Surat di Bawah Bantal

4

Ingin pakai aku..

Aku punya pengalaman masa kecil yang akan selalu kuingat. Kisah yang kadang membuatku tersenyum sendiri saat teringat kejadian itu. Ibu juga suka tersenyum dengan bola mata yang berkaca-kaca ketika hal itu terungkap dalam pembicaraan kecil kami.

Entah kenapa sejak kecil aku merasa canggung jika ingin minta sesuatu ke Ibu atau Ayahku. Padahal minta dibelikan sepatu, tas, atau buku bukanlah hal yang istimewa. Tapi ada rasa tidak tega bila aku meminta lalu membuat Ibu harus mengeluarkan uang untuk memenuhi permintaanku itu. Bahkan hingga mahasiswapun, ayah sering “marah” bila akan mengirimkan duit bulananku, karena saat ditanya berapa duit yang akan dikirim aku pasti bilang “terserahlah berapa saja”. Barangkali beliau bingung berapa jumlah dana dibutuhkan seorang mahasiswa, ia tak pernah mengenyam kehidupan seorang mahasiswa. Aku tak pernah mau bilang kebutuhanku yang sebenarnya.

Sepupuku, teman-temanku, dan banyak orang yang kukenal biasanya akan mendapat hadiah khusus saat mereka dapat 5 besar di akhir caturwulan. Di keluarga kami tradisi seperti itu memang tak ada.

Kadang aku ingin sekali punya tas kegemaranku atau ingin beli sepatu yang sedang nge-trend. Tapi rasanya tenggorokanku tersekat saat mau bilang ke ayah atau ibu kalau aku ingin dibeliin barang-barang seperti itu. ‘Sangkin’ susahnya, aku pernah jatuh sakit karena benar-benar ”kesemsem” pada sebuah tas berbahan semi kulit yang bertuliskan “ Korea University”, tapi tak sanggup minta ke Ibu. Aku masih ingat betapa tas itu telah membiusku untuk memilikinya, tapi aku tak sanggup minta dibelikan. Ada keingingan yang membuncah, tapi tertekan oleh rasa segan yang tak kalah besarnya. Kepikiran siang dan malam.

Aku jatuh sakit karena rasa cinta akan tas itu, dan berpikir keras bagaimana aku bisa mendapatkannya. Akhirnya aku beranikan diri untuk minta tapi dengan cara menuliskan lewat surat.

Jadilah aku tulis surat itu. Kupilih kertas terbaik yang aku punya, kuukir katanya dengan sepenuh hati, kulipat kertasnya ala lipatan surat cinta, dan kubungkus dengan amplop bertuliskan.

“Untuk Papa & Mama tersayang

-Irfan-”

Pagi-pagi sekali, sebelum aku pergi sekolah. Surat itu kuselipkan di bawah bantal mereka. Saat ibu akan membereskan tempat tidur nanti beliau pasti menemukan surat itu batinku. Aku berangkat sekolah jauh lebih pagi dari biasanya.

Benar saja, sepulang sekolah di atas bantalku sudah ada sebuah tas yang kuidam-idamkan selama ini. Tas semi kulit dengan kombinasi coklat dan hitam. Di bagian depannya ada bordiran logo dengan tulisan “ Korea University”. Betapa senang hati ini. Tas itu lantas kupeluk.

Tidak ada surat balasan, tidak ada komentar dari Ibu atau Ayah. Aku pun jadi segan bilang “terima kasih”. Jadi kutuliskan saja ucapan terimakasih singkat lewat surat di bawah bantal ibu esok pagi. Kejadian itu begitu datar, bahkan kakakku tak tahu kalau hari itu aku dibelikan sebuah tas baru.

Setelah aku tumbuh dewasa baru Ibu bercerita betapa ia terharu saat mendapatkan surat di bawah bantalnya. Bertahun-tahun aku selalu meminta sesuatu lewat surat. Dan ternyata, kata Ibu, setiap hari mereka selalu menanti surat-suratku di bawah bantal. Seperti seorang kekasih yang menanti-nanti surat cintanya tiba.

Masa SMU dan kuliah aku masih sering mengirim surat ke Ibu. Tapi, sejak hp merevolusi cara kita berkomunikasi romantisme itu juga pudar. Kalau aku pulang ke rumah, aku masih lihat surat-suratku tersimpan rapi sekali di kamar Ibu.
I love U mom..

Biasnya Anti Terorisme

5

Tahun 2001 menjadi pintu gerbang hangatnya badai terorisme melanda dunia. Sejak tragedi 11 september 2001, AS menyemburkan nafas perang pada pelaku teror. Pokoknya perang sehabis-habisnya menumpas terorisme. Sampai sekarang Al Qaeda masih menempati juara satu organisasi teroris versi Amerika. Meski Osama yang namanya mirip Obama itu masih luput dari pencarian Amerika.

Sikap perang terhadap terorisme itu telah mengubah geopolitik internasional. Sebelumnya, kutub ideologi komunis – demokrasi yang saling beradu kuat. Sekarang antara Amerika dan sobat-sobatnya vs organisasi radikal muslim. Memang belum sampai pada perseteruan ideologi agama. Tapi bila suasana panas ini tak kunjung reda, bisa jadi perang dunia ke-tiga bakal pecah.

Tahun 2004, Amerika membentuk pusat antiteror yang bernama National Counterterorism Center (NCTC). Mudah ditebak, latar belakang berdirinya organisasi ini pasti akibat jengahnya Amerika akan aksi teroris yang berada dalam defenisi mereka sendiri.

Silahkan buka website resmi lembaga ini http://www.nctc.gov.

Disitu kita bisa lihat siapa saja kelompok teroris yang sedang diburu Amerika? Bisa dibilang hampir semuanya organisasi Islam. Mereka juga pasang harga untuk kepala masing-masing individu yang paling diminati. Kalau mau berburu, silahkan lihat bursa harga kepala mereka disini. Hingga kini, Osama Bin Laden masih jadi yang termahal.

Produk teranyar NCTC adalah kalender teroris. Ada dalam format print yang bisa di download dan ada online juga. Jangan lakukan planning tahun 2009 sebelum lihat kalender ini. Menarik, databasenya lengkap. Diplot hari perhari.   Lagi-lagi mayoritas berdasarkan penanggalan Islam dan event-event umat Islam.

Mereka juga sudah kumpulkan database serangan teroris seluruh dunia. Kejadian di Indonesia juga sudah masuk dalam rekaman.

Serunya lagi, kita bisa lihat cakupan organisasi teror versi Amerika ini. Silahkan lihat peta interaktifnya disini. Seluruh wilayah Indonesia sudah masuk dalam jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Sumatera, Jawa dan Sulawesi masuk dalam cakupan Al Qaeda. Kalimantan bersih dari organisasi paling dibenci negeri paman sam ini. Kalau Amerika mau perang melawan Jamaah Islamiyah, maka Indonesia dan Malaysia lah sarang paling potensial untuk digeledah.

Masukkah Israel sebagai teroris? Sebab tingkah Israel di Gaza akhir-akhir ini bisa disebut sebagai State Terorism. Ternyata tidak. Justru dalam website NCTC, Israel diposisikan sebagai pihak yang sedang menghadapi teror.

Amerika mendefenisikan sendiri arti teroris untuk membedakan teror dengan perilaku kekerasan biasa. Menurut The American Herritage, terorisme adalah “The unlawful use or threatened use of force or violence by a person or an organized group against people or property with the intention of intimidating or coercing societies or governments, often for ideological or political reasons.”

Jadi Terorisme = Kekerasan + Motif Politik/Ideologis. Pelakunya bisa individu atau organisasi.

Lantas, mengapa sekarang Amerika terkesan berkepribadian ganda? punya standar ganda atas kejahatan kemanusiaan? Bisa dipahami, sebab sekarang Amerika masih menjadikan organisasi Islam sebagai teroris versi mereka. Hamas yang sekarang ingin ditumpas Israel adalah teroris dalam kamus NCTC Amerika. Jadi agenda Israel menyerang Gaza juga merupakan agenda Amerika untuk melenyapkan Hamas.

Apapun motif politiknya. Serakahnya Israel, keras kepalanya Hamas, sombongnya Amerika, mandulnya PBB dan bancinya Arab. Jelas tak bisa dijadikan alat membenarkan pembunuhan brutal atas rakyat sipil.

Bias… semuanya menjadi bias.

Virus Hayang Kawin..

5

Ada dua geng anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumah. Kalau sedang jamnya bermain, tawa mereka begitu lepas. Berkumpul dan bercanda. Meski kadang sering membuah suara gaduh, bagi saya tidaklah masalah. Masa bermain anak-anak biarlah mereka nikmati. Maka, jadilah halaman rumah saya tempat bermain anak-anak kompleks. Geng anak yang belum sekolah biasanya ngumpul pagi-pagi. Dan geng yang sudah sekolah nge-geng nya sore hari. Kedua geng ini tak pernah keliatan bermain bersama. Tapi kadar gaduhnya sama saja.

Akhir-akhir ini, konten kegaduhan kedua kelompok itu mulai seragam. Sambil bermain mereka nyanyi teriak-teriak.

Hayang kawin win..win..win…, hayang kawin…” (mau kawin win…win…win…, mau kawin..). Bait lanjutannya saya tidak begitu menyimak.

Saya penasaran, ada apa gerangan kok anak-anak itu serentak semuanya pada minta kawin?. Hipotesis saya, mereka mungkin punya sebuah permainan baru. Tapi judulnya kok minta kawin ya…? Ini menambah rasa penasaran yang begitu mendalam.

Selang beberapa hari setelah lagu hayang kawin itu pertama kali diteriakkan anak-anak, maka kini saya juga mendengar tetangga sebelah teriak-teriak nyanyi hayang kawin.. Wah, ini lantas menjadi diskusi hangat antara saya dan istri. Whats going on..? semua orang mendadak pengen kawin. Anak-anak kecil pada minta kawin, sekarang ibu-ibu juga minta kawin. Jangan-jangan ini merupakan tanda-tanda akhir jaman.

Belakangan, saya baru tau. Nonton di televisi lokal Bandung. Ada video klip lagu sunda yang judulnya hayang kawin. Oh.., ternyata inilah sumber inspirasi orang-orang sekompleks pada minta kawin. Video klip ini juga lantas mementahkan hipotesis semula.

Semoga ini hanya sebatas lagu yang sedang gandrung saja. Tak menjadi inspirasi substansif yang membuat orang kebelet kawin. Kasihan anak-anak itu, belum paham konsep kawin. Ibu-ibu juga, bakal banyak rumah tangga yang hancur karena ibu-ibunya mendadak ingin kawin lagi. Buat pencipta, penyanyi dan produser hayang kawin, selamat deh…

Keranjingan Baca

3

Lima hari menuju ditutupnya kalender 2008. Ntah mengapa saya tiba-tiba kerasukan pengen baca dengan kadar yang tak biasa. Padahal tugas-tugas yang minta selesai sebelum 2009 menumpuk di meja.

Selepas selesai baca Maryamah Karpov, yang menurut saya agak-agak nanggung. Kecuali kalau memang benar jilid keduanya muncul. Saya belanja buku, lumayan banyaklah untuk ukuran 5 hari rencana baca. Inilah dia listnya:

  1. Jejak Tinju Pak Kiai [Emha Ainun Najib]
  2. 5 cm [Donny Dhirgantoro]
  3. Waiting [Ha Jin]
  4. Anjing yang Masuk Surga [M. Dawam Rahardjo]
  5. 9 Matahari [Adenita]
  6. Langit Merah Saga [Gola Gong]
  7. Ketika Bumi Menangis [Gola Gong]
  8. Pusaran Arus Waktu [Gola Gong]
  9. Kite Runner [Khaled Hosseini ]

O ya, ada satu buku lagi yang dikirim langsung oleh Penulisnya : Cinta di Ujung Sajadah [Asma Nadia]. Terimakasih ya Mbak, bukunya sudah saya lahap. Mbak Asma Nadia ngirim buku terbarunya itu sebagai balasan atas kiriman CD edCoustic dari kami.

Kalau dilihat hampir semuanya novel, kecuali bukunya Cak Nun. Asik juga menyelami 9 pemikiran orang yang tersusun dalam 11 buku. Ada 1 buku yang belum tuntas saya baca sejak 1 bulan lalu : Catatan Pinggir vol 1 [Goenawan Mohammad], nah sekarang dalam sela-sela waktu buku itulah yang dicicil lembar demi lembar.

Hm… kenyang sudah. Sementara tugas-tugas saya sedang mencak-mencak minta disentuh. Semoga buku-buku yang dikunyah tadi menjadi pelecut yang akan mempercepat tugas menulis saya. Ganbatte lah for me.

Getir – Israel Menutup Tahun dengan Darah

0

Getir…, saat ini perang masih saja menjadi pilihan. Padahal rak-rak buku di perpustakaan sudah penuh dengan sejarah nistanya perang. Kita sudah belajar, juga mendengar dan menyaksikan betapa buruknya akibat dari perang.

Israel memberi kado akhir tahun kepada dunia ini dengan goresan sejarah yang kelam. Khususnya Palestina. Dengan dalih ingin menghancurkan posko rudal hamas, mereka bunuh siapa saja yang ada. Hantam dari darat, laut dan udara dengan membabi buta. Taruhlah, kalaupun hamas menyimpan senjata yang mengancam Israel, tak bernyalikah Israel umumkan perang saja dengan mereka? Adu kuat sesama militer. Supaya rakyat yang tiada berdosa tak meregang nyawa dalam ketidakterlibatannya.

Sekali lagi kita saksikan betapa tak adilnya dunia. Jelas sudah agresi terlarang digencarkan, yang mampu dunia lakukan hanyalah mengecam. Padahal beberapa tahun lalu, sebuah skenario yang tak jelas ujung pangkalnya menghantam menara kembar AS. Itu sudah cukup untuk menduduki sebuah negara, oh… bukan cuma duduk, juga menginjak-nginjak harga diri negara, agama dan kelompok. Semua atas nama anti teroris.

Orang gedung putih manggut-manggut. Sambil tersenyum merestui tindakan Israel. Gordon Johnroe, sang jubir gedung putih bilang mereka bisa memahami tindakan Israel sebagai aksi mempertahankan diri.  Inilah serunya. Kekuatan militer Hamas bila dibandingkan dengan apa yang Israel punya hanyalah bagai serangan nyamuk-nyamuk kecil dimalam hari. Korban di pihak Israel akibat serangan Hamas juga hanyalah 1 orang. Tentu kita tak bisa menisbikan arti 1 nyawa, tapi pantaskan serbuan seperti yang sedang berlangsung sekarang ini terjadi? Membunuh lebih dari 300 orang, melukai ribuan lainnya. Dan Amerika, sang polisi dunia yang doyan mengirim pasukan atas nama perdamaian itu hanya tersenyum saja.

Takutkah dunia atas bangsa berjumlah kecil ini – Israel? Jangankan turun tangan mengirimkan pasukan untuk meredakan tindakan yang memalukan ini, cap teroris juga jauh dari mereka. Hanya kecam mengecam saja. Beda dengan kasus timor-timur dulu. PBB langsung turun tangan, militer Australia juga lantas mendarat membantu apa saja yang bisa dibantu.

Getir…, menyaksikan sejarah ini melintas digaris hidup kita. Jalur Gaza menjadi titik hitam yang menodai peradaban dunia. Apa motif dibalik semua ini?

Gemes

2

Sebuah ironi di hari ibu

Lampu merah di perempatan Buah Batu – Bandung. Saya berhenti karena lampu yang benar-benar warna merah sedang menyala. Perempatan ini terkenal dengan durasi lampu merahnya yang sungguh lama.

perempatan-buah-batuSaya melaju dari selatan menuju utara. Berhenti tepat digaris batas yang dikasih warna putih. Menyaksikan beratus-ratus kendaraan memacu, saling berkejaran. Bagai balapan massal, mengejar kemenangannya masih-masing. Matahari bertengger diatas sana, segaris ubun-ubun.

Dari arah barat tak seberapa jumlah kendaraan. Semuanya sudah diloloskan oleh lampu hijau menuju timur. Hanya ada beberapa motor yang berjalan lamat-lamat. Pandangan saya jatuh dan lekat pada seorang ibu yang sedang membonceng anaknya pulang dari sekolah. Pelan-pelan mereka susuri jalan terpanjang di kota Bandung ini – Soekarno Hatta, alias by pass.

Belum sampai di tengah perempatan, tiba-tiba saja suara sirene meraung-raung. Tiga motor polisi tanpa aba-aba melanggar lampu merah, diikuti empat atau lima mobil mewah dengan plat khusus. Pastinya itu mobil pejabat, ntah lah pejabat yang mana.

Cekiiittt….”, si Ibu agaknya menarik pelatuk rem motor matic-nya tiba-tiba. Terleok-leok motor itu hampir jatuh dan nyaris tertubruk rombongan mobil mewah yang dikawal polisi tadi. Pucat akibat kaget menyelimuti rona wajah ibu itu. Untungnya dia tak celaka dalam haknya melintas di lampu hijau yang direbut oleh segerombolan orang yang merasa berhak melanggar aturan.

Blegug siah…!”, pekik pak Polisi yang juga kaget sambil menudingkan telunjuknya ke wajah si ibu. Si Ibu muda hanya terdiam karena tak percaya masih selamat dari berhenti mendadak seperti itu. Polisi itu melaju lagi dengan motor besarnya. Gagah dan ganteng penampilannya. Atribut-atribut yang dipakainya itu membuat ia punya hak mengubah dan memberlakukan aturan khusus. Khusus bagi pejabat. The very..very.. important person.

Orang di dalam mobil hitam mewah itu juga tak lupa membuka jendela pintunya dengan sekali sentuh dan melempar tatapan tak suka. Bahkan nyaris tatapan benci ke pengendara motor yang sedang menjemput buah hatinya itu. Ibu dan anak yang hampir habis nyawanya di perempatan buah batu.

Gemes…, gemes saya melihatnya. Aksi penguasa seperti ini bukan hanya sekali-kalinya ini aja. Atas nama agenda penting mereka bisa saja menginjak-injak aturan yang susah payah kita usahan untuk ditegakkan. Lihatlah cerminan perilaku pejabat kita saat berada di jalan raya. Lihatlah betapa risihnya mereka berbagi hak bersama di jalanan.

Mungkin pak polisi yang gagah dan siapapun orang terhormat di dalam mobil itu sedang lupa. Pejabat sehebat apapun dia, adalah pelayan rakyat. Demokrasi yang ada dalam otak mereka memang aneh. Pelayan di negeri ini bisa jadi penguasa yang “se-enake dewe” saja.

Sekali lagi saya masih gemes. Hampir saja mengutuk-ngutuk. Tapi khawatir mereka itu jadi makhluk terkutuk. Cukuplah gemes sambil berniat dalam hati untuk tetap mematuhi peraturan yang ada. Masalah pejabat itu mau patuh atau tidak dengan apa-apa yang disusunnya, biar sajalah. Toh ada dua malaikat kok yang sedang duduk bersama dia di mobil itu sambil geleng-geleng kepala dan mencoret-coret catatan.

Bersekutu dengan Preman

2

32 kilometer. Dalam pelukan bukit barisan, di bibir Danau Toba, jalan berkelok dan berhias kabut karena udara sejuk. Bus yang tak kenal kompromi melaju kencang. Berhenti bagi siapa-siapa saja yang melambaikan tangan untuk ikut serta diangkut. Tak peduli, seberapa penuh dan sesesak apa isi bus. Selama ada penumpang, sikat saja. Berdiri, menggantung, bahkan berjejal diatap bus.

Bus merangkak berderu-deru. Tapi erangan mesin tua itu masih kalah dengan dentuman musik. Mau dengar lagu yang sedang populer di TVRI?, ikut sajalah bus ini. Sesekali lagu pop mancanegara juga hadir. Yang paling digemari dan yang paling bisa dinikmati penumpang adalah lagu batak karo. Seperti film india. Lagu ini bisa menghapus sejenak penat dan melayang sebentar dari persoalan lalu hinggap ke dahan angan-angan. Dan memang, kalau disimak lebih lanjut, pola irama dan karakter lagu karo memang agak mirip dengan lagu-lagu india.

Begitulah perjalanan yang saban hari saya alami saat masih sekolah dasar dahulu. Sepulang sekolah, agenda rutin : Saribudolok – Kabanjahe, Sumatera Utara. Melompati perbatasan Kabupaten Simalungun dengan Kabupaten Karo. Menikmati tugas sebagai ”tukang belanja” untuk rumah makan nenek saya. Kecil-kecil, saya sudah diamanahi mengantongi duit berjuta-juta. Sampai kota Kabanjahe, duit itu saya bagi-bagi ke penjagal ayam, si tukang tahu tempe, penjaja rempah-rempah, penjual ikan, tak lupa daging sapi. Mereka sudah langganan, jadi tak perlu tawar menawar. Kami sudah mendapat diskon spesial. Sudah mendapat corporate rate, bukan publish rate lagi.

Setelah pesan ini itu, sejam kemudian saya hanya tinggal menjemput pesanan satu persatu. Bawa ke terminal, lalu menelusuri kembali jalan sempit dan berlubang bersama bus yang hanya ada dua pilihan : SIMAS atau SEPADAN. SIMAS itu singkatan dari Simalungun Atas, menggambarkan kebanggan pemilik bus pada daerahnya. SEPADAN singkatan dari Setia pada Agama dan Negara. Oh, betapa bangga saya naik bus SEPADAN ini. Terlihat pemiliknya adalah orang yang nasionalis religius.

Saya hafal betul setiap detil pasar Kabanjahe. Tinggal sebut mau beli apa, tak sampai 5 menit saya akan tunjukkan di kios mana barang itu tersedia. Tapi janganlah cari barang yang aneh-aneh.

Suatu sore, saya sudah selesai pesan semua list belanja. Tinggal menunggu saja. Seperti biasa, sambil menunggu pesanan selesai, saya makan kerang rebus dulu di sudut pasar. Selepas itu barulah mengutip barang-barang yang sudah dipacking rapi.

Dalam perjalanan menuju toko-toko langganan itu saya berpapasan dengan 3 remaja ”tanggung”. Perkiraan saya, mereka seusia anak-anak SMP atau SMA. Mereka senyum, tampak kenal sekali dengan saya. Tapi saya tak kenal sama sekali.

Tiba-tiba salah seorang yang paling besar diantara mereka langsung merangkul saya. Merangkul itu cuma pura-pura saja. Karena sebenarnya leher saya sedang dipitingnya sekuat tenaga sambil menempelkan sebilah pisau ke perut saya. Dingin, pisau itu menempel dan dingin sekujur tubuh ini.

Lantas, mereka menggiring saya ke sebuah gang di seberang pasar. Saya tak dapat berbuat apa-apa. Ukuran jumlah, mereka lebih banyak, 3 lawan 1. Soal ukuran badan, jelas saya kalah. Tak ada pilihan lain, saya tak bisa melawan. Terbayang kalau melawan, dia hanya tinggal mendorong pisau itu dan saya akan menggelepar bagai ayam-ayam di rumah potong langganan saya.

Suasana hati saya tak bisa dikontrol. Ingin menangis, tapi tak kuasa. Ingin menjerit, mulut serasa dikunci mati. Saya ikutkan saja apa yang mereka mau. Sambil berdoa agar tak terjadi apa-apa. Mendadak saya ingat rumah, ayah, ibu, dan saudara semua.

”Keluarkan semua uangmu..!, jangan macam-macam, cepat…”, si pimpinan geng itu menghardik. Dua temannya cengengesan sambil menempeleng kepala saya.

”Jam juga…!”, ah, tak ada pilihan. Jam digital merek alba kesayangan saya itu terpaksa berpisah juga.

Mereka juga ”merogoh” semua isi kantong dan tas saya. Tak ada yang tersisa. Uang, jam, topi dan tas saya diambil semua.

”Bug…”, sebuah tinju mendarat di ulu hati saya. Dunia serasa gelap. Bibir langsung membisu dan membiru menahan perih. ”Plak…”, mereka juga tak lupa menampar saya sebagai ungkapan perpisahan. Saya tersungkur karena pening. Mereka pergi begitu saja. Terkekeh-kekeh mendapat rezeki hasil rampokan hari ini.

Ludes, semua ludes. Ongkos pulang saja tak ada lagi. Dengan sisa tenaga yang terkuras akibat takut dan kena dua pukulan tadi saya lanjutkan pekerjaan mengumpulkan list belanjaan. Untuk ongkos pulang, saya pinjam duit tukang tahu dulu. Saya bilang saja tadi uang untuk ongkos pulang hilang. Mungkin terjatuh.

Kejadian itu tak saya ceritakan kepada siapapun. Saya takut. Bagaimana kalau nanti malah jadi bahan olok-olokan? Mending disimpan dalam hati saja.

Hingga tiba pada suatu siang. Hari rabu. Entah tanggal berapa, bulan berapa dan tahun berapa. Saya lupa. Yang jelas, sekitar beberapa minggu setelah kena rampok di Kabanjahe.

Hari rabu adalah hari pekan di Saribudolok. Kalau hari rabu tiba, kota kecil ini mendadak menjadi ramai. Seisi kota penuh dan berubah menjadi pasar. Pasar rakyat yang besar sekali. Kegiatan belanja dipusatkan satu hari saja dalam seminggu. Maka masyarakat desa sekitar Saribudolok akan menyerbu, membeli kebutuhan pokok.

Dari kejauhan, tiba-tiba saya lihat 3 anak yang merampok saya dulu. Kepala ini langsung panas. Aroma balas dendam memuncak dan membuat saya mendatangi beberapa preman di sekitar terminal. O ya, kehidupan kecil saya begitu dekat dengan para preman dan anak-anak terminal. Namun, saya memang hanya berhadapan dengan sisi baik preman saja. Mereka begitu setia kawan, ramah pada anak-anak, kalau mau jajan minta saja sama mereka, pasti dikasih. Tentu saja kalau kita sudah kenal mereka.

”Bang…bang…, itu ada anak Kabanjahe yang pernah merampokku…”. kira-kira begitulah saya bilang.

Tak banyak bicara, preman terminal ini minta ditunjukkan saja orangnya. Mereka, sekitar 4 atau lima orang. Menghampiri geng perampok itu, langsung mendekap mereka juga. Seperti halnya saya didekap dulu. Dibawa ke lapangan kosong. Saya mengambil jarak, tak mau ikutan ke lokasi eksekusi. 3 anak pencopet itu habis-habisan dipukuli. Ditunjang, dipukul, dibanting, dan entah diapain saja. Mukanya sampai bengkak dan berdarah-darah. Kasihan juga saya melihat mereka dihajar begitu rupa. Saya dulu cuma kena 1 pukulan dan 1 tamparan. Tapi lihat mereka sampai berdarah-darah begitu. Terkulai tak berdaya. Preman suruhan saya itu pun gantian merampok mereka. Pakaian anak-anak pencopet itu dilucuti, duitnya diambil, serta barang-barang lain.

Saya masih ditempat yang agak jauh dari TKP. Begitu selesai, preman-preman Saribudolok yang baru saja menghajar 3 anak mantan copet itu menghampiri saya. ”Kemarin kena copet berapa?”, katanya. Saya bilang ”ga tau, sudah lupa”. Lalu dia memberikan sebagian hasil copetannya yang diperoleh dari pencopet juga ke saya. Anehnya saya terima sambil senyum, dan bilang terimakasih. Dulu sih ga aneh, sekarang saja saya merasa aneh sendiri.

”Sama-sama senang kita kan??”, begitu katanya.

Wah…, saya bingung harus jawab apa. Disisi lain senang karena dendam terbalas, tapi kasihan juga mereka dihajar habis-habisan begitu.

Lalu, saya temui nenek dan mengajukan permohonan agar saya libur dulu belanja ke Kabanjahe barang 3 atau 4 bulan. Alasannya saya bilang mau belajar, tapi sebenarnya takut kalau-kalau preman cilik itu balas dendam dan gantian menghajar saya di Kabanjahe.

Memang, masuk ke lingkaran masalah preman bikin runyam. Jadi jangan sampailah…. Cukup berteman saja dengan mereka. Sebab banyak nilai positif pada salah satu sisi preman, tentunya saat mereka masih belum kehilangan akal untuk jadi anarkis. Sisanya, preman adalah makhluk yang baik budi, setia kawan, jantan, melindungi, dan peduli. Dengar-dengar ada parpol yang pakai jargon ini. Saya curiga, jangan-jangan mereka preman ya?? He..he..

Kabita Midi Controller

22

Sesekali kita memang perlu memberi hadiah untuk diri sendiri.

Biasanya rumah saya jadi tempat parkir alat-alat musik edCoustic. Ada gitar akustik, bass, dan kadang-kadang gitar elektrik. Bila hati sedang sunyi, fikiran mandeg dan tak kreatif mereka akan menjadi inspirasi bila diajak nyanyi bersama. Tapi sekarang yang parkir hanya bass saja. Gitarnya sudah parkir di tempat lain. Saya tak bisa ngulik bass dengan leluasa, jadi rumah serasa sepi.

Makanya di ulang tahun saya sekitar dua bulan lalu, saya jadi kabita (pengen luar biasa) nyoba alat musik baru. Sehingga diputuskanlah tanpa mengetuk palu untuk memberi hadiah pada diri sendiri sebuah Midi Controller. Memang tak se-instant keyboard, tapi kalau dipadu dengan laptop perjuangan saya ini, sound library yang asoy dan Nuendo saudara kembarnya Cubase akan menjadi asik.

Cari punya cari, pilihan jatuh pada Midi Controller Behringer UMX 49. Alasannya tuts-nya lebih menyerupai grand piano, agak-agak berat gitu. Tapi alasan utamanya adalah karena menurut informasi, device ini yang paling murah meriah. Meski hadiah untuk diri sendiri, tapi ga lantas berfoya-foya kan…? he..he…

Namun sayang beribu sayang, setelah berburu Behringer UMX 49, harganya ternyata tak murah lagi. Mungkin terpengaruh krisis global dan melonjaknya dollar dimata rupiah. Harganya 1,5 juta. Itupun sudah diskon. Karena harga publish-nya 2,1 juta. Ah… sedih hati ini. Bagai pacar yang ditolak lamarannya, bagai pegawai yang tak dapat naik gaji, saya pulang dengan sedih. Sebab harga itu masih jauh dari anggaran semula. Bisa saja sih maksain beli, apalagi sudah kadung kabita. Tapi saya juga harus pandai-pandai mengontrol diri sendiri sebelum mengontrol komputer dengan midi controller.

Setelah kalah tak membawa hadiah apapun juga untuk diri sendiri, saya dapat rekomendasi dari seorang teman yang juga arranger album yang saya produseri. “Bang.., cari di jalan pungkur aja, disana biasanya ada barang yang asik-asik”. Maka meluncurlah saya kesana, dan memang kebetulan lewat daerah sana. Eh…, ternyata benar. Masih ada Midi Controller yang harganya nyaris 1/2 dari Behringer yang terkenal paling murah itu. Mereknya M-Audio Keyrig 49. Oh aduhai senangnya hati ini. Budgetnya sesuai anggaran. Maka dengan sumringah, saya bawa pulanglah si controller idaman itu. Hadiah ulang tahunku sudah ada. Hore..hore… Ini pantas untuk dirayakan.

Hadiah untuk Diri Sendiri
Hadiah untuk Diri Sendiri

Sekarang tantangannya lebih besar. Bagaimana saya bisa bermain keyboard dengan baik? Harus belajar dari awal lagi euy…. Kalau ada yang punya trik bagus bermain piano bolehlah sharing-sharing.

Kenduri 10 Trilyun

1

Undangan sudah disebar. Tahun 2009 nanti ada kenduri nasional. Besar-besaran. Seluruh rakyat yang duduk dan berdiri di gugus pulau nusantara diundang. Taksirannya 171 juta lebih penduduk akan ikut serta. Yang tak hadir siap-siap saja jadi golongan putih. Golongan yang akan “dicaci maki” panitia dan partai-partai.

Panitia dikasih nama KPU. Mereka minta dana nyaris 50 Trilyun untuk biaya kenduri ini. Tapi pemerintah  cuma kasih 10 Trilyun lebih, tepatnya 10,4 trilyun. Kasihan… KPU tidak senewen dipangkas sesadis itu. Kenduri tetap akan digelar. Marilah bertanya mengapa.

10,4 Trilyun itu anggaran untuk panitia. Belum lagi anggaran yang disiapkan 34 peserta pemilu 2009. Wah.. kenduri ini akan semakin semarak menghamburkan uang kertas yang biasa kita pakai untuk menjaga perut tetap tenang sehari-hari.

<a href=Kenduri politik, orang pintar bilang “pesta demokrasi”. Ini benar-benar akan menjadi pesta besar. Kita akan libur dari kerja untuk masuk ke bilik “contreng”. Kita akan deg-degan menanti quick count. Syukur-syukur tak ada maniak yang mengerahkan massa untuk mengamuk karena tandas hasil pemilihannya. Beratus, bahkan beribu orang yang sekarang pasang spanduk di jalanan akan duduk cengengesan di kursi dewan menikmati hasil “contrengan”. Kita juga akan punya sepasang kepala negara baru, buah dari kenduri setanah air.

Lalu apakah semua ini worthy? tergantung pada kecenderungan politik, kepercayaan, dan keluguan kita masing-masing.

Anjing…

3

Itu kata yang kasar bukan???

Kosa kata “anjing” sudah melekat asosiasi kasar. Panas hati kita bila disebut anjing, apalagi sebutan itu mengarah pada diri kita. Saya sampai heran, di Bandung pemudanya gandrung sekali menyebutkan anjing. Sedikit-sedikit muncrat kata anjing. Seperti kalimah dzikir saja. “njing..njing…”, itu gampang sekali muncul dalam percakapan sehari-hari. Padahal Bandung terkenal dengan budaya ramahnya.

Terlebih dalam sudut pandang agama. Tak tanggung-tanggung, anjing eksplisit dinyatakan sebagai binatang haram. Terkena liurnya saja harus disamak. Anjing tak boleh masuk rumah. Tak boleh dimiliki seorang muslim kecuali dia sebagai penjaga kebun atau hal-hal lainnya yang jauh dari jangkauan kehidupan sehari-hari manusia.

Ditambah lagi tampang anjing yang menyeramkan. Giginya kokoh tak terbantahkan. Sekali gigit bisa merobek daging. Menyebarkan penyakit rabies yang bisa membuat kita tolol seumur hidup.

Lengkap sudah alasan mengapa kita harus menjauhi anjing. Melekatkan asosiasi buruk padanya. “Sumpah…, saya takut betul dengan anjing. Ayo kita pergi saja dari sini”, begitu kata teman saya saat kami bertamu ke rumah seorang kawan. Mukanya pucat, lebih putih dari biasanya, tiada dibuat-buat. Bibirnya membiru bagai dikecup hantu.

Di tempat lain, ada orang yang hidup mesra bersama anjing. Biaya pemeliharaannya pun bisa melebihi biaya operasional sebuah panti asuhan. Tidur sekamar dengan sang majikan, sekasur bahkan. Dibelikan baju, shampo, pita, dan tempat tidur istimewa. Yang lebih tak masuk akalnya, kadang-kadang sipecinta anjing ini sampai menempatkan perikeanjingan diatas segala-galanya.

Saya sendiri punya pengalaman dalam hubungan emosi manusia-anjing ini. Saya masih kecil dulu , jadi belum ngerti halal-haram. He..he…

dogDulu kami punya seekor anjing untuk menjaga kebun. Ia kami adopsi sejak masih bayi. Anjing kecil itu dibuang oleh yang punya karena mungkin sudah frustrasi karena anjingnya beranak melulu. Warnanya coklat keemasan, pipinya tembem, senyumnya merekah. Lucu sekali.

Sialnya kalau malam dia suka mengganggu. Berkaing-kaing tak karuan. Barangkali kedinginan dan naluri minta disusui sedang memuncak.
Akhirnya kami buatkan ia sebuah kandang kecil lengkap dengan selimut di dalamnya dan sebuah tempat minum. Susu yang dia minum sama saja dengan yang kami minum sehari-hari.

“Astra”, itulah nama yang kami sematkan padanya. Berhari-hari kami memanggilnya astra untuk memperkenalkan bahwa nama itu miliknya. Akhirnya Astra mengerti. Setiap mendengar kata itu ia langsung menggoyang-goyangkan ekor. Menganggukkan kepala.

Singkat cerita, Astra menjadi teman yang begitu setia dan menyenangkan bagi saya yang masih belum sekolah. Saban hari Astra menemani saya bermain apapun. Ia tumbuh menjadi anjing yang sopan dan juga pintar. Ia tak mau masuk kedalam rumah. Dan bila ia bandel masuk juga, kami tinggal bilang “keluar” dengan intonasi lembut, maka Astra pun keluar. Menunggu di depan pintu.

Saat saya sudah masuk SD. Setiap pulang sekolah, Astra lah yang menyambut dari kejauhan. 100 meter menjelang rumah dia sudah berlari kegirangan menyambut bagai seorang pemuda dalam film India yang akan bertemu kekasihnya. Terasa sekali sambutan hangat itu. Sambil menggoyang-goyangkan ekor pertanda senang, biasanya Astra memancing saya untuk ikutan berlari bersamanya.

Tanpa menolak dan mengeluh Astra selalu siap diajak kemanapun. Mandi ke telaga ia ikut, bermain ke hutan Astra turut, kelapangan bola juga dia manut. Hanya sayangnya, kalau sudah ketemu anjing betina, Astra akan berubah menjadi anjing yang menyebalkan. Apalagi kalau ketemu anjing jantan, bawaannya mau bertengkar melulu.

Ke sekolah saja Astra tak boleh ikut. Itupun karena dilarang guru.

Saya yakin, Astra juga paham emosi yang sedang saya rasakan. Saat sedih, dia juga turut sedih. Terduduk di bawah pohon sambil menatap dalam-dalam mata saya. Mungkin dia sedang bilang “saya turut prihatin pak bos..” Kalau sedang gembira, maka Astrapun turut gembira. Seolah ikut merayakan apa yang membuat saya senang.

Saya punya trik jitu menghadapi situasi saat kita sedang berhadapan dan digonggong anjing. Tatap saja matanya dalam-dalam dan katakan dalam hati “kawan… jangan rewel ya… aku ini temanmu!”. Teknik ini tak pernah gagal, suer…! Tapi saya ga yakin akan berhasil untuk anjing gila. Hanya berhasil untuk anjing waras saja. Saya yakin anjing itu bisa mengerti apa yang kita maksudkan.

Saya merasakan hal itu ketika berteman dengan Astra. Saya pernah mengajarinya bagaimana membuka pintu. Hanya dengan menyuruhnya “buka pintunya astra…!” sambil membayangkan kalau dia mengerti. Tak perlu waktu lama. Hanya beberapa kali percobaan saja sudah berhasil. Awalnya dia memang cengengesan saja. Tapi lama kelamaan ia mengerti juga apa yang kita maksudkan.

Apakah anjing itu adalah hewan yang bisa mengerti bahasa manusia? Wallahu ‘alam. Saya tak tau. Tapi menurut tim peneliti dari Universitas Lincoln yang dipimpin Dr Kun Guo menemukan bahwa binatang berkaki empat itu bisa membaca kesedihan, kegembiraan, kemarahan, ataupun kegelisahan di air muka manusia, bahkan bila ditutupi sekalipun.

-Mengenang sahabatku Astra yang tewas ditabrak truk 15 tahun yang lalu-