HIDUP ini kita lalui dengan irama kedatangan dan kepergian yang silih berganti. Dibandingkan dengan datang, peristiwa kepergian punya peluang lebih besar mengundang air mata, kepedihan, dan kehilangan.

Kedatangan seseorang seringnya kita sambut dengan suka cita dan penuh cinta. Tapi kadang, kepergian orang yang sama terjadi dengan penuh drama. Malah ada yang dikotori rasa benci.

Kehilangan akibat perginya orang yang telah membekaskan jejaknya di hati lebih sakit lagi. Kita masih menyimpan harap dapat berjalan bersamanya, tetapi berbagai garis takdir ternyata menjadi akhir pertemuan indah itu.

Jadilah seperti pantai yang dengan ikhlas hati menerima kedatangan perahu dan sekaligus melepas perahu yang hendak pergi. Pantai tak pernah menggenggam perahu-perahu itu untuk selalu tinggal bersamanya. Ia membebaskan perahu yang ada menjalani lintasan hidupnya sendiri.

Pada setiap perpisahan, ingatlah bahwa kita bukan terpisah bahkan bila bentuk perpisahan itu adalah kematian. Cukupkanlah sedih dalam kadar yang tak membuat kita merana. Seperti dalam petikan nasihat Rumi di bawah ini.

Janganlah bersedih, segala yang pergi akan datang kembali dalam bentuk yang lain.

MAULANA RUMI

TINGGALKAN BALASAN