KECEWA sudah jadi bagian yang selalu muncul dalam perjalanan hidup kita. Bukan sekali saja, kecewa itu terus datang silih berganti. Kadarnya juga beragam. Mulai dari kecewa biasa saja yang sakitnya berlalu dalam hitungan jam, hingga kecewa berat yang bahkan bisa mengubah kepribadian seseorang.

Rasa kecewa muncul akibat tidak padunya antara harapan dengan kenyataan. Atau, bisa juga antara apa yang kita bayangkan beda jauh dengan yang sesungguhnya terjadi. Umumnya kecewa menyasar objek tertentu. Ada yang kecewa pada pasangan hidup karena tak ia lagi seperti dulu, kecewa dengan lingkungan kerja yang tidak suportif, kecewa pada teman yang sudah dibantu malah berkhianat, malahan ada yang kecewa pada Tuhan karena merasa hidup ini tidak adil baginya. Serta ribuan rentetan kecewa yang bisa kita daftarkan.

Perkembangan diri seorang manusia berbanding lurus dengan kemampuannya menghadapi rasa kecewa. Untuk satu peristiwa yang sama, dua orang bisa merasakan dampak yang berbeda. Boleh jadi karena perbedaan dalam menangani kecewa itu, bisa juga karena ia sudah lebih mampu mengelola diri sehingga begitu kecewa ia tak lagi merasakan efek yang berlebihan.

Namun, kecewa bisa memiliki rute yang berbahaya. Mungkin kita sepele dengan kecewa hanya karena hingga saat ini kita masih mampu melewati kecewa dengan baik. Namun, tetap saja ada kemungkinan kita akan bertemu dengan kecewa yang begitu dahsyat kadarnya. Saat itu terjadi, bisa saja kita malah menempuh rute berbahaya rasa kecewa. Atau, perhatikan orang-orang yang “dulu kita kenal” sekarang berubah drastis, biasanya perubahan itu diawali karena ia menempuh rute bahaya rasa kecewa.

Saat berhadapan dengan kecewa, reaksi pertama kita adalah merasa sedih. Kenapa ini bisa terjadi? Kok ia tega melakukan itu? Apa guna usaha yang saya lakukan selama ini? Saya sudah berbuat tetapi sama sekali tidak dianggap. Dan seterusnya, dan seterusnya. Gap harapan dan kenyataan ini membuat kita sedih. Sesuai kadar kecewanya, ada yang mudah mengatasi kesedihan tersebut ada pula yang butuh waktu lama untuk berdamai dengannya. Inilah rute pertama kecewa yang masih wajar dan memang harus dilalui oleh setiap orang yang sedang kecewa. Apabila ada orang yang mengaku kecewa tetapi tidak merasa sedih, berarti belum sahih kecewa itu menerpa dirinya.

Rute kedua kecewa adalah marah. Hati tak mampu lagi menampung rasa sedih sehingga tumpahannya harus disalurkan dalam bentuk rasa marah. Rute kedua ini bisa dibilang jenis jalan semi berbahaya, walaupun kadar merusaknya jelas lebih besar dari rute pertama tadi. Ada marah akibat kecewa yang daya rusaknya sedikit saja. Tapi bisa juga marah punya dampak negatif berganda. Misalnya, marah kita itu ternyata disambut lagi dengan marah orang lain yang berujung saling merusak satu sama lain.

Untuk rute kedua ini, saya pernah melihat seorang teman yang begitu kecewa karena kekasih pujaan hatinya meminta untuk memutuskan hubungan. Lalu sehari kemudian si pujaan hati malah menjalin hubungan istimewa dengan sahabat baiknya. Rasa sedihnya tak terbendung lagi dan marah pun melingkupi dirinya. Maka, ia temui sahabatnya yang kini jadi kekasih sang mantan. Emosi marah ia luapkan dan kata-kata kasar ia luncurkan. Ia hendak menuntaskan kecewa itu dengan marah tapi ternyata marahnya disambut juga. Akibatnya, si kawan ini berakhir di kamar mayat karena marah bersambut marah sehingga berujung saling menghabisi nyawa.

Jika marah pun belum sanggup meredam kecewa, kita bisa beranjak ke rute ketiga yaitu memberontak. Rute ketiga ini bisa juga ditempuh tanpa melewati rute kedua (marah). Begitu kecewa, rasa sedih datang lalu ia memutuskan untuk memberontak. Rute memberontak ini adalah perlawanan yang dilakukan untuk membalaskan kecewa. Ada dendam di sana yang harus disalurkan dalam bentuk merusak.

Ada beberapa contoh implementasi kecewa di rute ketiga yang pernah saya saksikan.

Di sebuah pabrik sepatu brand terkenal pernah terjadi kekecewan massal terhadap manajemennya. Mereka merasa tak didengar. Sudah demo beberapa kali, tetap saja jajaran manajemen seolah tutup telinga. Mereka merasa tak ubahnya mesin yang tak boleh protes. Sedih sudah pasti, marah sudah disalurkan. Karena juga tak menutup kecewa yang semakin hari semakin membesar, mereka bersepakat untuk menghancurkan perusahaan ini dari dalam. Caranya pada setiap pengiriman sepatu yang ditujukan untuk ekspor, mereka selipkan barang-barang beraroma busuk seperti bangkai kucing, bangkai tikus, atau bahkan kotoran manusia sesaat sebelum produk tersebut disegel. Harapannya, di negara tujuan barang-barang ini akan ditolak dan jika berlangsung berkali-kali akan menurunkan reputasi perusahaan ini. Benar saja, beberapa tahun berselang perusahaan itu gulung tikar karena terlalu banyak menghadapi komplain. Mereka menghancurkan sendiri tempatnya bernaung mencari rezeki. Semua berawal dari kecewa yang tak kunjung reda dan disalurkan dengan menempuh rute ketiga.

Contoh lain, setelah menjalani bahtera rumah tangga belasan tahun, seorang suami menduga istrinya tak lagi setia seperti dulu. Rumah tangganya serasa hambar dan saling curiga. Ia kecewa karena rumah tangga yang ia idamkan harmonis ternyata menjadi rumah yang bikin malas pulang. Ia tak paham lagi bagaimana meredam kecewa karena sedih dan marah telah jadi menu harian. Maka, ia memutuskan menempuh rute ketiga dengan membalaskan praduga tadi. Dari pada tersiksa dengan kondisi yang ada, ia pun menjalin hubungan gelap dengan beberapa wanita. Jadi play boy di usia yang sudah tidak “boy” lagi. Pemberontakan dengan cara “main api” ini berujung pada kerusakan yang jauh lebih berbahaya. Bercerai, anak-anak broken home, kondisi keuangan jatuh drastis, perzinahan jadi ia anggap tak dosa lagi, dan seterusnya. Semua akibat ia menempuh rute ketiga rasa kecewa.

Berbahaya bukan di rute ketiga ini?

Nah… ada lagi rute keempat yaitu menggila. Seseorang yang memendam kecewa, apalagi dalam jangka panjang. Sementara itu, marah dan memberontak tak juga menghilangkan penyakit kecewa di hatinya. Satu-satunya jalan yang paling masuk akal baginya adalah menggila. Jika pada rute ketiga (memberontak), ia merusak dan merugikan orang lain. Pada rute ini, ia malah merusak diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang tak masuk akal. Menyakiti diri sendiri, lari ke obat-obatan candu, meraung-raung di media sosial secara membabi-buta, dan banyak bentuk kegilaan lainnya. Rute ini adalah manifestasi kecewa yang paling puncak. Ketika seseorang merasa sudah tidak punya cara lagi untuk meredam kecewanya.

Itulah empat rute berbahaya rasa kecewa, khusunya di rute ketiga (memberontak) dan keempat (menggila). Berbahaya karena dampak lanjutannya jauh lebih merugikan daripada kecewa itu sendiri. Begitu memasuki rute ketiga dan keempat, kecewa itu berubah dari tadinya hanya sekedar sebuah batu sandungan dalam hidup menjadi energi yang terus membakar agar kita terus menerus berada di rute bahaya. Lihatlah mereka yang ada di rute ketiga dan keempat, kecewa yang terpendam akan menjadi daftar pertama alasan kenapa ia melakukan itu semua.

Lantas apa yang harus dilakukan? Mengutip Justin Arocho, Ph.D, dari Manhattan Center for Cognitive-Behavioral Therapy di New York, setidaknya ada dua strategi yang dapat kita latih untuk menangani kecewa.

Pertama adalah mengelola kecewa sejak awal. Berhubung kecewa adalah bentuk ketidaksinkronan harapan dengan kenyataan, maka sejak awal yang dikelola adalah harapan atau ekspektasi ini. Harapan memang energi untuk membuat kita optimis menjalani hidup. Tetapi espektasi yang statis akan meningkatkan peluang berbuah kecewa. Jadi, pada saat memiliki sebuah harapan selalu siapkan kemungkinan terburuk dan apa yang akan kita lakukan jika itu yang terjadi. Saat semuanya belum menjadi kenyataan, kita masih bisa berpikir dengan lebih jernih. Berbeda jika sudah terjadi, gap antara kenyataan dan harapan yang statis tadi lebih sulit untuk diselaraskan.

Kedua, berlatih untuk menyambut kecewa. Kita harus mengenali mekanisme koping (coping mechanism) yang sesuai untuk diri kita. Mekanisme koping adalah cara seseorang menghadapi situasi berat yang berpotensi menimbulkan luka batin. Menurut Justin, dalam menghadapi kecewa, mekanisme koping merupakan proses penyembuhan oleh diri sendiri agar tidak terjebak dalam lingkaran kecewa. Benar bahwa kecewa itu berat, tetapi kita harus mampu tetap ada di rute pertama tadi (rasa sedih) dan selesai di situ. Jangan beranjak ke rute-rute berikutnya.

Kecewa boleh saja menghampiri, tapi kini kita harus lebih siap menghadapinya. Bukan begitu? []

Kredit foto: Maksym Kaharlytskyi on Unsplash

TINGGALKAN BALASAN