TUJUH tahun lalu terakhir kali saya berkesempatan mendengarkan penuturan Prof. Gede Raka pada sebuah mata acara di ITB. Beliau salah satu guru besar yang punya sinar yang menginspirasi banyak orang. Termasuk saya sendiri.

Saat masih kuliah dulu, saya pernah ikut sebuah seminar di kampus ITB yang salah seorang pembicaranya adalah Prof. Gede Raka. Saya lupa sama sekali judul seminarnya, tapi kenangan dengan Prof. Gede Raka cukup membekas. Saat itu saya ikut menjadi peserta yang bertanya dan sialnya waktu untuk menjawab pertanyaan sudah habis. Apa yang dosen Teknik Industri ini lakukan? Ia datang ke kursi tempat saya duduk dan meminta nomor telepon dan berjanji menjawab pertanyaan tersebut nanti malam melalui telepon.

Benar saja, malam harinya telepon berdering dan yang berada di ujung telepon adalah Prof Gede Raka sendiri. Ia mengulang pertanyaan yang saya ajukan tadi dan menjawab dengan sangat sabar. Sejak saat itu saya mengonfirmasi bahwa dosen ini memang layak menjadi inspirator para pengusaha lulusan ITB.

Berhubung ini bukan cerita mengenai sosok Prof. Gede Raka, maka kesan tersebut saya hentikan saja pembahasannya sampai di sini. Kita balik ke buah pikiran yang ia sampaikan di acara tahun 2014 lalu.

Prof. Gede Raka memulai paparannya dengan sebuah judul presentasi “Jangan Sampai Ketinggalan Kereta Lagi.” Substansi yang ia sampaikan sesungguhnya adalah pandangan beliau untuk membenahi pendidikan di Indonesia agar memiliki dampak terhadap bangsa Indonesia di masa depan. Cukup banyak yang beliau uraikan, tapi pada tulisan ini saya fokus memotret tentang “ketinggalan kereta” yang ia sampaikan sebagai pembuka paparannya.

Ketinggalan Pertama

Ketinggalan kereta pertama kita adalah dengan Korea Selatan. Pada tahun 1962, posisi Indonesia kurang lebih setara dengan Korea Selatan. Baik dari sisi ekonomi, penguasaan teknologi, dan kebudayaan. Sebagai bangsa yang belum lama mengecap kemerdekaan, Indonesia dan Korea Selatan memiliki suasana batin patriotisme yang juga relatif mirip. Sama-sama ingin melaju mengisi kemerdekaannya.

“Kita dulu berada di garis yang sama, dan sekarang coba lihat seberapa jauh kita ketinggalan kereta dengan Korea Selatan?” tanya Prof. Gede Raka retoris. Tujuh tahun setelah Prof. Gede Raka mengajukan pertanyaan itu, Korea Selatan bahkan sudah lebih jauh meninggalkan Indonesia.

Menurutnya, Korea Selatan bisa meninggalkan Indonesia karena mereka berhasil memelihara sikap patriotisme tersebut secara nasional. Dengan sadar dan secara sengaja, Korea Selatan memelihara dan bahkan mengembangkan api patriotisme masyarakatnya untuk kemajuan bangsa.

Prof. Gede Raka menuturkan saat ia berkunjung ke Korea Selatan, Presiden Korea Institute for International Economic Policy (KIEP) menyampaikan bahwa nilai patriotisme adalah semangat bersama yang menjiwai pengembangan kebijakan ekonomi dan teknologi yang Korea Selatan. Ia menambahkan nilai patriotisme itu sama persis dengan yang kita miliki di tahun 1960an dulu. Saat itu Indonesia masih berani dan berapi-api ingin menunjukkan diri di pentas dunia. Indonesia menjadi negara terdepan yang begitu garang menyuntikkan semangat kepada negara-negara Asia-Afrika untuk menentukan nasib bangsanya dan terlepas dari segala bentuk penjajahan. Malah, kala itu Indonesia berani berkata lantang kepada Amerika yang merayu-rayu Indonesia untuk menanamkan pengaruh di sini “go to hell with yout aid.”

Entah mengapa kini Indonesia malah semakin merasa nyaman dan kehilangan nilai-nilai patriotismenya. Sedangkan Korea Selatan terus memelihara itu. Prof. Gede Raka melanjutkan penuturannya, Korea Selatan di era sekarang masih memelihara semangat untuk tidak mau lagi dijajah oleh Jepang. Penjajahan bukan saja dalam pengertian pendudukan suatu negara atas negara lain, menjadi negara di bayang-bayang Jepang saja tetap mereka anggap sebagai sebuah penjajahan. Oleh karena itu, Korea Selatan melandasi kebijakan pembangunan negara dengan sebuah motivasi besar yaitu mereka tidak mau tunduk kepada negara manapun. Mereka bertekad harus menjadi bangsa yang berdikari dan bisa mempengaruhi dunia.

Hasilnya, Korea Selatan berhasil menjadi negara yang bisa memberdayakan ekonominya dari kumpulan kapabilitas kolektif masyarakatnya. Dengan cetak biru dan peta jalan yang jelas, Korea Selatan menjadi negara yang pengembangan teknologinya nyaris sejajar dengan negara maju lainnya. Menariknya, pengembangan teknologi Korea Selatan selalu berasal dari kebijakan pengembangan teknologi militer. Ratusan paten teknologi telepon pintar yang Samsung kembangkan dan kita rasakan sampai saat ini, dapat dilacak semuanya berasal dari pengembangan teknologi militer Korea Selatan. Militer di sana bukan saja sebagai garda penjaga kedaulatan kata Prof. Gede Raka tapi merekalah konduktor pengembangan teknologi Korea Selatan.

Pemerintahnya sangat memproteksi iklim pengembangan teknologi dan ekonomi Korea Selatan. Meski terkesan sebagai negara penganut ekonomi liberalis, Korea Selatan sesungguhnya sangat memproteksi industri lokal mereka. Merk luar negeri memang tidak dilarang, tapi baik pemerintah maupun masyarakatnya sudah seperti punya suara yang sama bahwa merk lokal harus diutamakan. Jiwa patriotisme mereka dikembangkan ke arah ini. Prof Gede Raka bercerita di Korea Selatan saat itu orang membeli rokok merk luar negeri bisa dilaporkan karena dianggap sebagai penghianatan. Mobil Honda yang menjamur di Indonesia, di Korea Selatan tak begitu diminati. Restoran lokal lebih diakui dari pada merk global seperti KFC dan McD.

Prof Gede Raka mencuplik dialognya dengan President KIEP.

Prof. Gede Raka: “Apakah benar Korea Selatan maju karena bersedia mengikuti angin global dengan kebijakan free market?

Presiden KIEP: “No.., di luar negeri kami memang meminta free market, tetapi di dalam negeri kami memiliki pemerintah yang sangat keras kepala. Untuk menghidupkan UMKM, pemerintah mengeluarkan regulasi-regulasi agar UMKM tersebut terlindungi.”

Ketinggalan Kedua

Kita ketinggalan kereta juga dengan China. Masih di tahun 1960-an, China jauh berada di bawah Indonesia. Revolusi Kebudayaan yang berlangsung di dekade 60-an dan 70-an membuat China babak belur. Tapi begitu ada kesempatan untuk membangun kembali, mereka berhasil bangkit.

Dengan ideologi negara yang cenderung tidak kompatibel dengan negara maju negara lain di dunia, China seolah tidak punya kesempatan untuk maju. Apalagi saat itu ideologi komunis sedang mengalami masa surutnya. Tapi China mengambil langkah berani untuk berdamai dengan sistem global tanpa melepas ideologi negaranya. Mereka melakukan addjustment untuk bisa fit dengan negara-negara lain mengejar ketertinggalannya.

Strategi yang China tempuh memang sedikit berbeda dengan Korea Selatan. Tapi menurut Prof Gede Raka, lagi-lagi kuncinya masih sama yaitu memelihara sikap patriotisme. Sebagai negara yang menganut ideologi sentral, China lebih mudah mengarahkan penduduknya untuk berjalan di rel strategi yang mereka tetapkan. Pendidikan dibenahi, anak-anak muda didorong sekolah sebanyak-banyaknya ke luar negeri, dan aspek governance bernegara mereka rapikan. Hal ini kita kenal dengan sikap tegas China menghukum berat penyelenggara negara yang korupsi. Banyak di antara mereka yang dihukum mati.

China malah lebih ekstrem menunjukkan keberpihakannya kepada industri dalam negeri. Untuk mampu bersaing dengan negara lain, negara bersedia membebaskan pajak dan bahkan menalangi kerugian industri agar mereka tetap tumbuh. Keberpihakan ini membuat industri China yang tadinya tidak kompetitif beralih menjadi industri yang mampu menggulung industri yang sejenis di negara lain. Jumlah penduduknya banyak, berarti pasarnya terbuka besar. Sumber daya produksi mereka berupa tenaga kerja hampir tak terbatas.

China menerapkan strategi menjadi dapur dunia, tempat “memasak” semua kebutuhan masyakarat global. Meski di tahap awal mereka harus berdarah-darah mempertahankan kemampuan dalam negeri untuk menjadi dapur dunia, akhirnya strategi ini membuahkan hasil karena industri lain di berbagai negara tak mampu bersaing dengan China. Pabrik-pabrik di negera lain pada gulung tikar karena tak mampu bersaing dengan pabrik China, terutama dari sisi harga. Ada yang juga yang memindahkan pabrik-pabriknya ke China agar tetap kompetitif. Dalam waktu yang cukup singkat, China berhasil membayangi Amerika Serikat sebagai negara adidaya dalam hal ekonomi dan kapasitas teknologi mereka.

Ketinggalan Ketiga

Saat itu (2014) Prof. Gede Raka memproyeksikan Indonesia akan kembali ketinggalan kereta dari Vietnam. Saya heran, kenapa bukan Singapura, Thailand, atau Malaysia? Prof. Gede Raka menceritakan dari kunjungan-kunjungannya ke beberapa negara tetangga, Vietnam menunjukkan ciri yang sama dengan Korea Selatan dan China. Mereka memang masih banyak PR dalam hal governance karena suap dan korupsi masih lebih parah dibandingkan Indonesia. Tapi sebagai sebuah negara, mereka punya nilai patriotisme yang mirip dengan Korea Selatan dan China. Ini yang akan mengangkat mereka dan melesat lebih maju.

Saat itu Prof. Gede Raka memang masih menerawang. Ia mengatakan, “Kita jangan sampai ketinggalan kereta lagi. Vietnam dan Indonesia seperti kondisi tahun 1960-an dengan China dan Korea Selatan. Dulu kita setara, sekarang sudah tak layak dibandingkan-bandingkan lagi,” ia mewanti-wanti. Ternyata, empat tahun kemudian (2018) Kepala Bappenas mengonfirmasi terawangan Prof. Gede Raka ini. Vietnam menjadi negara yang tengah melaju dan melesat, mereka sudah mulai dadah-dadah meninggalkan Indonesia.

Mendengar penuturan Prof. Gede Raka tujuh tahun silam itu seolah membuka mata saya, kita selama ini kita ternyata sangat nyaman dengan ketidak-berdayaan. Untuk mengembalikan nilai-nilai patriotisme bersama, yang menurut Prof. Gede Raka merupakan fondasi paling penting, semakin sumir saja. Kita malah lebih asyik bertempur ejek-ejekan karena berbeda haluan politik sehingga meruntuhkan kemampuan produktif berbangsa & bernegara. Duh

BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaCurhat Seorang Pegawai
Tulisan berikutnyaHukuman bagi Pembohong

TINGGALKAN BALASAN