PERNAH merasa khawatir akan masa depan? Apa kelak yang akan terjadi. Bagaimana kita akan menjalani hidup nanti? Apakah hal buruk akan menimpa? Serta beribu-ribu tanya lainnya yang terus terngiang-ngiang, seolah ia menggantung di awan dan mencari jodoh jawaban. Tapi hingga sekarang belum ada jawaban untuk pertanyaan yang menggantung itu.

Khawatir dan cemas akan masa depan saya kira hal yang sangat manusiawi. Semua kita pasti pernah merasakannya. Justru aneh jika ada seseorang yang sama sekali acuh akan masa depan. 

Sayangnya, khawatir dan cemas ini sulit sekali menentukan apakah masih dalam konteks yang positif atau sudah negatif untuk kita. 

Memikirkan masa depan yang masih misteri adalah satu kelebihan kita sebagai manusia dibandingkan makhluk hidup lainnya. Tak ada hewan yang menaruh perhatian dan berpikir akan masa depan seperti halnya manusia. Hewan-hewan itu hanya bergerak berdasarkan insting dan nalurinya saja. Jika lapar, saatnya mencari makan. Jika haus, berarti harus mendapatkan minum. Saat gejolak birahi datang, mereka harus melepaskannya. Semuanya berlalu karena kondisi telah memenuhi dan insting makhluk hidupnya memberi respon terhadap kondisi tersebut.

Sedang manusia, kita berpikir jauh ke depan. Tidak untuk masa sehari atau dua hari. Kita bahkan sanggup mempertimbangkan hendak menghabiskan pensiun dimana kelak saat usia masih belasan tahun.

Namun, kemampuan untuk memikirkan masa depan itu bisa berubah menjadi gangguan khawatir dan cemas. Bahkan, kadar cemas yang mulai meninggi merupakan gejala seseorang mulai diserang sebuah gangguang yang disebut generalized anxiety disorder (GAD). 

GAD merupakan gangguan batiniah yang membuah kita sulit membedakan kejadian sungguhan dengan kejadian hipotetikal yang masih ada di benak tapi seolah akan benaran terjadi.

Saya jadi ingat peristiwa seorang ibu yang tega membunuh ketiga anak-anaknya yang masih kecil. Kejadian naas itu berlangsung di Kota Bandung dan dilakukan oleh seorang perempuan berpendidikan tinggi dan dari lingkungan keluarga yang religius. Setelah didalami oleh beberapa ahli, terungkap motif sang ibu raja tega itu memutuskan untuk mengakhiri nyawa buah hati yang harusnya ia lindungi itu. Ternyata ia terlalu cemas akan masa depan anak-anaknya.

Ia selalu dihantui oleh pertanyaan yang bersifat kejadian hipotetikal tadi. “Bagaimana kelak nasib anakku?” “Dunia terlalu keras dan kejam untuk mereka yang masih polos ini?” dan banyak pertanyaan kecemasan lain yang menghantui isi kepalanya.

Pertanyaan yang menggantung di awan itu terus menagih jawab. Akhirnya ia menjodohkan pertanyaan itu dengan sebuah aksi nekad, yaitu menghabisi nyawa anaknya agar tak dihantui rasa cemas.

Sebegitu parahnya sebuah kecemasan dapat mempengaruhi keputusan seseorang. Itu sebabnya khawatir dan cemas tak boleh kita anggap enteng. Memang tak boleh menghapus rasa khawatir sama sekali dalam sikap hidup sehari-hari. Tapi kita harus memastikan bahwa rasa khawatir itu masih sehat, tidak membuat batin kita sakit.

Cara mudah mengidentifikasi apakah khawatir dan cemas itu masih dalam kadar yang sehat adalah dengan mengevalusi diri sendiri. Adakah pertanyaan yang selalu hadir seperti menggantung di awan tadi? Misalnya kita khawatir mengenai pendidikan anak-anak kelak yang semakin mahal saja, sanggupkan nanti menyekolahkan mereka? Pertanyaan khawatir seperti itu masih wajar dan sehat jika tak hadir setiap hari. Tapi jika ia hadir setiap hari dan membawa rombongan pertanyaan tambahan lainnya, maka khawatir itu telah membawa kita ke jurang sakit batin.

Rombongan pertanyaan bawaan itu yang saat ini sering disebut orang sebagai over-thinking. Berpikir terlalu berlebihan akan kejadian yang belum tentu terjadi. Malah ada yang berkata bahwa over-thinking adalah seni untuk mendatang masalah yang sebenarnya tidak jadi masalah sama sekali. Merepotkan dan sakit bukan?

Yuk ah, hidup dengan mental yang sehat. Khawatir dan cemas seperlunya saja. Jangan biarkan ia menggantung di awan yang selalu ribut meminta jodoh jawaban.

Photo by Road Trip with Raj on Unsplash

TINGGALKAN BALASAN