengatakan bahwa ikut belajar bersamanya mudah saja dan ia menerima dengan tangan terbuka. Namun ia mengajukan satu syarat ketat. Apabila syarat tersebut belum bisa dipenuhi atau pada saat perjalanan mentoring bisnis berlangsung sang junior tidak berhasil memenuhi syarat yang diminta, maka otomatis ia harus meninggalkan arena mentoring. Tidak ada kesempatan kedua. Semuanya hanya terbuka untuk satu kesempatan saja.

“Syaratnya adalah kamu tidak boleh mengeluh. Sama sekali tidak boleh mengeluhkan apa pun. Keadaan, beratnya perjuangan, orang-orang menyebalkan, kerugian yang mungkin akan menghampirimu, permusuhan yang akan kamu hadapi, atau bahkan penghianatan yang serasa menebas batang lehermu.”

Pebisnis senior itu melanjutkan bahwa ia akan memberikan banyak sekali tantangan yang akan membuat juniornya belajar benar-benar dari pengalaman. Kebanyakan orang yang menjalani tantangan itu akan mengeluh. Begitu mereka mengeluh, ia mengatakan tidak akan lanjutkan proses karena dengan mengeluh berarti mereka tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

“Jika kamu sanggup, silakan tulis surat pernyataan bahwa kamu tidak akan mengeluh selama berjuang bersama saya,” mintanya sambil menatap dalam ke mata sang junior dan menyelam ke sanubari.

Pebisnis pemula itu sedikit goyah dengan tatapan seperti itu. Ia merasa tak yakin dapat berhasil menghapus kata mengeluh.

Perahu Kehidupan

0

HIDUP itu seperti perahu. Meski kita memiliki kelengkapan fisik yang tak jauh beda dan mengonsumsi makanan yang sama, tetapi masing-masing kita hidup dengan jalan yang berbeda.

Meskipun kita berada di tempat yang berdekatan, tetap kita menempuh jalan hidup yang saling beda. Beda rezeki, beda proses, beda pengalaman, dan banyak perbedaan lainnya.

Hidup itu seperti perahu. Nahkodanya adalah kombinasi antara hati dan pikiran. Ada perahu yang terdiam saja meski seribu peluang lalu lalang di hadapannya. Ada pula perahu yang siap sedia tetapi saat peluang datang, mesinnya tak kunjung menyala.

Hidup itu seperti perahu. Berdiam dan berteduh adalah posisi paling nyaman bagi perahu dan nahkodanya, tetapi bukan itu alasan perahu diciptakan. Perancang dan pembuat perahu mengerahkan seluruh daya upayanya agar perahu-perahu itu tetap kuat meski saat badai dahsyat sekalipun.

Apa yang Kamu Cari?

0

SEORANG pemuda yang tengah gundah gulana dan merasa hidupnya penuh nestapa mencoba mencari berbagai bantuan. Ia pernah mengunjungi psikolog untuk meluruhkan rasa resahnya, tapi belum kunjung menemukan titik cerah. Hidupnya masih saja kelabu.

Atas saran teman kantornya, ia pun mencoba peruntungan mengunjungi seorang tua cacat yang katanya punya ilmu rahasia bahagia. Bapak tua itu mengabdikan dirinya menjadi marbot keliling. Setiap hari ia menyambangi tiga sampai lima surau untuk dibersihkan. Meskipun sepanjang hari ia bergelut dengan urusan membersihkan sampah dan debu, tapi dari wajahnya bersinar raut bahagia.

“Coba saja kamu tanya rahasia menjadi orang bahagia kepada Pak Samiin, ia mudah dikenali, tangan kanannya buntung dan selalu pakai kemeja berwarna cream,” saran sang teman.

Pemuda itu sudah tak punya solusi atas merana hatinya. Jika pun sang teman menyarankan untuk berkunjung ke tukang nujum, akan ia sambangi juga.

Maka ia bergegas mencari Pak Samiin. Setelah menunggu dua jam di sebuah surau yang ditunjukkan temannya, ia akhirnya bertemu dengan Pak Samiin, sang marbot keliling. Ia membuka percakapan dengan memperkenalkan diri. Tak lama kemudia ia utarakan maksud kedatangannya atas rekomendasi teman sekantor.

“Apa yang kamu cari Dik?” tanya Pak Samiin setelah mendengar seksama perkenalan dan penjelasan pembuka dari pemuda itu.

“Saya ingin bahagia Pak, tolonglah ajarkan saya bisa bahagia seperti bapak. Kata teman saya bapak punya rahasia untuk bahagia.”

“Lantas, apa yang kamu punya?”

Pemuda itu tercekat sejenak. Tak disangka, Pak Samiin ternyata memungut bayaran atas jasa konsultansinya.

“Saya tidak punya apa-apa Pak. Tapi, sebutkanlah angka saya harus bayar berapa untuk mengetahui cara bahagia.”

“Kalau begitu, Adik belum punya modal untuk bahagia. Kembalilah esok, bawa ke sini apa yang paling berharga dalam hidupmu.”

Pak Samiin kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Semua ia lakukan dengan satu tangan. Tapi Pak Samiin sepertinya kok enteng sekali melakukan semua pekerjaan itu.

Pemuda itu kesal luar biasa. Menuruti nasihat teman, bukannya mendapat solusi malah cuma membuang-buang waktu saja. Esoknya ia tumpahkan kesalnya itu kepada sang kawan.

“Cobalah ikuti dulu apa maunya,” jawab si teman dengan nada memotivasi.

Pemuda itu pun dengan berat hati datang lagi ke surau yang kemarin. Lagi-lagi harus menunggu lebih dari satu jam.

“Wah…, sepertinya sudah bawa hal paling berharga nih,” Pak Samiin langsung menyapa begitu ia tiba di teras masjid. Butuh waktu dan upaya ekstra bagi Pak Samiin untuk melepas kedua sepatunya.

“Begini Pak, saya tidak punya hal yang berharga untuk saya berikan kepada Bapak. Kita persingkat saja. Kalau Bapak memang punya rahasia bahagia itu dan pasang tarif untuk membaginya, sebut angka saja Pak. Tak perlu pakai jalan misterius begini.”

“Apa yang kamu cari anak muda?”

“Bahagia Pak, saya ingin menjadi orang yang bahagia. Lelah sudah saya menjalani hidup ini tapi tak sedikitpun merasakan bahagia.”

“Bahagia seperti apa yang engkau idamkan Dik?”

“Ya…, saya tidak tahu. Bukankah harusnya saya yang mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu?” Sang pemuda sudah mulai kehabisan kesabaran.

“Bila tak dapat membawa yang paling berharga dalam hidupmu, mustahil engkau bisa merasakan bahagia.”

“Bahagia itu berasal dari sesuatu yang kita miliki. Berhentilah mencari kebahagiaan yang belum ada. Percaya sama saya, bahagia seperti itu tidak ada Dik!”

“Ruh yang masih melekat pada jasadmu, tak berharga kah itu? Kelengkapan tubuhmu yang saya lihat masyaallah sempurna dan sehat. Tak berharga kah itu? Keluarga yang engkau tinggalkan di rumah, tak bernilai kah itu semua untukmu?”

“Kumpulkan apa yang sudah engkau miliki Dik. Resapi dan bahagia akan muncul dari sana seperti mata air. Engkau tak perlu mencari-cari bahagia di tempat lain, di masa mendatang, atau dengan syarat apapun. Bahagia itu dekat sekali dengan dirimu. Engkau cuma cukup berdialog dengan hatimu, menginvetarisir apa yang sudah kamu miliki.”

“Pulanglah Dik. Tak ada bahagia yang perlu engkau cari. Ia sudah ada, tinggal engkau sapa dari benakmu yang terdalam.”

“Lalu apa hal berharga yang bapak miliki sehingga orang melihat bapak bahagia sekali?” pemuda itu masih penasaran.

Pak Samiin pun bercerita bahwa ia kehilangan tangan kanan karena kecelakaan. Ia butuh waktu lebih dari satu tahun menerima kenyataan itu. Hingga suatu hari Pak Samiin tersadar betapa bernilai tangan kiri yang masih sehat. Ia pun ingin mendermakan tangan kirinya itu untuk orang banyak sebagai wujud rasa syukurnya. Ternyata ia menemukan mata air kebahagiaan justru dari tangan kirinya yang tersisa itu. Maka, Pak Samiin mendermakan sebagian waktunya untuk membersihkan beberapa surau di sekitar tempatnya tinggal dan dari sana ia mereguk kebahagiaan diri sendiri.

Lelaki itu tak mampu menyela lagi. Nasihat singkat Pak Samiin seperti guyuran air di kepalanya yang tadinya bak lahan gersang. Seiiring marbot keliling yang berusah-susah dengan kondisi tubuhnya itu pamit, ia merasa semua resah yang bergumpal-gumpal di rongga dadanya menguap ke udara. Lalu ia pulang dengan kepala ringan. Sesampainya di rumah pemuda itu langsung ke kamarnya. Saat berhadapan dengan cermin, ia melihat bibirnya yang sudah lama datar kini telah melengkung bahagia.

Photo by Warren Wong on Unsplash

Dzulhijjah, Bulan Penyambung Risalah

0

DZULHIJJAH, termasuk bulan yang istimewa dalam Islam. Ibadah haji yang berlangsung setahun sekali dilakukan di bulan Dzulhijjah. Haji adalah ibadah pemersatu umat Islam yang sekaligus menjadi kesempatan berziarah di tempat lahirnya agama Islam. Di waktu yang sama dan di tempat berbeda, berlangsung ibadah kurban serentak di seluruh dunia.

Bulan haji atau bulan Dzulhijjah juga kerap dipandang sebagai waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Maka tak heran, khusus di Indonesia banyak yang menyebut bulan selepas Syawal ini sebagai bulan kawin. Tidak ada anjuran khusus dari Nabi dan ulama untuk melangsungkan pernikahan di bulan Dzulhijjah. Ini terjadi karena tradisi saja, umat Islam menganggap bahwa banyak keistimewaan dan kebaikan di bulan Dzulhijjah dan menikah adalah peristiwa baik maka kenapa tidak disandingkan saja? Kurang lebih begitu.

Dzulhijjah sebenarnya bukan bulan istimewa khusus untuk agama Islam. Tak banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi di bulan ini. Sebab, di masa kerasulan Nabi Muhammad pun begitu masuk bulan Dzulhijjah semua aktivitas mereda dan beralih ke ibadah haji. Ibadah haji, sebagai salah satu hari raya besar umat Islam adalah ibadah yang menjadi penyambung risalah Nabi Ibrahim ke Nabi Muhammad. Berbeda dengan ibadah sholat yang jumlah kewajiban dan rukunnya baru ada di masa Nabi Muhammad.

Peristiwa penting di Bulan Dzulhijjah justru merupakan peristiwa di masa kenabian sebelum Nabi Muhammad sehingga Dzulhijjah ini punya keistimewaan sebagai penyambung risalah.

Pertama, ibadah haji yang diidam-idamkan seluruh umat Islam di seluruh permukaan bumi ini berasal dari peristiwa yang terjadi pada masa kerasulan Nabi Ibrahim. Rangkaian ibadah haji juga merupakan kilas balik atas apa yang terjadi di masa Nabi Ibrahim.

Kedua, Ka’bah sendiri yang menjadi pusat ibadah haji dibangun oleh Nabi Ibrahim di bulan Dzulhijjah. Saat itu Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim membangun pilar bangunan yang dibantu oleh Nabi Ismail.

Ketiga, peristiwa dilemparnya Nabi Yunus ke lautan dan akhirnya diselamatkan oleh ikan paus dengan cara ditelan terjadi di Bulan Dzulhijjah juga. Ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam kerasulan Nabi Yunus. Kisah yang membawa pesan hikmah betapa besarnya ampunan dan pertolongan Allah.

Keempat. Lebih awal lagi, tanggal 1 Dzulhijjah tercatat sebagai tanggal diampunya dosa Nabi Adam dan Hawa. Oleh karena itu dalam Islam dianjurkan untuk berpuasa sebagai bentuk menghayati ampunan Allah kepada hambaNya.

Kelima, Nabi Zakaria hingga usia lanjut belum memiliki keturunan. Ia tak bosan-bosan berdoa agar dikaruniai anak. Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria pada bulan Dzulhijjah saat usianya sudah mencapai 120 tahun.

Keenam. Berdasarkan beberapa riwayat, Umat Islam memercayai bahwa Nabi Isa lahir pada tanggal 4 Dzulhijjah.

Nah…, dari peristiwa tersebut Dzulhijjah sejatinya adalah bulan penyambung antara risalah yang dibawa Nabi Muhammad dengan rasul pendahulunya.

Photo by Jordan Steranka on Unsplash

Tidak Sopan Sama Senior!

0

SAYA pernah mendapat teguran langsung dengan peringatan supaya lebih sopan sama seorang senior. Dia mengaku diutus bicara oleh senior lain yang tersinggung berat oleh ulah saya. Ketika mendapat teguran itu saya sama sekali tidak merasa marah. Prinsipnya saya setuju karena saya juga termasuk orang yang tidak senang apabila ada junior berlaku tidak sopan dengan seniornya.

Mendapat teguran seperti itu saya langsung mengucap maaf. Lalu meminta agar permintaan maaf itu diteruskan kepada senior yang merasa tersinggung. Kadang-kadang kita memang khilaf, tidak sadar bahwa perilaku kita ternyata dianggap tak sopan oleh orang lain. Atau, tutur yang telah terucap ternyata menyakiti hati orang lain. Apalagi senior, perasaannya tentu lebih sensitif bila ada junior mengeluarkan kata-kata yang tak pada tempatnya.

Supaya punya bekal memperbaiki diri, maka saya meminta agar beliau menceritakan bagian mana tingkah laku dan pola ucap saya yang dianggap tak sopan. Ia menjelaskan dengan sabar, terlihat sekali ia ingin saya tidak sakit hati juga dengan teguran tersebut. Saya menyimaknya dan mencoba mencerna dengan kepala sesejuk mungkin. Ini kesempatan baik bagi saya untuk mendapat negative feedback sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

Ia menyampaikan bahwa senior saya yang tersinggung itu memintanya untuk menegur saya dengan tiga alasan. Alasan pertama adalah mengenai perbedaan budaya. Ini dapat saya pahami sepenuhnya. Saya lahir dan besar di budaya yang terlalu berterus terang dan dengan pilihan diksi yang bagi budaya lain tidak match. Untuk alasan tersebut saya tak boleh membela diri. Saya memang keliru. Kita yang harus mencoba menyesuaikan budaya. Prinsipnya, tidak harus ikut penuh budaya orang lain tetapi juga tidak ngotot mempertahankan budaya sendiri dengan alasan saya terlahir di lingkungan seperti itu. Harus ada penyesuaian, itu saja. Saya berarti belum berhasil menyesuaikan diri sehingga dianggap tak sopan.

Alasan berikutnya adalah sang senior yang tersinggung menanggap saya tak sopan karena tidak mau menuruti apa yang senior tersebut inginkan. Alasan ini dapat saya terima setengah. Senior pasti jengah kalau ada junior yang keras kepala dan tidak bisa diatur. Jika memang saya benar melakukan itu, jelas saya yang harus memperbaiki diri. Nah, supaya lebih terang-benderang, saya sampaikan kepadanya apakah saya boleh menjelaskan kenapa saya berbeda pandangan sehingga tidak bersedia mengikuti apa yang sang senior inginkan? Dengan bijaksana ia menjawab saya boleh bercerita dari sudut pandang saya.

Ketika menjelaskan perbedaan pandangan tersebut, sang senior perantara yang bertugas menegur itu ternyata lebih setuju dengan alasan yang saya kemukakan. Apakah ia berdusta mengaku setuju? Itu saya tidak tahu persis. Tapi menurutnya, saya tetap tidak sopan. Junior harusnya taat kepada senior. Di sinilah letak ketidaksetujuan saya. Sopan-santun menyangkut interaksi sosial. Sedangkan opini tidak ada kaitannya dengan sopan-santun. Kita bisa saja berbeda pandangan dengan tetap sopan dan hubungan baik-baik saja. Jika perbedaan tersebut membuat saya punya perilaku sosial tak baik, barulah saya terima diangap tak sopan pada senior. Pada kenyataannya, saya menilai sudah menyampaikan perbedaan pandangan tersebut dengan sopan dan tidak sembunyi-sembunyi. Jika sikap saya saat menyatakan beda pendapat dianggap tak sopan, saya dapat terima dan akan saya perbaiki. Tetapi jika berbeda pendapat adalah sesuatu yang tak sopan saya kira senior saya ini telah salah kaprah.

Ketiga, saya dinilai tidak sopan karena tidak bertanggung jawab. Bagian ini langsung saya tolak. Tidak bertanggung jawab jangan digabung dengan tidak sopan. Akibatnya akan bahaya sekali. Tanggung jawab itu bagian dari kinerja yang harus jelas akuntabilitasnya. Sementara ketidaksopanan lebih pada perasaan yang dialami orang lain saat berinteraksi. Jadi, label tak sopan karena tak bertanggung jawab saya tolak. Meskipun menolaknya dalam hati karena kalau menolak serta merta, saya khawatir senior perantara ini akan sakit hati juga. He..he…

Saya bersedia menerima konsekuensi akibat tidak bertanggung jawab. Tapi jangan dianggap tidak sopan karena itu tak berkaitan sama sekali. Lalu, saya minta penjelasan bagian tak bertanggung jawab yang dimaksud seperti apa. Khawatirnya sang senior perantara ini salah pilih diksi saja. Ia pun menjelaskan saya dianggap tidak sopan karena tidak peka membantu saat sang senior butuh bantuan. Sepertinya dia memang perlu menjernihkan perihal sopan santun dan bagaimana cara meminta bantuan. Jangan sedikit-sedikit malah jadi dianggap tak sopan. Geli saya mendengar alasan seperti itu.

Meskipun demikian, saya memilih untuk tetap meminta maaf. Senior memang cenderung merasa tak mau disalahkan. Sepertinya semua kebudayaan di dunia setuju dengan kecenderungan ini bukan? Apalah saya ini, tak mungkin dapat meruntuhkan kemapanan yang telah nyaman bagi semua orang. Untuk itu, biarlah ia bahagia dengan persepsinya tersebut.

Dari peristiwa itu yang terpenting adalah saya akhirnya belajar kalau jadi senior harusnya mengayomi bukan ingin menjadi raja yang dilayani. Bila hati kita mengayomi, sopan tak sopannya junior akan kita koreksi dengan rasa cinta. Sebaliknya, bila ingin menjadi raja yang dilayani, maka sejak awal kita sudah menempatkan para junior sebagai pesuruh yang wajib patuh. Tak patuh berarti tak menghargai senior. Ribet kan jika cara berpikir terus dipelihara?

Sumber foto: psychology-spot.com (dimodifikasi)

Teman Laknat

0

PADA suatu event, saya duduk bersebelahan dengan beberapa orang yang sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya. Dari pada kikuk sendirian, saya coba bangun percakapan ringan sekadar untuk memecah bisu. Maka, saya pilih ngobrol dengan orang yang memang berdekatan tempat duduknya dengan saya.

Menurut artikel yang pernah saya baca, salah satu cara untuk memelihara obrolan agar berlangsung awet adalah mencari kesamaan agar diskusi tak hanya sekedar saling berkenalan. Maka saya coba mencari topik apa yang kiranya common antara kami.

Setelah saling memperkenalkan diri, aha saya menemukan celah. Lawan bicara ini ternyata baru saja dua bulan resign dari tempat kerjanya di sebuah perusahaan besar nan mapan. Ia sekarang memilih menjadi pengajar di satu kampus swasta kecil. Nah… kebetulan saya juga punya teman di tempat bekerjanya yang lama itu, sebut saja nama teman lama saya ini LA (nama samaran ya…). Besar kemungkinan ia mengenal LA dan sepertinya bisa menjadi common topic yang dapat saya elaborasi.

Saya menyebutkan nama LA yang juga bekerja di tempat yang sama dengannya. Semoga saja ia juga mengenal LA ini sehingga diskusi bisa lebih awet seperti nasihat di artikel tadi. Sekoyong-koyong ia terperangah seperti tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut.

Saya pun ikut-ikutan kaget, kenapa ia jadi kaget. Maka kami pun terdiam sejenak dengan kekagetan masing-masing.

Sejurus dua jurus kemudian, ia mulai berbicara dengan nada yang agak kurang nyaman di telinga.

“Apakah semua alumni ITB ketus dan sadis seperti itu ya?”

Saya bingung harus menjawab apa karena tidak tahu konteks pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari topik. Saya menduga jangan-jangan dia ini korban “diputus cinta” sehingga dengan gegabah langsung mengambil kesimpulan umum seperti itu.

“Saya memutuskan resign ya karena dia, saya tidak kuat bekerja sama dengan bos yang brengsek seperti itu,” tambahnya lagi.

Mendapat dua pernyataan serangan, alih-alih persahabatan, saya jadi serba salah. Sial, jurus common topic ternyata jadi senjata makan tuan. Saya menahan diri untuk tidak membela LA dan memilih untuk memihak pada orang yang merasa menjadi “korban” LA supaya mendapat gambaran yang lebih utuh mengenai apa sih yang sebenarnya terjadi.

Setelah berusaha ikut menjelek-jelekkan teman sendiri (maafkan lah aku kawan). Ia pun lanjutkan cerita mengapa akhirnya memutuskan resign setelah lebih dari tujuh tahun membina karir dengan baik. Tapi semua itu dibuat suram oleh teman saya ini. Menurut penuturannya, LA terlalu kaku, njelimet, dan seperti manusia yang tidak punya perasaan sama sekali. Ia tega membentak bawahannya di hadapan umum hanya karena masalah sepele sehingga banyak orang yang kehilangan muka kalau sudah berurusan dengannya. Baginya, LA adalah seorang atasan yang harus sekolah kepemimpinan lagi dari dasar. LA cuma punya kuasa tetapi nihil kepemimpinan.

“Kami resign seretak tiga orang loh gara-gara dia,” lanjutnya dengan nada kesal.

“Sial betul temanku ini,” saya membatin. Awalnya saya berniat meminjam namanya untuk menyemarakkan diskusi, eh kini saya malah jadi ikutan menanggung dosa bergunjing.

Saya tak kuasa membela teman yang barusan saya pinjam namanya. Sebab, saya juga harus pasang empati pada yang mengaku “korbannya”. Ia sudah dua bulan resign tapi masih menyimpan rasa sakit hati luar biasa. Sepanjang yang saya kenal, teman ini agak jauh dari sifat yang ia ceritakan. Sampai-sampai saya tunjukkan foto LA, siapa tahu kita sedang membicarakan orang yang berbeda. Tetap saja subjek yang sedang kami bahas memang benar teman sendiri.

Beberapa saat kemudian, ia beranjak pergi dengan alasan ke kamar kecil. Begitu masuk ke ruangan kembali saya lihat ia mengambil kursi di meja lain. Sepertinya memang sengaja menghindar. Sebuah upaya bersahabat yang berbuah pergunjingan dan sikap yang justru tak bersahabat. Dasar teman LAknat, saya apes benar hari itu karena meminjam namanya.

Covid Bukanlah Aib

0

DI AWAL 2020, saat pandemi mulai merebak dari Wuhan saya sedang sering-seringnya melakukan perjalanan antar kota. Malahan pada akhir 2019 hingga beberapa bulan di awal 2020 saya sempat terserang flu berat yang cukup parah.

Saat dalam penerbangan menuju Jakara, di bandara tengah menyeruak kabar kasus covid pertama di Indonesia. Kasus itu ditengarai sebagai klaster dansa di Jakarta. Selepas itu tumbuh kasus-kasus baru dengan berbagai klaster. Namun, karena kasus pertama berasal dari klaster dansa, ternyata di sebagian benak orang yang terkena covid adalah orang yang terlalu gaul dan tidak menjaga dirinya. Memang, stigma covid tidak separah AIDS, tetapi stigma itu tetap ada.

Seorang kenalan bercerita bahwa salah seorang anggota keluarganya dinyatakan positif covid akibat terpapar di lingkungan kantor. Mereka panik luar biasa karena orang tua dan anak-anak yang ada di rumah ikut sakit dengan merasakan gejala menyerupai covid. Hampir seluruh anggota keluarga ini tidak bersedia test meskipun masuk kategori kontak erat. Alasannya sederhana, mereka malu dengan para tetangga kalau nantinya dinyatakan positif covid setelah ikut test swab.

Ada juga cerita teman yang lain, mereka sekeluarga terserang panik dan ketakutan setelah salah seorang anggota keluarganya sakit demam. Begitu ditest, ternyata positif covid. Kepanikan ini akhirnya berujung stres bahkan sangkin stresnya sampai masuk rumah sakit. Beberapa kali ditest swab, hasilnya tetap negatif tetapi tubuhnya lemah dan harus mendapat perawatan lebih lanjut. Ketika ditelusuri apa yang membuatnya stres, apakah takut akan dampak covid atau ada hal lain? Saya tercenung dengan alasan yang teman ini ceritakan, ternyata penyebab stresnya bukan takut akan covid, tetapi takut kalau para tetangga akan panjang lidah menceritakan mereka.

Cerita lain yang umum terjadi. Ada seorang pasien yang sedang sakit berat. Ia berangkat ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Di tengah situasi seperti ini, rumah sakit tentu menerapkan prosedur test swab PCR terlebih dahulu. Eh, hasil testnya belum keluar ternyata sang pasien menemui takdir akhir hidupnya. Maka, demi jaga-jaga rumah sakit menyarankan pemakaman menggunakan prosedur covid. Hasil test belum keluar, tetapi jenazah harus dimakamkan dengan prosedur covid yang ketat. Gegerlah satu kampung, jadi bahan cerita orang-orang yang gosok menggosok cerita bahwa yang baru saja dimakamkan terkena covid. Keluarga itu pun lantas diasingkan secara perlahan.

Dua hari kemudian, hasil test swab keluar dan jenazah ternyata dinyatakan negatif. Lah, terus bagaimana? Gosip terus terpelihara meskipun keluarga tersebut sudah menjelaskan kalau test adalah negatif.

Pendeknya, masih banyak yang memelihara stigma bahwa terkena covid adalah aib sehingga enggan langsung test. Begitu gejala memburuk sehingga harus dilarikan ke rumah sakit, barulah heboh. Ada pula yang saat dinyatakan covid lantas berusaha semaksimal mungkin menutupi info tersebut kepada tetangga.

Pandemi ini seperti serangan perang untuk kita. Perang dengan tentara tak kasat mata. Melawannya tidak pakai senjata untuk membunuh atau melumpuhkan musuh, tetapi pakai senjata waspada diri agar tak turut diserang musuh. Jika menganggap covid adalah aib, maka perang ini akan semakin lama.

Photo credit: Filip Kominik on Unsplash

Abai yang Mendorong Puncak Pandemi

0

INI adalah sebuah catatan saat Indonesia tengah berada di puncak pandemi. Berharap ini memang benar-benar puncak dan akan terus melandai nantinya.

Saban hari, berita wafat terus berdentingan di grup whatsapp. Setiap ada kalimat innalillahi wa inna ilaihi raajiuun atau turut berduka langsung bertanya-tanya ini siapa lagi? Frekuensi berita duka itu begitu rapat. Seolah tiada hari tanpa berita duka cita. Ada saudara, teman dekat, orang yang kita hormati, dan banyak lagi menemui takdir kematiannya dengan jalan Covid-19. Di Juli 2021, Indonesia menempati posisi pertama tingkat kematian tertinggi di dunia.

Jauh lebih rapat lagi berita tentang yang dinyatakan positif terpapar Covid-19. Lebih menyesakkan dada lagi, rumah sakit penuh. Oksigen kosong. Orang-orang pada kelimpungan mencari tempat rawat. Pasien yang tengah berjuang melawan maut, harus pontang-panting mencari sekedar untuk mendapat rawatan. Tak peduli lagi kelas kamar, di rawat di gudang rumah sakit juga tidak apa-apa padahal sebelumnya selalu berlangganan kamar VIP jika pun harus masuk rumah sakit.

Saya mendengar sendiri dari para dokter dan pihak manajemen rumah sakit yang sudah merasa tak berdaya. Menyaksikan pasien membiru dengan sendirinya karena cadangan oksigen sudah tidak ada. Keluarganya sendiri pun tak mampu ia bantu. Semua kamar dan tempat tidur perawatan full capacity.

Raung-raungan ambulans tak henti dan seperti tak mengenal waktu. Makam khusus covid juga penuh dengan antrian panjang dan jadwal pemakaman 24 jam. Situasi ini benar-benar menggila.

Belum lagi sendi-sendi ekonomi yang mulai keropos. Sebagian tak kuat menyangga bisnisnya untuk tetap berdiri dan terpaksa harus harakiri. Para pencari kerja mulai kehabisan harapan karena pintu PHK sedang tinggi-tingginya. Mereka yang keluar dari pintu PHK itu juga perlu mata pencaharian.

Tiba-tiba teringat lagi setahun lalu. Ketika berita pandemi mulai menyeruak. Para pejabat yang punya wewenang itu tampil di televisi sambil cengengesan dengan mimik santai. Saya sudah siapkan kutipan-kutipan bernada remeh dari mereka. Tadinya mau ditempelkan di sini, tapi saya hapus kembali. Terlalu gemes mengenang sikap sepele itu.

Teringat lagi film seri Chernobyl yang diproduksi oleh HBO tentang tragedi kebocoran pembangkit nuklir di Uni Soviet. Pelajaran paling penting dari film Chernobyl adalah bencana pembangkit nuklir tersebut tidak akan separah itu jika para pengambil keputusan tidak ignorance.

Yang berlalu memang biarlah berlalu. Tetapi sejarah buruk janganlah diulang kembali. Pandemi ini mengajarkan kepada kita bahwa tragedi itu hanya sekedar cerita, kecuali jika ia datang menghampiri kita. Pelajaran penting lainnya, kita memang tak boleh panik tapi juga jangan menjadi orang yang ignorance terhadap sebuah peristiwa. Waspada adalah sikap pertengahan yang harus sejak awal jadi standar menghadapi ancaman.

Sumber foto: jabar.inews.id