Menghadapi Underperformance

0

SELAMA menjalankan usaha dalam waktu sepuluh tahun ini, saya sering menghadapi kinerja yang tidak sesuai harapan. Antara rencana dengan aksi, saling tidak sejalan. Antara janji dengan kenyataan, juga tidak seiring. Situasi underperformance ini bisa terjadi pada diri saya sendiri maupun anak buah di kantor. Bisa juga akumulasi kinerja tim.

Pekerjaan terlambat, kualitas yang amburadul, komitmen yang tidak ditepati, dan banyak kasus underperformance lainnya yang kerap membuat pengusaha pusing. Sebagai leader, kita dekat sekali dengan amarah jika berhadapan dengan situasi ini. Tapi sayangnya amarah itu tidak melulu efektif menyelesaikan masalah. Memang ada yang terpecut jika kena semprot dan tersadar dari keterlenaannya. Saya percaya, amarah itu punya berbagai dimensi. Selain punya fungsi untuk melecut, efek sampingan lainnya dari amarah justru merugikan. Misalnya, karyawan tidak menaruh respek melainkan hanya takut kena marah saja; sakit hati akibat terpapar amarah itu terbawa terus sehingga mengganggu kebahagiannya; bisa juga fungsi kepemimpinan kita melemah karena amarah dianggap menjadi perangai yang melekat dalam diri kita. Siapa sih yang orang yang rela kalau selalu kena marah?

Kembali ke underperformance tadi.

Saya mencermati, ketika ditanya sumber masalah underperformance seseorang, ada sebuah jawaban yang selalu muncul. Siapapun dia. Kalau menemukan pola lain, tulisan ini akan saya update lagi. Apakah sumber masalah masalah itu? Berdasarkan pengalaman selama ini, setiap individu (tim juga) yang underperformance selalu mengetengahkan alasan bahwa ada sesuatu yang menghambat dia berkinerja baik dan ia yakin jika hambatan itu dihilangkan ia akan kembali dalam track. Ini sekadar beberapa contoh alasan hambatan yang saya maksud:

  1. Si A beralasan tidak dapat memenuhi kinerja karena ada peralatan kerja yang tidak lengkap. Misal, printer harusnya diganti menjadi printer laser warna, jangan printer inkjet seperti sekarang. Spesifikasi komputer harusnya ditingkatkan, komputer yang sekarang sudah ketinggalan zaman.
  2. Untuk kasus yang lain si B punya argumen budged tidak mencukupi. Tidak mungkin ia mampu berkinerja maksimal jika budged yang tersedia terlalu ketat.
  3. Contoh lainnya, tim C mengeluh karena jumlah anggota tim terlalu sedikit untuk mengerjakan tugas “seberat” itu.

Masih banyak contoh lain, tetapi cukuplah tiga saja untuk menggambarkan hambatan yang saya maksud.

Menariknya, ketika seluruh hambatan alias keluhan itu kita selesaikan, mayoritas kasus underperformance yang saya maksud tadi tidak serta merta menyelesaikan masalah. Ketika kita evaluasi bersama lagi, akan muncul alasan hambatan lain lagi. Begitu seterusnya menjadi gelindingan hambatan yang bergulir tak terhenti.

Leader mana yang tidak frustrasi menghadapi kondisi seperti ini?

Dari berbagai percobaan menghadapi underperfomance ini, saya mengelompokkan menjadi tiga strategi menyelesaikannya.

  1. Identifikasi apakah sumber masalahnya ada pada individu.
  2. Uji berulang-ulang root cause analysis sebelum mengambil keputusan.
  3. Jangan kasih longgar.

Kita bahas satu persatu.

Identifikasi apakah sumber masalahnya ada pada individu.

Saya selalu menaruh kecurigaan pertama pada saat terjadi underperformance adalah karena individunya. Bisa karena kurang termotivasi, skill yang bersangkutan masih belum mumpuni, merasa minder, sulit berkomunikasi, atau sedang ada masalah rumah tangga yang mempengaruhi kinerjanya di kantor.

Cara mengenalinya sederhana saja. Kita cukup mengamati bahasa tubuh yang bersangkutan. Dengan berinteraksi sehari-hari kita tentu bisa membedakan semangat seseorang itu sedang membara atau melempem. Ditambah dengan ngobrol-ngobrol ringan, kita bisa membaca gelagat seseorang dan menyimpulkan bahwa akar masalah ada pada dirinya. Dalam melakukan ini tentu harus hati-hati. Jangan sampai terlalu mudah menjatuhkan penilaian kepada orang lain dan mengumumkannya. Kita memang harus membiasakan diri membaca orang lain tetapi digunakan untuk kebaikan.

Ciri lain jika sumber masalah ada pada individu, ia akan memberikan alasan yang sepele untuk dijadikan kambing hitam underperformance-nya tadi. Cari-cari alasan adalah strategi standar seseorang untuk tidak terlihat bersalah. Ia butuh pembenaran.

Uji berulang-ulang root cause analysis sebelum mengambil keputusan.

Ini merupakan lanjutan tahap sebelumnya. Alasan yang disampaikan harus kita kaji relevansinya. Kembali ke contoh yang sudah disebutkan di atas, alasan ditimpakan pada printer warna laser sehingga seluruh program kerja yang ia tangani progress-nya stagnan dalam jangka waktu lama. Meskipun sekedar contoh, ini peristiwa nyata. Saat itu saya percaya dengan alasan yang disampaikan bersangkutan. Saya dapat mengikuti logika berfikirnya bahwa pekerjaannya sangat membutuhkan printer yang handal. “Bagaimana mau maksimal kalau printer saja tidak berkualitas?” ungkapnya. Sialnya saya percaya begitu saja dan memenuhi persyaratannya, bahwa saya harus membeli printer baru. Nyatanya, setelah ada printer baru pun tidak ada perubahan sama sekali.

Dari situ saya belajar bahwa alasan apapun bisa saja muncul dari mereka yang sedang underperformance. Terkadang kelihatan punya hubungan erat tetapi kalau diuji berkali-kali dan di-challenge terus menerus, itu bukanlah sumber masalah yang sesungguhnya.

Apa bedanya masalah sesungguhnya dengan masalah palsu? Saya pribadi menganut prinsip begini. Jika hambatan yang disampaikan bisa dicarikan substitusinya, maka itu bukanlah masalah. Tetapi jika hambatan itu sifatnya mandatory (wajib diselesaikan), tanpa ada substitusi lainnya, maka ia kandidat sumber masalah. Tapi ingat, itu masih kandidat. Tugas kita justru menguji secara terus menerus bahwa itu memang benar-benar masalah yang sesungguhnya.

Jangan kasih longgar

Kalau sudah dalam kondisi underperformance dan sumber masalah sudah kita kenali, jangan kasih longgar. Jangan berikan kesempatan untuk melakukan underperfomance berikutnya. Kita harus menciptakan kondisi memaksa tetapi yang bersangkutan tidak merasa divonis. Agak-agak sulit mendeskripsikannya memang karena ini merupakan seni mempertemukan dua kutub yang berbeda, yaitu ketegasan dan kelembutan. Kita harus tegas bahwa underperformance harus disudahi tetapi tetap lembut kepada yang bersangkutan.

Memang, tetap ada kemungkinan yang bersangkutan tetap membandel. Pada kondisi demikian, tidak ada gunanya mempertahankan dalam tim karena akan meracuni iklim yang kita bangun. Minta ia resign baik-baik jika tidak bersedia mengubah perilakunya atau lakukan pemutusan hubungan kerja. Skenario ini memang tidak manis, tetapi harus dihadapi oleh seorang pengusaha.

Begitulah…, underperformance memang jadi kerikil-kerikil yang selalu kita hadapi dalam menjalankan usaha. Meskipun kecil, tetaplah hati-hati karena justru kerikil yang paling mudah membuat kita tersandung. Maka, selesaikanlah sebelum menimbulkan luka.

 

Memelihara Permusuhan

0

SUDAH tiga tahun sejak pilpres 2014, nuansa permusuhan antara dua kubu tak juga kunjung reda. Setidaknya di arena sosial media, aroma permusuhan belum surut. Sekarang apalagi, sudah kian meruncing dan semakin membuat tak nyaman. Kita dengan mudahnya menjatuhkan penilaian baik-buruk orang lain akibat preferensi politiknya.

Politik? Yup… politik, rasa persaudaraan sebangsa kita retak-retak seperti sekarang erat kaitannya dengan peristiwa politik. Menuding, menyerang, membela, menyanjung-nyanjung, menyindir, menyudutkan, menghina, dan semua olok-olok yang MUDAH beterbangan itu apakah untuk kemajuan kita sebagai sebuah bangsa? Meragukan! Tidakkah lebih dekat pada agenda pemenangan calon pilihan masing-masing? Atau, setidaknya memanfaatkan konstelasi politik untuk memuntahkan uneg-uneg pada kelompok lain yang kebetulan pilihannya berseberangan dengan kita.

Lalu, apakah tokoh-tokoh politik itu memang sosok yang saling bertolak belakang sehingga harus dibela atau diserang habis-habisan? Satu disetankan, satunya dimalaikatkan. Satu dianggap suci bersih dan lawannya makhluk terhina. Rasanya tidak demikian. Pandanglah mereka dalam satu garis sejarah yang utuh. Dulunya juga pernah satu kubu, satu perjuangan, dan satu hasrat politik. Lantas kini mereka berseberangan sudut ring tinju dan kita (masyarakat) ikut serta berpukul-pukulan dari dua sudut yang berbeda. Bukan hanya pengurus partai, tim sukses, dan konsultan politik yang bertarung karena itu memang bagian dari job-desc mereka. Sensasi pertarungan itu pun meluas, hingga masyarakat awam pun kini sudah lebih mahir membela/menyerang dibandingkan tim sukses yang sedang bertarung.

Kenapa permusuhan ini semakin memuakkan saja?

Mungkin karena manusia memang butuh rasa permusuhan untuk tetap merasa sebagai orang yang hidup. Mengutip Nietzsche, “If an enemy did not exist, it would be necessary to invent one.” Manusia adalah makhluk yang ambivalen: memiliki perasaan yang bertentangan sekaligus. Perasaan mencintai saja membuat hidup tak seimbang, kita juga perlu rasa benci. Fenomena pendukung politik yang bipolar seperti sekarang ini menurut saya adalah manifestasi sempurna terpenuhinya sifat ambivalen itu: kita mencintai jagoan kita sepenuh hati sekaligus membenci lawannya. Dengan begitu kita seolah punya daya hidup yang lebih semarak.

Zaman penjahan Belanda dan Jepang, manusia Indonesia mencintai tanah air sepenuh jiwa dan membenci penjajah laknat itu. Lalu proklamasi merdeka adalah resolusi perasaan ambivalen nasional itu. Hingga tiba PKI menjadi musuh bersama yang berakhir dengan munculnya harapan baru yang bernama orde baru. Meskipun disebut-sebut sebagai era pembangunan, permusuhan terhadap orde baru semakin menggelora karena cenderung refresif dan koruptif. Reformasi pun menjadi resolusi.

Selepas reformasi kita sempat punya musuh bersama yakni negara tetangga yang gampang nian mengklaim sesuatu yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Lihat dampaknya, industri kreatif kita selain batik subur dan menggelora. Jangan-jangan kita memang sudah perlu punya musuh bersama lagi? Kalau musuhan sesama bangsa sendiri ini tidak keren, kontraproduktif, dan menggali kubur sendiri karena negara lain sedang berlomba menjadi bangsa yang kompetitif.

Semoga pemerintah mampu menunjuk musuh bersama agar semangat bermusuhan ini bisa terarah. Seperti halnya rakyat Korea Selatan yang dendam teramat sangat untuk mengalahkan dominasi Jepang hingga kini tampil menjadi negara berpengaruh di dunia. Program revolusi mental mungkin perlu difokuskan mencari musuh bersama kita supaya lebih berdaya guna. Alien kah musuh kita berikutnya? Atau para zombi saja? He..he..

Pijat Ghaib

0

MUHAMMAD HATTA adalah salah seorang negawaran besar negeri ini yang terkenal paling rasional sekaligus religius. Kekukuhannya memegang prinsip hidup agama menjadikannya pribadi yang dikenal kaku. Sewaktu kuliah di negeri Belanda, saban kongkow dengan teman-temannya, Bung Hatta selalu meminta teh atau kopi, sementara teman-temannya asyik minum bir.

Kekakuan penampilan Bung Hatta sesungguhnya adalah cermin keteguhan pendiriannya. Bahkan, saat bermain tennis atau mendaki gunung, Muhammad Hatta selalu “salah kostum” karena di acara seperti itu tetap tampil necis dengan setelan jasnya.

Dengan membaca otobiografi Muhammad Hatta, kita melihat bagaimana rasionalnya pemikiran Muhammad Hatta. Ia tidak terpaku pada teori yang sudah ada, juga tak lantas percaya dengan argumen orang lain. Proklamator kemerdekaan Indonesia ini selalu memiliki argumen yang mudah dicerna akal sehat. Lihat saja bagaimana ia berpolemik dengan Sukarno di sekitar tahun 1932 mengenai asas non kooperatif. Saat itu Sukarno yang aktif di Partindo “menghajar” Bung Hatta melalui tulisan-tulisannya tentang sikap politik Muhammad Hatta yang ia nilai sudah lari dari asas non kooperatif. M. Hatta lantas meladeni tuduhan tersebut melalui tulisan juga di Daulat Rakjat dengan sangat bernas.

Berkaitan dengan sisi religius dan rasional M. Hatta, ada kejadian unik yang dalam otobiografinya Bung Hatta sebut dengan istilah “Kejadian Lucu”.

Pada tahun 1932, Bung Hatta berangkat ke Sumatera Barat untuk mendirikan Cabang PNI Maninjau. Di suatu siang, mobil yang ia tumpangi ditabrak mobil lain yang melaju kencang. Akibat kecelakaan itu kening Bung Hatta terluka berdarah dan tangan kirinya terkilir.

Setelah berobat ke rumah sakit ia mendapat perban di kening tetapi tangan yang terkilir belum sembuh juga sehingga M. Hatta mencari tukang pijat (pandai urut). Temannya yang bernama Anwar Saidi memberi rekomendasi berobat kepada pandai urut yang akan memijat menggunakan media ayam. Ternyata usul tersebut direstui orangtua Muhammad Hatta. Esok paginya mereka pun berangkat ke Sungai Puar, ke tempat sang pandai urut.

Bung Hatta sebenarnya enggan menggunakan jasa pandai urut yang menggunakan media ayam itu. Baginya metode itu tidak masuk akal. Sang pandai urut sama sekali tidak menyentuh tangan yang terkilir. Ia malah mengurut kaki ayam. Tetapi pijat ghaib itu terbukti ampuh. Pukul 12.00 ayam diurut dan Bung Hatta merasakan sakit luar biasa di tangannya lalu berangsur-angsur hilang. Pukul 15.00 sakit terkilir itu sudah hilang sama sekali.

Meskipun metode pijat ghaib itu tidak masuk akal Bung Hatta yang lulusan negeri Belanda tetap  menghormati praktik tersebut meskipun belum dapat terjelaskan secara rasional.  Bung Hatta sendiri tidak mengatakan pengobatan itu sebagai pijat ghaib, melainkan mengurut dengan ma’rifat. Keren ya? ***

 

Rupiah Sakit Kok Masih Santai?

0

RUPIAH melemah tak berdaya terhadap dolar Amerika di angka  Rp13.000 lebih. Tapi pengaruhnya kok tidak terlihat? Beberapa harga malah cenderung turun.

Banyak yang sudah teriak-teriak, “Woi pemerintah, ngapain aja kok ga panik?” Pemerintah malah bilang, “Santai, negara yang lain juga bernasib sama. Ini masih terkendali.”

Tapi benarkah demikian?

Pagi tadi sempat membaca catatan Jusman SD, Komisaris Utama PT Garuda Indonesia, di link ini: http://unilubis.com/2015/03/12/jusman-sd-rupiah-melemah-mengapa-kita-tertawa/.

Catatan itu menarik karena melemahnya nilai rupiah tidak boleh dipandang remeh. Gejalanya memang belum terasa nyata, tetapi semua itu perlu disikapi dengan antisipasi yang matang. Jusman mengingatkan, “Krisis ekonomi bisa menyergap tanpa diundang, ketika semua orang tertawa lebar.”

Saya setuju dengan Jusman SD. Demam misalnya, tidak boleh hanya dipandang sempit sebatas sakit yang juga nanti sembuh sendiri setelah istirahat dan minum obat. Bisa jadi demam itu adalah indikasi penyakit yang lebih parah lagi. Makanya perlu diantisipasi sebelum terlambat.

Tetapi balik lagi ke pertanyaan rupiah melemah signifikan, kok masih adem ayem? Bagaimana menjawab ini? Ahli ekonomi tentu punya analisis yang lebih kuat, tapi boleh dong kita-kita yang ilmu ekonominya terbatas ini ikut serta nimbrung. Seperti halnya obrolan politik di warung kopi, tidak berkaitan kepentingan sama sekali tetapi asyik untuk diperbincangkan. Begitu pula analisis nan jeprut ini memandang kesantaian rupiah meski terhajar di harga tiga belas ribu rupiah per dolar Amerika.

Indonesia pernah selamat dari krisis di tahun 2008, saat resesi melanda dunia. Di tahun itu, seratus persen negara maju terkena dampak signifikan, tapi Indonesia aman dan tentram. Selepas krisis mereda, ahli ekonomi hampir sepakat menyatakan yang menyelamatkan Indonesia adalah akibat tingginya konsumsi di dalam negeri sehingga berhasil memutar roda ekonomi dengan kecepatan optimal. Dengan begitu ekonomi Indonesia cenderung stabil.

Dampak paling mudah dikenali dari menguatnya dolar terhadap rupiah adalah kenaikan harga. Pada link yang dirujuk tadi, Jusman SD malah menjelaskan pengaruh harga ini lebih mendalam.

Naiknya harga barang yang sama di waktu yang berbeda identik dengan inflasi. Contoh kecilnya, dengan kurs Rp 9.000, komputer yang tahun lalu harganya Rp 4 juta, sekarang melejit jadi Rp 5,7 juta lebih. Artinya sang komputer naik harga sebesar 144%. Pengaruhnya kurs dalam kasus beli komputer ini nyata: HARGA NAIK!.

Banding-banding data dulu yuk. Tahun 2008 inflasi mencapai puncak di angka 12,14% dengan nilai tukar sekitar Rp 9.000-an. Sementara, di Maret  2015 inflasi masih di angka 6,29% dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Rp 13.191. Loh, nilai tukar dan inflasi kok jadi berbanding terbalik? Bukannya seharusnya berbanding lurus?

Nilai tukar loncat tinggi, inflasi kok malah turun? Mungkin ini yang membuat kita tidak merasakan dampak kenaikan secara nyata. Kenaikan hanya terjadi pada beberapa item komoditi yang terkait langsung dengan nilai tukar.

Lah, kenapa tidak berpengaruh langsung? Beberapa ahli menganalisis pengaruhnya akan nyata terasa beberapa bulan ke depan. Apabila rupiah masih lemah tak berdaya, beberapa sektor akan rontok dan krisis ekonomi menghantui Indonesia.

Bicara krisis (resesi ekonomi), kalau dilihat sejarahnya, krisislah yang paling mudah menyebar, bukan sekedar nilai tukar. Krisis minyak global di tahun 1971 merembet dan membawa pengaruh yang sama di Indonesia. Kemudian Resesi ekonomi di pertengahan 90-an signifikan berpengaruh yang  membuat Indonesia jatuh dalam krisis 98 dan kita memasuki orde reformasi. Sepuluh tahun kemudian resesi global muncul lagi, tetapi Indonesia selamat oleh tingkat belanja dalam negeri yang memutar roda ekonomi.

Setidaknya, sinyal krisis global belum menggema di tahun 2015. Apakah ini yang membuat pemerintah yang sekarang terlihat santai aja?

Pakar International Management, Prof. Mario Guillen dari Wharton School Amerika mengatakan bahwa dalam era globalisasi ini, dunia semakin memiripkan diri. Ia menyebut dengan istilah Isomorphism, yang diberinya definisi: kecenderungan entiti untuk semakin mirip atau mengadopsi pola dan budaya tertentu. Menurutnya, dengan “memiripkan diri” ini, dunia semakin seragam (globalisasi) dan saling mempengaruhi. Sistem demokrasi mulai seragam, sistem ekonomi juga hampir sama, teknologi menggunakan framework yang sama, dan lain sebagainya.

Artinya, kalau dunia tidak jatuh ke masa krisis, maka ekonomi negara-negara juga tetap aman.

Ada hal menarik yang disampaikan oleh Prof. Mario Guillen berkaitan dengan keuangan dan nilai tukar. Pada pasar keuangan, hanya 10% saja yang merupakan transaksi komersial. Artinya, transaksi pada sektor riil yang melibatkan pasar uang hanyalah 10% dari total transaksi yang terjadi. Sisanya yang 90% kemana? Mario menjawab, transaksi itu ditujukan untuk mendapatkan uang (kegiatan spekulasi) dengan mentransaksikan perbedaan nilai tukar.

Biar tidak mengada-ada, begini lengkapnya kata Prof. Mario:

“… I want to buy something from abroad, let’s say from France, so I need to exchange a few dollars into Euros. Or another commercial transaction would be if I travel to one of those countries, or if a company wants to buy something in a foreign market.

Those are all commercial transactions where we estimate that no more than 10% of all of the currency exchange turnover in the world, in currency markets has to do with commercial transactions.

The question is, what accounts for the other 90%? Why do we observe so much currency being transacted in the world but just 10% is for commercial purposes.

So, think about it. Why else would people want to exchange one currency for another? 

The answer is the following, which is to try to make money, for speculation. So, this is kind of amazing. This is a new development really that didn’t exist a 100 or 200 years ago. That so much of the market for different currencies in the world has to do with speculation.”

Nah… jangan-jangan rupiah yang tiga belas ribu lebih ini akibat ulah 90 persen yang disebut Prof. Mario tadi? Lalu apa kata Mario Teguh? Itu justru pertanyaan saya :D.

kredit foto: www.teropongbisnis.com

Politik Rasa Gosip

0

SEKITAR tujuh tahun lalu aku menumpang keretaapi dari Jakarta menuju Bogor. Gerbong memang penuh tetapi masih belum berdesak-desakan. Di sampingku duduklah dua orang ibu, kuduga mereka berdua adalah wanita karir yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja.

Salah seorang dari mereka tengah membawa tabloid wanita yang sampai saat ini masih sukses menjadi tabloid paling laris di Indonesia. Awalnya tidak ada yang istimewa dari kedua wanita karir ini sampai mereka berdiskusi, tapi lebih tepat disebut berdebat, mengenai isi tabloid. Pada edisi tersebut sedang hangat diberitakan perceraian pasangan artis dan tabloid itu mengangkatnya menjadi liputan utama.

“Aku ga ngerti deh, kenapa ada laki-laki bodoh yang meninggalkan istrinya secantik itu.”

“Loh… bukannya itu salah istrinya?” timpal temannya.

“Ya ga dong…, ini jelas-jelas dibilang suaminya yang bla..bla…”, begitu seterusnya dan mereka tak henti mengasah gosip itu sampai tiba di stasiun yang mereka tuju.

Capek telinga sebenarnya mendengar debat kedua makhluk pecinta gosip itu. Tapi sejujurnya seru juga ikut nguping :D. Gosip memang hiburan menarik bagi semua orang. Nasib buruk orang, yang tak ada sangkut pautnya dengan kita, nikmat sekali dijadikan sumber cerita.

Kenapa kita sangat menikmati gosip, hingga tayangan gosip di televisi atau berita gosip di media massa selalu tinggi peminat? Apa kita tak merasa bersalah membicarakan keburukan orang lain? Menurut psychologies.co.uk, kita tahu menggosip itu salah, tapi tetap senang melakukannya karena gosip bisa membangun ikatan sosial. Barangkali itu sebabnya gosip baru seru kalau berbalas pendapat dengan orang lain. Kita jadi punya materi pembicaraan untuk membangun ikatan sosial itu.

Masih menurut artikel yang berjudul “Why we love to gossip?” tadi, salah satu penyebab kita keranjingan dengan gosip adalah karena dengan bergosip kita menjadi merasa memiliki superioritas. Bahwa kita lebih baik dibandingkan dia (yang digosipkan). Itu pula sebabnya bergosip tentang keburukan jauh lebih asyik dibanding bergosip tentang kebaikan orang lain.

Dulu, sumber gosip kebanyakan berasal dari para selebritis yang namanya sedang naik daun sehingga setiap orang penasaran dengan kehidupan pribadinya. Begitu ada celah sedikit, ramailah info itu menjadi gosip dan laris manis disambut para pecinta berita gosip. Gosip pada posisi ini dapat kita artikan sebagai olah informasi perihal pribadi oleh pihak lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan. Antara penggosip dan yang digosipkan tidak memiliki relasi langsung. Jikapun memiliki relasi, misalnya menggosipkan teman kerja, pastinya dilakukan dibelakang orang yang bersangkutan.

Nah… sejak tahun lalu (2014), suhu politik di negeri ini tak kunjung mereda. Banyak yang bilang kalau musim pilpres sudah usai maka dunia sosial media akan adem kembali. Nyatanya tidak. Perang link berita masih berlangsung dengan hebatnya.  Aku ndak yakin kita murni bicara tentang politik, karena diskusi politik seharusnya berada pada ranah kemanfaatan pada publik. Kebijakan publik yang kurang baik, okelah, bisa kita angkat jadi bahan diskusi. Tapi masalah remeh temeh seperti cara pakai dasi, memelihara kodok, memelihara kuda, mimik muka yang menyebalkan, dan lain sebagainya bukan lagi ranah politik melainkan sudah masuk dunia gosip.

Rasa suka dan tidak suka kepada figur politik tertentu menjadi kompas utama menanggapi berita. Maka, saling bantah-bantahan tak kunjung surut karena orientasi kita seperti halnya menggosip tadi, yang penting tokoh yang kita suka menang argumen. Lalu, apapun informasi  seputar mereka layak untuk kita share yang cenderung berasa gosip dibandingkan analisis kemanfaatan bagi khalayak.

Sekarang sulit membedakan mana gosip dan mana isu politik karena menggosip soal politik sepertinya pilihan yang lebih terhormat, seolah bicara nasib bangsa tetapi levelnya cuma menggosok berita.

Ciut Nyali

0

TERAKHIR kali saya merasakan ciut nyali yang begitu hebat adalah belasan tahun lalu. Saat masih menduduki bangku SMA pernah ikut seleksi perlombaan internasional. Membayangkan kontestan yang ikut serta dalam gerbong perlombaan betul-betul menghantam nyali. Di ruangan test untuk seleksi tingkat pertama saja saya tiba-tiba kehilangan seluruh gairah hidup. Persiapan selama berbulan-bulan luntur begitu saja. Seperti debu yang melebur menjadi lumpur saat hujan pertama di musim kemarau.

Tak perlu saya ceritakan lebih lanjut. Test itu jelas gagal total. Empat jam di ruangan saya hanya bisa keringatan sendirian. Dikalahkan oleh rasa takut yang berlebihan. Setelah selesai baru saya menyesali, soal yang diujikan tidak sulit-sulit amat. Pada kondisi normal saya mungkin bisa menyelesaikannya dengan baik. Namun, membayangkan nun jauh di kota besar sana pasti banyak siswa-siswa hebat, yang asupan gizinya berlipat-lipat dari saya, yang akses informasinya jelas lebih lengkap, dan gurunya juga pastinya lulusan perguruan tinggi terhebat. Bak hantu, bayangan-bayangan itu menelan seluruh semangat dan membuat saya lunglai di meja pertandingan.

Iseng-iseng pagi ini saya coba berselancar di dunia internet untuk sekedar melihat-lihat peta persaingan bisnis yang tengah saya jalani. Aduhai… kaget bukan main. Kompetisi sudah demikian hebatnya. Dibandingkan tiga atau empat tahun lalu pertumbuhannya sudah bak jamur di musim hujan. Saya tidak siap melihat pesaing usaha saya justru kelihatan jauh lebih hebat. Pendidikannya lebih tinggi, lebih sesuai bidangnya, dan pengalamannya jauh lebih meyakinkan. “Bisnis saya bakal tengkurap nih,” begitu batin saya berkata-kata sambil tersedu.

Membayangkan saya akan berada dalam ketidakberdayaan membuat rasa ciut belasan tahun lalu datang lagi. Lama… saya terdiam. Mungkinkah saya akan terlindas di jalur yang tahunan saya rintis ini? Atau sudah saatnya pindah track? Bayang-bayang hantaman kekalahan yang menyakitkan itu sungguh tak sanggup saya terima.

Sepanjang hari saya masih terpukul dengan kenyataan yang ada. Untuk mengurangi mendung di hati, saya putuskan beberes taman di depan rumah. Sudah lama tak menyentuh tanaman-tanaman yang sepanjang hari menyumbang oksigen itu tapi selalu luput dari perawatan. Di sudut tembok saya lihat kawanan semut membentuk barisan. Mereka tampak bergegas. “Pasti mereka bikin sarang baru,” gumam dalam hati. Sudah berapa kali sarang semut itu saya berantas. Sudah diracun berkali-kali tetap saja muncul lagi. Sudah diblok dengan kapur anti semut, masih saja tidak kapok. Rencana membereskan taman depan rumah lenyap seketika, mengusir semut-semut hitam itu nampaknya lebih menggoda.

Tapi saya tertegun dengan kegigihan semut yang nyatanya tidak pernah mengganggu itu. Saya hanya sebel melihat mereka melintas di tembok rumah, padahal saya yang capek-capek bayar cicilan rumah, berlelah-lelah mengecat tembok rumah, eh… mereka malah lewat-lewat seenaknya saja.

Hebat juga semangat juang semut-semut ini dan mendadak saya merasa dipermalukan oleh makhluk yang sering saya tindas itu. Mereka yang nyata-nyata saya usir, saya hancurkan sarangnya, tetapi tetap punya kehendak besar untuk bertahan. Lemah betul saya yang hanya membaca kompetisi kian ramai, langsung ciut bagai ayam potong digertak ayam petarung.

Padahal saya belum benar-benar hancur. Kehancuran yang ada di pikiran saya hanyalah buah asumsi yang membetuk ilusi. Lagi pula dalam bisnis, kompetisi adalah hal yang wajar. Duh semut…, terima kasih kalian sudah menampar saya yang sempat hampir dikalahkan oleh bayang-bayang semu.

Ada yang bilang bisnis itu seperti maraton. Saya sudah “maraton” cukup panjang dalam bisnis (dalam ukuran saya tentu saja). Jatuh dan bangun silih berganti datang. Tapi, saya lebih setuju dengan cara kerja semut. Bukan maraton yang mereka tunjukkan, lebih dari itu, yakni endurance yang hampir tiada batas.

Apakah saya harus menghindar dari kerasnya kompetisi? Semut mengasih nasihat sore itu, don’t quit! Sehebat apapun kompetitor yang harus kita hadapi, tetap ada ruang rezeki yang tersedia. Karena hidup bukanlah kompetisi yang hanya menghasilkan satu pemenang . Hidup bukan maraton, tapi proses yang hampir tak berkesudahan. Hingga azal mengentikan waktu kita di muka bumi ini.

Sumber utama foto ilustrasi: www.gettyimages.com

Ah, Kamu Sudah Berubah

0

TEMANKU, dulu dia anak yang amat sholeh. Paling pintar mengaji, tajwidnya presisi dan bacaanya tartil. Hapalannya paling banyak dan hukum-hukum fiqh paham hingga mendalam. Ia bagai samudra yang ilmunya bernas tiada banding.

Belasan tahun tak bertemu. Begitu bertemu benar-benar bikin kaget. Diajak sholat Jum’at, dia bilang “Kalian masih menyembah yang abstrak juga ya?” ujarnya setengah mengejek. Ia pun memutuskan menunggu di rumah sambil menghisap dalam-dalam rokoknya. Yang kutau, dulu dia tak pernah menyentuh rokok sama sekali.

Perubahannya begitu drastis dan bikin hati miris. Kenapa engkau teman? Perjalanan hidup macam apa yang engkau lalui hingga berubah bak arus balik lebaran?

Dia cerita banyak hal. Yang aku simpulkan, tidak ada hal yang begitu berarti yang mampu menjelaskan kenapa dia bisa berubah. Tantangan yang ia hadapi tergolong biasa saja, pergulatan berbagai jenis pemikiran yang ada di sekitarku malah jauh lebih heboh dari yang ia ceritakan.

Itu satu kasus.

Ada pula teman akrab hingga aku merasa paham betul dengan karakter pribadinya. Bagaimana ia bertindak, apa yang biasanya ia pikirkan, dan value yang ia anut. Sekarang, ia tiba-tiba berubah seketika ntah karena apa. Seolah ada alien yang masuk ke dalam dirinya dan mengubah cara ia berpikir dan bertindak.

Sobat yang dulu selalu tersenyum bahkan jika mendapat ejekan, kini lekas sekali memberang hanya karena orang lain tak menaruh respek pada jagoan politiknya. Kalau ditanya malah bawaannya nyinyir tak jelas. Seolah ada dendam yang ingin ia muntahkan tapi tak jelas kepada siapa dendam itu ingin ia balaskan.

Masih banyak contoh lain perubahan-perubahan mendadak yang membuatku sering bertanya, benarkah kita bisa berubah begitu drastis?

Ada yang pernah bilang, “It’s sad when people you know become people you knew.” Rasa sedih itulah yang membuat kita jadi merasa kasihan atas apa yang terjadi padanya. Tapi, mengubah lagi mereka yang sudah berubah justru menambah kusut hubungan. Mereka selalu menaruh curiga kita ingin “menariknya” lagi.

Tergelitik dengan hal ini, aku coba baca-baca kenapa sih orang bisa berubah? Kita kutip satu sumber saja ya.

Adalah Arlene F. Harder, dengan bukunya Ask Yourself Questions and Change Your Life. Ia mengatakan ada tiga alasan yang mampu mengubah seseroang.

Pertama, perubahan akibat pengalaman yang kita lakoni secara berulang-ulang. Dengan pengalaman berulang-ulang itu kita menjadi pribadi yang berbeda. Misalnya bayi yang sedang belajar merangkak, berdiri, berjalan, dan hingga berlari. Ia berubah karena memang mengalami proses belajar. Begitupun dengan menempuh pendidikan, bisa mengubah kepribadian kita karena memang memperoleh input yang akhirnya mendefinisikan kepribadian kita di masa dewasa.

Kedua, berubah karena orang lain. Ada juga orang yang berubah karena didorong oleh orang lain. Misalnya, seorang bos di tempat kerja bisa saja mengubah anak buahnya sebab sang anak buah tersebut sangat bergantung nasibnya pada atasannya. Aku pernah mendengar cerita yang tepat dengan contoh di atas. Ada seorang pegawai yang direkomendasikan menjadi ajudan menteri. Berhubung sang menteri sangat bossy dan temparemental, ajudan yang cerlang gemintang di tempat kerjanya yang lama tiba-tiba berubah seperti robot. Ia sigap tapi tanggap hanya karena reaksi. Pandangan matanya kosong seolah ruhnya tersedot oleh aura sang menteri yang tak ubahnya karakter dementor di kisah Harry Potter.

Contoh lain, dalam perkumpulan yang mengandalkan ketokohan pemimpin kelompok tersebut. Anggota kelompok ini biasanya sangat bergantung pada sang tokoh sehingga seringkali kepribadian mereka berubah.

Ketiga, manusia bisa berubah sakit yang ia hadapi. Sakit yang dimaksud tidak melulu sakit fisik. Justru sakit secara psikologis lebih gampang mengubah kepribadian orang. Ditinggal orang yang dicinta, merasa diacuhkan, sakit hati, kecewa dengan dosis hebat, dendam mengkarat, dan banyak jenis sakit lainnya yang menumpuk hingga meledakkan pertahanan dirinya.

Kita semua mengalami perubahan. Semoga perubahan yang baiklah yang kita alami, bukan perubahan yang bikin kaget orang lain. Jangan pula perubahan yang membuat orang-orang terdekat jadi mengurut dada. ***

photo credit: http://www.careerealism.com

Kadal-kadalan UU Pilkadal

0

UU Pilkada bikin hiruk pikuk politik lagi. Sama halnya seperti pilpres kemarin, kali ini kembali opini masyarakat terbagi dua. Saling menjelekkan tetap jadi warna utama.

Supaya tidak lepas konteks, RUU menjadi UU selalu melewati proses. Salah satu informasi yang paling lengkap untuk memahami RUU adalah naskah akademik RUU tersebut. Biasanya, konten naskah akademik yang menjadi subtansi diskusi dan penggodokan RUU.

Tergoda dengan niat & motivasi pemerintah mengusulkan RUU Pilkada, saya mencari naskah akademiknya via om google. Eh… pertama kali ketemu malah di websitenya Ahok (http://ahok.org/beri…/naskah-akademik-dan-draft-ruu-pilkada/) yang diunggah 18 Januari 2012. Entah maksudnya mempromosikan RUU tersebut (berarti Ahok setuju) atau malah tidak setuju, ntahlah. Tapi sekilas kita bisa menerka dengan membaca di komentar pengunjung dan tanggapan administrator website Ahok. Sayangnya link naskah akademik di website Ahok sudah tidak dapat didownload, sayang.

Yang menarik dari naskah akademik RUU Pilkada, sejak awal naskah akademik ini membedakan posisi Gubernur dan Bupati/Walikota. Secara yuridis, gubernur adalah Unit Antara. Sedangkan Bupati/Walikota adalah Unit Dasar. Keduanya dipilih secara demokratis. Demokratis dalam hal ini bisa dipilih melalui dewan perwakilan atau dipilih langsung. Keduanya sah dan memiliki kekuatan legitimasi yang sama. Namun, jika dikaitkan dengan aspek historis, sosiologis, dan psikop-politik, penyusun naskah akademik memberikan rekomendasi: Gubernur dipilih dengan cara perwakilan dan Bupati/Walikota dengan sistem pemilihan langsung.

Nah… sekarang pada UU Pilkadi keduanya jadi dipilih langsung. Pasti ada proses diskusi yang mengemuka di gedung keong sana, kenapa jadi begitu?

Naskah akademik ini menurut saya bagus dan sangat argumentatif. Penjelasannya lengkap dan multi dimensi. Terlepas dari setuju dan tidak setuju UU Pilkada yang sudah diputus DPR, naskah akademik ini menarik untuk kita simak.

Silakan ke TKP.

***

http://www.rumahpemilu.org/in/read/148/Rancangan-Undang-Undang-tentang-Pemilihan-Kepala-Daerah

 

Kepergian

0

ORANG-ORANG datang dan pergi. Apalagi dalam urusan bisnis, kedatangan dan kepergian partner  hampir menjadi keniscayaan.

Baru kerja beberapa bulan, karyawan sudah ajukan surat resign. Lagi semangat-semangatnya membangun bisnis, rekan seperjuangan hilang kabar bagai tertiup angin sore. Perlahan, syahdu, lalu hilang di gelapan.

Dibanding kehadiran, kepergian seringkali lebih menyakitkan. Meskipun pamit dengan cara baik-baik, perpisahan selalu membuat hati tak enak.

Aku pernah mendapat cerita dari seorang teman tentang betapa hebat teror yang dibangun mantan bosnya karena ia resign & beberapa saat kemudian bergabung ke perusahaan yang terhitung kompetitor tempat kerjanya yang lama. Sering mendapat sms makian, dihina dengan gesture tak sedap pandang saat ketemu, dan mengeluarkan ucapan pedas: “Kalau dulu saya tak bantu kamu, memangnya kamu bisa jadi apa ha?”

Dulu pun, setiap seseorang pamit pergi. Aku selalu dirundung sendu. Apa yang salah padaku? Kenapa dia pergi? Jangan-jangan aku tidak baik, jangan-jangan dia kecewa, dan puluhan jangan-jangan yang lain.

Mungkin juga aku terlalu berlebihan. Setiap orang punya hak dan kehendak. Pergi tak selalu bermakna negatif. Bisa saja dia sedang meniti tangga berikutnya untuk kebahagiannya sendiri.

Paulo Coelho pernah berujar,

“When someone leaves, it’s because someone else is about to arrive.”

Paulo lanjutkan:

“No one loses anyone, because no one owns anyone. That is the true experience of freedom: having the most important thing in the world without owning it.”

Ya…, kita tak perlu merasa kehilangan karena memang sejatinya memang tidak pernah memilikinya. Biarkan ia pergi dengan segala suka. Dunia masih begitu luas untuk kita  menjejakkan langkah masing-masing. Kadang memang perlu beriringan, kadang pula lebih baik berlain arah. Tapi itu tidak penting, yang terpenting justru melangkah dengan benar menuju jalan yang benar juga.

Aku, kamu, dan dia tidak pergi. Kita hanya melangkah dengan arah yang kita yakini benarnya. Maka, saling mendoakan saja agar kita sama-sama kuat.

***

Sumber foto: http://alcfezbook.com

Dawai yang Sumbang

0

PERNAHKAH engkau memetik gitar yang salah satu, atau beberapa, dawainya sumbang? Suaranya pasti mengganggu. Bila tak biasa mengatur senar ke nada yang tepat malah bisa menambah kacau. Senar lain yang tadinya sudah berada di nada yang pas bisa ikut-ikutan terasa sumbang.

Ada yang pernah bilang, menjalankan bisnis itu seperti mencari jodoh. Harus bertemu dengan orang yang tepat karena akan melewati jalan terjal nan berliku.

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menghayati pesan itu. Aku harus melaluinya sendiri, melihat apa yang terjadi di tempat lain, barulah sadar bisnis memang seperti kumpulan dawai gitar yang membangun harmoni.

Dawai-dawai itu memang saling beda. Mereka mengeluarkan nada di frekensi yang berbeda. Jikalaupun ada yang berdentang di nada yang sama, karakter suaranya jelas berbeda. Meski mereka saling berbeda tetapi mampu membangun harmoni. Ada yang menyumbang di frekuensi rendah dan ia setia pada perannya, ada pula senar yang mengambil peran di frekuensi tinggi.

Harmoni menjadi kacau saat ada dawai yang beranjak dari hakikatnya. Ia mengganggu. Hadir bersama dawai-dawai yang lain, tetapi perannya bikin suasana kacau.

Bisnis pun demikian. Tidaklah mungkin membangun bisnis hanya orang seorang saja. Kita akan berpartner. Ntah itu pada tingkatan pemilik, rekan kerja, klien, pemasok, dan yang lainnya. Perlu harmoni yang serasi agar usaha bisa menari memainkan perannya. Seorang sejarawan Romawi, Sallust, pernah menulis “Harmoni mampu membuat hal kecil tumbuh. Sebaliknya, disharmoni membuat hal-hal besar membusuk.” Kukira Sallust ada benarnya dalam hal ini.

Bagaimana dengan dawai yang sumbang tadi? Mengganti dengan dawai baru belum tentu jadi solusi. Mengajaknya turut ke nada fitrahnya pun belum tentu mudah. Justru disitulah letak seninya berbisnis. Tidak semua dawai harus senada, pun ada kalanya satu-dua dawai  tak lagi setia di nada fitrahnya sehingga mengganggu harmoni.

Menyembuhkan dawai yang sumbang butuh pengorbanan. Untuk mengembalikannya, dawai yang lain harus rela dulu diam sejenak. Biarkan sang dawai sumbang meregang atau mengendurkan dirinya menuju keseimbangan. Jika perlu bantuan, dawai lain harus siap membantu. Setelah ia kembali ke posisi terbaiknya, barulah kita siap berharmoni bersama lagi.

Jikapun dawai yang “melenceng” tadi memang sumbang karena sudah uzur, kita harus merelakannya keluar. Bisa jadi kehadirannya di tempat lain lebih mendatangkan faedah.

Wahai dawai yang sumbang, begitu juga yang tak sumbang. Harmoni buruk yang engkau ciptakan ada solusinya: sembuhkan bersama atau sudahlah ganti saja. Bukan gitar yang lantas engkau pecah. Karena gitar itu hanya tempat menampung dan meresonansi tingkah-tingkah kalian.

 ***