INI adalah cerita rakyat dari Jepang telah ada sejak abad 8 masehi. Sebuah cerita sederhana tentang seorang nelayan yang menyelamatkan kura-kura. Kita bebas menafsir hikmah ceritanya. Setelah membaca cerita tersebut, saya tertegun sebentar dengan segumpal air mata yang ingin meledak dari sudut mata.

Kenapa? Baca dulu terjemahan ceritanya berikut.

Urashima Taro

Dahulu kala, di sebuah desa tepi pantai hiduplah seorang nelayan bernama Urashima Taro. Urashima Taro adalah seorang pemuda yang baik hati. Setiap hari dia pergi melaut mencari ikan untuk menghidupi ayah dan ibunya yang sudah lanjut usia.

Suatu hari, dalam perjalanan kembali dari laut, Urashima Taro melihat beberapa anak remaja berkumpul di pantai. Mereka bersorak-sorak gaduh. Taro melihat anak-anak itu menangkap seekor bayi kura-kura dan mereka asyik menusuk-nusuk kura-kura itu pakai tongkat kayu. Taro merasa kasihan dengan bayi kura-kura yang malang itu. Dia berkata, “Jangan lah kalian menyiksa sesama makhluk hidup!” Setelah mengusir anak-anak jahil itu, Taro menyelamatkan sang bayi kura-kura yang jadi korban perundungan. Taro mengangkat kura-kura tersebut di tangannya dan mengembalikannya ke air. Kura-kura itu senang, ia mengeluarkan kepala dan kakinya dari cangkangnya dan berenang lincah kembali ke dasar laut.

Dua atau tiga tahun kemudian, Urashima Taro baru kembali dari memancing di laut. Sesaat berikutnya dia mendengar suara memanggil dari belakangnya, “Tuan. Urashi- ma! Tuan Urashima!”

Ketika Taro melihat ke belakang, ternyata suara itu berasal dari seekor kura-kura besar dan ia bergerak mendekati perahu yang barusan ia tambatkan.

“Tuan, saya kura-kura yang pernah Anda selamatkan. Sebagai tanda terima kasih, saya akan memandu Anda ke Istana Naga di dasar laut,” kata kura-kura. Taro tak banyak berpikir ia merasa sudah nyaman dengan makhluk yang pernah ia tolong itu. Lalu, kura-kura besar itu mengajak Urashima Taro naik ke punggungnya dan mulai berenang. Sesaat kemudian kura-kura membawanya menyelam ke bawah laut nan biru. Taro heran ia bisa bernafas di dalam air dan alam bawah air yang sebelumnya gelap tiba-tiba terang benderang. Mereka bisa melihat dengan jelas terumbu karang dan gerombolan ikan cantik yang sedang berenang. Setelah menyelam bersama kura-kura, beberapa saat kemudian mereka tiba sebuah gerbang yang besar dan megah. Lalu seekor ikan membawa Urashima Taro ke Istana Naga.

Sesampaikan di dalam Istana Naga, ia diajak bertemu dengan seorang putri nan cantik.

“Selamat datang di Istana Naga. Terima kasih telah menyelamatkan kura-kura tempo hari. Silakan bersantai dan menikmati semua yang ada di istana ini, ”kata sang putri dengan suara ramah.

Urashima Taro berterima kasih atas balas budi tersebut. Sepanjang hari ia berkeliling istana naga. Menyaksikan pertunjukan tarian ikan yang indah, meminum sake sepuasnya, menikmati pesta yang begitu menakjubkan, mengobrol akrab dengan sang putri. Taro benar-benar menikmati semua fasilitas yang ada di istana naga. Seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Namun, beberapa saat kemudian, Urashima Taro tiba-tiba teringat dengan ayah dan ibunya di desa. Ia khawatir dan sadar harus segera kembali ke rumah. Lalu ia menyampaikan hal tersebut kepada sang putri. Taro meninta izin untuk kembali ke desanya. Sang putri pun mengizinkan dan memberinya sebuah kotak yang indah untuk dibawa pulang dan berkata, “Aku pasti akan merindukanmu, tetapi wajar jika kamu ingin kembali ke rumah. Ini adalah tamatebako, kotak harta karun. Sudilah membawanya bersamamu dan berhati-hatilah saat kembali ke rumah. Tapi tolong…, jangan pernah membuka kotak ini.”

Urashima Taro mengambil kotak harta karun itu, lalu naik ke punggung kura-kura, dan berangkat menuju desanya.

Namun, ketika dia tiba di pantai, segala sesuatu di sekitarnya benar-benar sudah berubah. Banyak orang lalu-lalang di sepanjang perjalanannya menuju ke rumah, tetapi Taro tidak mengenal satu orang pun. Rumahnya sendiri sudah tidak ada lagi. Ia memanggil-manggil ayah dan ibunya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Urashima Taro sangat terguncang dengan kenyataan ini.

Dalam kepanikan itu, Taro melirik ke tamatebako yang dititipkan Putri Istana Naga. Dengan perlahan ia mencoba membukanya. Sejurus tutup kotak terbuka, keluarlah asap putih dari dalamnya dan menyapu wajahnya. Kemudian Urashima Taro muda membuka matanya dan ia berubah menjadi seorang lelaki tua dengan rambut putih dan janggut putih. Ternyata, hanya bersenang-senang beberapa hari di Istana Naga, ia telah melewati beberapa puluh tahun di darat.

[selesai]

Selepas membaca cerita itu reaksi pertama saya adalah langsung menelpon ibu saya. Saya merasa seperti Urashima Taro yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan berarti tetapi telah larut dengan dunia sendiri. Tanpa sadar, ada seorang ibu yang mungkin setiap hari menanti kabar anaknya.

Kadang…, kita bisa saja salah tanpa harus berbuat salah.

Cerita saya terjemahkan dari sumber berikut: https://www.aozora.gr.jp/cards/000329/files/3390_33153.html

TINGGALKAN BALASAN