Selamat Datang Maryamah Karpov

3

Kemarin Mas Hernowo bawa buku Maryamah Karpov dan menunjukkannya ke saya. Ini adalah buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Saya termasuk orang yang menikmati betul tiga buku sebelumnya. Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Jadi begitu liat sampul buku Maryamah Karpov mata saya langsung terbelalak.

Maryamah Karpov
Maryamah Karpov

“Sudah terbit ya Mas?”

“Belum, besok baru launching. Paling minggu atau senin baru tersedia di toko Buku. Tadi saya ambil dari kantor”

Mas Hernowo adalah anggota dewan komisaris Mizan Pustaka. Jadi bisa saja ngambil buku yang fresh from the oven. Tebal juga buku itu, membuat saya ngiler untuk segera membacanya.

Terlepas dari kritik atas novel Laskar Pelangi dan lanjutannya, saya menaruh apresiasi yang begitu tinggi atas karya Andrea Hirata. Indonesia sekali, tapi dengan sudut pandang yang terhormat. Umumnya kita sendiri sudah terbiasa memposisikan Indonesia dengan citra yang kurang baik. Tapi Hirata berani membuncahkan Indonesia dengan penuh semangat, mengedepankan kerja keras, dan menginspirasi semua orang. Hebatnya lagi, banyak pengakuan yang menyatakan bahwa tetralogi Laskar Pelangi adalah buku yang menggerakkan. Mampu mengubah orang dan sanggup menyalakan api semangat pembacanya.

Mas Hernowo juga sependapat dengan saya kemarin siang. Beliau menyatakan dari sekian banyak novel laris, karya Andrea Hirata punya keunikan dan keistimewaan. Novelnya digandrungi pasar tapi tidak kacangan. Ada kualitas dan nilai moral tinggi yang terkandung dalam novelnya.

Sudah banyak yang menanti-nanti Maryamah Karpov muncul. Saya sendiri masuk dalam antrian penunggu itu. Jadi, selamat datang Maryamah…

Berlipat-lipat

0

Akhir tahun lalu

Dua minggu sudah saya “dikarantina” di kota Bogor. “Demi terburunya deadline proyek”, katanya. Sungguh… benar-benar melelahkan dikejar segudang pekerjaan dalam waktu singkat. Pagi hingga malam monoton, hanya itu-itu saja yang dihadapi. Tidur pun tak nyenyak, dan memang juga mungkin karena tak nyaman.

Saya putuskan untuk istirahat dulu dua hari. Pulang ke Bandung. Tidur di kasur sendiri yang paling nikmat dari kasur hotel manapun di muka bumi ini. Selepas subuh, matahari belum memeluk bumi. Saya berangkat menumpang travel menuju Bandung. Lelah sekali, sebab semalaman saya tiada tertidur. Tujuan ke Bandung hanya satu, bisa tidur nyenyak dan dapat energi baru lagi.

Sepanjang jalan puncak, cianjur, padalarang hingga Bandung saya juga tak bisa tertidur. Kagum atas lukisan pagi dengan cahaya lembut mentari mengelus bumi. Tapi sampai di Bandung, lelah itu begitu terasa. Ingin rasanya segera terhempas di kasur dan terpejam dalam alam mimpi. Biarlah tubuh ini memperbaiki sendiri sel-sel yang sudah aus akibat dipaksa bekerja.

Pukul 8 pagi saya sudah tiba di Bandung. Langsung Saya beli beberapa makanan ringan sekedar pengganjal perut. Lalu melangkah gontai terhuyung-huyung bagai tentara kalah perang menuju rumah yang tak bisa dilalui oleh mobil. Hingga saya terpaksa jalan kaki, meski berat sekali rasanya.

Beberapa pintu menuju rumah tinggal, saya bertemu seorang lelaki. Dia itu tetangga saya. Wajahnya gusar, langkahnya terburu-buru tak menentu. Ia memegang karung yang ntah apa isinya. Kami berpapasan, dan dia berhenti sejenak. Membuat saya juga menghentikan langkah. Sebab bahasa tubuhnya mengajak saya bicara. Duh… malas sekali sebenarnya. Saya sudah rindu kasur.

“Kang, mau beli beras saya?”

“Wah, kok nawarin beras ke saya sih”, saya membatin. Kesal juga dihati.

“Istri saya mau melahirkan Kang…, dana saya tidak cukup”

“O…, berapa duit Kang semuanya?”, saya harus ambil short cut agar urusan dengannya bisa cepat selesai. Saya tak ada fikiran dia akan menipu atau tidak, karena saya tau istrinya memang hamil besar.

“Ini saya beli sekitar 40 ribuan, terserah Akang mau bayar berapa”

“Ok, saya beli. Ini seratus ribu”, saya keluarkan duit di dompet. Langsung serahkan ke dia. Saya juga terima beras itu. Sebenarnya ada juga terbesit rasa sayang, seratus ribu untuk sekarung kecil beras yang tidak akan saya manfaatkan. Tapi tak mengapalah, untuk membantu orang yang kesusahan. Lagi pula apalah artinya seratus ribu untuk biaya persalinan di jaman sekarang ini? Saya langsung ganti niat, dari jual beli menjadi sedekah.

“Terimakasih Kang”, katanya

“Eh… tunggu dulu Kang. Beras yang baru saya beli tadi saya kembalikan. Barangkali bisa dijual lagi”

Dia terima beras itu lagi. Syukurlah, urusannya cepat selesai. Tujuan utama saya adalah istirahat. Titik..

Baru saja saya masuk pintu kamar, hp berdering. “Oh… siapa lagi sih yang akan mengganggu rencana istirahat total saya ini?”. Rencananya, begitu sampai kamar hp akan saya matikan saja. Biar tenang istirahatnya.

“Halo… dengan Pak Irfan?”

“Betul Bu, saya sendiri”

“Apa kabar Pak?”

“Alhamdulillah sehat Bu”, sebenarnya pengen bilang ‘Bu… saya mau istirahat, nanti saya telpon balik’. Tapi khawatir ga sopan.

“Begini Pak, kami sedang ada project. Butuh sedikit bantuan Bapak. Ga banyak kok, cuma memberikan masukan saja. Tidak ada kegiatan teknis”

“Baik Bu, insya Allah saya usahakan. Mohon kirim detailnya via email saya ya Bu..”

“Ok, terimakasih ya Pak. O ya, kami siapkan setidaknya 3 juta untuk ini”

“He..he… terimasih Bu”

“Sama-sama. Assalamu ‘alaikum…..”

Klik disana, tanda diputus. Berarti wa ‘alaikum saya tak terdengar juga olehnya.

Saya langsung terhenyak. Baru saja beberapa menit lalu saya mengeluarkan duit 100 ribu dalam jual beli yang akhirnya saya sudahi dengan mengganti niat menjadi sedekah. Sekarang langsung diganti dengan faktor pengali berlipat-lipat. Syukur alhamdulillah, saya merasa ini adalah bukti yang saya rasakan dengan amat nyata mengenai manfaat sedekah.

Ya.., sedekah memang tak menaati kaidah aritmatika. Operator matematikanya tak stabil. Perkalian, penjumlahan, pembagian dan pengurangan tak sanggup membentuk rumus sedekah. Tanda sama dengannya juga susah diduga-duga kapan munculnya. Untuk kasus saya tadi, tanda sama dengan muncul dalam hitungan kurang dari 5 menit. Menggunakan faktor pengali 30 kali lipat.

Bukan digantinya duit saya itu yang menjadi poin penting pengalaman ini. Melainkan betapa bersyukurnya saya telah diberi kesempatan untuk semakin meneguhkan keyakinan dihati atas nilai kebaikan sedekah. Semoga gemar sedekah ini menjadi karakter yang tertanam dalam sanubari kita. Amin…

Aku Ingin Menyerah

1

“Sudahlah, aku ingin menyerah saja”

“O ya?, baiklah… Aku akan bilang ke orang-orang kalau kau sedang sakit. Mungkin mereka justru akan merasa senang”

“Tapi kau tau kan aku tidak boleh menyerah?”

“Ya… aku tahu persis. Aku hanya ingin memastikan bahwa engkau juga tahu”

Be Your Self
Be Your Self

Itulah kira-kira secuplik dialog yang paling saya suka di film The Legend of Bagger Vance.

Film ini mengisahkan tentang Ranulph Junuh, si anak muda frustasi namun sangat berbakat dalam olah raga golf. Ia mengurung diri sehabis pulang dari tugas di medan perang dan saban hari hanya mabuk-mabukan.

Pada tahun 1930, ketika Amerika dilanda resesi ekonomi hebat dan meruntuhkan sendi-sendiri ekonominya, mantan pacar Junuh mengadakan turnamen golf bergengsi. Adele namanya, ia seorang putri jutawan yang ingin memperbaiki ekonomi daerah tempat tinggalnya. Junuh yang lama pensiun dari golf didaulat mewakili daerahnya melawan jagoan golf di era itu, Bobby Jones dan Walter Hagen.

Awalnya Junuh enggan ambil bagian, tetapi semua orang mendukungnya. Ia pun berlatih lagi di lapangan golf Savannah, Georgia. Tapi skill golfnya sudah menguap. Di tengah upaya yang tampaknya sia-sia itu, tiba-tiba muncul Bagger Vance yang dibintangi Will Smith. Vance menawarkan diri menjadi caddy untuk Junuh. Tetapi alih-alih jadi pembantu, Vance malah lebih banyak berperan menjadi mentor bagi Junuh.

Akhirnya pertandingan pun dimulai. Di putaran pertama Junuh terseok-seok dan tampaknya peluang untuk menang sangat kecil. Ia frustrasi dan berniat untuk berhenti di tengah pertandingan, lalu terjadilah dialog saat istirahat seperti kutipan di atas.

Dalam membimbing, Bagger Vance tidak menggurui Junuh. Ia tipikal mentor yang shows the way. Vance menyadarkan Junuh dengan cara mengajak menyelami samudra kebijaksanaan. Meski hanya seorang caddy, tetapi dalam film ini ia berperan sebagai seorang mentor sejati.

Kadang-kadang kita memang sudah memiliki jawaban atas permasalahan yang kita hadapi. Tinggal perlu “menyentilnya” sedikit saja.

Over Tune

4

Salah satu teknik membuat lagu lebih emosionil dan tidak monoton adalah dengan over tune. Sederhananya, over tune berarti menaikkan nada dasar lagu. Harmoni dan komposisinya tetap sama. Sekilas terdengar tak ada perbedaan. Tapi menaikkan nada dasar ditengah-tengah lagu akan membuat lagu itu terasa asik dan dinamis.

Over tune dalam satu lagu memberi penekanan emosional saat kita mendengarkannya. Ibarat orasi, over tune adalah menaikkan nada suara untuk menekankan maksud.

Dengan menyelipkan over tune di sebuah lagu, dinamisasinya akan lebih terasa. Lebih menyayat hati bila temponya mello, lebih bersemangat jika bertempo ngebit.

Dalam berbagai sisi hidup kita, ada sebuah kemiripan dengan lagu. Yaitu perulangan yang terus menerus, bahkan terkesan monoton. Sebenarnya komposisi sebuah lagu atau musik adalah sesuatu yang monoton. Tapi kenapa mendengarkan musik justru kontradiktif dengan substansi pembuatan musik itu sendiri? Meski didengarkan berkali-kali tetap saja tak kunjung bosan. Alasannya karena musik adalah kumpulan kemonotonan yang disusun harmonis bersama beberapa variasi tertentu.

Di dunia kerja, tak sedikit diantara kita menghadapi proses yang itu-itu saja setiap hari. Terkadang malah membuat jiwa kosong, tergerus oleh rutinitas tiada henti. Esensinya, lagu juga adalah rutinitas yang dibubuhkan dalam bar ke bar. Bar yang dimaksud bukanlah bar kafe, melainkan satuan periode rutinitas musik. Tapi musik menjadi indah dan menarik karena rutinitas drum section diselimuti bass section yang juga monoton. Lalu tingkah-tingkah string section , guitar section, dan section-section lain yang membawa variasi menarik. Lagi-lagi ini juga sebenarnya sebuah rutinitas monoton. Namun, aransemen lagu akan terasa nyaman ditelinga meski disusun dari hal-hal monoton.

Bila kesan monoton masih muncul juga, salah satu solusi yang bisa diambil yaitu menaikkan nada dasar ditengah-tengah lagu. Inilah yang disebut over tune tadi.

Dengan rutinitas yang kadang-kadang memojokkan kesendirian kita dan merampas kenikmatan menjalani hidup, mungkin kita bisa sedikit meniru proses membuat aransemen lagu tadi. Yaitu memadukan kemonotonan dan melakukan over tune dalam hidup ini.

Over tune dalam hidup berarti menaikkan selangkah standar kerja kita. Jika sebelumnya rutinitas kerja menuntut kita mencapai target sekian, tak ada salahnya di over tune menjadi sekian plus satu. Selain pendekatan kuantitas, bisa juga menaikkan standar kerja dari sudut pandang kualitasnya. Menaikkan standar jelas akan membuat hidup lebih segar.

Layaknya sebuah lagu over tune yang menaikkan nada dasar untuk mencapai tingkat klimaks emosionil. Hidup juga bisa kita over tune untuk menjadikannya lebih dinamis.

Lawan VS Musuh

1

Terkadang kita lupa, lawan bukanlah musuh. Boleh cari lawan sebanyak-banyaknya, tapi jangan satupun yang dijadikan musuh. Mari kita cari lawan diskusi, lawan tanding sepak bola, lawan bisnis, dan kalau perlu lawan politik. Hanya saja sayang kita masih sering gamang dalam memperlakukan lawan. Tak jarang mereka seolah-olah adalah musuh yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya.

Musuh memang harus dilawan. Tapi lawan tak harus dimusuhi. Musuh bermakna antagonis total, sedangkan lawan adalah kehadiran pihak lain untuk sebuah konteks. Tak melulu lawan menjadi antagonis total. Makanya musuh adalah derajat terendah dari lawan.

Semoga tak ada musuh yang tercipta dalam hidup kita. Kalaupun ada, janganlah terlalu antagonis. Sebab antagonis total hanya akan membawa nuansa perang, perpecahan, kegelisahan, bahkan tercabutnya nyawa dengan sia-sia.

Begitu juga dengan lawan. Semoga lawan-lawan yang kita hadapi adalah lawan yang saling membawa kebaikan. Tak mungkin Chris John jadi juara bila tak ada lawannya. Tak nyata MU jadi juara bila tak menggasak lawan-lawannya. Semua lawan dalam konteks itu membawa sukses bersama. Bahkan bagi yang kalah sekalipun.

Mari…. cari lawan sebanyak-banyaknya..! Lawan yang akan menjadi kawan. Bukan lawan jenis derajat terendah : antagonis total, alias musuh. Siapa yang mau jadi lawan saya? Ntar ditraktir baso tahu. He..he..

Takut Hantu – Pertemuan dengan Sundel Bolong

23

Rata-rata orang yang saya temui adalah orang yang takut dengan hantu. Saya juga demikian. Saat masih kecil dulu begitu hebatnya rasa takut akan hantu ini. Sampai-sampai ke kamar mandi harus ditemani. Kalau gelap ada saja rasanya bayangan yang menggelayut dimana-mana.

Apalagi saat menonton film sundel bolong di tahun 80-an dulu. Saya masih ingat betul betapa menakutkannya sosok Suzanna yang jadi sundel bolong itu. Jangankan liat, dengar suara atau musiknya aja bikin suasana hati tak karuan. Makanya, kalau sundel bolongnya lagi muncul saya tutup mata rapat-rapat. Telinga juga. Memang film sundel bolong itu telah mengangkat derajat rasa takut saya. Mau apa-apa ingat dia.

Tapi kawan, bukan bermaksud sok hebat. Justru sundel bolong itulah yang membuat saya sampai sekarang merasa derajat rasa takut akan hantu itu berada di garis bawah. Bukan berarti saya ga percaya hantu loh. Cuma rasa takut akan dia itu memang tak begitu muncul. Kadang-kadang pernah merinding juga pada saat sendiri di tempat sunyi dan gelap. Tapi itu jarang sekali.

Kenapa bisa demikian? Ya… karena sundel bolong itu tadi.

Dulu, beberapa hari setelah nonton sundel bolong saya masih terbius ketakutan. Sampai-sampai terbawa mimpi. Suatu ketika saya bermimpi didatangi sundel bolong saat bermain dengan sepupu saya di rumah nenek. Sundel bolong datang berkelebat. Semuanya panik dan meloncat ke rumah. Lalu pintu pun ditutup. Hanya saya sendiri yang masih diluar. Terlambat masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri.

Mbak Sundel yang Baik Hati
Mbak Sundel yang Baik Hati

Sundel bolong itu menghampiri saya. Saya pun menjerit dan ketakutan alangkah hebatnya. Tapi tahukah kawan? Setelah dekat, sundel bolong itu ternyata cantik sekali. Aroma yang menyertainya juga begitu wangi. Lantas ia berkata:

“Dek main sama Kakak yuk…”, sambil menyodorkan 3 bungkus coklat.

Aha… pintar betul hantu ini. Saya adalah anak yang keranjingan luar biasa dengan coklat.

“Ayo…, kita mau kemana Kak?”, rasa takut saya pudar oleh paras cantiknya dan harumnya aroma sundel bolong itu. Apalagi saya dikasih coklat.

Dia pun mengajak saya terbang kesana kemari. Berkunjung ke tempat-tempat yang saya inginkan. Ketawa-ketawa. Seperti orang yang pacaran saja. Bedanya dia sudah dewasa, sedangkan saya masih kanak-kanak.

Ajaib. Sejak saat itu, rasa takut akan hantu hampir tuntas terkuras dari fikiran saya. Di kampung kami ada bangunan Belanda yang dulunya dipakai untuk penjara dan mengeksekusi mati tahanan. Rumah itu kosong melompong, berdebu dan berbau. Banyak cerita aneh-aneh tersebar tentang kejadian ghaib di rumah itu. Tapi pada suatu malam saya pernah datang kesana sendiri. Tak ada sedikitpun kesan seram. Tujuan saya kesana, siapa tau ketemu mbak sundel disana. Ah… dasar anak-anak. Dan memang saya tak menemukan apapun, kecuali binatang-binatang kecil yang hidup betah disana.

Hm.. saya jadi berfikir. Apakah hantu itu adalah sebuah persepsi? Persepsi yang tertanam begitu kuat di alam bawah sadar kita. Buktinya hantu di Indonesia beda ama hantu di amerika atau di eropa. Disini katanya hantu takut ama Al Qur’an dan pak Ustad. Diseberang sana, hantunya tak berani dengan salib. Di tempat lain ada pula yang tak tahan dengan bawang putih. Tampang dan namanya pun beda-beda. Macam mana ini? konsep hantu tak seragam. Tergantung budaya orang setempat saja.

Apakah benar demikian? Wallahu ‘alam. Saya belum berani menyimpulkan. Ilmu saya tampaknya belum tepat jadi pisau analisis masalah ini. Sampai kini hanya sundel bolong di alam mimpi itu saja yang pernah saya temui. Dan uniknya dia begitu menyenangkan. Menyebabkanku jadi begini. Buat para hantu, salam kenal aja ya… Peace ah…

Iterasi Menuju Teliti

2

Saat duduk di bangku kuliah, saya diperkenalkan dengan konsep iterasi dan ketelitian. Buat dosen yang pernah memberikan ilmu iterasi dan ketelitian itu saya haturkan terimakasih sebanyak gunung dan samudra. Meskipun dalam matakuliah Hitung Proyeksi Geodesi saya hanya dapat nilai D dan memang tak kunjung saya perbaiki. Jadilah dalam transkrip nilai, satu-satunya nilai D yang terbubuhkan dengan begitu gantengnya disana. Tapi dua hal ini sering saya jadikan bahan renungan dalam menjalani hidup.

Iterasi berkaitan dengan proses berulang menuju sebuah perbaikan. Tidak sama dengan rekursi, yang sekedar kegiatan/proses berulang. Sedangkan ketelitian berkaitan dengan sebuah kualitas. Dalam bahasa matematik, kualitas diekspresikan dengan ketelitian.

Proses iterasi yang berulang-ulang ini dilakukan untuk mencapai sebuah ketelitian. Itulah makna yang saya tangkap. Kita memang harus berusaha terus menerus, ulet dan tak berhenti hingga mencapai sebuah kualitas terbaik.

Bila gagal atau belum mencapai yang terbaik, maka kita iterasi lagi dengan perbaikan-perbaikan dari hasil evaluasi. Itulah makna dari ulet. Melangkah maju terus dengan perbaikan. Tak hengkang dari cobaan dan kegagalan.

Dalam melakukan iterasi kita membutuhkan sebuah pendekatan awal untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan. Begitu juga dalam hidup ini. Sebelum terjun untuk menjadi ulet, diperlukan analisa dan perencanaan awal. Agar usaha yang kita lakukan secara terus menerus itu dekat dengan hasil akhir.

Tapi tentu saja, manusia berencana, tetap berserah diri pada Tuhan. Sama halnya saat kuliah dulu, iterasi terus hitungan dengan rumus yang begitu panjangnya. Tapi tetap sang dosen yang memberi nilai. He..he…

Harta dan Hardisk

1

HARDISK PERTAMA saya ukurannya 4.3 GB. Kala itu ukuran sebegitu sudah begitu besarnya. Sudah puaslah. Bisa nyimpan ribuan dokumen, foto, mp3 dan juga video. Bangga betul punya hardisk 4.3 GB. Sampai kini hardiks itu tetap ada dan masih bekerja meski kurang maksimal.

Waktu berlalu dan masa berganti. Ruang kosong hardisk itu pun mulai menipis. Ada saja file yang ingin disimpan. Tapi kalau ngitung-ngitung sisanya pasti ga akan cukup.

Sekarang hardisk saya sudah 80 GB ditambah externalhardrive 120 GB. Jadi total 200 GB. Tapi kesannya kok sama aja ya? Masih tetap merasa kurang.

Kalau difikir-fikir, hardisk ini kok sepertinya sama saja dengan harta. Seberapa besarpun hardisk tetap saja masih ada limitnya. Seberapa banyak pun harta tetap juga merasa ingin tambah lagi. Bayangkan dari 4 GB menuju 200 GB berarti sudah ada kenaikan 50 kali lipat, namun rasanya tetap sama : kekurangan!.

Lantas bagaimana dengan kekayaan? Sederhananya kaya itu identik dengan ukuran jumlah harta. Kaya tak kaya nominalnya relatif. Ada yang punya mobil dua dan rumah tiga juga tetap masih belum merasa kaya. Tapi ada juga orang yang sanggup beli baju baru setahun sekali untuk anak dan istri merasa sudah kaya benar.

Karena relatifnya ukuran kekayaan itu, majalah Forbes pun memberi ukuran orang kaya adalah yang sekurang-kurangnya punya penghasilan 1 juta dollar Amerika pertahun. Ola..la.. tampaknya kita agak sulit menuju orang kaya menurut versi Forbes ini.

Tapi marilah kita berkaca pada hardisk. Kita tak akan pernah merasa cukup dengan ruang yang tersedia. Kebutuhan selalu berkembang. Timbanglah.., kepemilikan harta juga akan seperti itu. Bukan berarti menjadi kaya dan punya harta tak baik. Justru sebaliknya, punya harta membuat kita punya potensi berbuat baik. Sama halnya seperti punya hardisk. Semakin banyak kapasitasnya semakin banyak hal yang bisa disimpan dan diberdayakan.

Yang penting justru mengatur hasrat kita untuk memiliki harta dan hardisk dengan baik. Karena dua hal itu bisa saja selalu menimbulkan rasa kurang. Rasa kekurangan yang akhirnya menyiksa diri sendiri. Oleh karena itu, maka baiknya defenisi kaya kita gariskan saja sebagai “Merasa Cukup”. Dibelakang merasa cukup ini ada rasa syukur atas apa yang ada. Hingga harta yang dimiliki membuat hati tentram, bukan sebaliknya. Semakin kaya semakin tak nyenyak tidur, semakin tak sanggup menikmati hidup, dan semakin abai atas hal-hal kecil di sekeliling kita yang membuat kita merasa syukur.

Kita semua bisa jadi kaya, yaitu menjadi orang yang selalu merasa cukup dengan apa yang mampu kita capai. Tak perlu lah terlalu obsesif mengejar nominal harta yang bisa terhapus dalam satu malam oleh Sang Pemilik itu. Jadi, seperti kata Joker di Dark Night. why so serious??

Photo credit: https://unsplash.com/@artwall_hd

Kates

1

Pernah mencicipi jadi murid TK? Saya belum. Tapi waktu kecil saya tetanggaan dengan sebuah TK. Tiap hari dengar anak-anak mungil seusia saya bernyanyi. Makan bersama dan bermain di taman. Taman kanak-kanak namanya.

Kedua Kakak saya sudah masuk SD. Di rumah sepi. Itulah sebabnya saya ingin sekali sekolah. Anak sekolah begitu rapi dan ceria saat berangkat sekolah. Membuat iri anak-anak seperti saya.

Tibalah masa saya masuk SD. Berdendang riang ke sekolah pakai sepatu dan seragam sekolah. Ingin sekali bisa membaca. Selama ini, Kakak saya sudah mengajari saya bagaimana menulis nama sendiri. Jadi saya hanya bisa mengenali huruf yang membentuk nama saya sendiri.

Sudah dua hari saya menjalani sekolah. Lantas saya tanya ke Kakak saya yang sudah duduk di bangku kelas 2. Bagaimana caranya membaca. Sebab saya belum juga bisa membaca huruf-huruf selain nama saya.

Kakak saya bilang “gampang kok. Liat aja di sebelah kiri itu ada gambarnya. Dikanan ada tulisannya.”

“Contohnya gini. Ini kan ada gambar ayah. Berarti tulisannya ‘Ini Ayah Budi’

“Nah kalau gambar ini, tulisannya ‘Ini Wati’

Begitu seterusnya. Kakakku yang satu ini mengajariku jalan pintas membaca buku. Buku kelas 1 SD itu tulisannya besar-besar dengan ilustrasi gambar untuk setiap kalimatnya. Sungguh senangnya hati ini sudah mendapat ilmu sakti mandraguna dari sang kakak. Membaca ternyata tak sulit. Cukup liat gambarnya maka tulisannya INI BLA..BLA…

Sore menjelang malam aku hampiri ibuku. “Ma, ipan sudah bisa baca”, aku semangat menyampaikan informasi itu pada ibuku. Ibu pasti senang sekali melihat anaknya yang jenius. Cuma dua hari sekolah sudah bisa baca.

Ia hampiri saya dengan penuh rasa ingin tau. Lantas saya keluarkan buku kelas 1 SD itu dan mulai mendemonstrasikan kemampuan membaca yang sudah saya miliki.

Ibu geleng-geleng kepala melihat saya melibas habis bacaan tentang keluarga Budi. “Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Wati. Ini Iwan.” Semuanya pake ini.

Tibalah pada bagian buah-buahan. Ada mangga, pisang, nenas, jeruk, dan lainnya. Saya juga sudah lupa. Tapi ada satu buah yang saya tak akan lupa.

Saya melihat sebuah gambar pepaya, langsung saya baca “Ini Kates..”

“Ha…?” ibuku setengah berteriak. Mungkin agak terkejut.

Ini kates

“Ini bukan kates. Ini pepaya.”

“Ga Ma, ini kates”, saya ngotot sehabis-habisnya.

Ibu hanya tersenyum dan mengelus kepala saya. Akhirnya kedok saya terbongkar juga. Sambil menutup buku itu Ibu mengajari saya dari basic lagi untuk mengenal huruf dulu. Ibu pasti tau kalau saya belum pernah mengenal terminologi pepaya untuk buah manis berair berwarna orange itu. Yang kami kenal buah itu bernama kates bukan pepaya.

Dasar kakakku, ia telah mengajari saya dengan jalan yang sesat. Tapi dengan kates itu saya mengerti bahwa membaca memang membawa kita pada wawasan yang lebih luas. Dari tak kenal menjadi kenal. Tak paham jadi paham. Apalagi kalau membaca sambil makan kates, o.. betapa nikmatnya.

Jadi Pejabat

2

Sore-sore ada yang datang. Mengetuk pintu dulu. Sambil ucap salam juga. Saya buka daun pintu itu. Mereka sudah berbaris di depan rumah. Tersenyum dan langsung ulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Maaf mengganggu Pak. Sesuai janji kita di telpon kemarin, kami ke sini mau melanjutkan diskusi itu”

“O.. ya.ya, mari masuk. Silahkan”, saya giring mereka ke ruang tamu dan mereka sudah maklum harus duduk sendiri. Karena disitu ada tempat duduk berwarna coklat susu nan empuk.

“Cuma bertiga saja Dik?”

“Iya Pak. Ini Margono, komandan lapangan kita. Yang baju hijau Mas Atutah, biasa mengurus administrasi macam-macam. Dia punya koneksi luas sekali dimana-mana”

Keduanya tersenyum simpul saat Budi, juru bicara mereka memberi perkenalan untuk saya. Margono badannya tegap. Saya yakin kalau dilapangan dia adalah macan. Tapi saat ini, di ruangan ini, dia bagai kerbau dicucuk hidungnya. Diam saja dan manggut-manggut. Sedikit-sedikit senyum. Persis seperti lagu lama. Si hitam manis, kalau tersenyum manis sekali. Atutah yang berbaju hijau dari tadi tak lepas dengan topinya. Tetap nempel dikepala. Saya yakin dia enggan buka topi karena ada botak dikepalanya.

“Ya..ya…, tadi susah ga nyampe sini? tapi sebentar ya… Bi.. tolong buatkan minuman ya… ada tamu nih”

“Ga kok Pak, kami sudah hapal betul daerah ini”

“Bagaimana keluarga Pak, sehat-sehat saja kan?”

“Alhamdulillah sehat semuanya Dik”. Bi minah sudah datang bawa nampan berisi empat gelas berisi air seperti darah. Sirup namanya. Tapi saya tak tau mereknya apa.

“Silahkan diminum Dik. Sambil bincang-bincang meneruskan diskusi kemarin. Betul dik Budi?”

“He..he.. iya Pak”, Budi yang jabatannya sekjen partai itu tertawa sambil mengangkat gelas di hadapannya.

“O ya Pak, meneruskan yang kemarin. Bagaimana, sudah dipertimbangkan tawaran partai kami Pak? Terus terang, kami sangat mengharapkan kesediaan Bapak menjadi calon yang kami usung.”

“Iya Dik Budi. Saya sudah diskusi juga dengan keluarga dan beberapa sahabat dekat. Mereka juga turut mendukung. Tapi saya agak gamang juga sekarang”

Budi langsung membetulkan duduknya. Sebuah bahasa tubuh yang ingin memberikan intonasi pada kata-kata yang akan ia ucapkan.

“Tak perlu gamang Pak. Kami sudah melakukan survei berkali-kali. Pihak lain juga sudah. Bapaklah yang punya peluang paling besar untuk naik jadi gurbernur kita. Tim kami di partai juga sudah siap mendukung habis-habisan. Mesin partai kami berjalan efektif sampai pelosok. Media sudah kami kuasai, kader-kader kami pun tersebar, kami sudah pengalaman menjalankan strategi pemenangan. Pokoknya kita sudah lebih dari sekedar siap Pak”

Saya manggut juga. Meyakinkan sekali Dik Budi ini. Dia memang layak jadi sekjen partai. Pantas saja partai mereka cukup naik daun saat ini.

“Kalau begitu, hati saya tambah yakin Dik. Lantas bagaimana langkah kita selanjutnya?”

“Sederhana saja Pak. Kami sudah atur semuanya. Besok akan kami siapkan seluruh materi kepemimpinan Bapak untuk kampanye. Silahkan dikoreksi, kalau ada yang kurang cocok kita diskusikan lagi. Begitu klop kita langsung jalan. Bapak tak perlu pusing ini itu. Siapkan saja mahar senilai yang kita bicarakan kemarin Pak. Urusan teknis lainnya serahkan pada kami”

“Dua milyar ya Dik?”

“Iya Pak, kira-kira segitu. Kalau lebih juga alhamdulillah. Ha…ha…”

“Okelah, kita lanjutkan saja. Saya ada tanah perkebunan yang mau dijual. Tolong bantu mencari pembelinya juga ya Dik. Dua tiga bulan ini maharnya insya Allah sudah siaplah”

“O ya, kalau mau ambil foto untuk kampanye nanti di Jakarta saja ya Dik. Biar hasilnya bagus”

“Siap Pak…”, Atutah menimpali dan berseri-seri. Dia sungguh senang saat saya bilang oke. Berarti job pemenangan pemilu sudah ditangan.

“Satu lagi Pak. Kami sudah menyiapkan juga pasangan untuk Bapak sebagai calon wakil nanti. Artis ibukota. Namanya Aming Sucinanmurni”

“Aha… artis. Bagus saya suka itu. Kalian memang mantap”

“He..he…”, kami tertawa serentak. Bersama-sama dan menggelegar.

Dalam tawa itu sambil membayangkan kesuksesan jadi pejabat nanti, istri saya datang. Mengelus-ngelus kepala saya. Ikut tersenyum juga. Sambil berkata lembut.

“Bang.., sudah subuh. Sholat yuk…”

Oh aduhai, ternyata saya hanya mimpi. Kenapa pula mimpinya jadi pejabat ya? Mungkin karena dimusim lebaran ini saya banyak melancong kesana kemari dan menyaksikan sebuah euforia demokrasi. Saat semua orang bisa jadi pejabat dan mencetak poster ukuran besar agar orang ingat padanya dan memilihnya bila ada di bilik pencoblosan.

Mari ah..