Adzan

4

SORE KEMARIN aku melangkah lagi melalui masjid di sebuah kota kecil yang terletak di pantai barat sumatera. Berdampingan langsung dengan Samudera Indonesia. Dekat dengan Kota Sibolga, tepatnya kota kecil Pandan namanya. Meski berhawa panas, udara di kota itu segar sekali. Paru-paru terasa lapang diisi aroma wangi gunung dan rawa-rawa.

Sebelas tahun lalu, masjid itu baru saja berdiri. Aku beranikan hati mengajukan diri untuk menjadi penjaganya. Aku pun diberi kunci pintu masjid dengan tiga tanggung jawab yang aku lekatkan sendiri. Membuka/Mengunci pintu, membersihkan isi dan luar masjid, dan adzan di lima waktu sholat.

Saat itu aku masih kelas 1 SMU. Masih culun dengan potongan rambut 023. Mirip tentara.

Masjid sumbangan Yayasan Pancasila itu terkucil di dekat parkir. Jauh sekali dari ruang kelas. Tak strategis. Hingga satu tahun masjid itu isinya hanya saya dan kadang-kadang beberapa orang yang sedang ingin. Ntah ingin apa. Tapi setelah saya kelas 2 SMU, masjid itu ramai betul. Tak cuma untuk ibadah, juga sekaligus dipakai transit untuk melepas lelah siswa-siswa.

Yang paling aku rindukan sampai saat ini adalah menjadi mu’adzin, atau orang yang mengumandangkan adzan. Bangun pagi, aku langsung lari menuju masjid. Nyalakan air, siapkan sound system, dan langsung adzan. Inilah saat-saat paling berat untuk adzan. Suara masih berat dan susah keluar. Dengan serak dan masih bernada ngantuk, tiap pagi orang-orang sekitar masjid pasti terbangun dengan suaraku yang sama sekali tak merdu itu.

Bukan hanya adzan saja yang aku lakukan di sana. Karena sepi, masjid itu asik sekali dipakai untuk belajar. Selain sekolah, aku menghabiskan waktu terbanyak di situ. Indah sekali menyepi dalam kesunyian. Ditemani suara-suara ntah binatang apa di hutan sebelahnya.

Sampai sekarang aku masih merindukan adzan lagi di sana. Tapi tampaknya masjid itu sudah banyak pengurusnya sekarang. Pasti juga masih banyak yang suaranya lebih merdu dan lebih “nyeni”. Tak mungkinlah aku jadi mu’adzin lagi.

Tak pernah rasanya bosan mengumandangkan adzan, meski itu lima kali sehari. Rutin, dan itu-itu terus. Tapi indah sekali. Menanti-nanti waktu sholat tiba. Begitu tiba, aku pun langsung Adzan. Berharap seruan itu didengar oleh orang lain. Saat ada yang datang ke masjid akibat mendengar seruan itu indah sekali rasanya. Akankah saat ini aku masih seperti itu? Menanti-nanti waktu sholat tiba? Kadang merasa bersalah juga, saat ada adzan terdengar hati dan kaki ini tak langsung bersegera.

Aku wudhu lagi di masjid itu. Sambil sedikit ngobrol dengannya, “terimakasih telah berdiri disini wahai masjid, dan terimakasih telah pernah memberi kedamaian dalam hidupku”. Sang masjid hanya diam, tapi saya yakin dia juga menjawab. Rindu juga kah ia padaku?.

Hati terasa hangat, seperti saat dulu ketika aku sedang membangun mimpi dan sering mengadu di Masjid ini.

Lelet

0

Itulah yang saya rasakan seminggu ini Bandung. Koneksi internet lambatnya minta ampun. Buka apa saja loading berpuluh menit. Mau nulis blog, akses halaman login gagal mlulu. Tapi kini setelah keluar Bandung lancar lagi. Semoga konsisten. Apakah Bandung sudah demikian crowded-nya? hingga jaringan telkomflash yang saya pakai lumpuh dan hanya mampu merangkak. Aduhai telkomsel, saya bayarnya ga pernah lelet loh.. Sungguh teganya dirimu

Indonesia Butuh Avatar

6

Ada sebuah tayangan kartun di Global TV setiap hari yang selalu diulang-ulang. Satu seri cerita bisa diputar berkali-kali, sampai penggemarnya hafal betul alur dan dialog yang akan muncul.

Tayangan itu adalah Avatar : The Legend of Aang. Meski diproduksi oleh Amerika dan disiarkan lewat jaringan nickelodeon, konsep cerita animasi kartun ini digali dari berbagai budaya asia. Mereka meminjam seni dan mitologi dari benua asia.

Saya termasuk penggemar avatar, meski belum masuk dalam kategori tergila-gila. Konsep ceritanya memang menarik. Ada cerita dan dongeng yang terekspos. Mungkin orang Amerika sudah kehabisan ide cerita dan kering dengan legenda, akhirnya mencungkil legenda asia.

Pada serial itu dikisahkan bahwa peradaban dibentuk oleh empat bangsa. Suku air (Water Tribe), Negara Api (Fire Nation), Kerajaan Bumi (Earth Kingdom) dan Pengembara Udara (Air Nomads). Masing-masing bangsa itu memiliki orang-orang yang disebut Bender (pengendali). Mereka adalah orang-orang yang mampu mengendalikan unsur alam sesuai bangsa mereka. Seni mengendalikan dalam hal ini adalah memadukan unsur beladiri dan sihir alam.

Dalam setiap generasi, ada seorang yang sanggup menguasai keempat elemen itu. Dia adalah avatar. Serial ini bercerita tentang petualangan Aang, seorang anak kecil pengendali udara.

Filosofi kehadiran Avatar adalah untuk menjaga keseimbangan dan perdamaian. Untuk itu dia harus menguasai seluruh elemen itu dan menjadi pengendalinya.

Kalau kita tarik pada kehidupan nyata, memang suatu negara perlu mengendalikan keempat elemen itu. Air, Bumi/Tanah, Api dan Udara. Itu hal yang strategis. Kalau kita tak mampu menguasainya maka runtuhlah keseimbangan seperti yang diceritakan dalam serial Avatar itu.

Kita lirik negeri ini. Bumi kita dikendalikan oleh orang asing. Bahan tambang disetiap sudut bumi indonesia dikelola oleh mayoritas makhluk asing. Mereka mampu mengendalikannya karena mereka punya pengalaman dan teknologi untuk itu. Sedangkan kita hanya jadi penonton di negeri sendiri. Kalaupun ada pengendali tanah pribumi maka mereka adalah kelas teri. Sekali libas langsung tengkurap di bumi sendiri.

Api atau bisa kita selaraskan dengan energi pun sama saja. Eksplorasi dan pengelolaan energi juga dikendalikan oleh bangsa asing. Mereka mampu lagi-lagi karena punya pengalaman dan teknologi.

Udara, seberapa hebat pertahanan udara bisa kita jawab sendiri dalam hati. Teknologi luar angkasa kita pun masih agak tertinggal. Kita hanya mampu merilis satelit palapa yang geostationer itu. Sementara ada beratus satelit lain numpang geostationer diatas bumi Indonesia. Mereka yang mampu mengendalikan luar angkasa berarti mampu mengendalikan dunia. Alat mata-mata, satelit komunikasi, pengintai, bahkan senjata ada disana.

Begitu juga dengan air. Kala musim kemarau, kekeringan. Hujan tiba, kebanjiran. Kita tak mampu mengendalikan aliran air dengan sebaik mungkin. Proyek PLTA pun kebanyakan dipegang asing. Semua perkara mengendalikan air ini agak semerawut.

Itulah sebabnya Indonesia butuh avatar. Orang-orang yang mampu mengendalikan keempat unsur strategis tadi. Kita tak perlu Aang, karena dia hanya ada di negeri fantasi. Yang kita butuhkan generasi Indonesia yang mampu mengendalikan elemen-elemen tadi tapi tetap memiliki keluhuran budi pekerti Aang. Karena kemampuan mengendalikan saja tak cukup. Serial avatar menceritakan juga kezaliman pengendali api. Yaitu mereka yang mampu mengendalikan api tapi tak mampu mengendalikan diri sendiri.

Masih ABG

0

Sore hari, sehimpunan makhluk ceria berkunjung ke kantor. Tiba-tiba ngajak foto ala ABG. Hayulah.. mari.mari.. Duh, serasa masih SMU aja.

Kena Tilang (lagi)

2

Jam sudah nyaris pukul 3.30. Kami masih rapat di kantor. Padahal jam 4 band kami harus mengisi acara di Ujungberung – Bandung. Akibatnya terpaksa buru-buru sambil tergesa-gesa. Pacu sepeda motor melewati jalan tikus di daerah kebaktian, berkelok-kelok dan banyak polisi sedang tidur melintang di jalan. Tiba-tiba sudah tembus di bypass Sukarno Hatta, tepatnya di seberang Makro. Beruntung saya hapal jalan motong ini, kalau tidak pasti sudah terjebak macet di Kiaracondong.

Mendapati perempatan gedebage, kami ambil jalur kiri dan menikung ke kiri juga. Lagi-lagi jalan tembus ke Ujungberung lewat jalan rumahsakit. Menjelang ujung jalan rumah sakit saya lihat jam, wah sudah hampir telat. Belum ngurus-ngurus sound dan segala macam jenis persiapan lainnya. Panik dan kalut pun tak terhindarkan. Ingin cepat-cepat sampai.

Tepat diujung jalan rumah sakit itu saya lantas belok kanan. Tapi ternyata disana ada polisi lalu lintas dan lantas juga menghentikan laju sepeda motor saya. Pak Polisi bertanya “Dari mana dan hendak kemana?“. Saya tak langsung jawab, karena saya sedang menahan ketawa. Baru kali ini polisi mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Seperti sinetron saja. Memang benar tak saya jawab, karena bingung menjawabnya.

Akhirnya dia rampas STNK dan SIM saya. Lalu diberikan ke temannya yang sudah menunggu di pos. Dia pasang wajah angker, pasti berharap saya akan takut. “Sudah tau apa salahnya Pak?“, itu pertanyaan pertama yang saya dengar darinya. “Sudah, ga boleh belok kanan“, saya ingin cepat-cepat saja karena waktu sudah mendenting semakin keras.

Kerja dimana Pak?

Kiaracondong“, jawab saya

Sebagai apa?

Buruh pabrik“, ini sengaja berbohong. Mudah-mudahan tak membatalkan puasa saya.

Ada waktu untuk sidang hari jum’at?“, ah saya tau ini cuma trik. Apalagi sang bapak lantas menulis pelan-pelan sekali di formulir tilang. Mungkin berharap saya akan mengeluarkan sebuah permohonan untuk menyelesaikan masalah ini di tempat saja.

http://pungli.wordpress.com/2007/03/11/kena-tilang/
Ditilang (bukan gambar saya), Sumber foto : http://pungli.wordpress.com/2007/03/11/kena-tilang/

Bisa Pak, nanti saya minta izin sama bos.

Wah, sidang itu bisa berjam-jam loh Pak. Nanti mengganggu pekerjaan Bapak“, dia mulai mempertegas jurusnya agar saya memohon. Dia masih menulis pelan-pelan. Saya jadi ingat saat kelas 1 SD dulu. Menggoreskan huruf satu persatun dengan slow motion.

O, ga apa-apa Pak. Bos saya baik kok.

Maksud saya, kalau Bapak tidak ada waktu bisa kita selesaikan disini“, nadanya agak meninggi sedikit. Ingin sekali bertampang lugu dan tampak bodoh disana sekedar untuk ‘ngerjain’ pak Polisi. Tapi saya sudah diburu waktu.

Pak, ditilang saja. Tapi jangan lupa tuliskan nama Bapak disitu ya…“. Si Bapak agak ‘keder’ juga, tapi dia sudah terlanjur menulis namanya dan menandatanganinya.

Akibatnya saya harus sidang (lagi). Seperti film india. Masuk ruangan, ditanya pak Hakim, mengaku bersalah, bayar denda, dan ambil sim yang ditilang. Lalu pulang sambil bertobat dalam hati.

Tapi.tapi… Bagaimana kalau saat ditanya pekerjaan, saya menjawab wartawan, atau saya bilang saja saya menantu kapolda? Mungkinkah saya akan ditilang? Suatu saat nanti akan saya coba buktikan.

Nestapa Partition Magic

13

Jangan main-main dengan sesuatu yang belum dikuasai betul. Atau setidaknya pelajari dulu sebelum uji coba. Itulah pelajaran yang saya dapatkan setelah mendapat musibah akibat partition magic.

Beberapa tahun lalu, ketika sedang mengerjakan Tugas Akhir (Skripsi) saya berkenalan dengan partition magic. Sebelumnya sudah tahu, tapi belum pernah pakai. Partition magic itu adalah sebuah software yang berguna untuk mengelola hardisk. Kita bisa membuat partisi, menggabungkan (merge) drive hardisk, dan berbagai fungsi lainnya yang berkenaan dengan hardisk.

Saya sudah selesai mengerjakan seluruh tugas akhir saya. Senang sekali rasanya. Esok pagi saya akan menghadap dosen pembimbing untuk memberikan draft tugas akhir (TA). Asik, kalau saya sidang sekarang maka saya akan lulus tepat waktu. Sungguh membanggakan. Pakai topi aneh dan baju gombrang di SABUGA-ITB. Meski seperi badut, tapi itulah baju kebanggaan seorang mahasiswa.

6 bulan sudah tugas akhir itu saya susun. Melelahkan dan penuh ujian. Saya memilih sendiri judul TA saya, dan untungnya dosen menyetujuinya. TA saya membuat software, bukan mengkaji pengaruh variabel tertentu terhadap suatu masalah, bukan pula studi literatur. Jadi selain menulis draft TA, saya juga harus membangun program software sebagai produk TA saya.

Malam itu saya santai-santai saja. Nonton film yang di-sharing pada server ITB. Kampus ini memang mengasyikkan. Segala jenis lagu dan film bisa kita peroleh disana. Entah siapa saja yang sharing file. Ini kampus sumber ilmu pengetahuan, tapi sejak teknologi jaringan menjadi salah satu infrastruktur kampus, maka ITB juga jadi sumber entertainment.

Saat download film-film itu. Saya lihat kapasitas hardisk saya kurang seimbang. Drive C hanya terisi 30%, sedangkan drive D sudah nyaris 100% full. Bahkan notifikasi hard-drive full pun sudah muncul berkali-kali. Saya teringat partition magic itu. Mungkin dialah yang akan membantu saya untuk mengelola hardisk ini pikir saya.

Baiklah, mari kita kurangi size di drive C dan kita pindah ke drive D. Tampaknya mudah. Sekarang tahap akhir, pencet tombol untuk mengakhiri pekerjaan. Tiba-tiba komputer saya restart, dan tahukah kawan? Drive C dan D sudah kosong melompong.

Saya bengong sendiri. “Kenapa ini?”. Mungkin ada settingan yang salah. Saya restart lagi. Tetap saja, hardisk itu sudah kosong. Tanpa jejak sedikit pun.

Dalam sekejap saya panik. Bagaimana dengan seluruh data TA saya? Draft sudah jadi, beribu-ribu baris code program yang sudah saya ciptakan juga hilang. Langsung saja seluruh darah yang ada di kepala lenyap. Saya seolah tak punya kepala lagi. Lantas jatuh tersungkur. Menangisi kejadian konyol itu. Karena saya yakin betul semua data TA belum di-backup sama sekali.

Inilah sumber nestapa itu
Inilah sumber nestapa itu

Hanya dengan sekali klik partition magic, seluruh kerja keras saya selama 1 semester musnahlah sudah. Itulah malam paling nestapa dalam hidup saya. Seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya, saya menciap-ciap dalam keheningan dan basah oleh air mata. Meratapi nasib yang begitu malang akibat kecerobohan sendiri.

Besoknya saya menghadap sang dosen pembimbing dengan mata sembab dan muka pucat. “Maaf Pak, saya sedang terkena musibah. Saya mohon perpanjangan 1 semester lagi untuk sidang“, saya hadir di hadapan pak dosen dengan segala kekalahan. “Kenapa?“, katanya singkat tapi penuh tanda tanya. “Hardisk saya rusak Pak“, saya masih menunduk. “Ga ada back up-nya?” pertanyaan yang sudah saya tebak. “Tidak ada Pak“, jawab saya merasa bersalah sekali. “He..he… lain kali semuanya di back-up ya. Kita ambil saja hikmahnya“, dosen saya ini baik betul. Tidak marah dan selalu mengerti. Beda dengan nasib kawan-kawanku yang menghadapi dosen yang suka menyusahkan mahasiswa.

Sebulan lebih saya tak sentuh lagi pekerjaan tugas akhir itu. Saya seolah-olah kehilangan semangat. Terpukul oleh yang namanya kebodohan diri sendiri dan diperparah partition magic. Harus mengulang lagi semuanya dari awal.

Satu lagi tambahan pelajaran yang saya peroleh. Backup….! Bila ada backup mungkin saya tak akan se-nestapa ini.

Jangan Bohongi Anak-anak

5

Bersama teman-teman kami pernah mengontrak rumah di daerah Sarijadi – Bandung. Ketika itu masih pada lajang semua. Ada keponakan salah seorang diantara kami yang sering berkunjung. Namanya Kia. Saat itu umurnya sekitar 3 atau 4 tahun. Jadi sedang lucu-lucunya.

Saya dan Kia cepat akrab. Sering bermain bersama. Setiap ke rumah dia selalu menghampiri saya dan minta di dongengin. Saya memang suka sekali mendongeng ke anak-anak. Kia adalah salah satu “korbannya”.

Om… terusin lagi ceritanya“, katanya. Sudah sebulan kami tidak bertemu, tapi Kia merasa masih ada kelanjutan dari dongeng yang saya karang sesuka hati itu. “Sampai mana kemarin Kia?“, saya saja sudah lupa gimana ceritanya. “Itu…, sampai si burung elang mencuri anak tikus di bawah pohon“, bla..bla… Kia mereview lagi cerita yang didengarnya bulan lalu. Detail betul, meski alurnya masih loncat-loncat.

oke.. mari kita lanjutkan“, saya harus mengarang lagi. Suka-suka saya saja. Kalau saya sedang mendongeng biasanya Kia duduk berhadapan dengan saya atau minta dipangku. Setelah cerita selesai akibat saya kehabisan ide, Kia mulai nanya macem-macem.

Om, kenapa elangnya mau makan tikus?, kan tikus jorok

Om, siapa yang masak makanan untuk keluarga tikus?. Kan ibunya ga ada

Om, kenapa tikus tinggalnya di dalam pohon?”

Dan berbagai jenis pertanyaan lainnya, yang tampaknya ga penting. Aduh…, saya jawab saja sesuka saya. Soalnya kalau dijawab panjang lebar capek juga, kemudian belum tentu dia mengerti.

Itulah yang sering dialami oleh orang tua. Pertanyaan ga penting dari anak-anak. Darimana datangnya bayi, kenapa ayah punya kumis sedangkan ibu enggak, kenapa ga boleh mandi hujan. Dan biasanya kita agak malas menjawabnya. Salah satu senjata andalan adalah “awas nanti ditangkap polisi“, “awas nanti ada hantu“, dan segala bentuk ketakutan yang kita sematkan agar mereka tak mau bertanya lagi.

Padahal apapun yang kita lakukan dan kita katakan akan mereka rekam. Mungkin tak terungkap secara lisan hasil rekaman itu, tapi ia akan tersimpan apik dalam alam bawah sadarnya. Anak yang takut hantu, saya percaya masa kecilnya sering ditakut-takuti oleh terminologi hantu. Anak yang paranoid dengan kucing juga pasti pernah trauma atau pernah ditakut-takuti dengan kucing.

Contohnya Kia, sampai sekarang dia masih ingat segala jenis dongeng yang pernah saya sampaikan. Bahkan ke hal yang saya tipu-tipu. Saya merasa berdosa juga karena sudah menjelaskan beberapa konsep yang salah padanya. Ketika ia bertanya tentang kenapa langit biru, saya jawab Tuhan mencat langit pake tinta berwarna biru. Soalnya susah juga ngejelasin konsep langit biru ke anak-anak. Tapi beberapa tahun kemudian dia masih memegang konsep Tuhan mencat langit itu. Wah, gawat juga kan.

Jadi saya berkesimpulan, setidaknya kita menjelaskan pertanyaan mereka dengan konsep yang tidak menyimpang. Kenapa? saya coba cuplik sebuah fakta yang disampaikan salah seorang profesor pendidikan dari universitas chicago. Namanya Om Benyamin’s Bloom.

  • 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun
  • Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.

Jadi jangan bohongi mereka. Karena meskipun saat anak-anak mereka belum mengerti betul akan konsep dan defenisi yang kita jelaskan. Itu akan tersimpan dalam alam bawah sadar mereka. Dan tak bisa dipungkiri akan membentuk karakter mereka.

***

Suatu ketika lagi, saya tidur bersama Kia. Supaya cepat tidur, saya dongengi lagi dia. Tapi sudah 1 jam saya cuap-cuap matanya masih segar betul. Menikmati cerita-cerita aneh dari saya. Akhirnya saya kecapean.

Kia, gimana kalau gantian dongeng?“, kata saya. Saya sudah ngantuk sekali. Sedangkan dia belum ada tanda-tandanya. Kia pun mulai mendongeng. Entah apa saja yang dia ceritakan. Semuanya dicomotnya dari berbagai cerita yang sudah pernah saya sampaikan. Termasuk bagian tipu-tipunya. Saya pun tertidur dalam dongengan Kia.

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

2

Saya punya dua sketsa. Terjadi pada hari yang berdekatan. Meski tak begitu nyambung tapi marilah kita sambungkan.

Sketsa pertama.

Saya berkunjung lagi ke Dufan. Itu karena saya yakin masih muda dan masih layak naik segala macam wahana disana. Sebenarnya berkunjung ke dufan ini ide istri saya :D. Dan demi dia saya dengan senang hati mengiyakannya. Dufan memang hebat, selalu dipenuhi oleh orang-orang yang anehnya mau disiksa dan harus bayar mahal pula. Sensasi yang ingin dikejar, katanya.

Setelah lelah dikerjain berbagai wahana kami istirahat sambil menikmati minuman yang kami beli. Kalau Anda pernah ke Dufan pasti tau betul disana ada sebuah panggung yang biasanya digunakan untuk berbagai pertunjukan demi menyemarakkan suasana disana. Pada hari itu ada festival kejepang-jepangan. Ah, saya lupa namanya apa. Jadi saya sebut saja kejepang-jepangan.

Ceritanya berkumpullah berbagai orang untuk dinilai oleh dewan juri. Mereka berpakaian ala Jepang. Totally sekali. Bukan hanya pakaiannya saja. Wajah mereka permak sedemikian rupa sampai mirip betul dengan orang jepang sejati. Ngomongnya juga dibuat lari dari logat Indonesia manapun. Ada yang jadi Oshin, jadi satria baja hitam, jadi sailor moon, dan banyak makhluk jadi-jadian ala jepang lainnya.

Menarik sekali tontonan itu. Hingga saya minta istri saya agak maju ke panggung. Berdiri di sana, sedikit senyum, dan saya jepret pakai kamera. Mereka yang tadi ikut lomba jadi latar belakangnya.

Sketsa kedua,

Beberapa hari berikutnya saya sudah ada di sebuah hotel nan megah. Masih di ibukota. Hotel Shangri-La namanya. Itu hotel mewah sekali. Tak peduli siapapun yang hendak masuk harus diperiksa dulu. Kita semua berpotensi jadi teroris. Saya ingat beberapa tahun lalu kami pernah nge-band di hotel ini. Sangkin mewahnya kami tak sanggup menelan makanan yang disediakan. Aneh betul dengan lidah orang udik seperti kami.

Tapi bukan ngeband itu yang ingin saya sketsakan. Itu hanya teringatnya saja.

Pada hari itu saya mengikuti sebuah perhelatan akbar bidang pertambangan. Ada seminar, ada pula pameran. Tak sembarang orang bisa masuk. Kita harus terdaftar dulu. Registrasi dulu. Baru diberi id card, pertanda kita punya hak masuk kedalam. Saya bawa istri lagi, tapi dia tak punya hak masuk. Jadi menunggu sajalah seharian.

Beberapa pejabat negeri ini sedang memaparkan kondisi iklim investasi industri pertambangan Indonesia. Melalui seminar dan pameran ini pemerintah berharap investasi pertambangan bisa lebih digalakkan kembali. Selama ini pemerintah mungkin terlalu galak, sehingga banyak yang lari. Tapi mengapa harus tambah digalakkan lagi?

Saya menatap sebuah layar besar yang menampilkan grafik tentang “rasa cinta” bangsa jepang terhadap Indonesia. Rasa cinta dalam konteks investasi ni ceritanya. Ternyata sejak 1997 hingga sekarang Indonesia secara teratur jatuh dari lirikan bangsa Jepang. Melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Jepang merilis negara-negara yang paling mereka “cintai” untuk investasi. Judulnya Negara-negara Paling Prospektif dalam FDI oleh Perusahaan Jepang. FDI itu singkatan dari Foreign Direct Investment & Development.

***

Tiba-tiba saya teringat pada sketsa pertama. Akhir-akhir ini anak-anak muda Indonesia sedang gandrungnya mencintai segala hal tentang bangsa Jepang. Japanesse Addicted. Saya berpendapat gara-garanya komik, film, lagu, dan fashion jepang begitu mengena. Kalau dari sisi pencapaian aspek teknologi saya masih agak meragukannya.

Anak-anak muda kita begitu cinta mati dengan budaya Jepang. Disaat yang sama Jepang sudah tak begitu tertarik dengan bangsa Indonesia. Tahun 1997 kita menjadi negara yang paling dicinta setelah China dan Amerika. Sekarang Vietnam, Thailand dan India sudah “menyepak” kita dan turun terus.

Inilah cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.

Kiri : Indonesia turun terus jadi negara paling prospektif di mata perusahaan jepang.

Kanan : itu orang Indonesia semua. asli dan original mereka keturunan indonesia.

Bawah : kita tau dia sedang kesepian, tak populer lagi.

Dua Mahasiswa ITB Tertipu

16

Ini kejadian terlaksana saat saya masih beberapa bulan menduduki ITB – kuliah maksudnya. Itu tahun permulaan milenium ketiga. Icon sebuah zaman canggih.

Tapi saksikanlah kami anak kampung ini. Baru dua atau tiga bulan mencicipi hidup di kota Bandung. Angkot yang kami kenal-pun cuma Kalapa-Dago aja. Warnanya hijau bercampur merah. Mirip seperti kumbang. Itu sebabnya kalau kami kemana-mana pun harus ikut rute angkot itu saja.

Maka, tibalah disuatu senja. Saya (ITB orange) dan teman saya (ITB merah) berjanji muter-muter di Bandung. JJS kata anak-anak dulu. Kami berangkat menuju pusat peradaban kota Bandung dari masa ke masa – jalan cikapundung. Itu jalan bersejarah sekali. Dekat dengan alun-alun, bersampingan dengan gedung asia afrika, dan tak jauh dari jalan braga yang terkenal itu.

Disana banyak pedagang menggelar buku dan majalah bekas. Menarik sekali. Apalagi bagi kami mahasiswa yang haus ilmu pengetahuan begini, tapi haus juga kantongnya. Ini adalah surga bagi kami yang ingin sekali jadi intelektual. Orang pintar lulusan perguruan tinggi dan kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah sebuah kebenaran.

Bersama pengunjung lain, kamipun tenggelam dalam larut suasana cikapundung disore hari. Tiba-tiba di suatu sudut jalan ada sebuah keramaian. Banyak sekali orang yang ikut ngumpul. Bikin penasaran saja.

Yuk ah, kita kesana, ada apa sih?” saya tarik tangan temanku ini. Kamipun menuju kesana. Ikut berkumpul bersama mereka. O.. ternyata ada sebuah presentasi menarik berlangsung di kaki lima ini. Seorang Bapak separuh baya sedang duduk diatas sebuah kursi tua berwarna kusam. Ia memakai sorban, pakai tasbih juga, meyakinkan sekali. Suaranya berat dan intonasinya mantap.

Ia sedang menjelaskan sebuah keajaiban alam, “saya akan memperlihatkan kuasa Tuhan sebentar lagi” katanya. Aduh.. itu suara dan gaya menyakinkan sekali. Kami ambil duduk disana. Menikmati alur cerita yang sedang disampaikan si Bapak.

Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah batu cincin. “Inilah yang ingin saya sampaikan tentang kuasa Tuhan tadi“, katanya sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi menunjukkan batu berkilat itu. “Ini bisa menyembuhkan penyakit apapun. Guru kami sudah memasukkan segala jenis doa didalamnya“, ia masih lanjut membeberkan panjang lebar produk yang sedang dipresentasikan.

Berbagai petuah ia sampaikan. Sehubungan dengan segala keajaiban batu cincinnya itu. Kemudian ia berkata “benda keramat ini bukan hanya punya manfaat besar, tapi juga bisa mendatangkan malapetaka bagi orang yang tidak percaya“, nadanya mulai setengah mengancam.

Salah seorang penonton seperti kami mengeluarkan celoteh, “ah… ga benar itu“. Sejurus kemudian pemuda bercelana jeans biru itu tiba-tiba terhempas dan menggelepar-gelepar. Suasana pun begitu menegangkan. “Saya tidak bertanggung jawab bila ada yang seperti itu lagi“, kata sang presenter benda ajaib itu. Kami langsung ambil kesimpulan “sakti benar si Bapak ni“.

Masih ada juga yang bandel, dia berdiri dari duduknya dan hendak keluar dari kerumunan itu. Tapi belum sempat ia keluar, pemuda berjaket kulit itu juga mengalami nasib yang sama. Jatuh dan menggelepar. “Alamak, mati kita” dalam hatiku. Posisi kami persisi di depan Bapak yang sakti mandraguna itu. Kalau mau kabur, khawatir mengalami kejadian naas seperti itu juga.

Singkat cerita, singkat berita. Kami ditawari (dipaksa persisnya) membeli batu cincin itu seharga 50ribu rupiah. “Mampus…!”, saya tak bawa duit. Teman ITB Merahku ini pun tak bawa. Paling hanya sekedar ongkos saja. Kami sampaikan saja kondisi keuangan kami. Tapi asisten Pak Sakti itu bilang “sudah, beli saja dengan uang yang ada“. Maka terkuraslah isi kantong kami. Kala itu kami belum layak punya dompet, karena belum cukup duit untuk dimasukkan kedalamnya.

Setelah dirampas habis-habisan, kami beranjak pulang. Naik angkot Kalapa – Dago lagi. Duit yang tertinggal pas benar untuk ongkos. Kami terdiam dan membisu. Dua mahasiswa institut paling membanggakan di negeri ini telah dikerjai sekelompok orang di cikapundung. Kami pun saling berjanji tak akan cerita kesiapa-siapa. Itulah sebabnya saya tak sebut nama kawanku si ITB Merah itu.

Memang benar, selama kuliah di ITB kami tak pernah mengungkap rahasia ini. Terbungkus rapi, sesekali kami hanya tersenyum saat terceletuk kata “cikapundung”. Orang lain pasti ga ngerti kenapa kami senyum-senyum saat mendengar kata cikapundung.

Setelah saya fikirkan kembali, siapapun bisa kena tipu. Jangankan kami sang mahasiswa baru yang masih polos betul. Intelektual beneran aja sering kena tipu. Sama-sama di cikapundung mungkin. Tapi dengan kasus yang berbeda. Manipulasi namanya, yang bermuara pada korupsi. “ah.. sok tau benar ni

Tapi marilah kita simak lebih jauh. Korban penipuan ini bisa merajalela dimana-mana. Kalau diambil sederhananya menipu simple aja. Serang dengan argumen yang meyakinkan, lalu kurung dengan ancaman yang tampak menakutkan, trakhir padukan dengan sebuah acting yang meyakinkan. Kita hitung kembali betapa banyak aspek hidup kita yang berjalan dari sebuah tipuan besar. Negara ini pun bisa jadi. Sebabnya ekonomi kita masih diserang bangsa lain. Kontrak-kontrak investasi yang menjamur dengan borok di dalamnya. Maka waspadalah, sebelum kita tertipu lagi.

Antar Generasi

5

Apa yang kira-kira mereka diskusikan?