Belajar Gigih dari Aden edCoustics

0

SAAT mengantarkan Deden ke peristirahatan terakhirnya, aku tak kuasa menahan air mata. Lelaki yang kukenal tiga belas tahun silam itu kini pergi. Ribuan orang berbelangsukawa, baik yang ia kenal maupun yang tak dikenalnya langsung. Semua orang yang akrab dengan karya-karya indahnya merasa kehilangan. Deden layak menyandang predikat legend dalam dunia nasyid nusantara.

Deden tak hanya dikenal di Indonesia, komunitas nasyid di Malaysia bahkan sangat menghargai sosoknya sebagai pencipta dan penyanyi. Ia mencapai itu dengan jalan penuh liku dan tak mudah. Ini yang ingin aku ceritakan kembali.

Di tengah suasana sedih melepas kepergiannya di usia yang masih tergolong muda (34 tahun), aku justru memutuskan tak lagi merundung meskipun masih belum bisa percaya Deden pergi secepat itu. Pertemanan yang kami jalin jauh sebelum edCoustic terbentuk, meyakinkanku bahwa ada hal lain yang tak banyak orang tahu tentang Deden. Khalayak luas mengenalnya dengan nama Aden edCoustic, aku ikut serta dalam diskusi mengganti nama publikasinya menjadi Aden. Tapi sosok yang kukenang darinya adalah sosok Deden, sang pejuang yang kegigihannya tiada banding.

Kami pertama kali bertemu di Masjid Salman ITB pada tahun 2000. Kami sama-sama aktif di Keluarga Remaja Islam Majid Salman ITB (Karisma-ITB), ia lebih dahulu masuk beberapa bulan, jadi Deden adalah seniorku di Karisma. Deden tergolong aktivis yang apik dalam bekerja. Ia memang bukan pendebat tangguh dalam ajang diskusi, tapi Deden adalah perancang yang sistematis dan pelaksana yang perfeksionis.

Kesanku terhadap Deden pada masa-masa itu adalah, ia mahasiswa IAIN (sekarang UIN) yang amat bersahaja. Senyumnya selalu hadir dalam setiap obrolan membuat lelaki asal Rancaekek ini cepat akrab dengan siapa saja. Ada satu keistimewaan Deden yang tak dimiliki siapapun di Karisma saat itu. Kami sering mendaulatnya tampil ke depan bernyanyi karena di setiap waktu luang Deden kerap berbendang dengan intonasi pelan-pelan. Awalnya Deden membawakan lagu-lagu nasyid yang tengah populer di awal 2000an, rata-rata nasyid dari negeri jiran. Namun pada beberapa kesempatan Deden membawakan lagu gubahannya sendiri. Disanalah kami tertegun, lagu itu begitu menghipnotis. Pilihan diksinya amat dalam dan nadanya asyik di telinga bahkan saat ia bernyanyi tanpa bantuan alat musik sekalipun. Maka, sejak saat itu Deden menjadi penyanyi yang selalu ditodong pada acara-acara Karisma.

Musik memang mengalir dalam darahnya tetapi banyak tak tahu Deden sebenarnya sulit bermain alat musik. Aku ingat, saat bermain gitar, untuk berpindah dari satu kunci ke kunci lain ia masih amat kaku. Tapi di saat yang bersamaan ia sudah mencipta ratusan lagu. Deden mengenal nada bagaikan anak kecil yang akrab dengan aroma ibunya sendiri.

Pada tahun 2002, Deden pernah menginap di kamar kosku yang terletak tak jauh dari Kampus ITB. Sepanjang malam kami ngobrol mengenai musik. Disitulah aku melihat sosok berbeda dari Deden yang aku kenal di Salman ITB. Saat bicara musik, matanya berbinar, hasratnya pada bidang itu tampak amat menggelora. Malam itu pula Deden menunjukkan lagu-lagu hasil ciptaannya sejak ia masih SMA. Total ada tiga buku yang sudah terisi penuh syair-syair lagu, taksiranku jumlahnya lebih dari 400 lagu. Hebatnya, Deden tak pernah merekam nada setiap syair itu tapi ia pasti langsung tahu bagaimana komposisinya saat kutanya bagaimana menyanyikan syair-syair itu?

Diskusi kami malam itu adalah momen awal aku akrab dengan Deden. Setiap bertemu, Deden memang menunjukkan minat yang amat tinggi di bidang musik.

“Aku ingin jadi pencipta lagu dan penyanyi profesional,” ungkapnya. Ini ia ungkapkan ketika Deden berhasil menjuarai lomba cipta lagu Salman. Ia menulis sebuah lagu hymne untuk Salman dan berhasil meraih juara. Melihat hasratnya yang begitu besar aku hanya sumbang saran agar Deden sering-sering ikut sayembara. Dengan kondisinya saat itu nampaknya hanya sayembara yang menjadi satu-satunya pintu pembuka karirnya di bidang musik. Pada titik ini Deden bukanlah siapa-siapa dalam industri musik atau nasyid.

Ternyata Deden serius, bersama Eggie, sahabatnya di kompleks perumahannya dan juga pembina Karisma-ITB mereka ikut sayembara yang akhirnya membuat mereka terpilih dalam sebuah album kompilasi nasyid. Aku ingat sekali momen itu, Deden dan Eggie bak menemukan harta karun. Ia amat senang dan mengulang lagi niatnya ingin menjadi pencipta lagu dan penyanyi profesional.

Kemudian, Deden terlibat dalam beberapa proyek lagu. Misalnya tahun 2003 kami membuatkan album untuk adik bimbingan di Karisma, grup itu bernama Salika, berisi empat remaja SMP yang senang musik. Deden menuliskan hampir sebagian besar lagu untuk mereka. Beranjak lagi, Deden diminta menulis lagu untuk proyek album Hani & Ina (2004).

Pada setiap jenjang pencapaiannya itu Deden selalu cerita betapa ia sangat mensyukuri kesempatan tersebut meskipun perannya hanya di belakang layar. Menjelang proyek album Hani & Ina rampung, Deden mendapat tawaran dari YESS Production membuat album sendiri tetapi dengan syarat harus mencari nama baru bagi grupnya. Disinilah muncul nama edCoustic yang artinya Eggi & Deden berakustik. Seingatku saat itu ia bagai anak kecil yang riang dikasih hadiah mainan. Deden cerita lagi kalau ia sudah maju selankah mencapai impiannya. Sebagai sahabatnya, aku hanya bisa ikut menyemangati saja. Di sana ia sudah bertemu para musisi yang siap mendukung cita-citanya.

Setelah album pertamanya rilis, Deden dan Eggie memintaku bergabung bersama mereka secara formal, yakni menjadi manajer mereka. Sebelumnya aku hanya rekan diskusinya saja. Tawaran itu sebenarnya sempat kutolak karena saat itu pula aku tengah mengurus beasiswa S2 ke luar negeri. Tetapi aku amat menghargai semangat Deden yang seolah tak pernah mati. Aku melihat ia begitu serius melakoni jalur musik yang ia pilih. Ia memang sudah dibantu oleh musisi profesional, setengah impiannya sudah terwujud. Tetapi Deden kala itu punya alasan ia perlu orang yang membuatnya nyaman menjalani pilihan hidupnya itu. Sebagai mahasiswa yang baru saja lulus, memilih karir di dunia musik, apalagi lagi masih berstatus indie adalah penuh risiko. Rekan-rekan kami yang lulus sudah sibuk mencari kerja sedangkan Deden mempertaruhkan semuanya demi cita-citanya.

Ia sempat menemukan ujian hidup dan terpaksa bekerja sebagai penyiar radio freelance di MQ FM Bandung dan menjadi petugas call center salah satu operator telepon seluler. Semua itu ia lakoni bersamaan dengan cita-citanya di dunia musik.

Aku ingat sekali momen pertama kali lagu edCoustic diputar di radio. Kami bertiga sampai menitikkan air mata haru, senang, dan berpelukan. Ternyata, Album pertama edCoustic dengan tajuk Masa Muda mendapat respon luar biasa. Hanya perlu waktu satu bulan edCoustic langsung menempati jawara request favorit salah satu radio di Bandung. Posisi itu bertahan lebih dari satu tahun.

Deden dengan tekun memenuhi undangan tampil disana-sini. Album inilah yang menjadi alasan kami jalan-jalan seantero nusantara. Penerimaan masyarakat terhadap edCoustic kala itu amat baik. Bagi sebuah album indie, pencapaian ini sangat luar biasa.

Selama dua tahun kami sempat mengontrak rumah bersama sekaligus menjadi basecamp edCoustic. Di rumah itulah aku semakin melihat kesungguhan tekadnya. Ia siaran hingga larut malam dan paginya langsung berangkat manggung kesana-kemari. Kadang malah tidak mendapat bayaran.

Meskipun begitu bukannya tanpa ujian. Di awal edCoustic merilis album, penolakan demi penolakan kami hadapi. Maklum kala itu nasyid mainstream adalah nasyid tanpa alat musik sedangkan edCoustic mengusung jenis musik pop. Lantas apa bedanya dengan musik biasa? keluh banyak orang. Bahkan, sempat ada seminar di salah satu perguruan tinggi yang ujungnya mengeluarkan fatwa haram terhadap musik edCoustic. Ada pula radio di Bandung yang mengambil kebijakan tak boleh memutar lagu edCoustic.

Apresiasi positif Deden dapatkan, tetapi rongrongan negatif tak kurang ia peroleh. Deden pernah curhat kalau ia ingin hengkang saja dari dunia nasyid dan pindah ke jalur pop biasa. Berkali-kali ia sampaikan itu. Aku sebenarnya setuju karena bakatnya sekaliber dengan artis nasional, tetapi Deden sendiri yang mengoreksi niatnya dan tetap berada di jalur nasyid.

Pengalaman kami selama di Karisma-ITB menangani dakwah remaja membuat Deden akhirnya tetap kukuh di jalur nasyid. Apalagi segmentasi edCoustic sama persis dengan segmentasi dakwah yang kami lakoni di Salman: remaja. Ia pun bisa berdamai dengan cibiran yang kala itu memang amat keras. Beberapa kali aku malah melihat Deden sampai menangis menghadapi cercaan atas karyanya. Ujian penolakan ini ia dapatkan pada kurun 2005-2007. Selepas itu publik mulai dapat menerima lagu-lagunya.

Hidup layak dari dunia nasyid memang tidak menjanjikan. Setelah Deden menjadi penyiar MQ FM, petugas call center, ia sering jatuh sakit. Melihat kondisi itu aku meminta Deden bekerja di perusahaan yang aku kelola agar ia bisa mengatur ritme kerjanya dengan lebih manusiawi. Maka, di titik ini hubungan kami jadi aneh. Aku adalah manajer edCoustic yang artinya aku bekerja untuknya. Di saat yang sama Deden bekerja untukku. Tetapi itu tak masalah karena persahabatan kami dibangun dengan landasan yang kokoh.

Sukses dengan album pertama, memasuki album kedua Deden meminta agar ia bisa memproduseri langsung album barunya. Sulit memang keputusan itu karena artinya kami harus membiayai penuh seluruh proses, mulai dari produksi, promosi, hingga distribusi. Aku akhirnya memfasilitasi dengan membentuk sebuah perusahaan rekaman kecil. Deden mengajukan nama label indie kami dengan MikaMusik. Aku awalnya tak terima karena Mika itu nama istriku, tetapi Deden bersikeras karena ia merasa nama mikamusik adalah diksi yang asyik. Aku biarkan Deden berkreasi sepenuh hatinya dalam proses pembuatan album keduanya. Meskipun mempertaruhkan dana yang bagiku tak sedikit itu. Deden aku persilakan mengelola albumnya sendiri agar ia mendapat pembelajaran utuh dari awal hingga akhir.

Album kedua edCoustic yang berjudul Sepotong Episode mengulang sukses album pertama. Ini pula yang menjadi jalan ia memperluas jangkauan edCoustic hingga ke negeri jiran. Di saat proses album kedua ini pula Deden mendapat kesempatan luar biasa. Melly Goeslaw kepincut dengan lagunya dan dijadikan soundtrack Film Ketika Cinta Bertasbih. Melly mungkin tak pernah tahu bahwa Deden amat mengidolakannya. Malah jauh sebelumnya, kami sering protes ke Deden karena setiap perjalanan ia selalu menyetel lagu-lagu Melly. Jadi, kesempatan itu amatlah berharga bagi Deden. Aku merasakan euforia Deden kala itu. Ia mentraktir siapa saja yang bisa ia traktir.

Di fase album kedua ini aku berperan sebagai produser eksekutif dan manajer bagi mereka. Namun, pada perjalanannya aku mundur dari peran manajer. Aku melihat Deden dan Eggie sudah amat progresif, mereka bukan lagi mahasiswa pemalu seperti yang aku kenal dulu, Mereka sudah memahami seluk beluk dunia musik, sementara aku merasa cukup mengantarkan mereka hingga titik mereka bisa berlari lebih kencang.

Benar saja, Deden bersama edCoustic-nya kian berkembang. Ia diterima dengan amat baik di Malaysia. Kepopulerannya kian meluas. Pada album ketiganya ia sudah memproduksi sendiri albumnya. Malah sudah berhasil memproduksi beberapa album artis lainnya. Jadi Deden adalah musisi yang berjalan dari tangga pertama. Satu persatu ia lewati dengan penuh kesungguhan. Meski perlahan tapi ia tak kunjung menyerah.

Ia menjadi salah satu pemain kunci dalam industri musik positif di Indonesia. Kehadirannya menginspirasi banyak orang. Tapi aku menjadi saksi bahwa itu semua ia peroleh dengan kegigihan yang luar biasa. Keuletannya dan komitmennya sangat kuat. Visinya menghujam. Tak banyak orang yang bisa bertahan seperti itu.

Kini Deden telah tiada tapi karyanya hidup senantiasa. Selepas mengantar jenazahnya ke pemakaman, aku putar kembali lagu-lagu yang pernah kami perjuangkan dulu. Setiap lagu itu punya cerita, aku mengalami behind the scene seluruhnya. Lewat alunan suaranya aku merasa masih bisa berbincang-bincang dengan Deden.

Selamat jalan teman, musik dan pilihan hidupmu telah menjadi amal jariyah yang insya Allah mengalir deras untukmu. Kita pernah sama-sama membaca surat-surat penggemarmu yang banyak mendapat pelajaran positif hanya dari lagu. Aku yakin hingga saat ini syairmu yang kontemplatif itu bermanfaat bagi banyak orang. Engkau dulu amat sering cerita tema kematian, malah di sebagain lagu-lagumu temanya berjumpa dengan hari akhir. Kini engkau sudah disana, semoga Allah menempatkanmu di tempat yang mulia. Amin… ***

 

*tulisan ini atas permintaan teman-teman salmanitb.com dan pertama kali dipublikasikan di sana.

Tiba-tiba

0

SETIAP menjelang tidur malam, anakku selalu menagih cerita. Tapi aku jarang mengisahkan cerita-cerita yang umum. Cerita tentang si kancil, peri, dongeng monyet, dan kisah-kisah yang biasa dijadikan materi dongeng penghantar tidur jarang singgah di dongeng malam. Kami selalu mencari topik bed time stories yang baru. Kadang dia yang kasih topik, kadang aku yang menentukan sendiri. Sekenanya saja, yang penting seru.

Bagiku ini jadi tantangan menarik karena membuat cerita sendiri itu jauh lebih nikmat. Dulu aku pernah koleksi artikel-artikel dongeng untuk anak, tapi ceritanya biasa aja (menurutku tentu saja). Bagi anak-anak yang belum pernah mendengar cerita itu jelas materinya masih hal baru. Selain itu, menciptakan cerita sendiri juga sekaligus melatih untuk menanamkan nilai kepadanya sesuai konteks dan pemahamannya saat itu. Tidak memaksakan moral cerita pada dongeng yang sudah template.

Bagian yang paling ia tunggu adalah action dari cerita. O ya, setiap ada cerita, sedapat mungkin dia ikut masuk dalam peran. Entah jadi raksasa, jadi serigala, atau karakter yang lain. Supaya kalau ada agedan berantem, dia bisa ikutan berantem juga, dan tentu saja harus menang. Kalau sudah menang baru ia bisa tidur cepat.

Ada satu pelajaran lagi yang aku pelajari saat merancang cerita: gunakan kata tiba-tiba. Ia selalu menanti kata kunci itu karena setiap kata tiba-tiba muncul maka akan ada jalan cerita yang lebih menarik. Matanya seolah berbinar saat aku mengucapkan kata tiba-tiba. Dan…, berarti aku harus cari kreativitas baru supaya setelah kata tiba-tiba muncul ceritanya tidak datar.

Kekurangannya, aku selalu lupa kemarin cerita apa. Improvisasi  terbuka seperti ini terlalu mendadak sehingga tidak terkonsep.

Aku menulis ini karena beberapa minggu lalu ngobrol dengan mbak Peni Cameron, sang ratu animasi Indonesia. Baru ketemu dua atau tiga menit tiba-tiba beliau minta aku cerita sebuah bed time stories yang benar-benar baru. Aku mau cerita tapi waktu dan tempatnya tidak memungkinkan, nanti semua orang pada pingsan lihat aku cerita begitu.

“Susah kan bikin cerita kreatif,” kata mbak Peni Cameron karena aku masih bingung tantangannya itu beneran atau sekedar retorik saja? Padahal, setiap malam aku dan Fathin punya cerita baru sendiri. Bundanya saja pasti tidak tau kami cerita apa, kecuali cekikikan dan gaduh berantem.

***

Indonesia Kadaluarsa

0

Masih ingat pelajaran geografi waktu sekolah? Terutama bagian-bagian yang harus kita “hapal mati”. Nama-nama menteri, nama-nama propinsi, letak geografis Indonesia diantara negara lain, de-el-el? Demi lulus ujian, info itu pun engkau hapal kan?

Sekarang kita belajar geografi umum Indonesia lagi yuk. Lewat sumber yang harusnya paling shahih sejagat raya karena berasal dari sumber yang punya otoritas tertinggi untuk mendefinisikan geografi Indonesia: situs milik pemerintah kita–yang entahlah engkau masih mau cinta padanya atau tidak–www.indonesia.go.id.

Website yang menjudulkan dirinya sebagai Portal Nasional ini dikelola oleh Kementerian Sekretariat Negara yang tugasnya memang bukan hanya mengurusi website negara. Tetapi berhubung lembaga yang melayani presiden & wapres ini punya strategi menyediakan dukungan informasi, maka kebenaran informasi di website www.indonesia.go.id adalah tanggung jawabnya.

Silakan baca tentang geografi Indonesia menurut Portal Nasional disini. Beberapa informasi sudah kadaluarsa. Padahal banyak anak-anak sekolah yang minta bantuan google untuk mengerjakan pe-er mereka dan mesin pencari kerap menunjuk www.indonesia.go.id untuk informasi penting seperti itu.

Yuk kita lihat beberapa, kalau ada yang mau melengkapi, silakan ya…

  •  Letaknya diantara dua benua dan dua samudra, maka Indonesia disebut sebagai Nusantara (Kepulauan Antara) –> KKBI mendefinisikan nusantara bukan begitu. Pengertian Nusantara di wikipedia juga tidak begitu.
  • Indonesia terdiri dari 17.508 pulau –> Padahal pemerintah sendiri (melalui Badan Informasi Geospasial) sudah bilang bukan segitu, melainkan 13.466. Malah, Kemenkokesra bikin rilis resmi untuk mengoreksi jumlah pulau ini.
  • Populasi Indonesia tahun 2006 222 juta jiwa –> Padahal mudah kan update yang 2013, lagian sejak 2009 sudah ganti rezim.
  • Indonesia menyatakan kemerdekaan setelah PD II. Selanjutnya tantangannya adalah bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi, dan perubahan ekonomi yang pesat –> Cepat amat akselerasi sejarahnya.
  • Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politik paling dominan –-> Bahwa Suku Jawa etnis terbesar, okelah. Tapi kalau menyatakan paling dominan, apa maksudnya itu? Barangkali ini sekaligus jadi pembenaran kalau presiden harus dari etnis Jawa?
  • Luas Total : 1.904.569 km2 –> Padahal itu cuma luas daratan saja.
  • Air (%) : 4,85% –> Ini tidak jelas air apa maksudnya. Kalau laut jelas keliru karena luas laut Indonesia jauh lebih besar dari luas darat. Luas laut Indonesia: (6.279.000 km2).
  • Jumlah penduduk 206 juta (pakai sensus tahun 2000) dan memperkirakan tahun 2009 menjadi 230 juta –> Sekarang kan sudah 2013.
  • PDB  pakai data 2007 –> Katanya bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang 6 persenan, kok ga update.

Kesimpulannya, sejak SBY menjadi presiden untuk kedua kalinya, informasi ini tidak pernah diupdate dan tidak dikoreksi. Kalah ah sama wikipedia.

Konten lengkapnya bisa lihat disini Portal Nasional RI – Geografi Indonesia, disave pada tanggal 16 Desember 2013.

Obrolan di Surga

0

Abdul Mubarak sedang dalam perjalanan menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan itu, pada suatu malam Mubarak bermimpi. Di mimpinya ia mendengar obrolan dua malaikat.

“Berapa jamaah haji tahun ini yang datang ke Mekah? Kamu hitung ga?” tanya seorang malaikat.

“Sekitar enam ratus ribu,” jawab rekan malaikatnya.

“Berapa banyak yang mendapat haji mabrur?”

“Tak satupun,” malaikat yang dapat giliran jaga sepanjang musim haji itu menjawab.

“Tapi, di Bagdad ada seorang tukang sepatu, namanya Ali Mufiq. Dia tidak ikut haji tahun ini, tapi malah mendapat haji mabrur.” sang Malaikat petugas menambahkan.

Seketika Abdul Mubarak terjaga dari tidurnya. Ia masih terngiang dengan mimpinya akan percakapan dua malaikat tadi tentang jamaah haji.

Mubarak pun pergi ke Bagdad menemui Mufiq. Sesampainya disana ia ceritakan mimpinya itu kepada Mufiq.

“Subhanallah..,” kata Mufiq sambil menangis.

“Aku begitu rindu berangkat haji. Dengan segenap perjuangan aku kumpulkan pelan-pelan biaya untuk berangkat ke sana,” Mufiq teringat kembali kerinduan mendalamnya karena Mubarak cerita tentang perjalanan hajinya.

“Tapi…, sesaat sebelum berangkat, aku melihat tetanggaku yang masih banyak kelaparan. Dengan berat hati uang itu kuberikan kepada mereka dan kubatalkan keberangkatanku ke tanah suci.”

Disadur dari www.paulocoelhoblog.com

 

Ketika Kamu Memeluk

0

SEORANG kakek menanti cucunya di stasiun kereta api. Sudah setahun lebih mereka tak bertemu. Ia menanti penuh harap. Semoga kereta tidak terlambat dari jadwalnya.

Beruntung kereta tiba tepat waktu. Kakek itu berdiri dari duduknya. Mencari-cari wajah terkasih yang ia nanti sejam lamanya. Itu dia, seorang anak remaja datang sendiri menemui kakeknya di masa liburan.

Ia datang berlari menemui kakeknya. Mereka berpelukan erat. Sambil mengelus rambut cucu kesayangannya itu, sang Kakek mencium pipinya lalu bertanya kabar. Apakah perjalanan menyenangkan? Bagaimana kabar Ibu dan Bapak? Bagaimana sekolah?

“Selalu menyenangkan datang ke sini Kek, aku rindu pelukan hangat Kakek,” ujar si cucu sambil mereka beranjak pergi dari stasiun itu.

“Cucuku, jangan pernah engkau lupakan momen hari ini. Memeluk adalah tindakan mencintai. Engkau hanya memeluk orang yang kamu cintai. Tak peduli apapun tanggapan orang lain.”

“Apakah kamu enggan memelukku karena Kakekmu ini dulu tentara perang yang sudah membunuh banyak orang? Tidak kan? Kita memeluk karena hati kita tertaut rasa cinta.”

“Begitupun dengan memeluk keyakinan. Tiada guna berdebat masalah agama apa yang kita peluk karena ia kita peluk dengan penuh yakin dan cinta.”

“Agama bukan sekedar pilihan status, melainkan keyakinan yang kita cintai sepenuh hati. Terasa sakit bila orang yang engkau cintai  dicaci maki, begitupun agama. Makanya jangan pernah mendebat keyakinan orang lain. Biarkan kita hidup damai dengan keyakinan masing-masing. Karena, keyakinan yang baik itu tak pernah membunuh. Orang yang terlalu sempit pandangannya lah yang membuat semuanya jadi berantakan.”

***

Paman dan Tumpukan Uang di Mobilnya

2

TAKSA baru tiga hari tinggal di Jakarta. Pria asal sebuah kota kecil di Jawa Tengah ini datang ke Jakarta atas suruhan Ibunya. Sang Ibu terpaksa mengirim Taksa ke Jakarta, mengabdi kepada adik semata wayangnya yang sudah sukses di ibukota. Terserah mau dikasih kerja apa, yang penting Taksa punya kerjaan dan tidak bikin repot orang tua lagi.

Awalnya, sang paman, Kardi, enggan menerima Taksa karena pasti akan membawa repot. Tapi apalah daya, selama ini mbakyunya tidak pernah minta bantuan apa-apa. Ini kali pertama dia memohon bantuan, padahal dulu, mbakyunya yang menyekolahkan Kardi sampai bisa wisuda bergelar insinyur.

Apalagi Taksa terpaksa dikirim ibunya ke Jakarta karena sudah mencoreng nama baik keluarga di kampung. Taksa tertangkap tangan warga mencuri ternak di dusun sebelah bersama tiga temannya. Mereka “diramai-ramaikan” warga, digebukin, dipentung, dan diseret di jalanan. Taksa beruntung nyawanya tak melayang karena diselamatkan beberapa penduduk yang masih mengenali wajahnya.

Nama baik keluarga mampu menyelamatkan Taksa dari amuk massa. Meski setelah itu, isi obrolan pagi adalah mencibir jatuhnya nama baik keluarga mereka akibat ulah Taksa yang sungguh memalukan. Berhari-hari ibunya sakit menanggung malu. Luntur sudah perjuangan almarhum suaminya yang di masa hidupnya berkeliling dari satu kampung ke kampung lain menyebarkan kebaikan dalam ceramah-ceramahnya. Taksa juga tak berani keluar rumah. Kampung yang saban hari ia lalui dengan penuh gembira berubah menjadi neraka yang siap membakar.

Dengan berat hati Kardi menerima Taksa di rumahnya yang ada di bilangan Pondok Indah Jakarta Selatan.

“Kamu bisa kerja apa to le,” tanya sang Paman saat perjalanan menuju rumah selepas menjemput Taksa dari terminal bus.

“Saya bisa menyetir pakde,” sahut Taksa ringkas. Ia menoleh wajah pamannya pelan-pelan. Bekas lebam di wajahnya masih terlihat samar.

“Ok, besok kamu coba bawa mobil keliling kompleks ditemani Pak Gung, bisa ya Pak Gung!” perintah Kardi kepada supirnya yang tengah mengemudikan mereka menuju rumah.

“Bisa Pak, besok bisa,” Pak Gung yang sudah berusia lebih dari 55 tahun itu mengangguk tapi masih memendam kesal karena merasa tersaingi.

Keesokan harinya Taksa diizinkan mengemudikan sebuah mobil box yang biasa dipakai keluarga Kardi membawa barang hasil belanjaan. Istri Kardi kebetulan punya bisnis butik. Seminggu sekali mereka belanja besar di pasar Tanah Abang atau ke Pasar Mangga Dua. Kadang, malah mampir ke Bandung. Tergantung busana apa yang sedang ngetrend.

Sepanjang jalan Pak Gung bersungut-sungut dengan cara menyetir Taksa.

“Ngerem bukan begitu caranya, harusnya kamu injak kopling dulu baru rem pelan-pelan!”

“Hati-hati dong, ini bukan di kampung! Masa’ polisi tidur kamu lindas sekena udelmu saja?”

“Lihat spion dulu kalau mau memotong, jangan asal embat saja!”

Taksa sempat kesal dengan Pak Gung, tapi ia masih ingat pesan ibunya. “Kamu di Jakarta harus nurut ya le. Jangan bikin malu lagi.” Ia kasihan dengan ibunya. Kasus pencurian itu sebenarnya hanya iseng belaka di awalnya. Cuma ingin menjawab tantangan seorang teman yang punya ide usil. Tapi keisengan maling beberapa ekor ayam berujung dramatis.

Malam harinya, Kardi mendadak dipanggil ke kantor. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ada rapat penting di kantor katanya. Sedangkan supir pribadi Kardi sudah pulang.

“Saya temani ya Pak De,” Taksa menawarkan diri.

“Ayo, sekalian kamu bawa tas saya yang di samping lemari itu, mungkin besok pagi kita langsung ke Bandung,” perintah Kardi.

Taksa meletakkan barang-barang itu di bagasi belakang mobil dan mengambil duduk di samping supir karena malam itu Kardi sendiri yang menyetir ke kantor. Mereka berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar. Saat itulah Taksa mengungkapkan keengganannya.

“Pak De, saya tidak enak kalau mobilnya dibawa oleh Pak De, saya kan sudah latihan menyetir tadi pagi,” ungkap Taksa.

“Memang kamu bisa?”

“Insya Allah Pak De, kita coba saja”

Kardi pun dengan ragu menyerahkan kemudi kepada Taksa. Tapi ia harus memberi kesempatan kepada Taksa.

“Pak Gung bilang kamu nyetirnya belum benar?” kata Kardi sesaat setelah mobil melaju.

“Anu Pak De, mungkin tadi karena saya grogi,” jawab Taksa berusaha untuk tidak mengungkap kekesalannya pada Pak Gung yang terlalu mengatur.

Kurang dari 20 menit mereka sudah sampai di kantor Kardi. Sebuah kantor kementerian, tempat orang-orang berpendidikan bekerja mengurusi permasalahan rakyat. Taksa sering mendengar cerita Ibunya yang bangga sekali dengan karir adiknya di Jakarta. Baru kali ini Taksa melihat langsung makna kekaguman ibunya itu.

“Kamu tunggu di parkir saja, nanti kalau sudah selesai saya panggil,” perintah Kardi kepada Taksa.

Meski sudah didatangi oleh rasa kantuk, Taksa berusaha tidak tertidur karena khawatir panggilan dari Pak De-nya tidak terdengar. Malam itu ia habiskan hanya melihat-lihat bintang yang ada di langit maupun “bintang-bintang kota” yang jauh lebih semarak.

Menjelang mentari terbit Kardi baru muncul.

“Kita langsung berangkat ke Bandung, tapi kita singgah dulu di hotel yang ada di seberang sana,” Kardi menunjukkan sebuah hotel megah sambil menjelaskan harus berputar dimana.

“Tasnya banyak sekali Pak De,” kata Taksa sambil membantu Kardi menaikkan sekitar tujuh tas berwarna coklat ke dalam mobil.

“Sudah, kita berangkat saja,” Kardi tidak menjawab pertanyaan Taksa.

Sesampainya di Hotel tadi, Kardi meminta Taksa memarkirkan mobil dan membawa tiga tas ke dalam hotel. Taksa pun mengikuti perintah Pak De-nya itu.

Mereka masuk ke hotel melalui pintu masuk karyawan. Pak De kelihatan sudah kenal dengan satpam disana. Kemudian mereka masuk ke dalam lift. Taksa hanya ikut langkah kaki Kardi, ia melihat Pak De-nya menekan tombol 15. Sesekali lift itu berhenti, pintunya terbuka, dan orang lain masuk. Ikut menumpang lift tadi.

Begitu keluar dari lantai 15, Kardi mengeluarkan sepotong kartu dan menggesekkannya di pintu No 1509. Pintu kamar itu terbuka dan Taksa ikut masuk bersama Pak De-nya.

Ternyata di kamar itu sudah ada seorang Ibu paruh baya dan seorang pria berperawakan besar. Kedatangan mereka disambut tawa kecil dan jabat tangan yang erat.

“Ini Bu, silakan diterima, baru datang tadi malam diantar oleh Mr. Brown,” ujar Kardi kepada kedua orang yang tampaknya sudah akrab dengannya.

“Wah, terima kasih loh… Tapi proyeknya aman kan?” tanya pria berperawakan besar tadi.

“Timor Kupang Ambon Pak!” kata Kardi, yang artinya ‘Aman Terkendali’. Taksa memperhatikan kamar itu masih rapi, artinya kedua tamu yang ada di kamar itu tidak tidur disana. Kecuali kalau sehabis tidur mereka langsung membereskan tempat tidurnya.

“Ok, saya sepuluh-delapan dulu ke Bandung, Pak Dirjen kabarnya hari ini ada jadwal golf di sana,” kata Kardi sambil pamit dan salaman dengan kedua tamu mentereng tadi.

Taksa menyimpan banyak tanya dari pertemuan tadi. Setelah melaju keluar dari hotel dia beranikan diri bertanya kepada Pak De-nya.

“Sepuluh-delapan itu apa Pak De?”

“Maksudnya berangkat menuju,” kata Kardi.

“Oooh.., kalau Bapak dan Ibu tadi siapa Pak De?”

“Ah.. kamu banyak nanyanya. Mereka itu atasan saya.”

“Lalu tas itu isinya apa Pak De?” Taksa masih penasaran.

“Walah-walah… kamu ini, itu duit colongan tau!” jawab Kardi setengah terbahak.

Taksa bingung, ini Pak De-nya sedang becanda atau memang beneran begitu. Dia mulai sadar terlalu banyak bertanya kepada Pak De-nya yang kurang tidur.

“He..he… maaf Pak De, cuma penasaran saja,” kata Taksa mencoba mengakhiri diskusi. Kini dia siap-siap masuk gerbang tol di daerah Semanggi.

“Tapi beneran loh Taksa, ini duit colongan. Tapi tidak nyolong seperti yang kamu bayangkan” Kardi ternyata meneruskan pembicaraan. Kepala ia rebahkan sambil menarik tuas jok agar sedikit merebah.

Taksa semakin bingung. “Nyolong? nyolong dari mana?” Taksa mulai gemetar mendengar kata nyolong. Traumanya akibat mencuri ayam belum kandas.

“Hm… sebenarnya saya sama saja dengan kamu Taksa, kita sama-sama maling” Kardi menatap jauh ke langit, seolah ingin mengadu kepada langit kesalahan yang ia sadari tapi tak bisa ia hindari.

“Bedanya, kamu maling ayam yang gampang ketahuan, saya ini maling yang sudah pakai strategi,” Kardi masih meneruskan ocehannya.

“Awalnya batin saya memang tersiksa, tapi semakin kesini saya sudah kian terbiasa. Toh hampir semua orang melakukan ini, mau apa lagi?”

“Pak De, nyolong dari mana sih maksudnya?” Taksa masih belum mengerti.

“Begini Taksa, di lingkungan saya itu biasa dengan atur mengatur proyek. Ada titipan proyek, ada kick back, dan lainnya”

“Nah…, dalam setiap proyek yang sudah dipesan itu, biasanya sebagian dananya kita bagi-bagi. Sama-sama saling menguntungkan lah prinsipnya,” lanjut Kardi.

“Coba kamu bayangkan, gaji kami sebagai pegawai negeri sipil itu berapa sih? Biaya pendidikan, biaya susu anak-anak, biaya transportasi, biaya makan, dan banyak biaya hidup lainnya. Kalau jujur berhitung, semua itu tak sebanding dengan gaji yang kami terima. Ya, mau tak mau harus ada pemasukan tambahan.”

“Kamu bandingkan, pengusaha yang dapat proyek itu. Mereka menerima dana bisa sampai puluhan miliar. Mereka bisa dapat untung banyak dari anggaran yang kami sediakan. Mereka mudah mendapat kekayaan dari anggaran itu, sedangkan kami hanya digaji seadaanya. Tak adil kan?”

Taksa mulai paham jalan cerita pamannya.

“Tapi itu tak termasuk dosa Pak De?” tanya Taksa, karena ibunya benar-benar marah besar padanya karena ketahuan mencuri ayam di kampung. Ibunya sampai bersumpah tak mau mengakui lagi Taksa sebagai anak kalau dia mengulangi mencuri.

“Ha..ha…, zaman sekarang dosa masih bisa kita negosiasi Taksa,” ujar Kardi.

“Dosa dari mana dulu? Kita tidak mencuri hak orang kok, ini hanya transaksi yang saling menguntungkan,” tambahnya lagi.

“Apa ada yang tidak melakukan itu Pak De?” tanya Taksa lagi.

“Pasti ada, dan mereka akan tertinggal,” tanggap Kardi.

“Coba kamu perhatikan mobil-mobil di jalan tol ini. Kecepatan kita sekarang 110 km/jam. Padahal aturannya kan maksimal 80 km/jam kan? Siapa yang mau mengikuti aturan itu? Hanya mobil-mobil yang uzur mesinnya. Mesin mobil-mobil yang masih gesit pasti tidak mau ikut aturan 80 km/jam. Kesempatan untuk 120 km/jam ada, tidak merugikan siapapun juga. Malah kita bisa lebih cepat kan? Apa kamu mau mengikuti truk-truk yang lambat itu sedangkan mobil kita punya kuasa melaju lebih kencang?”

Taksa menganggung-angguk. Kini ia mengerti menyolong anggaran dana itu sama halnya seperti berkendara di jalan tol. Salah sih, tapi  kenapa harus disalahkan?

“Taksa, hati kecil saya bilang ini tidak benar. Ini korupsi namanya. Makanya kami lakukan sembunyi-sembunyi dan hati-hati. Tapi, saya tak bisa menghindar. Posisi saya di kantor serba salah. Berbulan-bulan saya berada dalam gundah. Akhirnya harus berdamai karena nyatanya saya tak merampas hak siapapun. Perusahaan-perusahaan itu tak merugi kok.”

“Itulah gunanya pendidikan Taksa, kita diajari bagaimana menggunakan strategi dengan apik,” ungkap Kardi. Pernyataannya itu sekaligus ingin menyinggung Taksa, bahwa aksi mencuri ayam itu terlalu amatir.

“Sudah ah, saya tidur dulu,” sambung Kardi.

Tak lama berselang Kardi sudah jatuh dalam tidurnya. Taksa menyetir sendiri memacu kendaraannya di jalan menanjak menuju Bandung. Gerimis kecil mulai turun, ia nyalakan wiper untuk menghalau butiran air itu. Lama ia berpikir, “mencuri itu sebenarnya salah atau tidak ya?”

Wiper yang bergerak naik turun menghalau air hujan itu seolah memberikan isyarat “tidak…tidak…”

Sesampainya di Bandung, Kardi memandu Taksa menuju lapangan golf di kawasan Bandung Utara. Ia menunggu lagi di parkiran. Taksa masih terpikir tentang mencuri ayam dan menyolong anggaran. Apa bedanya? Selain perbedaan jumlah yang begitu mencolok. Ayam paling mahal 50 ribu seekornya. Bagi-bagi dana sisa proyek pemerintah bisa-bisa di angka lima miliar.

Taksa lalu menelpon Ibunya di kampung.

“Bu aku mau pulang saja,” katanya. Ibunya tentu kaget. Tetapi setelah mendengar cerita Taksa, Ibunya tak punya alasan lain.

“Ya sudah, kamu pulang saja Nak. Bantu ibu di rumah.”

Taksa pun lalu menulis secarik kertas dan ia letakkan di dashboard mobil pamannya.

“Taksa sudah janji ke Ibu tidak mencuri atau ikut-ikutan mencuri Pak De. Maafkan Taksa, saya harus pulang”.

Kardi langsung merobek-robek kertas itu.

“Dasar maling!” umpat Kardi dan melemparkan begitu saja potongan kertas itu lewat jendela mobilnya.

Pikiran yang Menjadi Penjara

0

Kemampuan berpikir kreatif sesungguhnya adalah modal utama dalam bisnis. Adapun modal finansial hanya sekedar trigger saja, bukan modal yang utama. Dana berlimpah yang diserahkan kepada pebisnis yang tak kreatif hanya akan berakhir pada menghambur-hamburkan saja. Sedangkan kreatifitas bisa mengatasi masalah, andaikan modal finansial juga tidak mencukupi.

Seorang psikolog klasik, Karl Duncker adalah ilmuwan pertama yang mengkaji mengenai kreatifitas. Ia mengamati kenapa anak kecil jauh lebih kreatif dibandingkan orang dewasa. Anak kecil mudah sekali mengasosiasikan benda-benda di sekelilingnya dengan benda lain. Misalnya, kotak kapur adalah istana; pisang pura-puranya telepon; tangkai payung yang rusak digunakan seolah pedang. Menurut Duncker, orang dewasa mulai kesulitan menemukan makna lain dari benda-benda selain fungsi benda itu sendiri.

Padahal, menjadi kreatif berarti kita harus memiliki rentang fleksibilitas yang tinggi. Mampu melihat kemungkinan lain dan menggabung-gabungkan berbagai hal menjadi sesuatu yang baru. Duncker mengatakan bahwa pendidikan, lingkungan, dan budaya yang kita terima sangat menentukan apakah kita akan menjadi makhluk kreatif atau sebaliknya, menjadi yang terkungkung dengan menerima yang sudah menjadi konvensi bersama.

Untuk menjelaskan kesulitan mencari hubungan kreatif dari hal-hal yang seolah sudah kita terima, Duncker memperkenalkan istilah “functional fixedness”.  Istilah ini muncul setelah ia melakukan sebuah simulasi yang sangat terkenal hingga sekarang. Bahkan, Daniel Pink, seorang penulis terkenal,  ketika menyampaikan presentasi di TED 2009 membuka presentasinya dengan games ini.

Permainan kreativitas dengan lilin, korek api, dan paku payung.
Permainan kreativitas dengan lilin, korek api, dan paku payung.

Permainannya begini. Duncker meletakkan tiga benda di atas meja: lilin, korek api, dan sekotak paku payung. Ia mengundang beberapa sukarelawan. Dengan tiga benda tadi Duncker meminta mereka menempelkan lilin yang menyala di dinding dan lelehan lilin tidak jatuh ke lantai. Ia membagi menjadi dua kelompok relawan. Kelompok pertama hanya diberi tiga benda tadi (lilin, korek api, dan sekotak paku payung). Kelompok kedua tetap tiga benda, tetapi paku payungnya sudah dikeluarkan dari kotaknya.

Hasilnya menarik, kelompok dua selalu lebih cepat menyelesaikan masalah dibandingkan kelompok pertama. Sebab, kelompok pertama terjebak pada fungsi tak berkaitan dari masing-masing benda. Begitu paku payung disebarkan di atas meja, barulah kelihatan bahwa kotak paku payung itu bukan sekedar bungkus tetapi juga solusi untuk menempelkan lilin dan menghalang jatuhnya lelehan ke lantai.

Eksperimen ini sekaligus mengonfirmasi bahwa orang dewasa terjebak pada fungsi dasar benda-benda itu saja, makanya ia berikan istilah “functional fixedness”. Memang kreatif tidak melulu harus dihubungkan dengan menyelesaikan masalah seperti yang Duncker lakukan. Tetapi, Duncker menggarisbawahi melatih kreatif adalah dengan membuka kemungkinan-kemungkinan lain bahkan pada sesuatu yang tidak masuk akal sekalipun.

Salah satu cara lain untuk melatih kreatifitas adalah dengan memaksa diri berpikir variatif atas satu tema. Pernah tau kan ada buku atau artikel 101 cara untuk bla..bla… Misalnya 101 cara memakan apel, 101 cara mengepel rumah, 101 cara tertawa, dan lain-lain.

Kira-kira berhasil ga ya? 101 cara cari jodoh mungkin? 😀 Kalau sudah ada yang coba, minta pendapatnya ya..

 

Pekan Kondom yang Bermata Dua

0

Kementerian Kesehatan sedang dihujat disana-sini. Pasalnya, pada kemarin (1 Des 2013), Kemenkes menggelar Pekan Kondom Nasional. Sebuah kampanye kesehatan yang pertepatan pada hari AIDS. Media dan beberapa elemen masyarakat menilai miring program ini.

Dari tadi pagi saya mencari rilis atau publikasi resmi dari Kementerian Kesehatan tentang program bagi-bagi kondom gratis. Sekedar ingin tahu apa latar belakangnya program yang bikin heboh ini. Sebelum ikut-ikutan bersuara, alangkah baiknya melihat dulu duduk masalah dari sumber yang pertama. Tapi sayang, setelah klik sana-sini website Kemenkes dan jajarannya, gonta-ganti kata kunci di google, saya belum berhasil juga (kalau ada yang punya mohon dishare ya). Yang ada hanyalah respon Menkes dan pejabat terkait dalam menjawab isu yang sudah terlanjur menggulir.

Menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), anggaran yang disediakan Kemenkes untuk pengadaan kondom ini mencapai 25 miliar rupiah. Pemenang tender adalah PT Kimia Farma Trading & Distribution. Tidak jelas apakah bus mentereng nan menggoda karena pakai pose seronok Julia Peres itu masuk dalam anggaran yang 25 miliar itu? Kalau sekedar pengadaan kondom saja, asumsikan 1 buahnya dibandrol 3.000 rupiah. Berarti kondom yang harus dibagi-bagikan lebih dari 8 juta buah.

Angka 25 miliar memang hanya sekedar “anggaran upil” bagi Kemenkes. Menurut Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkes mengantongi 55,9 triliun untuk anggaran 2013. Kondom yang disebar-sebar gratis itu hanya 0,04% saja dari anggaran kesehatan 2013. Apalah arti 0,04%? Oleh karena itu, persoalan ini kurang tepat disandingkan dengan kesehatan di Indonesia yang masih semerawut. Kalaupun dialokasikan untuk asuransi, perbaikan sarana kesehatan, pengobatan gratis, dll, 25 miliar tidak akan kemana-mana.

Yang harus ditanyakan justru strategi kampanyenya yang terlalu fulgar. Pada 2012 lalu Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi mengatakan bahwa 81,8 persen penularan HIV/AIDS di Indonesia adalah melalui transmisi seksual yang tidak sehat. Alasan utamanya adalah kurangnya kesadaran menggunakan kondom. Makanya sekarang Menkes bersikukuh bagi-bagi kondom itu tidak menyalahi aturan. Masuk akal memang jika begitu jalan ceritanya.

Kembali ke konteks bagi-bagi kondom tadi. Saya berprasangka baik (karena tidak dapat rilis resminya) kampanye ini merupakan kampanye mengurangi risiko penularan HIV/AIDS. Sampai titik ini, okelah kita bisa terima. Namun, dalam teori social campaign, ada tahap penting yang harus didesain yaitu: Audience Segmentation and Campaign Design. Artinya, kampanye sosial harus disesuaikan dengan target yang ingin dicapai. Masih menurut Menkes, 81,8 persen penularan HIV/AIDS itu ada di tempat-tempat pelacuran dan sejenisnya. Jadi yang ditarget adalah mereka-mereka yang berpotensi melakukan hal itu. Bukan di kampus. Memangnya kampus tempat seks bebas?

Kampanye yang tak jelas desainnya ini, kecuali busnya yang aduhai seronok, berisiko disalahtafsirkan dan justru menjadi kontraproduktif seperti hari ini. Tidak ada yang salah dengan bagi-bagi kondom jika latar belakangnya adalah mengurangi dampak penularan HIV/AIDS. Yang menjadi masalah justru desain kampanyenya yang terlalu vulgar, multitafsir, dan menggoda.

Yang tidak boleh dilupakan Kemenkes, pemaknaan publik atas aksi bagi-bagi kondom ini. Pendapat bahwa pekan kondom nasional sama saja dengan mempromosikan sex bebas tidak dapat disalahkan, toh memang terkesan demikian adanya. Terutama apabila yang menerima kondom adalah kalangan anak muda yang sudah punya berbagai alternatif pilihan sex bebas. Jadi, kampanye ini bermata dua: mengurangi penularan HIV/AIDS sekaligus mempromosikan seks bebas.

Pertanyaan terakhir, bagi-bagi kondom ini kan sudah beberapa kali. Adakah penelitian yang pernah dilakukan Kemenkes untuk menguji keberhasilan program ini dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS? Atau semata-mata sekedar proyek tahunan saja?

Masuk dalam Pusaran Berita

0

Belakangan ini setidaknya ada dua kasus yang menjadi berita nasional. Pertama, tentang tuduhan malpraktik dokter di Manado. Kedua, dugaan pemerkosaan yang dilakukan penyair terkemuka di Indonesia: Sitok Sarangenge.

Kedua berita ini menarik karena sama-sama membelah kita sebagai orang yang membaca atau menonton berita itu ke dalam dua kubu: setuju dan tidak setuju.

Komunitas dokter lantas menggelar demo karena vonis yang dijatuhkan hakim adalah sinyal yang akan mendatangkan banyak kasus kriminalisasi dokter. Toh, sang dokter sudah melakukan pada koridor yang tepat. Ia menjalani operasi sesuai prosedur. Masalah hidup dan matinya pasien itu bagian dari proses. Dokter tidak dapat dipidana karena dokter bukanlah penjamin nyawa.

Kelompok hakim dan masyarakat yang pernah punya pengalaman buruk dengan dokter mengambil sikap berbeda. Demo dan mogok sehari yang dilakukan dokter adalah solidaritas buta. Bagaimana dengan mereka yang pada hari mogok itu perlu dokter?

Begitu juga dengan kasus Sitok Sarangenge. Kelompok yang membela Sitok tak kurang jumlahnya. Ia adalah penyair yang terkenal. Reputasinya bagus. Yang parah justru ada yang malah menyalahkan sang korban. Kok sudah tujuh bulan hamil baru lapor? Muncullah kelompok yang membela Sitok. Secara terang-terangan atau sekedar support moral.

Kelompok lain, menjadikan ini kesempatan untuk mem-bully Sitok. Kebetulan ia bergabung dengan komunitas Salihara, sebuah komunitas budaya yang sejak awal sudah banyak penentangnya. Kejadian ini tentunya menjadi “berkah” bagi yang anti dengan Sitok. Apakah anti dengan genre sastra-nya yang dinilai terlalu keblineger atau keterikatan Sitok dalam komunitasnya.

Lalu bagaimana dengan kita yang bukan anggota pasien korban malpraktik, bukan teman sejawatnya dokter, bukan penyair geng-nya Sitok, bukan pula kelompok yang membenci Sitok. Kita berada di luar sistem perseteruan itu tetapi “menghirup” beritanya sehari-hari. Beda kalau kita berada di salah satu kubu, maka tak ada salahnya ikutan bersilat argumen.

Daripada ikutan menjadi hakim dalam keadaan pengetahuan kita yang terbatas atas duduk perkara kedua contoh tadi. Mending ambil hikmahnya saja bahwa:

  •    Bertindak ceroboh dalam profesi itu SALAH
  •    Mogok dan menelantarkan pasien itu SALAH
  •    Mempidanakan orang yang berbuat baik itu juga SALAH
  •    Melakukan tindak asusila, apalagi memperkosa itu SALAH
  •    Membully orang lain juga SALAH

Terlepas dari pembenaran masing-masing pihak yang berseteru, berita seperti itu masih layak  kita konsumsi. Tetapi hanya untuk diambil pelajarannya saja, tak perlulah sampai masuk ke pusaran masalahnya. Mengenai pembelaan masing-masing pihak? Santai saja, namanya juga membela. Tentu harus memenangkan pembelaannya.

Besok Kamu Mati! Begini Erickson Menyikapinya

0

Saat masih remaja, tepatnya di usia 17 tahun, Hyland H. Erickson mendapat vonis hidupnya tinggal satu malam saja. Tiga orang dokter berbincang-bincang di luar kamar tempatnya berbaring lemah karena polio. Ia bisa mendengar percakapan antara dokter dan ibunya. Para dokter yang hadir yakin kalau Erickson hanya bertahan satu malam saja.

Selepas dokter itu pergi, ibunya datang dan mencoba menghilangkan semua kegetiran dari raut wajahnya. Erickson tidak bisa bicara karena polio itu. Ayah, Ibu, dan ketujuh saudaranya menguatkan diri menghadirkan kegembiraan di “malam terakhir” Erickson.

Erickson tahu persis kalau dokter sudah angkat tangan atas keadaannya. Tapi ia tak urung menyerah dengan penyakit yang saat itu masih sulit diobati. Erickson lantas mengembangkan sendiri teknik menghibur dirinya sendiri. Menguatkan alam bawah sadarnya bahwa ia mampu.

Singkat cerita, Erickson berhasil sembuh dari polio yang dideritanya. Ia melawan vonis hanya bertahan hidup saja dengan menantang penyakit itu menggunakan kekuatan alam bawah sadarnya sendiri. Berikutnya metode ini banyak dikenal dengan istilah self healing.

Setelah sembuh, Erickson mengambil pilihan hidup menyebarkan pengalaman menyembuhkan diri sendiri dengan kekuatan pikiran. Ia memilih sekolah kedokteran. Erickson tercatat sebagai salah seorang psikiater terkenal di Amerika, khususnya untuk bidang hipnosis dan terapi keluarga.

Milton H. Erickson. Sumber: www.odu.edu
Milton H. Erickson. Sumber: www.odu.edu

Inilah jenis “dendam” yang konstruktif. Ia marah karena penyakit itu menyerang dirinya. Lantas  tak mau menyerah pada polio yang ia derita. Bahkan, sisa hidupnya dipakai untuk membalas dendam kepada polio dengan cara yang membawa manfaat bagi orang banyak.

Sumber inspirasi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Milton_H._Erickson

http://id.wikipedia.org/wiki/Milton_H._Erickson