SEBULAN terakhir saya selalu menyempatkan untuk meracik makanan sendiri di dapur. Bukan karena tidak ada yang memasak di rumah, tetapi karena saya akhirnya menemukan serunya mencoba-coba berbagai variasi racikan. Kadang meniru resep yang bertebaran di internet, kadang pula berimajinasi bagaimana jadinya kalau bahan ini dicampur dengan bahan itu. 

Ada kalanya saya sangat bangga dengan hasil masakan sendiri, tapi tak jarang juga kesal dibuatnya karena sudah sepenuh hati melewati seluruh rangkaian memasak ternyata hasil akhirnya benar-benar mengecewakan.

Dari dulu saya selalu ingin bisa masak. Bukan karena terpengaruh tayangan populer master chef atau sejenisnya di tv. Tapi karena saya sangat mengagumi ayahku. O ya, di rumah kami memanggil ayah dengan Papa. 

Papa adalah seorang yang sangat mahir dalam berbagai bidang. Pendidikannya tak seberapa memang, tapi begitu mengerjakan sesuatu ia sangat totalitas. Termasuk dalam hal memasak. Saban keluarga kami memiliki hajatan tertentu, atau setiap hari raya idul fitri tiba, masakan istimewa keluarga kami selalu dikerjakan oleh Papa. Ibuku biasanya hanya bertugas memotong berbagai bahan yang sudah disiapkan dan ditakar oleh Papa.

Pemandangan itu benar-benar menginspirasiku. Kemahiran Papa membuat masakan yang lezat membuatku cemburu padanya, tapi dalam pengertian cemburu yang baik. Diam-diam saya pernah mencoba memasak, tetapi selalu berakhir gagal. Saya tak menemukan keterikatan dalam proses memasak. Walaupun sudah mengikuti berbagai resep yang terlihat begitu mudah, tetap saja tak pernah berhasil.

Hingga akhirnya saya mencoba untuk meningkatkan penghayatan. Saya coba mengenali satu persatu karakter bumbu-bumbu di dapur. Mencium aromanya dan mencicipi karakter rasanya. Saya mulai pakai hati dalam menakar kombinasi antar bumbu. Mencoba membayangkan bagaimana mereka saling bereaksi dengan minyak, dengan air, dengan bahan lainnya, dan dengan api yang memanaskan mereka hingga matang.

Dari proses penghayatan itu saya akhirnya menemukan kunci memasak. Setiap bahan punya karakter dan peran. Seperti halnya musik, setiap instrumen punya peran. Meskipun tetap harus ada alat musik yang dominan di antara yang lainnya, tetapi alat musik yang tak dominan tetap memberikan “rasa”.

Saya masih tahap belajar dalam memasak. Katanya sih terhitung telat di usia sekarang baru belajar masak. Tapi menemukan hal baru dan belajar sesuatu yang baru bagi saya tak pernah ada istilah terlambat. Justru perasaan terlambat itu adalah hal yang harus kita “bunuh” sebelum ia membunuh kita.

Sesekali saya melihat tayangan memasak di youtube. Dibandingkan dulu, saya jadi lebih menghayati proses yang mereka lakukan. Seolah bisa merasakan bagaimana hasil akhir masakan yang mereka bikin itu karena sering mengenali aroma dan mencecap karakter berbagai bumbu dan bahan. Saya seperti bisa membayangkan apa yang terjadi dengan mereka para bumbu dan bahan masakan itu.

Saya coba refleksikan dengan sebelumnya. Kalau dulu, setiap melihat tayangan masak saya hanya bisa melihat keseruan memasak, alat-alat masak mereka yang canggih, dan dapurnya yang mewah. Tapi sekarang sudah tidak begitu lagi. Bahan dan proses yang mereka tampilkan masuk ke dalam hati dan jika harus mengulang resep itu saya sudah merasa hapal tanpa harus sengaja menghapalnya.

Dulu, saat Papa memasak saya melihat ia begitu terikat dengan proses memasak yang ia lakukan. Sebelum memasukkan bahan-bahan yang ada saya perhatikan ia terhenti sejenak. Kadang mengurangi bahan dan kadang minta bahannya ditambah. Ia tak pernah menggunakan ukuran timbangan dan bahkan tanpa ukuran sendok ataupun gelas. Saya akhirnya memahami, ia pasti menggunakan ukuran hati saat mencampur bahan-bahan itu.

Repotnya kalau makan di luar. Papa selalu punya analisis kenapa makanan yang disajikan tidak enak misalnya. Apanya yang masih kurang. Ia juga seperti bisa melakukan reverse engineering terhadap makanan yang ada. Apa bahannya dan bagaimana cara membuatnya. Saat itu saya selalu menganggap aneh hal itu. “Apa susahnya sih tinggal makan saja, kan tidak semua makanan harus dianalisis?” Ternyata saya salah, Papa mungkin selalu pakai hati dalam urusan memasak hingga alam bawah sadarnya secara otomatis menganalisis masakan. Ia juga tak segan memuji masakan yang enak dan Papa selalu memberi tahu kami dimana tempat makan yang enak di suatu kota. Percaya deh, kalau Papa yang memberi rekomendasi tempat makan, jangan pernah nilai fisik rumah makan tersebut karena kamu akan terkecoh. Rumah makan mereka mungkin tampak murahan, tapi yang masak di sana pasti pakai hati saat menyiapkan masakannya. Selama ini, rekomendasi tempat makan Papa tak pernah keliru. Selalu pas di lidah, meskipun kebayakan tak pas di mata.

Saat ini Papa sudah tiada. Selain mendoakannya, sepertinya saya merasa terikat kembali dengannya lewat penghayatan memasak ini. Itu sebabnya saya setiap hari sengaja masak sambil mengingat ekspresi Papa dulu saat memasak. Ini prosesku melepas rindu padanya.

Photo by Katie Smith on Unsplash

TINGGALKAN BALASAN