SALAH SATU sumber kepusingan seorang pengusaha adalah saat menghadapi tipisnya cadangan dana lancar. Apalagi jika sudah mendekati tanggalnya gajian. Saya yakin, pengusaha yang pernah mengalami halnya akan setuju dengan kondisi ini.

Betapa risaunya hati ini bila berbagai tagihan sudah mulai masuk sementara dana yang tersedia kian menipis dan tagihan ke klien masih perlu waktu untuk realisasi pencairan. Terlebih, saat pembayaran gaji karyawan menjelang waktunya, rasanya sedih sekali membayangkan kalau gaji mereka terlambat dibayarkan bagaimana kondisi mereka? Tidak setiap orang punya tabungan yang memadai sebagai cadangan. Sebagian malah hanya mampu hidup dari tanggal muda ke tanggal muda berikutnya dengan terseok-seok.

Saya pernah dengan terpaksa memundurkan tanggal gajian kepada karyawan karena memang telah kehabisan jurus untuk melancarkan persediaan kas. Saat itu terjadi, saya malu luar biasa kepada diri sendiri. Kewajiban karyawan adalah melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka telah melakukan itu, dan tiba giliran saya untuk menunaikan kewajiban malah saya tak mampu.

Perihal menipisnya dana lancar ini sudah menjadi hal yang kerap saya alami. Bukan sekali atau dua kali. Saat pertama kali menghadapinya saya sempat frustrasi. Kondisi keuangan diri sendiri saja belum stabil, saya harus bergulat mengamankan rezeki orang lain. Malah, harus mengorbankan dana pribadi terlebih dahulu agar para karyawan tetap “selamat.”

Tapi, karena sudah berkali-kali menghadapinya saya akhirnya belajar untuk tidak terjebak lagi di kubangan yang sama. Solusinya adalah berupaya semaksimal mungkin untuk mengamankan cadangan dana lancar jauh-jauh hari sebelum benar-benar kering. Meskipun begitu, sesekali tetap saja masih bertemu dengan kondisi darurat yang sama. Ya… risiko itu tetap ada.

Sebagai seorang pengusaha–meski masih skala kecil–ada hal yang sangat saya syukuri yaitu saat menjadi penjaga pintu rezeki orang lain. Ketika menyalurkan hak para karyawan berupa gaji, ada perasaan haru karena Allah berkenan memberi kesempatan untuk menjaga pintu rezeki bagi mereka. Itu sebabnya saya tidak pernah menggunakan fasilitas payroll otomatis yang ditawarkan bank. Sebab, saya ingin terus mendapatkan perasaan syukur saat menyalurkan gaji tersebut. Itu memang bukan uang saya, itu hak mereka tapi saya ingin terus menjadi penjaga pintu rezeki mereka.

Jika pun dalam memerankan sebagai penjaga pintu rezeki itu saya harus pontang-panting karena kondisi cash flow sedang kurang sehat, semuanya seolah terbayar saat membayarkan gaji para karyawan.

Seri mentoring bisnis

Photo credit: Filip Kominik on Unsplash

TINGGALKAN BALASAN