DI AWAL TAHUN 2020, saat pandemi mulai merebak dari Wuhan saya sedang sering-seringnya melakukan perjalanan antar kota. Malahan di akhir tahun 2019 hingga beberapa bulan di awal 2020 sempat terserang flu berat yang cukup parah.

Ketika dalam penerbangan menuju Jakara, di bandara tengah menyeruak kabar kasus covid pertama di Indonesia. Kasus itu ditengarai sebagai klaster dansa di Jakarta. Selepas itu tumbuh kasus-kasus baru dengan berbagai klaster. Namun, karena kasus pertama adalah kasus dansa ternyata di sebagian benak orang yang terkena covid adalah orang yang terlalu gaul dan tidak menjaga dirinya. Memang tidak separah stigma AIDS, tetapi stigma negatif terkena covid tetap ada.

Seorang kenalan bercerita bahwa salah seorang anggota keluarganya dinyatakan positif covid akibat terpapar di lingkungan kantor. Mereka panik luar biasa karena orang tua dan anak-anak yang ada di rumah ikut sakit dengan merasakan gejala menyerupai covid. Hampir seluruh anggota keluarga ini tidak bersedia test meskipun masuk kategori kontak erat. Alasannya sederhana, mereka malu dengan para tetangga kalau nantinya dinyatakan positif covid setelah ikut test swab.

Ada juga cerita teman yang lain, mereka sekeluarga terserang panik dan ketakutan setelah salah seorang anggota keluarganya sakit demam. Begitu ditest, ternyata positif covid. Kepanikan ini akhirnya berujung stres bahkan sangkin stresnya sampai masuk rumah sakit. Beberapa kali ditest swab, hasilnya tetap negatif tetapi tubuhnya lemah dan harus mendapat perawatan lebih lanjut. Ketika ditelusuri apa yang membuatnya stres, apakah takut akan dampak covid atau ada hal lain? Saya tercenung dengan alasan yang teman ini ceritakan, ternyata penyebab stresnya bukan takut akan covid, tetapi takut kalau para tetangga akan panjang lidah menceritakan mereka.

Cerita lain yang umum terjadi. Ada seorang pasien yang sedang sakit berat. Ia berangkat ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Di tengah situasi seperti ini, rumah sakit tentu menerapkan prosedur test swab PCR terlebih dahulu. Eh, hasil testnya belum keluar ternyata sang pasien menemui takdir akhir hidupnya. Maka, demi jaga-jaga rumah sakit menyarankan pemakaman menggunakan prosedur covid. Hasil test belum keluar, tetapi jenazah harus dimakamkan dengan prosedur covid yang ketat. Gegerlah satu kampung, jadi bahan cerita orang-orang yang gosok menggosok cerita bahwa yang baru saja dimakamkan terkena covid. Keluarga itu pun lantas diasingkan secara perlahan.

Dua hari kemudian, hasil test swab keluar dan jenazah ternyata dinyatakan negatif. Lah, terus bagaimana? Gosip terus terpelihara meskipun keluarga tersebut sudah menjelaskan kalau test adalah negatif.

Pendeknya, masih banyak yang memelihara stigma bahwa terkena covid adalah aib sehingga enggan langsung test. Begitu gejala memburuk sehingga harus dilarikan ke rumah sakit, barulah heboh. Ada pula yang saat dinyatakan covid lantas berusaha semaksimal mungkin menutupi info tersebut kepada tetangga.

Pandemi ini seperti serangan perang untuk kita. Perang dengan tentara tak kasat mata. Melawannya tidak pakai senjata untuk membunuh atau melumpuhkan musuh, tetapi pakai senjata waspada diri agar tak turut diserang musuh. Jika menganggap covid adalah aib, maka perang ini akan semakin lama.

Photo credit: Filip Kominik on Unsplash

TINGGALKAN BALASAN