SEMINGGU sebelum bulan ramadhan tiba, rumah kami kedatangan tamu. Seekor kucing liar meninggalkan tiga ekor anaknya yang baru lahir di belakang rumah. Ketiga anak kucing ini begitu menggemaskan. Bulunya tebal dan tampak sehat. Setiap induknya datang, mereka bertingkah lucu. Loncat ke sana kemari, bermain lincah seperti kebanyakan anak kucing yang menggemaskan. Begitu sang induknya pergi, mereka tertib mengikuti prosedur induknya untuk bersembunyi.

Sang induk kucing adalah kucing liar yang sudah lama berkeliaran di depan rumah. Kami sering meletakkan sisa makanan di depan rumah dan dia adalah kucing liar langganan yang menyantap makanan itu saban hari. Tapi, sebagai kucing liar dia begitu galak. Di balik wajahnya yang polos, kucing ini tak boleh didekati apalagi disentuh. Setiap kita mendekatinya, ia langsung memasang sistem pertahanan diri sebagai pertanda ia tak ingin menjadi kucing rumahan.

Maka, kedatangan kucing liar ini dan menitipkan anak-anaknya di belakang rumah kami ini sebuah peristiwa istimewa. Di samping anaknya yang memang super menggemaskan, sang induk juga mendadak jadi rajin keluar masuk rumah. Ia meninggalkan anak-anak di belakang rumah ketika mencari makan ke tempat lain. Beberapa kali dalam sehari ia mengunjungi anak-anaknya yang menuntut disusui.

Setiap masuk ke rumah, kucing liar itu tetap waspada. Biasanya ia hanya masuk rumah jika di dapur ada benda yang “layak untuk ia curi”. Kami memang sering kehilangan lauk di dapur dan tersangka utamanya ya.. si kucing liar ini. Tapi sekarang ia jadi rutin keluar masuk rumah tapi dengan agenda yang sama sekali berbeda. Ia tak mencuri ikan lagi. Tapi mencuri hati kami karena peristiwa ia memanggil anak-anaknya untuk menyusu benar-benar mengharukan. Anaknya berlari-lari gembira keluar dari persembunyiannya begitu sang induk mengeong khas memanggil anaknya. Kami hanya melihat tingkah anak dan induk kucing itu dari dalam rumah dan mempersilakan mereka menikmati masa-masa emasnya.

Kami memang berharap jika sudah melewati masa menyusui, anak-anak kucing itu biarlah tinggal di rumah saja dan menjadi kucing peliharaan yang terjamin makanan dan perawatannya. Tapi jikapun mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi kucing liar, ya… tidak mengapa juga.

Mendadak, perasaan hangat karena kehadiran tiga tamu bayi kucing berubah menjadi horor. Saat pulang kerja saya mendapat laporan dari anak-anak kalau seekor kucing berwarna hitam dengan kalung penanda di lehernya telah membunuh ketiga anak kucing itu. Saat si induk kucing pergi mencari makan ke sana kemari, datanglah seekor kucing psikopat yang selama beberapa hari terakhir memang saya lihat kerap hilir mudik. Entah siapa yang punya kucing hitam itu. Tapi dari kalung yang menggantung di lehernya dan bulunya yang terlihat bersih terawat, ia adalah kucing rumahan yang tentu saja dikasih makan oleh sang empunya.

Tapi sore itu, si kucing hitam datang ke halaman belakang rumah kami. Ia mengendap-endap dan begitu menemukan tempat persembunyian tiga anak kucing yang lucu dan menggemaskan itu, ia langsung membunuhnya dengan brutal. Seekor anak kucing bahkan kepala dan tubuhnya sampai terlepas.

Usai menjalankan aksi pembataiannya, si kucing hitam nan psikopat itu pergi kabur. Tak lama berselang, sang induk kucing datang memanggil-manggil anaknya untuk merapat ke pelukannya. Tapi anaknya sudah tak lagi bernyawa. Sore itu saya lihat sendiri, sang induk menggotong satu persatu mayat anaknya keluar rumah. Entah mau dibawa kemana mayat bayinya itu. Darahnya berceceran mengikuti jejak sang induk kucing dari halaman belakang rumah hingga pintu depan rumah. Sebuah pemandangan mengerikan, menyesakkan hati, dan mengundang titik-titik air mata.

Esok harinya saya masih melihat si induk kucing masuk lagi ke rumah dan menuju halaman belakang. Lagi, ia memanggil-manggil anaknya. Agaknya ia lupa ingatan kalau kemarin dia sendiri yang membawa mayat anaknya dan sekarang ketiga anaknya tidak ada lagi. Selang beberapa hari, ia tetap melakukan hal yang sama. Seolah anak-anaknya masih ada. Saya ingin sekali memeluk dan mengelusnya untuk menguatkan hati si kucing. Khawatir ia jatuh depresi karena peristiwa tragis itu. Tapi apa daya, ia kucing liar yang didekati saja sudah memasang jurus pertahanan diri.

Pagi, siang, hingga malam sang induk kucing masih saja hilir mudik mencari anaknya ke tempat biasa dengan suara yang kian lirih. Sedih jadi terasa awet karena perilaku sang induk kucing yang kehilangan buah hatinya itu.

Saya tak habis pikir, kenapa ada kucing yang sesadis itu? Setelah baca-baca di internet ternyata fenomena kucing yang memangsa anak kucing bukanlah hal yang aneh. Mereka terlihat sebagai makhluk yang menggemaskan, tetapi juga tetap memiliki insting hewani yang benar-benar hewan banget. Dasar kucing psikopat, saya jadi merasa bersalah dibuatnya karena tidak menyediakan tempat khusus untuk anak kucing itu berlindung.

BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaMementingkan yang Bukan Prioritas

TINGGALKAN BALASAN