HIDUP itu seperti masuk ke ring tinju, begitu wasit mempersilakan para petarung memulai, maka tidak ada jalan mundur kecuali harus siap memukul atau dipukul. Petinju tak pernah berharap lawannya akan memukul manja dan lembut. Ia harus siap bertahan dan menangkis. Sebisa mungkin pukulan lawan tak mendarat telak di bagian tubuh terlemahnya.

Hidup pun begitu. Ada kalanya kita berhasil memukul rencana sehingga membuahkan hasil. Terkadang kita mendapat kemenangan yang gilang gemilang karena sukses memukul dengan KO (knock-down) masalah yang menghadang. Tapi ada masanya pula kita yang harus terkapar tak berdaya karena pukulan yang begitu hebatnya sehingga pertahanan tubuh tak sanggup lagi untuk sekedar menopang berdiri.

Apakah petinju itu tidak takut sebelum naik ke ring? Tentu mereka takut. Untuk tak larut dengan rasa takutnya itu, banyak petinju yang menggunakan strategi tampil garang, jumawa, dan urakan sebelum bertanding. Sebenarnya ia tengah berusaha menguasai ketakutannya. Tapi sialnya, kadang strategi ini malah jadi bumerang baginya karena sang lawan malah tambah semangat untuk menghajar sikap petantang-petenteng itu.

Hiduplah seperti petarung, yang harus menyerang tanpa lupa bertahan. Tak segan memukul tapi tak juga cengeng jika dipukul. Memang tinju itu brutal, sama halnya seperti hidup ini kawan. Kita tak selamanya berada tempat nyaman terus. Ganasnya dunia sesekali akan menemui kita. Saat masa itu tiba “pukul lah” ia. Bertinju tidak hanya pakai tenaga tetapi juga gunakan taktik yang cerdik. Sebab, bila hanya tenaga yang engkau andalkan mudah bagi lawan menanti titik lelahmu lalu menghajar dengan pukulan di rahang sehingga terhempas pingsan.

Beranilah bertinju dengan kehidupan, menang kalah soal nanti.

TINGGALKAN BALASAN