PADA suatu event, saya duduk bersebelahan dengan beberapa orang yang sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya. Dari pada kikuk sendirian, saya coba bangun percakapan ringan sekadar untuk memecah bisu. Maka, saya pilih ngobrol dengan orang yang memang berdekatan tempat duduknya dengan saya.

Menurut artikel yang pernah saya baca, salah satu cara untuk memelihara obrolan agar berlangsung awet adalah mencari kesamaan agar diskusi tak hanya sekedar saling berkenalan. Maka saya coba mencari topik apa yang kiranya common antara kami.

Setelah saling memperkenalkan diri, aha saya menemukan celah. Lawan bicara ini ternyata baru saja dua bulan resign dari tempat kerjanya di sebuah perusahaan besar nan mapan. Ia sekarang memilih menjadi pengajar di satu kampus swasta kecil. Nah… kebetulan saya juga punya teman di tempat bekerjanya yang lama itu, sebut saja nama teman lama saya ini LA (nama samaran ya…). Besar kemungkinan ia mengenal LA dan sepertinya bisa menjadi common topic yang dapat saya elaborasi.

Saya menyebutkan nama LA yang juga bekerja di tempat yang sama dengannya. Semoga saja ia juga mengenal LA ini sehingga diskusi bisa lebih awet seperti nasihat di artikel tadi. Sekoyong-koyong ia terperangah seperti tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut.

Saya pun ikut-ikutan kaget, kenapa ia jadi kaget. Maka kami pun terdiam sejenak dengan kekagetan masing-masing.

Sejurus dua jurus kemudian, ia mulai berbicara dengan nada yang agak kurang nyaman di telinga.

“Apakah semua alumni ITB ketus dan sadis seperti itu ya?”

Saya bingung harus menjawab apa karena tidak tahu konteks pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari topik. Saya menduga jangan-jangan dia ini korban “diputus cinta” sehingga dengan gegabah langsung mengambil kesimpulan umum seperti itu.

“Saya memutuskan resign ya karena dia, saya tidak kuat bekerja sama dengan bos yang brengsek seperti itu,” tambahnya lagi.

Mendapat dua pernyataan serangan, alih-alih persahabatan, saya jadi serba salah. Sial, jurus common topic ternyata jadi senjata makan tuan. Saya menahan diri untuk tidak membela LA dan memilih untuk memihak pada orang yang merasa menjadi “korban” LA supaya mendapat gambaran yang lebih utuh mengenai apa sih yang sebenarnya terjadi.

Setelah berusaha ikut menjelek-jelekkan teman sendiri (maafkan lah aku kawan). Ia pun lanjutkan cerita mengapa akhirnya memutuskan resign setelah lebih dari tujuh tahun membina karir dengan baik. Tapi semua itu dibuat suram oleh teman saya ini. Menurut penuturannya, LA terlalu kaku, njelimet, dan seperti manusia yang tidak punya perasaan sama sekali. Ia tega membentak bawahannya di hadapan umum hanya karena masalah sepele sehingga banyak orang yang kehilangan muka kalau sudah berurusan dengannya. Baginya, LA adalah seorang atasan yang harus sekolah kepemimpinan lagi dari dasar. LA cuma punya kuasa tetapi nihil kepemimpinan.

“Kami resign seretak tiga orang loh gara-gara dia,” lanjutnya dengan nada kesal.

“Sial betul temanku ini,” saya membatin. Awalnya saya berniat meminjam namanya untuk menyemarakkan diskusi, eh kini saya malah jadi ikutan menanggung dosa bergunjing.

Saya tak kuasa membela teman yang barusan saya pinjam namanya. Sebab, saya juga harus pasang empati pada yang mengaku “korbannya”. Ia sudah dua bulan resign tapi masih menyimpan rasa sakit hati luar biasa. Sepanjang yang saya kenal, teman ini agak jauh dari sifat yang ia ceritakan. Sampai-sampai saya tunjukkan foto LA, siapa tahu kita sedang membicarakan orang yang berbeda. Tetap saja subjek yang sedang kami bahas memang benar teman sendiri.

Beberapa saat kemudian, ia beranjak pergi dengan alasan ke kamar kecil. Begitu masuk ke ruangan kembali saya lihat ia mengambil kursi di meja lain. Sepertinya memang sengaja menghindar. Sebuah upaya bersahabat yang berbuah pergunjingan dan sikap yang justru tak bersahabat. Dasar teman LAknat, saya apes benar hari itu karena meminjam namanya.

BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaCovid Bukanlah Aib
Tulisan berikutnyaTidak Sopan Sama Senior!

TINGGALKAN BALASAN