INI adalah sebuah catatan saat Indonesia tengah berada di puncak pandemi. Berharap ini memang benar-benar puncak dan akan terus melandai nantinya.

Saban hari, berita wafat terus berdentingan di grup whatsapp. Setiap ada kalimat innalillahi wa inna ilaihi raajiuun atau turut berduka langsung bertanya-tanya ini siapa lagi? Frekuensi berita duka itu begitu rapat. Seolah tiada hari tanpa berita duka cita. Ada saudara, teman dekat, orang yang kita hormati, dan banyak lagi menemui takdir kematiannya dengan jalan Covid-19. Di Juli 2021, Indonesia menempati posisi pertama tingkat kematian tertinggi di dunia.

Jauh lebih rapat lagi berita tentang yang dinyatakan positif terpapar Covid-19. Lebih menyesakkan dada lagi, rumah sakit penuh. Oksigen kosong. Orang-orang pada kelimpungan mencari tempat rawat. Pasien yang tengah berjuang melawan maut, harus pontang-panting mencari sekedar untuk mendapat rawatan. Tak peduli lagi kelas kamar, di rawat di gudang rumah sakit juga tidak apa-apa padahal sebelumnya selalu berlangganan kamar VIP jika pun harus masuk rumah sakit.

Saya mendengar sendiri dari para dokter dan pihak manajemen rumah sakit yang sudah merasa tak berdaya. Menyaksikan pasien membiru dengan sendirinya karena cadangan oksigen sudah tidak ada. Keluarganya sendiri pun tak mampu ia bantu. Semua kamar dan tempat tidur perawatan full capacity.

Raung-raungan ambulans tak henti dan seperti tak mengenal waktu. Makam khusus covid juga penuh dengan antrian panjang dan jadwal pemakaman 24 jam. Situasi ini benar-benar menggila.

Belum lagi sendi-sendi ekonomi yang mulai keropos. Sebagian tak kuat menyangga bisnisnya untuk tetap berdiri dan terpaksa harus harakiri. Para pencari kerja mulai kehabisan harapan karena pintu PHK sedang tinggi-tingginya. Mereka yang keluar dari pintu PHK itu juga perlu mata pencaharian.

Tiba-tiba teringat lagi setahun lalu. Ketika berita pandemi mulai menyeruak. Para pejabat yang punya wewenang itu tampil di televisi sambil cengengesan dengan mimik santai. Saya sudah siapkan kutipan-kutipan bernada remeh dari mereka. Tadinya mau ditempelkan di sini, tapi saya hapus kembali. Terlalu gemes mengenang sikap sepele itu.

Teringat lagi film seri Chernobyl yang diproduksi oleh HBO tentang tragedi kebocoran pembangkit nuklir di Uni Soviet. Pelajaran paling penting dari film Chernobyl adalah bencana pembangkit nuklir tersebut tidak akan separah itu jika para pengambil keputusan tidak ignorance.

Yang berlalu memang biarlah berlalu. Tetapi sejarah buruk janganlah diulang kembali. Pandemi ini mengajarkan kepada kita bahwa tragedi itu hanya sekedar cerita, kecuali jika ia datang menghampiri kita. Pelajaran penting lainnya, kita memang tak boleh panik tapi juga jangan menjadi orang yang ignorance terhadap sebuah peristiwa. Waspada adalah sikap pertengahan yang harus sejak awal jadi standar menghadapi ancaman.

Sumber foto: jabar.inews.id

TINGGALKAN BALASAN