MARCUS AURELIUS adalah salah satu kaisar besar Romawi yang “terpaksa” menjadi kaisar di usia remajanya. Ia jatuh cinta pada buku, tapi sejak muda belia ia harus menanggung tanggung jawab besar. 

Ia asyik masyuk dengan kumpulan bukunya hingga larut malam dan selalu tidur telat. Akibatnya, Marcus punya kesulitan bangun pagi. Marcus biasanya baru bangun ketika matahari sudah sedemikian terangnya. Agenda di istana terpaksa digeser ke siang hari karena sang kaisar tak bisa hadir kalau dijadwalkan pagi hari.

Marcus sebenarnya ingin sekali bisa bangun pagi, seperti kebanyakan orang. Tapi baginya, kebiasaan bangun siang sulit betul ia terabas. O ya, Marcus juga punya banyak persoalan hidup. Mungkin karena usianya yang masih belia dan mendapat tanggung jawab yang begitu besar, akhirnya Marcus menjadi pribadi yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.

Sadar akan begitu banyak kekurangan, Marcus pun membuat catatan khusus sebagai pengingat diri. Ia dibantu oleh ajudannya untuk membuat catatan pengingat supaya Marcus bisa memperbaiki dirinya dari hari ke hari, berdasarkan perenungannya. Mungkin ini semacam diari sekaligus notifikasi. 

Catatan harian Marcus ini kelak dijadikan buku berjudul “Meditation”, yang sedari awal bukan untuk dipublikasikan. Melainkan catatan pengingat dirinya sendiri. Buku ini masih dibaca banyak orang hingga saat ini. Sebuah buku kontemplatif yang sarat makna.

Dari sekian banyak topik yang ada dalam buku ini, salah satu topik terkesan remeh tapi penuh hikmah adalah tentang sulitnya Marcus bangun pagi tadi. Banyak pengulas yang memberi istilah topik ini “The Great Bed Question.”

Menarik cara Marcus memahami problem sederhana sulit bangun pagi. Bagi yang biasa bangun pagi, catatan Marcus ini menjadi tak relevan. Tapi bagi yang pernah kesulitan bisa bangun sendiri di pagi hari, apa yang Marcus resahkan akan terasa begitu nyata. Ia tak memberikan pembenaran bahwa seorang kaisar boleh saja bangun siang. Marcus menggali jawaban “kenapa sih harus bangun pagi?”

Dari proses menggali itu, Marcus akhirnya tiba pada satu kesimpulan menarik. Bangun pagi bukanlah kewajiban, tapi tugas diri. Tugas menjadi manusia, katanya. Marcus membedakan makna kewajiban (obligation) dengan tugas (duty). Kewajiban, katanya adalah tuntutan yang berasal dari luar. Sedangkan tugas berasal dari dirimu sendiri, sebagai seorang manusia. Bila ada orang yang merasa tidak punya tugas sebagai manusia, maka ia bukanlah manusia yang sesungguhnya. 

Jadi kata Marcus, seseorang akan merasa bahagia bila memasukkan to do list hariannya dalam kategori tugas karena energi untuk menuntaskannya berasal dari diri sendiri. Sedangkan bila masuk dalam kategori kewajiban, sisi kemanusiaannya akan tercerabut.

Apakah Marcus akhirnya berhasil bisa bangun pagi? Mungkin ada jawaban di bukunya itu.

BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaRute Berbahaya Rasa Kecewa

TINGGALKAN BALASAN