SETIAP berhadapan dengan menu makanan di restoran atau tempat makan pinggir jalan, jika terdapat pilihan cumi-cumi hampir dapat dipastikan saya selalu memilih cumi-cumi. Nasi goreng cumi, cumi asam manis, cumi saos padang, cumi goreng, kangkung cah cumi, apapun yang mengandung cumi dia lah yang bakal terpilih. Padahal, semasa kecil saya termasuk orang yang tidak suka makan cumi-cumi. Lantas kenapa sekarang kok malah doyan dengan cumi-cumi?

Ada yang bilang, berubahnya sikap seseorang pasti ada suatu peristiwa yang jadi latar-belakangnya. Bukan peristiwa biasa, tetapi peristiwa yang membekas di batinnya. Begitu juga dengan saya dan cumi-cumi, ada peristiwa yang membuat saya akhirnya menggandrungi cumi-cumi sebagai makanan.

Semasa sekolah dulu saya pernah tinggal menumpang di saudara yang juga ia tengah menumpang di rumah orang lain. Jadi saya adalah penumpang kuadrat, ikut menumpang di tempat orang yang juga sedang menumpang.

Sejak kecil saya selalu diajarkan etika menumpang. Jika kita sebagai penumpang, harus pandai-pandai menempatkan diri. Jangan menjadi orang yang menyebalkan, harus ringan tangan. Intinya harus tahu dirilah. Meskipun kita tidak diminta untuk bebersih rumah, sebagai orang yang menumpang kita harus kerjakan itu semua. Numpang itu beda dengan sewa. Penumpang ikut serta tapi gratisan, sedangkan penyewa punya effort lebih dengan mengeluarkan dana.

Pemilik rumah tempat saya menumpang kuadrat itu setiap akhir pekan biasanya berkumpul dengan sanak-saudaranya. Saya sebagai orang yang menumpang mencoba menjaga etika tadi dengan membatasi ruang gerak diri sendiri. Saya biasanya berdiam di dapur saja. Kalau ada piring, gelas, dan peralatan lain yang masuk ke dapur karena sudah kotor, saya langsung cekatan menyucinya.

Saya tidak berani ikut bergabung ke ruang tengah karena khawatir mengganggu kenyamanan si pemilik rumah. Saya hanya seorang yang menumpang di sana. Bukan anggota keluarga, tidak membayar untuk tinggal, jadi saya tak hendak menjadi duri bagi mereka.

Suatu ketika mereka berkumpul lebih ramai dan saya masih dengan mode siaga di dapur. Saya hanya mendengar riuh rendah perbincangan dan gelak tawa keluarga besar itu. Bapak-bapak berdiskusi dengan suara berat. Ibu-ibu cekikikan satu sama lain karena perbincangan mereka yang tampak lebih seru dari kelompok bapak-bapak. Anak-anak lebih heboh lagi, mereka teriak-teriak rebutan mainan. Ada yang ketawa-ketawa berkejaran. Yang sudah remaja justru berdiam diri karena merasa bukan anak-anak lagi tapi masih canggung bergabung dengan orang dewasa.

Lalu saya hanya duduk saja di dapur dan berharap tak ada orang yang menyadari keberadaan saya. Sebab, jadinya serba salah jika ada yang melihat. Kadang dianggap pembantu, suatu ketika malah dipelototi karena dikira anak gembel salah masuk rumah. Pernah juga diinterogasi dengan rentetan pertanyaan karena yang bersangkutan heran dengan keberadaan saya di rumah itu. Jadi saya selalu berharap tidak pernah ada yang melihat. Andaikan saat itu ada yang membuka kursus cara menghilang dari pandangan orang, saya akan bergabung untuk belajar ilmu kanuragannya.

Siang itu mereka memesan makanan dari sebuah restoran terkenal di kota tempat saya menumpang. Sebuah restoran mahal yang hanya bisa dikunjungi mereka yang tak peduli lagi besok makan apa karena penghasilannya sudah menjamin makan sehari-hari hingga setahun ke depan. Saya selalu bermimpi suatu hari nanti bisa makan di restoran itu setiap lewat dari depannya. Makannya pasti enak sekali, pasti berbeda dengan apa yang saya makan sehari-hari. Ah… sampai hari ini air liur saya otomatis berkumpul kalau mengingat restoran itu meski tak pernah menjejakkan kaki ke sana.

Menjelang jam 3 sore piring-piring kotor mulai berdatangan ke dapur. Berarti saya harus segera berdinas membereskannya sampai bersih kembali. Terus terang, saya ingin sekali ikut bergabung dengan keseruan makan siang keluarga besar itu. Aroma makanan dari restoran impian begitu menggoda. Tapi saya tetap bertahan menjaga prinsip dan etika para penumpang. “Jangan gegabah dan melampaui batas!” itu kalimat yang terus saya ulang-ulang agar tidak tergoda. Tapi perut tak bisa dibohongi. Ia meronta kelaparan akibat aroma wangi makanan yang menggugah. Akhirnya saya makan nasi dengan lauk seadanya yang setiap hari kami makan sambil membayangkan ikut serta dengan keseruan makan di tengah keluarga besar itu.

Ketika suara mulai sepi karena tamu sudah pada pamit pulang. Beberapa kotak sisa makanan diantar ke dapur. “Sisa makanan ini tolong dibuang ke tempat sampah ya!” perintah pemilik rumah kepada saya. Saya melongok ke tumpukan kotak makanan. Di sana masih banyak sisa makanan utuh yang belum tersentuh. Termasuk seporsi cumi goreng tepung yang masih dalam kemasannya.

Entah kenapa, saya sedikit membangkang dari perintah pemilik rumah. Seporsi cumi-cumi saya simpan di laci dapur dan sisanya saya buang ke tempat sampai sesuai instruksi. Malam harinya, cumi-cumi itu saya keluarkan dari laci dan saya makan bersama nasi hangat yang baru ditanak. Amboi…. betapa lezatnya cumi-cumi itu. Saya sampai menitikkan air mata mengunyahnya. Padahal saya tak pernah mencicipi cumi-cumi. Gurih dan lembutnya cumi-cumi itu terasa mewah di lidah. Saya makan dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir ketahuan.

Sejak saat itu saya memutuskan untuk bersahabat dengan cumi-cumi dan mendaulatnya sebagai makanan favorit. Sebuah perkenalan istimewa dengan cumi-cumi sisa panganan yang tak dimakan. Melahapnya diam-diam dan langsung jatuh cinta padanya di gigitan pertama.

Begitulah kisah perkenalan rasa antara aku dan cumi-cumi yang terus membekas hingga sekarang.

BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaKucing Psikopat
Tulisan berikutnyaKita adalah Apa yang Kita Cari

TINGGALKAN BALASAN