PERNAH, saat naik travel dari Bandung ke Jakarta ada seorang penumpang yang duduk di sebelah menunjukkan perilaku yang menyebalkan. Sebelum duduk dia sibuk membersihkan kursinya terlebih menggunakan tisu basah sambil mengomel bergumam ketus. Penumpang lain yang antri di belakangnya harus menunggu wanita yang berusia atas 40 tahun ini selesai menjalankan ritual paranoia-nya. Ia menggunakan kaca mata hitam, pakai masker, dan memiliki gestur tak bersahabat.

Tiga puluh menit sekali ia menyemprotkan cairan antiseptik ke telapak tangannya. Tatapan matanya senantiasa curiga seolah kami ini adalah sumber penyakit yang tercela. “Paranoid benar orang ini,” batinku. Ia menderita ketakukan berlebihan atas sesuatu yang merisaukan hatinya. Atau, dia terlalu mengimani kalau dunia ini dipenuhi kuman-kuman berbahaya.

Pernah lagi, satu pesawat dengan seorang publik figur. Sejak masuk bandara keberangkatan hingga tiba di bandara tujuan ia tak melepas sama sekali maskernya. Belakangan baru paham bahwa masker, kacamata hitam, dan topi adalah senjata ampuh untuk samaran para publik figur agar ia tidak disapa orang-orang yang mengenalnya. Kita yang bukan pesohor mudah saja menjalani kehidupan di tempat publik, santai jalan kesana kemari tanpa terganggu dan terbebani. Kalaupun diganggu di jalanan, sudah pasti pengganggu kita adalah penjahat. Tapi, bagi publik figur semua orang adalah pengganggu. Orang baik baginya juga para pengganggu. Harus mau diajak foto bersama jika tidak ingin dituduh sombong. Harus pasang senyum di setiap momen jepretan itu benar-benar menguras energi kata mereka. Belum lagi kalau diserang para wartawan dengan jepretan lampu kilat kameranya serta pertanyaan menyebalkan.

Perilaku yang dulunya hanya dilakukan penyandang ketakutan berlebihan ini alias paranoid, kini justru menjadi budaya yang harus kita ikuti. Kemana-mana wajib pakai masker, jangan salaman dengan orang lain, tidak boleh dekat-dekat, bicara seperlunya saja tidak perlu umbar obrolan dengan orang banyak. Serius…, dulu hanya orang paranoid yang melakukan itu bukan? Sekarang mereka memetik kemenangan bahwa apa yang mereka lakukan dulu adalah sebuah kebenaran yang harus diikuti orang kebanyakan.

Pelajarannya, jangan menjatuhkan penilaian aneh dulu terhadap perilaku orang-orang minor. Bisa saja suatu saat kita yang sebel dengan perilaku itu malah wajib mengikutinya. Di masa awal telepon genggam mulai menginvasi cara manusia berkomunikasi, lihatlah keanehan mereka. Ngobrol sendirian sambil jalan berputar-putar seperti orang gila. Sekarang, kita semua menjadi gila per defenisi masa itu.

Dunia memang terus bergerak dari satu simpul kenormalan menuju simpul kenormalan lainnya. Yang penting kita tetap menjaga kewarasan dan akal sehat. Penasaran ingin melihat, pergeseran apa yang akan terjadi sepuluh tahun dari sekarang.

Photo by SJ . on Unsplash

LEAVE A REPLY