PERNAH, seorang junior menyapa lewat aplikasi pesan instan. Ia menceritakan rencana hidupnya yang menurutku terlalu ambisius. Aku sedikit paham kapasitasnya. Impian seperti itu terlalu tinggi untuk orang sepertia dia. Daya dukung dari lingkungan sekitarnya juga tak akan sanggup mencapai target yang ia sampaikan.

Aku coba untuk menanggapi sewajarnya saja. Sejujurnya hati kecil berkata, “anak ini terlalu percaya diri dan termakan impian yang terlalu besar untuknya.” Saat itu aku sampaikan padanya bahwa cita-citanya itu bagus, tetapi sepertinya sulit terwujud. Berbagai alasan aku sampaikan padanya untuk tidak coba-coba dengan masa depan. Yang realistis sajalah. Sesuaikan dengan kapasitas diri. Bermimpi memang harus tinggi, tapi juga tidak muluk-muluk.

Diskusi yang terjadi sebenarnya cukup panjang. Aku tak sabar untuk memadamkan api di dadanya yang suatu saat bisa-bisa akan membakar habis dirinya. Tapi aku khawatir membuatnya sakit hati. Selepas diskusi berakhir, ia mengirimkan rencana besarnya itu lewat email. Aku baca cepat lampiran yang tertanam di emailnya. “Sial…, ini lebih absurd lagi ternyata.” Benar-benar di luar kemampuannya yang masih “bocah”.

Aku balas emailnya dengan mengungkapkan beberapa butir keraguanku dengan ide tersebut. Aku sampaikan beberapa petuah agar dia lebih realistis lagi. Email itu berbalas beberapa hari kemudian. Ia sampaikan terima kasih tetapi terlihat rasa bahasa yang agak kecewa karena ia sebenarnya ingin didukung bukan dikritik. Tapi aku tak ambil pusing. Kebenaran memang kadang harus disampaikan meski pahit rasanya.

Tiga tahun berselang, aku melihatnya tampil di televisi dengan ide “aneh”-nya lagi. Tapi kali ini dengan versi telah terwujud. Tetiba aku merasa malu sendiri. Aku meragukan sepenuhnya impian itu, tapi kini dia berdiri di sana dengan bukti nyata.

Aku buru-buru sampaikan selamat padanya lewat pesan instan lagi. Ia membalas dengan ucapan terima kasih, terutama sudah pernah memberikan masukan berharga. Aku bilang dulu sangat meragukan idenya itu dan sepertinya tidak ada masukan berarti yang aku berikan untuknya. Jadi, pencapaian itu benar-benar miliknya sendiri.

“Justru keraguan itu yang membuat saya bersemangat untuk membuktikan bahwa itu semua salah,” ungkapnya.

Deg…, aku tertohok. “You got me!”

Skeptis, betapapun negatifnya ia memang sering kali justru jadi pengungkit. Kita memang senang mendapat pujian dan dukungan. Semua orang senang dipuji bukan? Malah banyak yang menuhankan pujian. Banyak yang jatuh saat diragukan, dicemooh, atau bahkan direndahkan. Tapi para petarung menjadikan itu sebagai bahan bakar menyalakan semangat dan persisten dalam dirinya. Aku sadar bahwa orang yang aku kira “bocah” ini ternyata telah tumbuh menjadi seorang petarung.

Sikap skeptis (scepticism) sesungguhnya punya peran penting dalam sejarah peradaban manusia. Sejak zaman Yunani kuno, Descartes misalnya mempopulerkan aliran skeptis dalam berpikir. Jangan terima begitu saja apa yang ada saat ini. Semuanya layak diragukan. Dari sinilah lahir cara berpikir yang kritis dan terbuka yang kelak menjadi akar budaya ilmiah. “Aku berpikir, maka aku ada” inilah sikap skeptis pada awalnya.

Setelah aku renungkan, dalam perjalanan hidupku ternyata banyak juga episode kemenangan yang berawal dari penolakan dan keraguan orang lain. Rasa tak percaya itu selalu melayang dekat di atas ubun-ubun. Sebelum berhasil membuktikan mereka salah dengan skeptisnya itu, aku tak akan berhenti.

Meluncurkan sikap skeptis yang berbuah manis memang tidak cocok untuk semua orang. Ada kalanya malah membuatnya benar-benar terpuruk dan berakhir buruk. Tapi bagi orang tertentu itulah daya pengungkitnya. Untuk kita, jangan jatuh dengan rasa ragu dan ungkapan tak percaya orang lain. Itu bagus, membuat kita hati-hati sekaligus bara di dada tetap menyala untuk mewujudkannya. Tinggal pilih, skeptis orang lain kita gunakan sebagai daya pengungkit atau tembok penghalang maju.

Photo credit nakaridore – www.freepik.com

LEAVE A REPLY