Aku menangis

5

~ingin pakai aku~

Sore itu kami sholat maghrib di panti asuhan, setelah siangnya mengisi acara pada milad panti asuhan ini. Bulan lalu pengurus panti datang ke rumah untuk mengundang kami sebagai pengisi acara.

Selepas sholat kami bincang-bincang dengan pengurus panti dan beberapa anak yang tinggal disana. Sambil menunggu rekan-rekan yang lain, aku sempatkan ngobrol dan bertanya-tanya dengan pengurus panti. Ada berapa orang yang tinggal disini?, dari umur berapa saja?, dari mana saja asalnya?, dan pertanyaan standar lainnya.

Setiap selesai sholat maghrib mereka berkumpul seperti ini Pak?“, tanyaku sambil memandang ke dalam ruangan. Anak-anak itu sudah duduk rapi, masing-masing memegang Al Qur’an. Sambil mendengar ceramah, ada beberapa yang saling bercubitan, ada pula yang kecikikikan, ntah apa yang mereka tertawakan. Yang jelas sorot mata anak-anak itu tampak kocak, berarti ada sesuatu hal yang membuat mereka tertawa seperti itu.

Benar Dik, memang setiap selesai maghrib mereka berkumpul disini. Nanti setelah sholat Isya kami makan malam bersama” jawabnya sambil menyuguhkan segelas kopi hangat padaku.

Tapi ada juga beberapa yang masih tinggal di atas“, tambah beliau sambil mengarahkan telunjuknya ke lantai 2 panti itu.

Oh.., masih ada yang di atas ya Pak?“, tanyaku setengah heran. “Berarti penghuni panti ini banyak juga ya?” aku membatin. Soalnya ruangan aula tempat mereka berkumpul sekarang sudah terlihat ramai sekali. Perkiraanku lebih dari 70 penghuni panti sedang duduk bersila di ruangan itu. Kalau di atas masih ada berarti total keseluruhannya lebih banyak lagi dong.

Yatim Piatu
Mereka membuatku menangis

Sambil menyeruput kopi hangat itu aku minta izin ke beliau untuk naik ke atas. Soalnya sejak kecil aku belum pernah ke panti asuhan. Ada sebuah pertanyaan yang selalu hinggap di hatiku. “Bagaimana sih suasana di dalam panti asuhan?“. Beliau memberikan restunya dan mempersilahkan aku naik melalui tangga luar.

Aku naiki tangga itu satu persatu. Lantas terbayanglah dalam benakku seandainya aku terlahir sebagai yatim piatu, mungkin di tempat seperti inilah aku akan tumbuh dan besar. Begitu sampai di lantai dua, aku baca beberapa tulisan yang dicetak dengan ukuran teks yang besar. Isinya seputar peraturan-peraturan dan pengumuman. Di samping dinding yang penuh tulisan itu ada ruangan dengan pintu yang terbuka lebar. Agaknya itu adalah ruangan pengasuh panti. Tapi tak ada siapa-siapa disana. Barangkali sedang ikut bergabung di aula bawah.

Tak lama aku disitu, kaki ini lantas kubawa menelusuri koridor lantai 2 menuju kamar-kamar yang mulai terlihat jelas. Bangunan ini tak begitu besar. Di lantai dua tidak ada ruangan yang kosong. Kamar-kamar itu tersusun menjajar. Kira-kira ukurannya 4 x 6 meter. Lumayan besar juga. Dari daun jendela aku lihat masing-masing ruangan diisi empat sampai lima tempat tidur bertingkat. Ruangan kedua yang kutemui ini masih sepi dari orang. Hanya terlihat jejeran tempat tidur dari kayu, kasur-kasur dengan seprai berwarna kusam, baju-baju bergelantungan disana-sini. Aroma yang singgah dihidung terasa aneh. Aroma kehidupan bersama di satu tempat dalam jumlah yang banyak.

Kira-kira tiga atau empat kamar setelahnya terdengar suara beberapa bocah. Kuputuskan untuk menuju kesana saja. Ingin rasanya bertanya-tanya atau sekedar say hello.

Belum sampai langkahku menuju asal sumber suara itu. Tiba-tiba daun pintu ruangan yang kutuju terbuka. Tampaknya mereka mendengar langkah kakiku. Lalu keluarlah tiga bocah yang kira-kira usianya tiga atau empat tahun. Mereka berebut cepat untuk melalui pintu itu, lalu berlari berkelebat menujuku. “Ah.. tampaknya mereka sedang bermain kejar-kejaran“, tebakku dalam hati.

Tapi tidak, mereka tidak sedang bermain. Mereka berlari sambil menangis, berlomba untuk memeluk ayahnya. Sudah bertumpuk mungkin rasa rindu dalam hati mereka sehingga langkah bocah-bocah itu begitu bergelora untuk secepat kilat menuju pelukan ayah mereka. “Ayaaah..“, kata seorang anak menjerit. “Ayaaah…“, jerit yang satu lagi. Sementara si anak yang bertubuh paling kecil tak berteriak. Dia fokus mengerahkan seluruh tenaganya melawan cepatnya gerakan kedua anak yang lain.

Aku lihat kebelakang. “Siapa gerangan yang mereka sebut ayah itu?“. Tapi tidak ada siapa-siapa. Lantas siapa ayah yang mereka teriaki?

Tiba-tiba aku rasakan terjangan tiga orang anak sekaligus yang berlomba naik ke tubuhku sambil berteriak “ayah..!“. Entah bagaimana ceritanya, dua anak sudah ada dalam pelukanku. “Ini ayah Arif…“, teriak si bocah yang kugendong dengan tangan kananku. Wajahnya dibenamkannya ke leherku sambil melepas tangis dan berteriak “Ini ayah Arif..”. Rekannya satu lagi yang bertengger di tangan kiriku tak mau kalah. “Ga.., ini ayah Udin..“. Sementara si kecil yang kalah bersaing memeluk kakiku sambil menggapai-gapai agar diikutkan naik keatas seperti dua temannya. Pipinya telah basah dengan air mata. Tangisnya pun memecah naluriku untuk segera merengkuhnya.

Aku masih belum sempat berfikir, apa yang sedang terjadi ini? Eratnya pelukan mereka dan pilunya tangis kerinduan mereka membuatku hanyut dalam deru emosi yang mengaharu biru. Dalam benak mereka ternyata akulah ayahnya

Pelukan mereka begitu erat, sampai-sampai aku tak kuasa untuk bergerak. Cecep, si kecil yang kalah bersaing tadi belum sempat pakai celana saat keluar pintu itu. Ada benjolan besar di kepalanya, dugaanku itu tumor. Tangisnya Cecep yang paling menjadi. Arif dan Udin sudah merasa nyaman, sedang Cecep masih menangis pilu.

Aku turunkan kedua anak yang sedang kugendong. Tapi pelukannya itu loh,… seperti mengungkapkan padaku. “Jangan tinggalkan aku ayah…“. Aku tak punya cara untuk meyakinkan mereka bahwa aku bukanlah ayahnya. Tatapan mata mereka begitu menyayat hatiku. Tatapan yang berkata “Ayah… aku rindu“.

Masya Allah, sebegitu hebatnyakah siksaan psikologis yang mereka alami? Sehingga semua orang yang mereka temui dianggap ayah? Arif yang tadinya membenamkan kepalanya di leherku, kini sudah mulai menyelidi apakah orang yang di peluknya kini benar-benar ayahnya atau bukan. Di pegangnya kancing bajuku, dirabanya daguku, dan diperhatikannya wajahku dalam-dalam penuh selidik. Agaknya dia sudah mulai sadar bahwa aku bukan ayahnya. Barulah dekapan maut itu agak dilunakkannya.

Lebih dari 10 menit baru mereka ga ngotot lagi memelukku. Sebelumnya mereka bagaikan singa lapar, dan aku adalah mangsanya. Singa-singa itu tak mau melunakkan cengkramannya hingga sang mangsa sudah tak bernyawa lagi. Kuusap air mata mereka satu persatu, dan kini ganti air mataku yang mengalir.

Malam itu serta merta aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Malam itu pula aku lantas telepon kedua orang tuaku nun jauh di sana. Mereka heran karena baru kali ini aku menangis saat nelpon. Kusampaikan rasa terimakasihku karena mereka sudah membesarkanku. Kusampaikan juga rasa terimakasihku kepada Allah yang memberikanku kesempatan bertemu dengan kedua orangtuaku secara utuh hingga saat ini.

Malam itu aku menangis.., sepanjang jalan Lembang menuju Bandung aku terus menangis. Tetes air mataku tak kunjung usai. Entah mengapa aku jadi melankolis sekali. Jiwaku tergugah. Teringat sebuah ayat yang hanya mampu kuhapal saja selama ini. Lewat pengangalaman di panti tadi, Allah telah memberikan penjelasan padaku tentang ayat yang hanya sangup kujahirkan saja sejauh ini.

“…Wa amma idzaa mabtalaahu faqadara ‘alaihi rizqahu, fayaquulu rabbi ahaanan. Kalla balla tukrimunal yatiim, wa laa tahaadhuna ‘ala tho’amil miskiin… ” (..Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezkinya, maka dia berkata ‘Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidaklah demikian!, Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin..) -Q.S Al Fajr : 16-8.

-suatu ketika di epok senja, 6 Agustus 2006 –

Eskrim Pigura

0

Jalan-jalan lah ke sekitar bundaran UGM. Disana ada toko eskrim yang jual pigura. Tapi tak ada tanda-tanda eskrim tersedia disana. Seribu tanda tanya pun muncul dihati. Mengapa oh mengapa, warung eskrim berubah menjadi toko pigura?

Mungkinkah mereka beralih fokus? barangkali pemilik eskrim kalah judi dengan pedagang pigura dan menggadai tokonya? atau jangan-jangan papan merek eskrim itu memiliki nilai sejarah yang teramat tingginya, hingga tak boleh diturunkan meski mereka tak berdagang eskrim lagi.

Kita layak menurunkan tim riset untuk menyelidikinya dan menulis sebuah novel berjudul “Runtuhnya Eskrim Kami“.

Pak Gobet tampaknya memang sudah tidak menjual eskrim lagi. Kini Mang Abhe tak mampu mewarisi jurus-jurus meracik eskrim. Hanya piguralah yang sanggup ia selesaikan. Kemanakah pak Gobet? Apa yang terjadi padanya?

Ah.. rasanya saya memang tak punya bakat membuat novel ‘Runtuhnya Eskrim Kami’ ini. Biarlah, kita serahkan saja pada ahlinya.

Jogya, di kala magrib menjelang, tiga puluh agustus dua ribu delapan.

 

Hotel Misterius

14

Saya bilang misterius karena memang sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya. Kenapa?

Cerita bermula saat saya berangkat ke Bali pertengahan agustus 2008. Pesawat yang seharusnya berangkat jam 7 malam dari Jakarta ternyata delay selama 2 jam. Jadi saja saya sampai Bali sekitar jam setengah 12 malam waktu Indonesia bagian tengah.

Saya belum sempat pesan hotel untuk numpang nginap dengan membayar. Jadi saya bilang ke Pak Supir Taksi yang tak mau pakai argo itu, “Pak tolong bantu saya cari hotel di Nusa Dua ya…“. “Siaap…“, katanya sambil melaju menyusuri jalan yang sudah sepi.

Kesan ke Bali kali ini agak beda. “Kok sepi sekali ya?“, saya memecah kesepian yang menyelinap antara kami. “Sekarang sudah larut Pak, lagi pula sekarang hari raya ngaben“, pak supir yang sudah berambut putih itu akhirnya bicara juga setelah 15 menit kami saling diam.

Sesampainya di Nusa dua kami muter-muter cari hotel. “Disini ada kawasan hotel elit Pak, tapi pasti mahal“, katanya. Jelas selama 25 menit perjalan dari Bandara dia sudah menilai saya. ‘Pasti tak mampu bayar hotel 2juta permalam nih‘. Aih, si Bapak pastilah sudah pintar betul membaca keadaan, saya bicara dalam hati. “Oke Pak, kita cari yang lain saja“, jawab saya agak diplomatis.

Tapi ternyata hotel pada penuh semua. Kasihan juga si Bapak, saya ajak jalan-jalan cari hotel. Setelah percobaan ke-5 akhirnya ketemu juga sebuah hotel. O.o.. masih ada kamar kosong. “400 ribu permalam Pak, biasanya kami publish USD 60“. Oke tak masalah, lagi pula sudah lewat tengah malam, saya harus istirahat.

Terimakasih Pak“, saya ambil barang di bagasi taxi sambil bayar ongkosnya. Tentu saja itu barang punya saya, bukan punya pak taksi. Saya pengen kasih dada (say good bye gitu) sama supir taksi, sebagai tanda kami berpisah, tapi ga usah ah.. Malu.

Sampai disini, semua berjalan biasa saja. Karena itu kita loncat ke hari selanjutnya, setelah saya bangun pagi.

Saya keluar kamar sebentar untuk liat-liat keadaan. Bali gitu loh… ini lebih terkenal di luar negeri sana dibandingkan Indonesia sendiri. Pasti ada hal yang menarik disini hingga banyak turis bertandang ke tanah dewata ini.

Tak ada apa-apa, biasa saja. Suasana hotel juga biasa. Nyaman dan kesannya memang Bali sekali. Where’s every body???. Saya hanya menemukan 2 orang saja selama berkeliling sekitar 10 menit. Resepsionis dan tukang sapu yang dari tadi menari dengan sapunya.

Tiga malam saya menginap disana, tapi tak pernah menemukan satu orang pun selain resepsionis dan lagi-lagi tukang sapu. Padahal hotel lainnya disamping kanan dan kirinya serta di wilayah itu pada penuh. Wisatawan memang sedang banyak. Tapi di hotel ini kok sepi sekali? tampak tak ada seorang pun yang menginap disini selain saya. Sendiri saja.

Penasaran bertambah, apa lagi saat keluar dari hotel menuju salah satu hotel elit yang ditunjukkan supir taksi beberapa hari lalu. Saya naik taksi lagi, “Selamat pagi Pak“, sapa sang supir. “Nginap disini Pak?“, katanya dengan raut wajah yang tampak khawatir. Wah, ada apa ini. Hampir saja logika saya ketilap rasa takut. Apakah ini hotel berhantu sehingga tak ada yang mau nginap disini? atau barangkali ada kejadian-kejadian aneh disini?

Karena penasaran itu malam-malam selepas maghrib saya keliling-keliling lagi. Memang sepi sekali di hotel itu. Semua lampu di kamar-kamar pada padam. Padahal taksiran saya setidaknya ada 100 kamar disana. Kolam renang juga ada. Saya mau berenang tapi takut ada buaya didalamnya, jadi ga kesampaian.

Tiga malam disana biasa saja. Tidurpun nyaman dan nyenyak. AC saya matikan saja karena Bali sedang musim dingin. Ketularan dari Australia katanya. Yang membuat saya penasaran, kenapa hotel itu begitu sepi? Sedangkan teman-temannya semuanya penuh. Fasilitas bagus kok. Secara fisik lumayan bagus lah. Kontras sekali. Ada apa sih dengan hotel ini? Mohon maaf saya tak kuasa sebut nama hotelnya, agar mereka tak dirugikan. Wahai hotel misterius, saya akan kembali lagi kesana. Semoga kamu tak misterius lagi ya… Karena saya sudah janji dengan kolam renang-mu mau bermain dengan dia.

Nonton Sampai ‘Bego’

2

Saya lupa dapat darimana kata-kata “Nonton sampai bego” ini. Mungkin pernah baca buku atau artikel. Atau bahkan pernah nonton di tv, sang objek penderita yang sedang kita bicarakan ini.

TV sebagai media paling umum untuk nonton memang menawarkan berbagai sisi. Ada positif, tentu juga ada negatifnya. Sama saja dengan hal-hal lainnya. Selalu memiliki dua sisi.

Kita bisa dapat berita yang terjadi di belahan bumi lain dalam sekejap lewat TV. Kalau koran pasti telat minimal 1 malam, majalah apalagi pastinya ngikut pada masa terbitnya. Tapi tv bisa realtime, saat itu juga. Audio dan visualnya bisa kita lihat bersamaan jadi lebih komprehensif. Beda dengan radio yang hanya bisa dengar suaranya saja.

Dengan bersaingnya industri televisi, program tv pun semakin adu kreatif. Kita sebagai penonton disuguhkan tontonan menarik dan gratis sepanjang hari. Bahkan penyair kondang Taufik Ismail bilang ‘televisi itu jadi nabi baru orang zaman sekarang’. Ya… ia adalah nabi. Petuah-petuahnya kita ikuti dengan sami’na wa atho’na.

Silahkan saja nongkrong di TV seharian penuh, atau kalau perlu nambah lagi semalam suntuk. Sajian tv itu selalu saja ada dan selalu menarik. Tapi nonton lama-lama dan berlebihan memang membuat bego loh.. ga percaya? silahkan saja observasi sendiri.

Nonton tv dengan durasi yang lama akan membuat otak kita tidak aktif. Otak kita terlalu nyaman menerima informasi. Ia tidak diberi kesempatan untuk bekerja, menganalisis dan bertindak kreatif. Padahal itu tugasnya otak. Tayangan yang kita tonton memanjakan otak. Dan kalau ini dilakukan dengan jangka waktu yang lama dan terus menerus maka memang benar, nonton itu bikin bego.

Seperlunya dan tak sampai bego mungkin bisa dibiasakan. Klik…. turn off the tv please, kita olah raga saja atau baca buku.

Kedatangan Tamu

0

Ramadhan akan datang lagi. Ia tamu istimewa yang selalu ditunggu-tunggu. Suasana mendadak akan berubah. Masjid-masjid juga mendadak akan diserbu. Dapur akan bekerja dini hari.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu merasakan ramadhan yang benar-benar berkesan. Ia datang dan menghampiri hati hingga terasa sangat sejuknya. Siang dan malam terasa damai. Air mata haru pun mudah sekali tercucur. Itu memang pengalaman melalui ramadhan yang paling nikmat. Itu pula yang membuat saya rindu kembali berjumpa dengan ramadhan-ramadhan berikutnya. Ingin kembali merasakan hal yang sama. Sebuah pengalaman spiritual yang membuat air mata rindu menanti tamu agung ini datang kembali.

Memang tak setiap melalui ramadhan seindah itu. Tahun lalu saya jatuh sakit sampai dua kali saat melalui ramadhan. Sedih rasanya karena tak bisa menikmati sajian yang diberikan Tuhan.

Puasa memanglah milik kita sendiri dan sang Khalik. Tak perlu dijajakan kepada orang lain seperti barang dagangan. Biarlah kita sendiri yang menikmati apa arti merubah perilaku selama bulan itu tiba. Bangun sahur disaat waktu 11 bulan lainnya kita lelap di jam-jam itu. Menahan segala bentuk lapar dan dahaga, sedangkan di bulan-bulan lainnya kita bisa saja beli ini dan itu saat sedang lapar atau haus hinggap.

Selamat beribadah puasa. Semoga ibadah ini bersih sampai kepada Allah. Tapi sebelumnya saya ingin sampaikan maaf kepada siapapun yang pernah tersakiti oleh sikap dan perkataan yang kadang sulit dijaga ini. Semoga kita sama-sama menjalani ramadhan kali ini dengan indah. Rindu ingin merasakan ramadhan yang begitu syahdu seperti beberapa tahun lalu. Ya Allah, izinkanlah…

Di kala senang

2

Menulislah dikala senang. Itu yang terlintas di benakku saat berangkat ke Bali tanggal 20 agustus kemarin. Kita semua pasti pernah mendengar suara batin sendiri. Ia bertingkah dengan segala macam ide di kepala. Biasanya saat sedang sendiri, saat melamun, atau saat beraktifitas tapi tak membutuhkan kinerja otak yang banyak.

Nunggu pesawat yang kata petugas bandara akan telat 2 jam membuat saya bete awalnya. Lalu saya baca-baca majalah. Selama membaca banyak kecambah ide yang muncul di kepala. Mereka melompat-lompat. Ingin keluar dalam bentuk apapun. Tulisankah, diskusikah, atau cacian malah.

Baca majalah dua jam ternyata membuat lelah juga. Saat masuk pesawat mata tak ingin terpejam. Berbagai ide-ide yang melompat-lompat tadi membunuh syaraf ngantuk. Padahal biasanya setiap naik pesawat saya selalu tertidur. Kali ini tidak. Mereka ingin digoreskan dalam tulisan katanya.

Tapi sayangnya saya sedang tidak memegang kertas. Hanya pena yang setia menggantung di saku kemeja. Cari sana, cari sini, tak ketemu juga. Akhirnya amplop pun jadi sasarannya. Amplop itu tadinya saya gunakan untuk menyimpan uang. Bukan uang suap, bukan pula hasil korupsi. Hanya sengaja memisahkan antara duit pribadi dan duit perusahaan saja.

Ni dia, sang amplop pun jadi korban ide-ide tadi. Ditulis dalam pesawat.

Tapi saya jadi senang. Lega pula. Setelah bebas melibas sang amplop dengan tulisan apapun yang ada dalam fikiranku. Karena belum layak muat, tulisan itupun tak dipindah dalam bentuk apa-apa. Dia hanya tersimpan dalam tas. Mungkin lain waktu bisa dipoles lagi.

Sebutlah ini.. pornoaksi

0

Sebutlah ini pornoaksi kawan…

Foto ini saya ambil saat menumpang taksi dari setiabudi menuju BTC – Bandung. Ceritanya saya lagi buru-buru mau ke Jakarta pakai salah satu travel di BTC. Sambil duduk di belakang pak supir yang sedang mengemudi, saya bidikkan kamera kesana kemari. Pasti Pak Supir membatin, “Ni orang pasti wartawan atau intel yang sedang mencari-cari sesuatu dengan kamera canggihnya”. Pliss deh Bapak, apa sih yang engkau fikirkan. Saya cuma iseng. Dan kamera ini ga canggih-canggih amat. 6 Megapixelnya, SLR tipenya, Nicon 40D mereknya, semuanya masih serba sederhana. Belum pro-pro amat.

Menikung di perempatan RSHS, Pak Supir menancap gas sambil bergaya menyetir seperti pembalap yang takut kehilangan tikungan. Biar dramatis katanya, karena lampu kuning mulai nyala. Kala itu pula aku jepretkan kamera ke sisi kiri jalan. Tak disangka ternyata hasilnya seperti foto diatas.

Zoom…zoom beberapa kali. Aih… ada yang berpose seksi disana. Siapakah itu? Coba kalau itu Luna Maya. Pasti motor dan mobil yang berhenti itu bukan karena lampu sedang merah, tapi tertegun akibat tersengat yang namanya libido. Tapi sayangnya wanita itu bukan luna apalagi maya.

Ia adalah wanita malang yang mungkin tak merasa malang, karena ia sudah kehilangan sebuah defenisi. Janganlah tanya apa motivasi ibu itu duduk disana tanpa penutup dada. Jangan pula tanya apa duduk perkaranya. Karena harusnya ibu itu dipelihara negara yang juga harusnya bertanggung jawab atas nasib rakyatnya.

Antara kasihan, lucu, geli dan miris melihat keadaan ini. Semua orang pasti tau apa yang sedang menimpa wanita malang ini. Apa predikat yang pantas ia sandang. Takkan ada yang birahinya terbuncah meski ia tampil porno, karena kita tau ia harusnya ada di rumah sakit jiwa atau tempat yang layak baginya.

Taksi melaju. Saya masih nge-zoom. Kenapa sih orang-orang disitu tak ada yang menatap dia? Malu atau jijik sih?