SEORANG pebisnis pemula mengajukan permohonan kepada pebisnis senior agar ia diterima menjadi murid. Pebisnis muda ini ingin sekali menimba ilmu dan pengalaman dari seniornya telah telah membangun usahanya dengan sangat baik.

Pebisnis senior menanyakan motivasi juniornya untuk mengajukan hal tersebut. Sang junior pun menjawab bahwa ia sangat terinspirasi dengan perjalanan bisnis seniornya itu. Ia ingin sekali menempuh jejak yang kurang lebih sama dengan perjalanan yang telah seniornya tempuh selama ini.

Sang pebisnis senior mengatakan bahwa ikut belajar bersamanya mudah saja dan ia menerima dengan tangan terbuka. Namun ia mengajukan satu syarat ketat. Apabila syarat tersebut belum bisa dipenuhi atau pada saat perjalanan mentoring bisnis berlangsung sang junior tidak berhasil memenuhi syarat yang diminta, maka otomatis ia harus meninggalkan arena mentoring. Tidak ada kesempatan kedua. Semuanya hanya terbuka untuk satu kesempatan saja.

“Syaratnya adalah kamu tidak boleh mengeluh. Sama sekali tidak boleh mengeluhkan apa pun. Keadaan, beratnya perjuangan, orang-orang menyebalkan, kerugian yang mungkin akan menghampirimu, permusuhan yang akan kamu hadapi, atau bahkan penghianatan yang serasa menebas batang lehermu.”

Pebisnis senior itu melanjutkan bahwa ia akan memberikan banyak sekali tantangan yang akan membuat juniornya belajar benar-benar dari pengalaman. Kebanyakan orang yang menjalani tantangan itu akan mengeluh. Begitu mereka mengeluh, ia mengatakan tidak akan lanjutkan proses karena dengan mengeluh berarti mereka tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

“Jika kamu sanggup, silakan tulis surat pernyataan bahwa kamu tidak akan mengeluh selama berjuang bersama saya,” mintanya sambil menatap dalam ke mata sang junior dan menyelam ke sanubari.

Pebisnis pemula itu sedikit goyah dengan tatapan seperti itu. Ia merasa tak yakin dapat berhasil menghapus kata mengeluh.

TINGGALKAN BALASAN