Mementingkan yang Bukan Prioritas

0

ADA sebuah kejadian menarik saat saya mengisi sebuah workshop beberapa tahun lalu, kalau tidak salah ingat peristiwa ini terjadi di pertengahan tahun 2013. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk inhouse training karena pesertanya berasal dari satu institusi yang sama.

Di sesi terakhir hari pertama, salah seorang peserta bertanya mengenai laptop yang saya gunakan. Di masa itu pengguna macbook belum sebanyak sekarang. Beberapa tahun sebelumnya saya sudah pindah dari pengguna sistem operasi windows ke machintos. Kesan macbook sebagai barang mewah saat itu memang masih terasa. Tapi bukan itu alasan saya pindah mahzab komputer. Faktor pendorong utama saya menggunakan macbook adalah karena merasa risih berurusan dengan virus komputer yang selalu saja datang. Pilihan untuk menghindari berurusan panjang dengan virus-virus ini sebenarnya bisa pakai sistem operasi linux, tapi macbook punya keunggulan lain yang cocok untuk saya gunakan. Sesederhana itu saja.

Tetapi kesimpulan yang muncul di benak peserta workshop di hari pertama tersebut ternyata berbeda. Menurut mereka pakai macbook terlihat lebih keren dan elegan. Mereka juga merasa bahwa pelajaran yang saya bawakan di training tersebut berkat menggunakan macbook. Entah bagaimana kesimpulan itu bisa muncul, tapi kelak saya akhirnya bisa paham dan akan kita bahas di tulisan ini. Sabar…

Begitu kelas usai, sore ke malam hampir seluruh peserta di ruangan workshop tersebut janjian jalan-jalan di salah satu mall besar di Kota Jakarta. Saya juga diajak tetapi secara halus saya menolak dengan alasan ada persiapan yang harus saya tuntaskan untuk kegiatan besok. Alasan sesungguhnya saya ingin istirahat lebih sambil me-recharge tenaga dan fikiran.

Ternyata malam itu mereka serentak membeli laptop macbook generasi terbaru di masa itu. Di sesi pertama pagi harinya, mereka membawa laptop macbook anyar lengkap dengan kardus-kardusnya ke ruangan workshop. Maka, sehari penuh kami mengorupsi agenda dari belajar menjadi tutorial menggunakan macbook.

Apakah asumsi awal bahwa pakai macbook akan membuat mereka menguasai materi dengan baik? Sama sekali tidak. Tapi untuk bergaya karena punya macbook, mungkin bisa mereka peroleh sebab saat itu pengguna macbook belum seramai sekarang.

Dalam perjalan berikutnya, saya bertemu kembali dengan fenomena ini. Saya menyebutnya sebagai fenomena kesimpulan semu yakni menyimpulkan bahwa faktor utama keberhasilan sesuatu adalah pada hal yang kasat mata. Orang ramai-ramai membeli sepatu Nike Air Jordan karena Michael Jordan pakai sepatu Nike misalnya. Ketika membeli sepatu mahal tersebut, yang ada dalam benak jutaan penggemar Jordan adalah ia berhasil karena pakai sepatu tersebut. Padahal akal sehat kita bilang tentu bukan seperti itu bukan?

Saya mau lanjutkan cerita fenomena yang saya alami sendiri selain perihal belanja macbook ramai-ramai oleh peserta workshop di atas.

Saya pernah mengerjakan sebuah proyek fotografi dengan bekal seluruh peralatan foto saya sewa dari tempat penyewaan. Mulai dari kamera, lensa, lighting, dan berbagai pernak-pernik gear lainnya saya sewa karena peralatan yang kantor saya punya belum memadai untuk pekerjaan fotografi profesional. Saat memesan daftar peralatan yang dibawa, prinsipnya adalah gear terbaik yang sedang available di tempat penyewaan. Saya tidak bisa memundurkan jadwal pemotretan karena kamera yang saya incar ternyata sedang dipakai oleh penyewa lain. Maka saya harus mengalah dengan peralatan yang tersedia saja.

Singkat ceritanya, setelah beberapa hari menjalankan proyek di lapangan, salah seorang pendamping dari perusahaan tempat kami melakukan proyek tersebut mencatat secara detail daftar alat yang kami bawa. Awalnya saya kira itu hanya prosedur standar yang harus ia lakukan sebagai pendamping. Tapi di sesi istirahat ia mengutarakan akan membeli peralatan yang sama dengan gear yang sedang saya bawa karena ia juga punya hobi fotografi. Baginya, faktor utama foto-foto yang kami hasilkan di beberapa hari tersebut karena masalah gear. Setiap diskusi yang ia tanyakan melulu soal gear. Padahal saya yang mengoperasikan kamera sama sekali tidak ambil pusing dengan gear yang dibawa. Sepanjang sesuai dengan kebutuhan dan memiliki kinerja minimal yang saya harapkan, apapun merk & jenisnya tak jadi soal. Itu teknis saja. Sama seperti keahlian lain, dalam fotografi yang paling utama adalah penguasaan konsep dan teori serta jam terbang. Gear memang penting, tapi bukan itu prioritas utamanya. Setelah proyek selesai, pendamping sesi pemotretan tersebut pun akhirnya membeli alat yang kurang lebih sama dengan yang kami bawa. Saya tidak banyak komentar atas keputusannya itu, toh ia belanja dengan dananya sendiri. Tapi keputusannya untuk menyamakan merk dan jenis peralatan itu sesungguhnya sebuah kesimpulan semu.

Pernah juga saya punya teman yang memiliki keputusan untuk membeli semua produk yang bintang iklannya adalah Krisdayanti. Baginya Krisdayanti adalah penyanyi paling ia kagumi dan ketika itu Krisdayanti memang menjadi salah satu bintang iklan paling laris. Mulai dari sabun, shampo, setrika, dispenser, penanak nasi, dan banyak lagi. Saat saya tanya kenapa membeli setrika merk “A” misalnya, kok bukannya merk “B”? Alasannya sederhana, karena merk “A” bintang iklannya Krisdayanti.

Selain fotografi yang banyak menggunakan peralatan mahal, saya juga punya hobi dengan olah raga lari dan bersepeda. Dalam grup pehobi lari misalnya, saya menjumpai fenomena yang sama muncul kembali. Jika ada yang larinya cepat, ramai-ramai pada penasaran ia pakai sepatu merk apa, celana apa, dan kaus kaki apa. Lantas ramai-ramai membeli merk yang sama dengan bayangan yang juga sama bahwa si kawan tadi berlari cepat karena barang yang ia pakai. Semuanya seolah lupa bahwa kekuatannya berlari cepat sama sekali bukan karena sepatu tertentu. Sepatu memang penting, tapi bukan itu prioritasnya.

Ternyata, mengambil keputusan berdasarkan jangkar lahiriah nan semu ini secara sudah menjadi tabiat manusia. Aspek psikologis ini dimanfaatkan betul dalam dunia marketing. Menggunakan brand ambassador, menyewa jasa endorsement, dan meminta review produk oleh pengguna berpengaruh adalah bentuk dari memanfaatkan aspek psikologis pengambilan keputusan ini. Maka tak heran, belanja iklan perusahaan-perusahaan besar banyak yang dialihkan dari iklan konvensional ke jenis iklan yang menggunakan metode memanfaatkan aspek psikologis mengambil keputusan semu manusia tadi

Alih-alih mencari jawab atas faktor utama untuk berhasil, kita lebih memilih untuk meyakinkan diri bahwa produk yang dipakai adalah faktor determinan sebuah keberhasilan. Inilah fenomena kesimpulan semu yang saya bilang tadi. Setelah saya evaluasi diri, ternyata di beberapa keputusan membeli saya di masa lalu juga didasari oleh fenomena kesimpulan semu ini. Dan…, setelah ditimbang-timbang ulang hampir semua keputusan membeli dengan dasar kesimpulan semu tadi berujung menyesal. Ternyata tidak seindah asumsi awal sebelum membeli.

Kredit foto: Alexander Milo on Unsplash

Lelah yang Tak Terbayar

0

DI SUATU RAMADHAN, saat itu saya masih mahasiswa. Saya ikut sebuah kegiatan seminar menjelang buka puasa. Sengaja ikut kegiatan tersebut karena yang mengisi acara adalah seorang petinggi negara ini. Dua menteri kabinet langsung yang akan memamparkan tema menarik.

Ruang penuh dan sesak karena melebihi kapasitas. Saya juga tidak mendapat tempat duduk dan kira-kira satu setengah jam berdiri menyimak acara. Meski dalam keadaan puasa, sambil memanggul tas kelebihan beban pula, saya merasa berdiri di sana sepadan dengan inspirasi yang hadir di acara itu.

Lima belas menit menjelang waktu berbuka acara pun usai sudah. Panitia menutup acara dan mengumumkan bahwa mereka menyediakan makanan untuk berbuka puasa, termasuk “makan beratnya”. Ini berkah yang tak saya sangka dan bagi seorang anak kos, makan gratis itu kata kunci yang paling penting.

Begitu pengumuman usai, seluruh peserta mulai bergerak meninggalkan tempat duduk dan tempat berdirinya lalu membentuk antrian yang mengular. Saya menunda ikut-ikutan heboh dengan antrian itu. Meski sangat butuh dengan makanan gratisan, tapi pemandangan rebut-rebutan masuk antrian itu mengusik rasa harga diri saya. “Apaan sih, norak tau…” begitu batin saya berujar.

Setelah antrian mulai stabil, barulah saya ikut serta masuk ke barisan “ular” itu. Waktu berbuka puasa sekitar dua atau tiga menit lagi. Tapi saya masih jauh di barisan belakang antrian. Memang ada sekitar 30 orang lagi yang ada di belakang saya. Mereka juga tampak gelisah karena masuk dalam barisan akhir.

Adzan pun berkumandang, waktunya untuk berbuka. Tapi kami masih terjebak dalam antrian. Sementara, mereka yang sudah mendapat makanan terlihat asyik melahap hidangan yang mereka ambil. Saya sampai kesal dan hampir menyerah dengan lamanya antrian. Tapi saya masih menyimpan harap dan merasa tanggung jika berhenti di tengah perjuangan mendapat jatah makanan gratis.

Setelah ikut mengular lebih dari tiga puluh menit, akhirnya giliran saya tinggal beberapa orang lagi hingga ke meja prasmanan. Dan sialnya, begitu sampai di meja itu ternyata semuanya telah habis. Penjaga katering minta maaf karena sudah tidak ada yang dapat disajikan lagi. Hanya tersisa beberapa cup air mineral. Makanan yang lain ludes sudah.

Kesal saya naik ke ubun-ubun. Saya sudah menunda berbuka puasa setengah jam. Saya sudah capek mengantri dengan memelihara sabar. Begitu di puncak perjuangan, ternyata zonk belaka. Saya ingin sekali memuntahkan serapah dengan amarah. Tapi kepada siapa saya harus melayangkan marah itu?

Petang itu saya merasa sial luar biasa. Terhapus sudah semua inspirasi yang saya teguk di acara sore tadinya. Saya pulang dengan bersungut-sungut. Sial bukan kepalang. Saya merasa sudah berjuang dengan sepenuh hati, tapi lelahnya perjuangan itu sama sekali tak membuahkan hasil. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia.

Kesal yang hadir akibat tak kebagian makan gratis itu membekas berhari-hari. Sampai-sampai saya bingung dengan diri sendiri. Kenapa saya jadi kesal luar biasa dibuatnya? Mungkin karena tidak ada yang bisa saya salahkan. Panitia toh sudah menyampaikan imbauan agar segera mengantri. Penyedia katering juga hanya memenuhi permintaan saja. Mau menyalahkan diri sendiri? Ego dalam diri mengatakan jangan menyalahkan diri sendiri karena kita tidak salah. Mungkin itu sebabnya saya merasa kesal berlarut-larut.

Saya coba menenangkan diri dan mencari hikmah dari kejadian itu. Ini salah satu pendekatan yang saya sering lakukan, yaitu mencari hikmah tersembunyi jika sesuatu tak seperti yang saya inginkan.

Hikmah pertama, bila tersedia kesempatan janganlah anggap remeh dengan kesempatan itu. Bisa saja ia hadir hanya sebentar. Kedua, perjuangan tak selalu mendatangkan hasil. Oleh karena itu kita harus berani menahan ekspektasi. Cita-cita boleh setinggi langit, tetapi ekspektasi harus dijaga agar ketika tak tercapai kita masih bisa mengelola perasaan. Ketiga, kita hanya mampu mengendalikan upaya tetapi hasil akhir masih jadi misteri. Kemungkinan gagal tetap ada walaupun kita sudah memastikan semua proses berlangsung sebaik mungkin. Selalu siapkan dalam hati sebuah ruangan jika nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Ternyata, cara mencari hikmah tersembunyi itu ampuh juga. Saya akhirnya bisa berdamai dengan kesal yang tadinya terus saja berasap dalam benak. Menjelaga memenuhi ruang hati sehingga saya murung berhari-hari. Mungkin ini adalah bagian dari proses pendewasaan diri bahwa sebagai manusia saya harus bisa menerima kenyataan, termasuk pada kenyataan yang tak saya inginkan.

Jadi Tukang Becak

0

SAAT masih duduk di bangku SMA saya pernah mencicipi jadi pengayuh becak. Ada beberapa kegiatan non akademis yang pernah saya lakoni sewaktu SMA sebenarnya selain jadi tukang becak. Beternak ayam, menjual telur ayam ke warung sebelum masuk sekolah, membantu membuat kue, dan sekaligus menjual kue itu ke sekolah. Pernah juga nyambil jadi tukang ketik dokumen di fotokopian, merapikan buku di perpustakaan dengan imbalan bisa meminjam buku melebihi jatah, menjadi marbot masjid, dan banyak kegiatan seru lainnya.

Tadi pagi saya melewati sebuah pasar di Kota Bandung. Di pinggir jalan saya melihat seorang remaja yang sedang mengayuh becak membawa hasil belanjaan dari pasar. Ini pemandangan agak langka, karena biasanya tukang di becak yang ada di Bandung rata-rata sudah tinggi bilangan umurnya. Pengayuh becak remaja ini saya taksir usianya di angka 15 tahun.

Saya tiba-tiba teringat kenapa saat SMA dulu pernah menjadi pengayuh becak sambilan.

Ceritanya begini.

Di lingkungan tempat saya tinggal sewaktu SMA memang banyak sekali becak karena transportasi utama warga di sana adalah angkot dan becak. Angkot untuk perjalanan yang agak jauh, melintasi kota dan kecamatan. Sedangkan becak untuk transportasi jarak pendek dan menengah.

Suatu ketika saya menumpang becak yang ternyata dikayuh oleh seorang remaja yang usianya beberapa tahun di bawah saya. Ia sudah tidak sekolah lagi dan jikapun sekolah saat itu mungkin masih duduk di bangku SMP. Saat mengayuh becak ia harus berjungkat-jungkit karena kakinya tidak sampai untuk memutar pedal becak. Melewati jalan yang sedikit menanjak ia terlihat sangat kepayahan. Seluruh tenaga seolah habis ia curahkan untuk memutar roda becak. Begitu masuk ke jalanan yang landai cenderung menurun, ia baru melepas senyum lega.

Saya merasa tak sampai hati dengan pemandangan itu. Saya memang membayar naik becaknya dan punya hak diantarkan sampai tujuan. Tapi badan ringkihnya yang masih kecil itu membuat saya jadi tak enak hati. Maka, saya tawarkan kepadanya bagaimana kalau saya saja yang mengayuh becak di sisa perjalanan?

Dia ragu dan menggelengkan kepala tapi tak kuasa menyembunyikan lelah dan peluh yang berkucuran.

“Tidak apa-apa, saya cuma ingin olah raga saja.” Tawaran itu masih saya gencarkan.

Akhirnya dia setuju untuk berganti posisi. Saya duduk di sepeda pengendali becak, dia duduk di kursi penumpang. Ukuran sepeda itu memang sama sekali bukan untuk anak remaja. Saya saja yang sudah SMA masih kesulitan meraih putaran penuh kayuhan. Apalagi dia yang masih lebih bocah. O ya, becak yang saya maksud dalam cerita ini adalah becak dengan sepeda yang berada di samping bukan di belakang seperti kebanyakan becak di Pulau Jawa.

Setelah berjuang mengayuh di tengah sengatan matahari, akhirnya saya berhasil tiba di tempat tujuan. Saya berikan uang ongkos becak kepadanya sesuai tarif. Tapi sebelum berpisah saya tawarkan kepadanya bagaimana kalau besok sore ia datang menjemput dan kami menarik becak bersama-sama.

Tawaran lanjutan itu ia terima. Dan benar saja, esok sore remaja pengayuh becak itu datang menyambangi tempat saya tinggal. Lalu kami pergi menarik becak berdua. Saat penumpang ada, saya yang duduk di kursi utama dan dia di kursi boncengan. Begitu penumpang kosong, dia yang mengayuh becak. Begitu kami mengatur pembagian tugas.

Memang tidak setiap sore saya ikut menarik becak dengannya. Seminggu setidaknya dua atau tiga kali saya menghabiskan satu jam sebelum maghrib tiba bersamanya menarik becak. Saya tak pernah meminta bagian dari hasil menarik becak kolaborasi itu, tapi saya punya opsi naik becak gratis di luar “jam dinas” narik becak bersama.

Partner pengayuh becak saya itu hanya mengeyam pendidikan sampai kelas tiga SD. Ia bahkan belum lancar membaca. Berhitung pun masih agak lamban. Sejak kecil ia tidak tinggal dengan orang tua kandungnya. Ia tinggal di lokasi itu dengan menumpang kepada neneknya. Ia anak yang gigih tapi memang agak nakal, ya… khas nakalnya anak-anak tanpa sentuhan kasih sayang orang tua lah. Tata bahasanya masih ngaco. Tapi saya senang ngobrol dengannya meskipun obrolan kami ngawur ke sana ke mari.

Saya pernah kembali ke tempat itu sekitar sepuluh tahun setelah lulus SMA. Saya mencoba mencarinya kembali tapi tak berhasil menemukannya. Selain wajahnya pasti sudah berubah dari wajah anak remaja menjadi dewasa, saat kami menarik becak dulu ia selalu mengganti-ganti namanya. Dari tadi saya belum mempernalkan namanya bukan? Sebab, saat itu kami juga tak menggunakan nama untuk saling menyapa. Bisa juga ia sudah tak tinggal di sana lagi, tapi yang jelas saya gagal menemukannya.

Dalam ukuran saya, mengayuh becak saat itu hanyalah sekadar permainan mengisi waktu luang. Seru-seruan menjelang adzan maghrib tiba. Tapi pasti berbeda buatnya. Mengayuh atau tidak makan sama sekali.

Orang Belakang Layar

0

SAYA sama sekali tidak alergi tampil di depan publik. Tidak merasakan juga ada kendala berarti jika harus berbicara. Tapi saya merasa jauh lebih bahagia jika berada di belakang layar. Tampil dan terkenal sepertinya bukan sesuatu yang menarik buat saya. Saya justru lebih senang orang lain muncul di panggung tapi saya ada di belakang layarnya. Buat sebagian orang, pilihan ini mungkin aneh. Tapi setiap orang boleh punya preferensi sendiri-sendiri bukan? Ternyata saya lebih prefer berada di belakang panggung.

Saya ingat pengalaman pertama berbicara di hadapan orang banyak ketika menjadi Ketua OSIS di bangku SMP. Didaulat memberikan sambutan membuat saya gemetaran. Saya menulis isi pidato yang akan saya bacakan sampai keringat menetes di dahi. Jika menulis saja sudah membuat saya berkeringat, apatah lagi saat nanti menyampaikannya? Beberapa saat menjelang tampil ke podium, saya dilanda demam panggung. Berkali-kali ke toilet untuk buang air kecil yang tidak mau diajak kompromi.

Begitu naik ke atas panggung, saya praktikkan sebuah tips pidato yang pernah saya baca di sebuah majalah: “sapulah semua audiens dengan tatapan lembut dan meyakinkan”. Ternyata tips itu jitu bak mantra ampuh sakti mandra guna. Saya merasa lebih menguasai keadaan dan bicara lancar hingga selesai. Sampai-sampai saya lupa punya naskah yang harus dibacakan. Naskah itu masih terlipat kucel di saku celana.

Sejak saat itu saya merasa bahwa bicara di depan publik bukanlah perkara sulit. Sampai kini, pengalaman pertama public speaking di masa SMP itu membekas kuat sehingga saya merasa tak terbebani jika harus tampil di depan publik. Tentu untuk urusan bicara. Jangan diminta untuk menyanyi atau bersandiwara drama. Saya sudah mencoba keduanya dan tingkat gagalnya sama-sama parah.

Setelah menimbang-menimbang diri, ternyata saya sangat menikmati proses berpikir dan berencana. Menyisir seluruh detail sebelum beraksi. Saya pernah membuat naskah drama, tapi tidak pernah memainkan drama dengan baik. Saya pernah menyusun detail rangkaian konser tapi tidak pernah menjadi aktor utama panggung konsernya. Dan, proses perencanaan itu ternyata jauh lebih saya nikmati dibandingkan naik ke panggung menuntaskan aksi.

Saya juga pernah membuat naskah pidato yang dibacakan orang lain. Seperti tadi yang sudah saya ungkapkan, bicara di depan publik sama sekali tak masalah tapi buat saya menyiapkan naskah itu lebih mengena rasanya. Pernah juga membuat naskah pidato seorang menteri. Selepas ia menyampaikan sambutan yang saya tulis itu, hadirin memberikan tepuk tangan meriah dan banyak dikutip oleh media massa. Sang menteri jelas bahagia, tapi saya jauh lebih bahagia berada di belakang layar.

Tapi pernah ada yang protes saat saya sampaikan bahwa saya orang belakang layar. Saya tak begitu suka tampil di panggung. Ternyata hal ini dianggap menyindir. Mereka menangkap bahwa saya tidak suka orang yang suka tampil di panggung. Nah…, tulisan ini untuk mengklarifikasi maksud yang sesungguhnya. Saya memang tidak suka tampil di panggung dan titik sampai di situ. Sebaliknya, saya senang membuat orang tampil di panggung. Begitu…

Alasanku Sekarang Senang Masak

0

SEBULAN terakhir saya selalu menyempatkan untuk meracik makanan sendiri di dapur. Bukan karena tidak ada yang memasak di rumah, tetapi karena saya akhirnya menemukan serunya mencoba-coba berbagai variasi racikan. Kadang meniru resep yang bertebaran di internet, kadang pula berimajinasi bagaimana jadinya kalau bahan ini dicampur dengan bahan itu. 

Ada kalanya saya sangat bangga dengan hasil masakan sendiri, tapi tak jarang juga kesal dibuatnya karena sudah sepenuh hati melewati seluruh rangkaian memasak ternyata hasil akhirnya benar-benar mengecewakan.

Dari dulu saya selalu ingin bisa masak. Bukan karena terpengaruh tayangan populer master chef atau sejenisnya di tv. Tapi karena saya sangat mengagumi ayahku. O ya, di rumah kami memanggil ayah dengan Papa. 

Papa adalah seorang yang sangat mahir dalam berbagai bidang. Pendidikannya tak seberapa memang, tapi begitu mengerjakan sesuatu ia sangat totalitas. Termasuk dalam hal memasak. Saban keluarga kami memiliki hajatan tertentu, atau setiap hari raya idul fitri tiba, masakan istimewa keluarga kami selalu dikerjakan oleh Papa. Ibuku biasanya hanya bertugas memotong berbagai bahan yang sudah disiapkan dan ditakar oleh Papa.

Pemandangan itu benar-benar menginspirasiku. Kemahiran Papa membuat masakan yang lezat membuatku cemburu padanya, tapi dalam pengertian cemburu yang baik. Diam-diam saya pernah mencoba memasak, tetapi selalu berakhir gagal. Saya tak menemukan keterikatan dalam proses memasak. Walaupun sudah mengikuti berbagai resep yang terlihat begitu mudah, tetap saja tak pernah berhasil.

Hingga akhirnya saya mencoba untuk meningkatkan penghayatan. Saya coba mengenali satu persatu karakter bumbu-bumbu di dapur. Mencium aromanya dan mencicipi karakter rasanya. Saya mulai pakai hati dalam menakar kombinasi antar bumbu. Mencoba membayangkan bagaimana mereka saling bereaksi dengan minyak, dengan air, dengan bahan lainnya, dan dengan api yang memanaskan mereka hingga matang.

Dari proses penghayatan itu saya akhirnya menemukan kunci memasak. Setiap bahan punya karakter dan peran. Seperti halnya musik, setiap instrumen punya peran. Meskipun tetap harus ada alat musik yang dominan di antara yang lainnya, tetapi alat musik yang tak dominan tetap memberikan “rasa”.

Saya masih tahap belajar dalam memasak. Katanya sih terhitung telat di usia sekarang baru belajar masak. Tapi menemukan hal baru dan belajar sesuatu yang baru bagi saya tak pernah ada istilah terlambat. Justru perasaan terlambat itu adalah hal yang harus kita “bunuh” sebelum ia membunuh kita.

Sesekali saya melihat tayangan memasak di youtube. Dibandingkan dulu, saya jadi lebih menghayati proses yang mereka lakukan. Seolah bisa merasakan bagaimana hasil akhir masakan yang mereka bikin itu karena sering mengenali aroma dan mencecap karakter berbagai bumbu dan bahan. Saya seperti bisa membayangkan apa yang terjadi dengan mereka para bumbu dan bahan masakan itu.

Saya coba refleksikan dengan sebelumnya. Kalau dulu, setiap melihat tayangan masak saya hanya bisa melihat keseruan memasak, alat-alat masak mereka yang canggih, dan dapurnya yang mewah. Tapi sekarang sudah tidak begitu lagi. Bahan dan proses yang mereka tampilkan masuk ke dalam hati dan jika harus mengulang resep itu saya sudah merasa hapal tanpa harus sengaja menghapalnya.

Dulu, saat Papa memasak saya melihat ia begitu terikat dengan proses memasak yang ia lakukan. Sebelum memasukkan bahan-bahan yang ada saya perhatikan ia terhenti sejenak. Kadang mengurangi bahan dan kadang minta bahannya ditambah. Ia tak pernah menggunakan ukuran timbangan dan bahkan tanpa ukuran sendok ataupun gelas. Saya akhirnya memahami, ia pasti menggunakan ukuran hati saat mencampur bahan-bahan itu.

Repotnya kalau makan di luar. Papa selalu punya analisis kenapa makanan yang disajikan tidak enak misalnya. Apanya yang masih kurang. Ia juga seperti bisa melakukan reverse engineering terhadap makanan yang ada. Apa bahannya dan bagaimana cara membuatnya. Saat itu saya selalu menganggap aneh hal itu. “Apa susahnya sih tinggal makan saja, kan tidak semua makanan harus dianalisis?” Ternyata saya salah, Papa mungkin selalu pakai hati dalam urusan memasak hingga alam bawah sadarnya secara otomatis menganalisis masakan. Ia juga tak segan memuji masakan yang enak dan Papa selalu memberi tahu kami dimana tempat makan yang enak di suatu kota. Percaya deh, kalau Papa yang memberi rekomendasi tempat makan, jangan pernah nilai fisik rumah makan tersebut karena kamu akan terkecoh. Rumah makan mereka mungkin tampak murahan, tapi yang masak di sana pasti pakai hati saat menyiapkan masakannya. Selama ini, rekomendasi tempat makan Papa tak pernah keliru. Selalu pas di lidah, meskipun kebayakan tak pas di mata.

Saat ini Papa sudah tiada. Selain mendoakannya, sepertinya saya merasa terikat kembali dengannya lewat penghayatan memasak ini. Itu sebabnya saya setiap hari sengaja masak sambil mengingat ekspresi Papa dulu saat memasak. Ini prosesku melepas rindu padanya.

Photo by Katie Smith on Unsplash

Tanya yang Menggantung di Awan

0

PERNAH merasa khawatir akan masa depan? Apa kelak yang akan terjadi. Bagaimana kita akan menjalani hidup nanti? Apakah hal buruk akan menimpa? Serta beribu-ribu tanya lainnya yang terus terngiang-ngiang, seolah ia menggantung di awan dan mencari jodoh jawaban. Tapi hingga sekarang belum ada jawaban untuk pertanyaan yang menggantung itu.

Khawatir dan cemas akan masa depan saya kira hal yang sangat manusiawi. Semua kita pasti pernah merasakannya. Justru aneh jika ada seseorang yang sama sekali acuh akan masa depan. 

Sayangnya, khawatir dan cemas ini sulit sekali menentukan apakah masih dalam konteks yang positif atau sudah negatif untuk kita. 

Memikirkan masa depan yang masih misteri adalah satu kelebihan kita sebagai manusia dibandingkan makhluk hidup lainnya. Tak ada hewan yang menaruh perhatian dan berpikir akan masa depan seperti halnya manusia. Hewan-hewan itu hanya bergerak berdasarkan insting dan nalurinya saja. Jika lapar, saatnya mencari makan. Jika haus, berarti harus mendapatkan minum. Saat gejolak birahi datang, mereka harus melepaskannya. Semuanya berlalu karena kondisi telah memenuhi dan insting makhluk hidupnya memberi respon terhadap kondisi tersebut.

Sedang manusia, kita berpikir jauh ke depan. Tidak untuk masa sehari atau dua hari. Kita bahkan sanggup mempertimbangkan hendak menghabiskan pensiun dimana kelak saat usia masih belasan tahun.

Namun, kemampuan untuk memikirkan masa depan itu bisa berubah menjadi gangguan khawatir dan cemas. Bahkan, kadar cemas yang mulai meninggi merupakan gejala seseorang mulai diserang sebuah gangguang yang disebut generalized anxiety disorder (GAD). 

GAD merupakan gangguan batiniah yang membuah kita sulit membedakan kejadian sungguhan dengan kejadian hipotetikal yang masih ada di benak tapi seolah akan benaran terjadi.

Saya jadi ingat peristiwa seorang ibu yang tega membunuh ketiga anak-anaknya yang masih kecil. Kejadian naas itu berlangsung di Kota Bandung dan dilakukan oleh seorang perempuan berpendidikan tinggi dan dari lingkungan keluarga yang religius. Setelah didalami oleh beberapa ahli, terungkap motif sang ibu raja tega itu memutuskan untuk mengakhiri nyawa buah hati yang harusnya ia lindungi itu. Ternyata ia terlalu cemas akan masa depan anak-anaknya.

Ia selalu dihantui oleh pertanyaan yang bersifat kejadian hipotetikal tadi. “Bagaimana kelak nasib anakku?” “Dunia terlalu keras dan kejam untuk mereka yang masih polos ini?” dan banyak pertanyaan kecemasan lain yang menghantui isi kepalanya.

Pertanyaan yang menggantung di awan itu terus menagih jawab. Akhirnya ia menjodohkan pertanyaan itu dengan sebuah aksi nekad, yaitu menghabisi nyawa anaknya agar tak dihantui rasa cemas.

Sebegitu parahnya sebuah kecemasan dapat mempengaruhi keputusan seseorang. Itu sebabnya khawatir dan cemas tak boleh kita anggap enteng. Memang tak boleh menghapus rasa khawatir sama sekali dalam sikap hidup sehari-hari. Tapi kita harus memastikan bahwa rasa khawatir itu masih sehat, tidak membuat batin kita sakit.

Cara mudah mengidentifikasi apakah khawatir dan cemas itu masih dalam kadar yang sehat adalah dengan mengevalusi diri sendiri. Adakah pertanyaan yang selalu hadir seperti menggantung di awan tadi? Misalnya kita khawatir mengenai pendidikan anak-anak kelak yang semakin mahal saja, sanggupkan nanti menyekolahkan mereka? Pertanyaan khawatir seperti itu masih wajar dan sehat jika tak hadir setiap hari. Tapi jika ia hadir setiap hari dan membawa rombongan pertanyaan tambahan lainnya, maka khawatir itu telah membawa kita ke jurang sakit batin.

Rombongan pertanyaan bawaan itu yang saat ini sering disebut orang sebagai over-thinking. Berpikir terlalu berlebihan akan kejadian yang belum tentu terjadi. Malah ada yang berkata bahwa over-thinking adalah seni untuk mendatang masalah yang sebenarnya tidak jadi masalah sama sekali. Merepotkan dan sakit bukan?

Yuk ah, hidup dengan mental yang sehat. Khawatir dan cemas seperlunya saja. Jangan biarkan ia menggantung di awan yang selalu ribut meminta jodoh jawaban.

Photo by Road Trip with Raj on Unsplash

Urashima Taro: Cerita yang Membuatku Tertegun

0

INI adalah cerita rakyat dari Jepang telah ada sejak abad 8 masehi. Sebuah cerita sederhana tentang seorang nelayan yang menyelamatkan kura-kura. Kita bebas menafsir hikmah ceritanya. Setelah membaca cerita tersebut, saya tertegun sebentar dengan segumpal air mata yang ingin meledak dari sudut mata.

Kenapa? Baca dulu terjemahan ceritanya berikut.

Urashima Taro

Dahulu kala, di sebuah desa tepi pantai hiduplah seorang nelayan bernama Urashima Taro. Urashima Taro adalah seorang pemuda yang baik hati. Setiap hari dia pergi melaut mencari ikan untuk menghidupi ayah dan ibunya yang sudah lanjut usia.

Suatu hari, dalam perjalanan kembali dari laut, Urashima Taro melihat beberapa anak remaja berkumpul di pantai. Mereka bersorak-sorak gaduh. Taro melihat anak-anak itu menangkap seekor bayi kura-kura dan mereka asyik menusuk-nusuk kura-kura itu pakai tongkat kayu. Taro merasa kasihan dengan bayi kura-kura yang malang itu. Dia berkata, “Jangan lah kalian menyiksa sesama makhluk hidup!” Setelah mengusir anak-anak jahil itu, Taro menyelamatkan sang bayi kura-kura yang jadi korban perundungan. Taro mengangkat kura-kura tersebut di tangannya dan mengembalikannya ke air. Kura-kura itu senang, ia mengeluarkan kepala dan kakinya dari cangkangnya dan berenang lincah kembali ke dasar laut.

Dua atau tiga tahun kemudian, Urashima Taro baru kembali dari memancing di laut. Sesaat berikutnya dia mendengar suara memanggil dari belakangnya, “Tuan. Urashi- ma! Tuan Urashima!”

Ketika Taro melihat ke belakang, ternyata suara itu berasal dari seekor kura-kura besar dan ia bergerak mendekati perahu yang barusan ia tambatkan.

“Tuan, saya kura-kura yang pernah Anda selamatkan. Sebagai tanda terima kasih, saya akan memandu Anda ke Istana Naga di dasar laut,” kata kura-kura. Taro tak banyak berpikir ia merasa sudah nyaman dengan makhluk yang pernah ia tolong itu. Lalu, kura-kura besar itu mengajak Urashima Taro naik ke punggungnya dan mulai berenang. Sesaat kemudian kura-kura membawanya menyelam ke bawah laut nan biru. Taro heran ia bisa bernafas di dalam air dan alam bawah air yang sebelumnya gelap tiba-tiba terang benderang. Mereka bisa melihat dengan jelas terumbu karang dan gerombolan ikan cantik yang sedang berenang. Setelah menyelam bersama kura-kura, beberapa saat kemudian mereka tiba sebuah gerbang yang besar dan megah. Lalu seekor ikan membawa Urashima Taro ke Istana Naga.

Sesampainya di dalam Istana Naga, ia diajak bertemu dengan seorang putri nan cantik.

“Selamat datang di Istana Naga. Terima kasih telah menyelamatkan kura-kura tempo hari. Silakan bersantai dan menikmati semua yang ada di istana ini, ”kata sang putri dengan suara ramah.

Urashima Taro berterima kasih atas balas budi tersebut. Sepanjang hari ia berkeliling istana naga. Menyaksikan pertunjukan tarian ikan yang indah, meminum sake sepuasnya, menikmati pesta yang begitu menakjubkan, mengobrol akrab dengan sang putri. Taro benar-benar menikmati semua fasilitas yang ada di istana naga. Seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Namun, beberapa saat kemudian, Urashima Taro tiba-tiba teringat dengan ayah dan ibunya di desa. Ia khawatir dan sadar harus segera kembali ke rumah. Lalu ia menyampaikan hal tersebut kepada sang putri. Taro meninta izin untuk kembali ke desanya. Sang putri pun mengizinkan dan memberinya sebuah kotak yang indah untuk dibawa pulang dan berkata, “Aku pasti akan merindukanmu, tetapi wajar jika kamu ingin kembali ke rumah. Ini adalah tamatebako, kotak harta karun. Sudilah membawanya bersamamu dan berhati-hatilah saat kembali ke rumah. Tapi tolong…, jangan pernah membuka kotak ini.”

Urashima Taro mengambil kotak harta karun itu, lalu naik ke punggung kura-kura, dan berangkat menuju desanya.

Namun, ketika dia tiba di pantai, segala sesuatu di sekitarnya benar-benar sudah berubah. Banyak orang lalu-lalang di sepanjang perjalanannya menuju ke rumah, tetapi Taro tidak mengenal satu orang pun. Rumahnya sendiri sudah tidak ada lagi. Ia memanggil-manggil ayah dan ibunya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Urashima Taro sangat terguncang dengan kenyataan ini.

Dalam kepanikan itu, Taro melirik ke tamatebako yang dititipkan Putri Istana Naga. Dengan perlahan ia mencoba membukanya. Sejurus tutup kotak terbuka, keluarlah asap putih dari dalamnya dan menyapu wajahnya. Kemudian Urashima Taro muda membuka matanya dan ia berubah menjadi seorang lelaki tua dengan rambut putih dan janggut putih. Ternyata, hanya bersenang-senang beberapa hari di Istana Naga, ia telah melewati beberapa puluh tahun di darat.

[selesai]

Selepas membaca cerita itu reaksi pertama saya adalah langsung menelpon ibu saya. Saya merasa seperti Urashima Taro yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan berarti tetapi telah larut dengan dunia sendiri. Tanpa sadar, ada seorang ibu yang mungkin setiap hari menanti kabar anaknya.

Kadang…, kita bisa saja salah tanpa harus berbuat salah.

Cerita saya terjemahkan dari sumber berikut: https://www.aozora.gr.jp/cards/000329/files/3390_33153.html

Masuk Kantor Setelah Lock Down Lebih dari Sebulan

0

AKHIR Juni 2021 lalu saya memutuskan untuk menutup kantor sementara. Saat itu penularan Covid-19 kembali melonjak naik. Apalagi saat itu lingkaran penularan Covid menyasar masuk ke lingkungan terdekat. Teman kantor, tetangga, sahabat dekat, semuanya terkonfirmasi positif.

Dengan begitu saya memutuskan untuk menutup saja kantor dan semua bekerja dari rumah. Kali ini, keputusan itu relatif mudah saya ambil karena tahun sebelumnya (2020) sudah pernah menutup kantor selama sebulan. Ternyata keputusan menutup kantor seiring sejalan dengan keputusan pemerintah yang menyelenggarakan PPKM.

Biasa bekerja di kantor dan mendadak bekerja dari rumah memang perlu pembiasaan. Selama ini, dalam benak saya rumah adalah tempat istirahat dan kantor tempat berkarya. Agar tetap memiliki energi yang cukup saya harus ketat memelihara kondisi ini. Nah, sekarang harus menggeser kembali mind set rumah bukan tempat istirahat saja.

Meski perlu upaya, saya ternyata berhasil lebih cepat menyesuaikan diri. Hanya perlu mengatur sedikit saja perubahan lingkungan kerja di rumah saya sudah bisa tune in kembali dengan pekerjaan. Bekerja dari rumah ada kenikmatan tersendiri karena relatif lebih bebas dan boleh mandi kapan saja saya mau. He..he..

Begitu masuk kembali ke kantor, saya harus melakukan penyesuaian lagi. Ternyata tidak mudah loh menyesuaikan ulang. Hati dan pikiran perlu ditata ulang untuk bekerja optimal.

Tapi dari ini saya belajar bahwa kita adalah makhluk yang menyukai kestabilan. Begitu kestabilan tersebut terguncang, seolah berjalan dengan diikat beban di belakang. Bisa sih berjalan, tapi terasa lebih berat dari biasanya. Apa saya saja yang merasa begini atau orang-orang pada merasakan hal yang sama?

Thanos Ada Benarnya

0

FILM THE AVENGERS besutan Marvel Studio semakin seru ketika di seri Infinity Wars Thanos muncul. Ia adalah penjahat yang paling sulit dikalahkan oleh para pahlawan super yang bergabung dalam The Avengers. Mereka takluk melawan Thanos sehingga harus bersambung ke film berikutnya. Di film The End Game sebagai kelanjutan Infinity Wars, akhirnya Thanos berhasil dibunuh. Film ini bahkan masih memegang sabuk jawara film paling laris sepanjang sejarah. Pada rilis di akhir 2019, The End Game membukukan penjualan senilai 39 triliun rupiah. Gila bukan?

Penulis skenario film cukup cerdas menghadirkan Thanos sebagai karakter antagonis. Dalam dirinya berkumpul banyak keunggulan yang pada pahlawan super keunggulan itu hanya dimiliki satu karakter saja. Thanos itu seperti gabungan keunggulan Iron Man yang super cerdas, Hulk yang berbadan super kekar, Captain America yang mampu menggaet pengikut, dan Thor si titisan dewa yang juga penjelajah antar galaksi. Bedanya, Thanos adalah penjahat dan The Avangers adalah pembela kebenaran.

Kalau kita simak dialog-dialog Thanos di kedua film tadi dan mencoba sebentar “memakai sepatu” pasukan Thanos, dia ada benarnya loh. Paling tidak, Thanos bukanlah sekadar penjahat pembuat onar. Dia juga pembela kebenaran yang kebetulan berbeda perspektif dengan kebenaran yang diyakini oleh The Avengers dan kita kebanyakan sebagai penonton.

Kebenaran yang dibela oleh para pahlawan super The Avengers, sederhananya bisa digolongkan sebagai kebenaran etika. Kebenaran jenis ini disepakati secara bersama-sama sehingga sangat tepat untuk dibela secara universal.

Nah…, kebenaran yang diyakini oleh Thanos adalah kebenaran logika. Dengan pengetahuan dan kemampuan nalarnya, ia memeluk erat sebuah kebenaran logika yang dapat dinalar secara masuk akal. Sialnya, kebenaran logika Thanos tak ia imbangi dengan pertimbangan nurani. Thanos memiliki putri angkat yang amat ia sayangi bernama Gamora. Tetapi ia lebih memilih mengorbankan Gamora dibandingkan kebenaran logika yang ia yakini. Tapi itulah serunya, sesuatu yang kontras akan membuat cerita semakin menarik.

Coba kita cuplik beberapa dialog Thanos yang menggambarkan bahwa motivasinya mengumpulkan enam batu kuasa (infinity stones) adalah atas dasar kebenaran logika yang ia yakini.

Saat duel dengan Iron Man, Thanos berkata “You’re not the only one cursed with knowledge” – “Kamu bukan satu-satunya yang dikutuk dengan pengetahuan. Ini menjelaskan Thanos adalah makhluk super cerdas.

Kebenaran logika yang Thanos pahami adalah alam semesta ini harus dipulihkan dari ketidak-seimbangan. Thanos–dengan logikanya–yakin penyebab utamanya adalah berlebihnya populasi penghuni alam semesta oleh makhluk cerdas sehingga mereka harus dikurangi jumlahnya. Hal ini ditegaskan juga oleh Joe dan Anthony Russo sutradara film tersebut pada salah satu wawancara. Joe dan Anthony Russo mengatakan Thanos gendeng yakin betul bahwa jika ia berhasil mengumpulkan enam batu kuasa ia akan membawa keseimbangan pada alam semesta. Maka, di film Infinity War salah satu dialog Thanos yang cukup nempel adalah “Perfectly balanced, as all things should be.” — “Keseimbangan yang sempurna, sebagaimana seharusnya.”

Lebih lanjut, kedua sutradara itu menjelaskan bahwa Thanos adalah musuh yang spesial. Dengan kekuatan tubuhnya, ketinggian intelektualnya, kemampuannya berkelahinya, membuat Thanos merasa memiliki kesempatan menjadi the choosen one. Thanos mengidap messianic complex, yaitu orang yang merasa yakin betul dengan apa yang ia pikirkan dan juga merasa didukung oleh semesta.

Ketika menghajar Iron Man habis-habisan di luar angkasa, di akhir pertarungan Thanos berujar “You have my respect, Stark. When I’m done, half of humanity will still be alive. I hope they remember you.” – “Aku sangat menghormatimu, Stark. Saat ini semua selesai, separuh umat manusia akan tetap hidup. Aku berharap mereka mengingatmu (sebagai pahlawan).”

Nah… ini kuncinya, Thanos itu orang baik yang berubah jahat karena benar-benar solid dengan apa yang ia yakini. Kebaikan Thanos setidaknya terlihat bagaimana ia sangat menyayangi kedua putri angkatnya. Namun, kebenaran logika yang Thanos yakin adalah manusia dan makhluk cerdas lainnya aktor utama perusak alam semesta. Dengan populasi yang semakin tinggi, mereka mengeksploitasi alam melebihi kapasitas pulihnya. Maka, Thanos meyakini sebuah kebenaran bahwa manusia harus mengalah demi kelangsungan alam semesta.

Thanos ada benarnya bukan? Motif perjuangannya juga masuk akal dan sangat relevan jika ditarik pada konteks kehidupan kita di bumi sekarang ini. Kerusakan alam yang menjadi-jadi sebagai akibat eksploitasi manusia fix sudah tak terpungkiri. Hanya saja, Thanos terlalu sempit dalam membela kebenaran. Ia mungkin lupa bahwa kebenaran itu banyak jenisnya dan terkadang saling beda satu sama lain.

Jendela Bingung

0

SAYA PERNAH bertemu beberapa orang yang suka sekali memajukan alasan ia sedang bingung. Sedikit-sedikit bilang bingung. Kepentok sedikit saja masalah langsung mengeluarkan jurus, “saya bingung ini harus bagaimana?, dan seterusnya, dan seterusnya.”

Setiap kita pasti pernah merasakan bingung. Ini adalah keadaan diri yang sangat manusiawi. Penyebab dan kondisi yang membuat kita bingung juga sangatlah beragam. Saat dilanda kebingungan, rasanya serba salah. Mau ambil keputusan takut salah. Mau memulai tapi tak tahu harus apa dulu yang dikerjakan. Ketika terjebak dalam masalah, bingung bagaimana menuntaskannya. Dan berbagai varian kebingungan yang justru seringkali kita temui.

Bingung sesungguhnya reaksi alami sebagai tanda bahwa kita dalam proses belajar. Hanya saja ada tapinya. Jika melewati jendela bingung, maka bingung yang kita alami itu bukan lagi tanda belajar tetapi sudah menjadi tanda lemah. Loh kok bisa?

Yuk kita bahas jendela bingung. Sebenarnya ini istilah yang saya buat-buat sendiri. Tidak ada referensi ilmiahnya sama sekali, hanya berdasarkan pengalaman. Tetapi dari sekian banyak dipraktikkan, menurut ukuran saya jendela bingung ini cukup membantu.

Saat menghadapi masalah baru, belajar hal baru, bertemu kesulitan yang baru, dan berbagai jenis hal asing lainnya. Sementara, kita belum memiliki pemahaman baik dan minim pengalaman. Pada kondisi itu, normal sekali kita bingung. Seperti mengurai benang kusut, tidak tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu dan apa yang akan terjadi kemudian.

Kebingungan ini kemudian bisa bermuara pada dua kondisi. Kondisi pertama, kita berusaha untuk mengatasi masalah yang ada supaya tidak bingung lagi. Kondisi kedua, kita membiarkan saja gelombang bingung itu terus beriak-riak. “Toh saya bingung, mau apa lagi?” begitu seterusnya bingung itu dipelihara sehingga kita memang tidak bisa berhasil mengatasi masalah baru.

Nah… supaya tidak masuk ke kondisi kedua tadi, kita harus mengupayakan agar bingung itu tetap dalam koridor yang tepat. Caranya, batasi bahwa bingung itu maksimal hanya tiga hari saja. Selama tiga hari kita punya target mengatasi kebingungan yang ada, atau paling tidak menurunkan level kebingungan. Jika setelah tiga hari masih bingung, kita benar-benar berupaya agar bingung di hari keempat itu jauh lebih sedikit dibandingkan kebingungan di tiga hari sebelumnya. Atau, sebagai exit plan kita bisa bertanya kepada orang lain yang bisa membantu mencarikan solusi atas kebingunan kita.

Itulah yang saya maksud dengan jendela bingung: bingung maksimal tiga hari saja. Dengan begitu, kita punya waktu tiga hari berupaya maksimal untuk mengatasi kebingungan. Kenapa tiga hari? Karena itu batas psikologis bingung yang masih dapat kita toleransi. Setelah itu ia akan berubah bentuk menjadi mental exhausting, kelelahan mental yang akhirnya membuat kita tak sanggup lagi menanggungnya sehingga mending didiamkan saja atau lupakan. Artinya, setelah melewati durasi jendela bingung, kemungkinan besar bingung itu tidak membuat kita maju.

Jadi, saat bertemu orang yang selalu saja melontar alasan sedang bingung, perkenalkan padanya konsep jendela bingung. Supaya bingungnya menjadi pintu masuk pencapaian diri bukan sebagai alasan menghindari tanggung jawab.

Photo by Sasha Freemind on Unsplash (diolah)