Renang Banci

2

Dulu, saya belajar renang di Danau Toba. Menguasai teknik berenang gaya bebas, sebebas-bebasnya. Yang penting ngapung dan melaju ke depan. Eh.. ke belakang juga bisa. Yang penting, bisa renang. Titik.

Ketika SMA saya diajari renang gaya dada. Itu loh renang yang muncul-tenggelam. Muncul lagi, tenggelam lagi. Gitu terus-terusan. Saya bilang itu renang gaya banci. Ogah belajar renang seperti itu. Sampai lulus SMA saya memang tak menguasai renang gaya dada. Diajarin teknik renang gaya bebas juga tak bisa saya terima sepenuh hati. “Masa’ perenang alami diajarin lagi renang?, huh” Gengsi itu mengalahkan kebaikan yang ditawarkan orang lain. Padahal kalau diajak balapan renang saya selalu kalah.

Nah… saat ini saya lagi rutin renang. Setiap minggu minimal sekali lah mencebur ke kolam renang Sabuga-ITB. Sebelumnya saya sudah mencoba olah raga jogging, capek euy… Baru lari 4 putaran rasanya ga betah. Padahal dulu pas mau ikutan Ospek IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi), syaratnya harus keliling lapangan Sabuga (ukuran standar lapangan sepakbola) sebanyak 20 kali tanpa henti. Saya juga pernah nyoba fitness. Lari-lari seperti marmut, ini juga ga berhasil. Kurang pas rasanya. Ikutan badminton juga pernah, tapi malu kalah melulu. Mau nyoba tennis dan golf, masih pasang niat aja sudah minder sendiri.

Renang menjadi olah raga yang benar-benar saya nikmati sekarang. Bayangkan…, sekarang saya bisa renang non-stop 45 menit tanpa perlu pit stop. Ya.. kurang lebih menempuh jarak hampir 2 kilometer lah. Tak terasa capek. Benar-benar menikmati bolak-balik lintasan panjang kolam renang ITB yang katanya ukuran olimpic size itu.

Kok bisa? Akhirnya saya menemukan juga rahasia nikmatnya “renang banci” itu. Meski dulu anti renang gaya dada, sekarang saya malah sudah ga pernah lagi renang gaya bebas. Pasalnya, kalau renang gaya bebas saya selalu tidak berhasil melintasi lebih dari 100 meter. Harus berhenti dulu istirahat. Belum lagi sering sekali si hidung, telinga, dan tenggorokan kemasukan air.

Renang gaya banci, eh gaya dada saya pelajari cuma lihat animasi renang di internet. Lalu praktik di kolam renang sendirian. Awalnya susah, tapi lama-lama berhasil juga. Justru, renang gaya dada ini benar-benar renang yang menghemat energi. Terpujilah penemu renang banci ini. He..he..

Dalam ukuran saya, saya sudah tekun belajar gaya dada supaya bisa menguasainya sampai tingkat hampir mahir. Kalau mahir berarti sudah berani balapan, saya memang sengaja ga ingin balapan. Cuma ingin olah raga sambil menikmati segarnya air kolam renang.

Sambil menyelam minum air, begitu kata pepatah. Sambil menyelam mencari hikmah, begitu kata saya mengekor pepatah itu. Beginilah hikmahnya.

Pertama, mudah bila menguasai teknik yang benar. Dulu, saya belajar sendiri renang gaya bebas tanpa panduan teknik yang benar. Hanya bisa mengapung dan melaju, itu saja. Bagaimana agar bertahan lama, efisien, dan cepat belum saya pelajari. Akibatnya saya hanya sekedar bisa tapi tidak kompetitif. Hanya kalau ada buaya saja baru bisa terpaksa melaju kencang. Untung saja di Danau Toba tak ada buaya.

Kedua, miliki irama sendiri. Dalam mempelajari sesuatu–tidak hanya renang tentunya–langkah awal yang paling mudah memang copy-paste seperti prinsip ala NLP. Tapi tak cukup, kita perlu lanjutkan agar sesuai dengan irama kita sendiri. Prinsip ini pernah saya lakukan ketika dulu belajar berbagai bahasa pemrograman agar bisa coding software sendiri. Setelah belajar teori-teorinya, lalu latihan menulis ulang ribuan baris code yang pernah dibuat oleh orang lain sampai berhasil. Supaya mahir, saya harus mampu coding dengan cara sendiri. Nah.. pada tahap inilah pengembaraan dimulai. Butuh waktu panjang hingga menemukan irama sendiri, menemukan gaya pemrograman sendiri.

Ketiga, menikmati. Bagi saya renang adalah olah raga yang sesuai dengan karakter saya pribadi. Saya menikmatinya sehingga renang 45 menit tanpa henti tak terasa lelah. Selain teknik yang benar, menikmati pekerjaan adalah kunci keberhasilan. Saya sering mendengar curhat teman-teman yang bekerja dengan gaji besar, prestisius tinggi karena menjadi bagian dari organisasi besar, mendapat akses ilmu yang banyak. Tapi, hidupnya merasa tak bermakna. Kalau saya perhatikan, intinya sih karena tidak menikmati saja.

Tiga aja dulu cukup untuk hari ini. Sebagai bonus, saya pernah menonton video dokumenter salah seorang penemu besar sepanjang sejarah: Dr. Yoshiro Nakamatsu atau biasa disebut Dr. NakaMats. Salah satu metode mencari ide yang paling ia minati adalah di kolam renang yakni dengan cara menyelam sampai batas maksimal yang ia mampu. “Otak itu bekerja optimal pada saat 0,5 detik menjelang mati” katanya. Ia mencari ilham dengan cara bermain-main dengan kondisi nyaris mati di kolam renang. Nah… kalau yang ini sih saya ga berani coba. Ntar malah mati beneran.

Salam olah raga..

Sumber foto: www.flickr.com/photos/eythor/3560338315

Jadi Supir

4

Ini peristiwa dua tahun lalu, seorang sahabat dari Sumatera Utara kontak saya. Rupanya dia sedang berada di kota Sumedang. Ia sedang studi banding ke DPRD kota Sumedang. Sahabat ini sudah jadi anggota DPRD sejak 2004 dan pemilu 2009 ini tetap eksis di bangku yang sama.

“Selepas acara mau singgah dulu di Bandung,” begitu dia bilang. Rencananya cuma sebentar saja singgah di Bandung, karena mereka harus langsung ke Jakarta.

Saya tanya, mereka akan naik apa dari Sumedang ke Bandung? eh ternyata mau naik bis. Wah..wah… anggota dewan yang satu ini memang suka rada aneh. Dimana-mana, yang namanya pejabat biasanya minta disiapin mobil, pake jemputan atau akomodasi yang layak lah. Tapi dia ga, malah ingin fasilitas termurah. Tempat menginapnya disana juga hotel kelas bawah.

“Tamu itu raja,” begitu kata pepatah. Mematuhi pepatah itu, saya pun ambil inisiatif menyewa mobil. Tak perlu memberitahunya, biar jadi surprise dikit-dikit. Mobil sewaan sudah tersedia, langsung saya bawa meluncur ke Sumedang. Dari Bandung sekitar 1,5 jam sudah sampai di kota tempat Cut Nyak Dien bersemayam itu.

Sampai disana, saya sms dia. “Sudah di Sumedang nih”, begitu isinya. Betul saja, dia langsung telpon dengan nada yang terkesan kaget. Menjelang tengah hari kami berangkat dari kota itu. Mendaki jalan yang meliuk-liuk menuju Bandung.

Di Bandung jalan-jalan sebentar. Lalu perjalanan ke Jakarta kami lanjutkan selepas isya.

Kami tiba di Jakarta sudah hampir tengah malam. Nyari-nyari alamat hotel tempat mereka menginap lumayan lama juga. Saya kurang paham daerah yang dituju. Sampai di hotel, eh… ternyata sudah penuh. Rekan-rekannya sesama anggota DPRD ternyata banyak yang tidak ikut ke kota Sumedang. Mereka asik-asik di Jakarta, padahal agendanya studi banding ke Sumedang. Saya diberitahu memang begitulah setiap kunjungan atau stubi banding berlangsung. Hanya segelintir yang kerja beneran, sisanya pelesiran.

Dan… yang parah lagi, kamar untuk menginap rekan-rekannya yang benar-benar mengikuti agenda tak dipesan. Dari balik stir, saya melihat mereka agak bersitegang. Maklumlah orang Medan, diskusi nyantai aja kesannya bisa seperti lagi marahan. Apalagi kalau marah beneran.

Kecewa dengan sikap rekan-rekannya itu, mereka memutuskan mencari penginapan di salah satu apartemen di kawasan utara Jakarta. Kebetulan ada sobat mereka yang tinggal di sana. Mungkin sang sobat lama itu bisa bantu mencarikan kamar apartemen untuk disewa.

Mereka pun menghubungi sang ‘kawan’ itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 dinihari. Dari nada percakapan mereka, sepertinya yang di ujung telepon sana agak terganggu. Pukul 12 dinihari itu waktu yang paling asik menikmati tidur malam. Eh.. malah diganggu ama segerombolan orang yang bingung cari penginapan di Ibu Kota yang sebenarnya menyediakan banyak sekali alternatif menginap. Tapi kenapa harus ngerepotin orang lain? Pertanyaan itu aku simpan saja. Sebab aku tau karakter orang Medan, lebih baik merepotkan orang lain daripada dianggap sombong.

Ternyata si kawan yang menjadi karyawan salah satu BUMN besar itu sudah jadi orang Jakarta beneran. Ia senewen lihat teman-temannya ini mengusiknya di tengah malam hanya karena persoalan penginapan. Kebetulan ia tinggal di salah satu apartemen di Jakarta Utara. Teman-temannya gerombolan anggota dewan ini ingin juga menginap di apertemen itu, tentunya menyewa sendiri. Biar pagi-pagi bisa sekalian silaturahmi dengan temannya yang sudah lama di Jakarta.

“Oke… aku pesankan kamar untuk kalian. Sudah tau jalan kesini?” tanyanya tanpa bisa menyembunyikan nada kantuk di suaranya. “Manalah kami tau” jawab yang menelpon di mobil. Saya tetap saja menyetir dengan kecepatan rendah agar tidak mutar-mutar nantinya.

“Mana supirnya?, biar aku saja yang ngasih tau” katanya. Telpon itu pun lalu diserahkan padaku. “Kamu supirnya?” kata orang di ujung sana, setelah saya sapa dengan “halo..”.

“Betul Pak, saya supirnya,” sebab dari tadi pagi secara teknis saya memang menjadi supir mereka. Supir sukarela tentunya yang harus membayar sewa rental dengan sukarela pula.

“Kamu tau Kelapa Gading kan?”

“Ya Pak, saya tahu,” padahal jujur, saya cuma tahu sekilas saja. Kalau disuruh kesana harus nanya-nyanya dulu. “Oke.., nanti masuk ke simpang ‘ini’ belok kanan, belok lagi. Setelah ketemu ‘itu’ nanti lurus saja sampai ketemu,’ Aduh… saya sama sekali ga mendapatkan gambaran spasial apa yang dikatakannya. “Pak saya catat dulu ya, boleh diulang?” pinta saya.

“Loh… kamu ini supir apa sih, itu kan petunjuk sudah jelas?” waduh kena semprot euy… “Baik Pak, bagaimana kalau nanti sampai Kelapa Gading saya telepon lagi?” Klik, telpon itu langsung diputus.

Kami langsung meluncur ke Kelapa Gading setelah nanya sana-sini. Maklum, ketika itu saya belum paham seluk beluk Jakarta. Kalau sekarang sih, peta om Google sudah bisa menjawab semuanya.

Sampai di Kelapa Gading saya minta orang yang tadi memandu jalan ditelpon lagi. Soalnya saya benar-benar clueless karena selain ngomongnya cepat, saya ga hapal petunjuk yang diberikan. “Halo, sudah dimana sekarang?” tanyanya begitu telpon nyambung. “Baru masuk ke Jalan Boulevard Pak” jawab saya. Ia langsung marah-marah. “Kan sudah saya bilang tadi petunjuknya, apa kamu tidak dengar?”.

Semua orang bisa mendengar percakapan itu. Teman saya yang ada di mobil, yang anggota dewan itu, langsung mengambil telepon. “Hei b**i, sopan dikit kau bicara!,” asik… ini akan jadi percapakapan ala medan. Sudah lama tak dengar yang begini. he..he…

“Yang bawa kami kesini bukan supir sembarangan,” iya lah…. saya kan supir sambilan.

“Istrinya dokter, biar kau tau,” alah… bawa istri segala, lagian istri saya bukan dokter melainkan sarjana Keperawatan.

“Dia alumni ITB,” alamak… bawa-bawa almamater segala.

“Hati-hati kau bicara, cepat minta maaf,” kata teman saya seraya mengantarkan telepon genggam itu ke saya.

Di ujung suara sana mendadak hening, lalu ia berujar dengan nada yang sangat berbeda.

“Pak, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud kasar, saya pikir tadi supir rental,” katanya. “Baik Pak, tidak masalah. Bisa dipandu lagi menuju kesana Pak?” jawab saya. Sebenarnya tergoda juga ingin membalikkan keadaaan. Tapi sudahlah… buat apa juga.

Sampai di lokasi, masalah tak berhenti. Mereka saling beradu argumen saja. Tapi saya sudahi sampai di sini saja. Toh intinya kan pengalaman jadi supir di tengah malam di ibu kota.

Saya pulang ke Bandung malam itu juga sambil senyum-senyum. Saya jadi kepikiran, jangan-jangan saya juga sering memperlakukan orang lain secara berbeda berdasarkan status sosialnya?. Bagaimana kalau istri saya hanya buruh pabrik? bagaimana kalau saya hanya lulusan SMP? Apakah ia masih rela menyampaikan maaf begitu? Senyum-senyum saya masih berlanjut, kok bisa ya dia langsung berbalik arah begitu setelah dengar saya suaminya siapa dan lulusan mana? Apakah lulusan ITB sebegitu hebatnya dimatanya? Apakah dokter sebegitu terhormatnya?

Apa saya nyambil aja jadi supir rental ya?

sumber foto: www.shutterstock.com

Coba Update Pakai Sihitam

0

Baru sekarang ‘nyoba’ lagi aplikasi wordpress untuk si hitam (blackberry). Dulu pernah pakai, tapi ampun… Lambat dan nyusahin.

Dengar-dengar ada perbaikan, jadi tergoda instal lagi. Nah ini dia percobaan pertama.

Sudah ga lemot seperti dulu, tampaknya asik nih ketak-ketik pakai papan ketik yang cuma bisa diakses dua jempol tangan ini. Mudah-mudahan jempolku ga bengkak gara-gara ini.

Fasilitas dasar untuk mengetik juga tersedia. Menebalkan bisa, huruf miring juga tersedia.

Cakep dah pokoknya.

Sudah Lama tak Update Blog

0

Sudah lama aku tak buka ruang admin di blog ini. Kulihat update terakhir tulisanku: 6 Mei 2009. Ya ampun… itu dua tahun lalu. Kemana saja aku selama dua tahun ini?

Sebenarnya aku masih menulis. Menulis untuk orang lain tepatnya. Kuhitung-hitung, sudah lebih seribu halaman tulisan aku produksi untuk kepentingan orang lain. Sementara blog-ku sendiri terlantar bagai anak yang luput dari perhatian ibu tirinya karena sibuk ngurus ini itu.

Banyak hal yang ingin ditulis, banyak kejadian yang ingin direkam. Tapi aku malah tenggelam dalam kesibukanku sendiri.

Mudah-mudahan bisa update lagi nih… Amin..

Dikalahkan Marah

1

angerMarah…, inilah satu hal yang paling saya hindari.

Meluapkan marah mungkin hanya memakan waktu beberapa menit saja. Melepaskan rasa kesal meletup-letup seketika. Tapi, lama sekali hati baru jernih kembali. Orang yang dimarahi jelas sakit hatinya, yang marah juga tak lepas dari gelisah.

Begitulah, kemarin saya telah dikalahkan oleh marah. Padahal biasanya selalu berusaha tak kalah olehnya. Rasa sesalnya tak hendak pergi. Saya selalu dibayangi rasa bersalah. Meskipun telah minta maaf.

Seorang penyair Amerika –Ralph Waldo Emerson — pernah bilang “For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness.” Ralp salah, bahagia yang terenggut akibat marah itu bisa berhari-hari meski marahnya hanya 1 menit. Untuk kasus ini, saya setuju dengan Laurence J. Peter — seorang penulis — dia bilang “Speak when you are angry – and you’ll make the best speech you’ll ever regret.” Ya benar… kata-kata yang terlempar saat marah hanya membekaskan rasa sesal dan rasa sakit.

Karena telah dikalahkan oleh marah, aku minta maaf.. Sebab, Rasulullah juga sudah pernah berpesan berkali-kali “Janganlah engkau marah”, begitu kata beliau yang disampaikan Bukhari.

Sumber foto :http://www.flickr.com/photos/stickbus/2801406/

Jangan Menyerah

4

Beberapa tahun lalu, pernah baca sebuah puisi yang cukup menginspirasi. Meski hanya baca sekilas, intinya masih terngiang-ngiang. Kalau sedang “jatuh”, sering saya teringat kembali puisi itu. Memang, bahkan satu baris pun dari puisi itu tidak saya ingat. Bahkan, persisnya baca dimana saya juga lupa.

Sebulan lalu, ketika sedang menghadapi hari yang lumayan berat, saya sempatkan jalan-jalan ke salah satu toko barang bekas di jalan Martadinata (Riau) – Bandung. “Mungkin dengan lihat barang-barang unik, beban hari itu bisa sedikit teralihkan,” batin saya.

Ada dua hal yang saya dapatkan hari itu. Pertama, saya dapat buku yang selama ini saya cari-cari – Biografi Lee Iacocca dalam bahasa inggris. Dulu pernah baca edisi terjemahannya, tapi serasa banyak kalimat yang kurang apik terjemahannya. Jadi penasaran cari aslinya. Harganya hanya Rp. 25.000, murah sekali.

Kedua, saya lihat sebuah pigura bergambar orang yang sedang mendaki gunung. Ada puisi juga tertulis disana. Wow… ini dia puisi yang selama ini saya cari-cari. Hanya terngiang-ngiang saja, tanpa tau apa judulnya, tanpa tau juga harus nyari dimana. Ternyata di toko barang bekas itu dijual dalam sebuah pigura. Sayangnya harganya lumayan mahal. Mending cari di internet saja. Dan inilah dia…

Don’t Quit Poem
by anonymous

When things go wrong, as they sometimes will,
When the road you’re trudging seems all up hill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile, but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit,
Rest! if you must; but don’t you quit.

Life is queer with its twists and turns,
As everyone of us sometimes learns,
And many a failure turns about
When he might have won had he stuck it out;
Don’t give up, though the pace seems slow;
You might succeed with another blow.

Often the goal is nearer than
It seems to a faint and faltering man,
Often the struggler has given up
When he might have captured the victor’s cup.
And he learned too late, when the night slipped down,
How close he was to the golden crown.

Success is failure turned inside out;
The silver tint of the clouds of doubt;
And you never can tell how close you are,
It may be near when it seems afar;
So stick to the fight when you’re hardest hit;
It’s when things seem worst that you mustn’t quit.

Stereotipe Kacamata

6

Seorang teman pernah mengajak saya ke toko optik. “Mau beli kacamata”, katanya. Ketika itu di kompleks Salman-ITB baru saja ada pembukaan sebuah toko optik.  Sedang ada diskon opening untuk mahasiswa. Jadi, teman saya ini minta ditemani ke toko itu.

Tapi setahu saya, matanya normal-normal saja. Tak pernah terlihat mengernyitkan dahi ketika baca tulisan yang mungil atau jauh. Tidak ada gelagat mencurigakan sebagai orang yang harus dipasangi kacamata. “Mata kamu sakit?”, tanya saya. Maksud pertanyaannya bukan mata sang kawan ini yang sakit, tapi mau bertanya apakah dia memang perlu kacamata. “Minus berapa”, saya jejali pertanyaan lagi.

“oo.. ga sakit kok. Cuma pengen gaya aja.  Mumpung lagi diskon..”. Lalu dia menjelaskan, kalau kita pakai kacama mata akan terlihat lebih pintar daripada tidak pakai kacama. Kacamamata akan membuat kita terlihat lebih intelek.

“Ah masak sih..?”, baru pertama kali saya dengar teori absurd seperti ini.

Sambil makan siang di kantin Salman, dia berusaha meyakinkan saya bahwa pakai kacamata itu punya banyak keuntungan. Terutama image sebagai kaum intelektual, yaitu orang yang punya pendidikan tinggi dan punya pengetahuan segudang. Lalu dia membujuk supaya saya juga ikut mengambil keputusan beli kacamata. “Kalau kamu belum punya duit, pakai duit saya dulu. Bayarnya gampanglah.., nanti-nanti saja”

Saya masih sibuk merenung. Apakah teori kawan ini bisa dipercaya, atau dia hanya ingin memperdaya saya saja. Tapi tampaknya dia serius. Lagi pula, dia tidak dapat untung apa-apa dari toko optik yang baru buka itu kalau saya ikut beli kacamata juga.

Sehabis menyantap makan siang, saya putuskan untuk menemaninya saja. Kamipun pergi ke toko optik itu. Penjaga toko membantu pilih-pilih frame kacamata. Dia juga menjelaskan frame mana yang lagi ngetren dan dampak psikologis dari masing-masing frame itu.  Setelah mendengar pandangan penjaga toko, dia pilih frame rodenstock. Harganya lumayan mahal. Tapi katanya frame itu sedang laku.

Penjaga tokonya senyum-senyum saja saat sang teman ini pesan frame dengan lensa normal saja. Seolah sudah biasa menghadapi konsumen seperti itu dia berkata  “Selamat pakai..”, sambil menyerahkan bungkus kacamata dan kembaliannya.

Sejak saat itu, dia selalu pakai kacamata. Saya lihat dia semakin percaya diri. Mungkin gambaran bahwa pakai kacamata itu memberi citra intelek telah membuatnya lebih yakin berhadapan dengan siapapun.

kacamata

Saya tulis ini karena baru saja baca buku Fraser P. Seitel. Seorang pakar public relation, dosen dan penulis buku. Fraser seolah mengamini teori nyeleneh kawan tadi. Dalam bukunya, Fraser menulis :

Semua orang yang hidup di dunia ini memiliki gambaran steretotipe. Yaitu sebuah image yang melekat dan dipercayai kebenarannya. Kebanyakan dari kita adalah korban stereotipe.  Berdasarkan penelitian, kuliah yang disampaikan oleh dosen berkacamata lebih dapat diterima dibandingkan bila disampaikan oleh dosen yang tak berkacamata. Stereotipe yang melekat dalam benak masyarakat adalah : orang berkacamata selalu lebih dapat dipercaya.

Wow…, ternyata teori teman saya itu bukan isapan jempol. Ia sudah mendapat dukungan dari pakar komunikasi dan public relation. Pantas saja dia bela-belain beli kacamata.

Ada yang mendefenisikan stereotipe “sebuah pendapat atau prasangka yang melekat pada kelompok tertentu, biasanya diindikasikan melalui atribut tertentu juga”.

Ah… namanya juga stereotipe. Sesuatu yang dianggap benar, padahal hanya didasarkan pada suatu sangkaan saja. Untung saya tak jadi korban stereotipe kacamata sang teman itu.

sumber foto : http://www.flickr.com/photos/loupiote/94376729/

Silver Line

3

Dalam hidup ini, beberapa kali saya merasa terhianati. Oleh teman sendiri yang menurut kata hati saya sudah menyakiti akibat menanggalkan rasa percaya yang sudah lama saya tanam. Marah, kesal, kecewa dan sakit hati. Kumpulan sifat negatif itu akhirnya menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Rasanya berat untuk bersikap positif. Saat kita merasa terluka oleh orang yang selama ini dekat. Antipati segera datang padahal tak pernah kita inginkan.

Salah satu cerita klasik mengisahkan, bila kita sudah cinta pada seseorang, maka meludahnya sajapun terlihat indah dan mempesona. Tapi bila rasa benci padanya sudah menyelimuti hati, senyum dan tawanya pun terasa bagai siksaan tak terperi.

Emosi memang selalu mampu menggoroti otak kiri kita, hingga rasio sering hilang begitu saja. Tak mampu menimbang dengan jernih duduk masalah.

Seorang teman pernah bertanya, “bagaimana caranya untuk memaafkan?”. Sebuah pertanyaan sederhana, namun saya tak sanggup mengurai jawabannya. Apa susahnya memberi maaf, ya tinggal maafkan saja. Hal-hal ‘bagaimana caranya’ berkaitan dengan prosedur. Prosedur memaafkan saya fikir sederhana saja. Tinggal ucapkan maaf atau terima maaf orang yang meminta maaf.

Setelah berselang waktu, saya menyadari bahwa pertanyaan sebenarnya bukanlah bagaimana cara memaafkan, melainkan bagaimana mengikhlaskan maaf. Bibir kita bisa saja mengucap maaf, tapi hati belum tentu ikhlas memaafkan. Itulah inti masalahnya. Apalagi pada tingkat sakit hati yang begitu hebat, melepas maaf dari lubuk hati bukanlah perkara mudah. Bahkan kadang butuh waktu yang amat panjang.

Saya pernah kenal dengan seseorang yang sudah 15 tahun tak saling bicara dengan ibu kandungnya sendiri. Persoalannya, ya itu…, sulit melepas maaf dalam hati. Setiap lebaran tiba, ucapan maaf memang saling terlontar. Tapi itu hanya sekedar maaf di bibir saja. Selepas itu?, sakit hati masih melekat kuat. Egoiskah mereka? Sulit saya jawab, sebab menurut saya keduanya adalah orang yang begitu baik dan penuh kasih sayang. Kebekuan Ibu dan anaknya itu baru mencair saat sang ibu menjelang sakratul maut. Ajal yang sudah mendekat membuka hati mereka untuk saling mengikhlaskan.

Dalam film Stuart Little II, dikisahkan, seekor anak tikus yang diadopsi keluarga Little merasa hidupnya hancur lebur. Berbagai cobaan dan penolakan ia terima. Setiap melakukan sesuatu yang baik, ia selalu dianggap salah. Stuart frustrasi. Dalam kegalauan itu, sang Ayah mendekatinya. “Dalam hidup ini kita memang sering melihat awan hitam. Tapi yakinlah selalu ada silver line (sisi baiknya)”, katanya membujuk Stuart yang sedang kelabu.

Ya… silver line (sisi baik) dari segala peristiwa memang ada. Meski kadang tersembunyi jauh dari pandangan kita. Orang-orang biasa menyebutnya dengan “hikmah”. Bila ada yang mengalami musibah, kita selalu diminta untuk mengambil hikmahnya. Memetik pelajaran berharga dari peristiwa buruk yang menghadang.

Saya baru saja mendapat sebuah jawaban atas pertanyaan seorang kawan bertahun-tahun lalu tentang bagaimana memaafkan itu. Kita bisa melihat silver line-nya. Itulah yang membuat maaf bisa membasuh sakit hati.

Silver line juga yang membuat kita tak terjebak pada situasi tak menyenangkan sehingga meluapkan emosi. Hari ini, saya juga dapat merasakan silver line itu. Ia memang bermanfaat. Tak perlu menunggu permintaan maaf dari orang lain. Menelisik silver line membuat hati ini sudah terbilas dari sakit hati.

Sumber foto : http://i164.photobucket.com/albums/u19/mariafernanda73/tornadoes.jpg

SPBU – Makloon

6

Sudah sekian lama tidak nulis di blog, ilmu saya cuma nambah dua : SPBU dan Makloon.

Sejak kecil, banyak terminologi yang sering terdengar tapi saya sama sekali tak mengerti artinya apa. Ada yang tau wujudnya tapi tidak tau defenisinya apa. Contohnya, saya baru tau WC itu singkatan dari Water Closed ketika sudah SMA. Ada juga yang sering terdengar, tapi tak mengerti apa maksudnya. Misalnya, saya baru tau kuliner sekarang-sekarang ini aja, setelah ada program kuliner di tv-tv.

Yang memalukan, saya baru tau singkatan SPBU itu apa baru-baru ini saja. Itupun dikasih tau orang, setelah sekian tahun penasaran apa artinya SPBU. Saya hanya tau benda itu namanya pomp bensin, kenapa selalu tertulis SPBU?. SPBU = Stasiun Pengisian Bahan-bakar Umum. Oh, betapa sedihnya. Selama ini sering hilir mudik SPBU, baru sekarang tau SPBU itu singkatan dari apa.

Lalu, makloon. Terminologi makloon memang baru beberapa tahun ini saya dengar dan selalu bertanya dalam hati apa sih makloon itu?. Ternyata eh ternyata makloon itu hampir sama dengan outsourcing pekerjaan.

orang Indonesia yang perlu beli kamus bahasa Indonesia

Curiga Maling

6

Dalam salah satu penerbangan tahun lalu, sempat mendokumentasikan seperti ini.

Curiga Maling

Sebenarnya bukan hal baru sih, tapi tetap saja menggelitik hati.  Normalnya, setiap pengumuman, baik lisan atau tulisan disampaikan dalam dua bahasa. Cuma saya merasa risih saat membaca sebuah stiker yang lumayan besar di belakang tempat duduk. Artinya stiker itu persis berada di depan mata kita kalau sedang duduk.

Kalimat itu berbunyi

Mengambil Pelampung Denda Rp. 10 Juta/Kurungan Penjara.

Tak ada terjemahan dalam versi bahasa Inggris seperti halnya pengumuman yang lain. Mengapa?

Apakah karena space stiker sudah terlalu penuh untuk ditambah lagi teks bahasa Inggris? Atau memang tulisan itu semata-mata ditujukan bagi penumpang Indonesia saja? Duh… jika benar, diskriminatif sekali.

Mungkinkah selama ini penumpang Indonesia memang terkenal suka maling pelampung? Jadi perlu diingatkan dengan tegas. Apakah penumpang asing tak ada niat mencuri? Tak taulah apa duduk perkaranya hingga kalimat yang terpampang di stiker itu muncul. Ini benar-benar membuat tak nyaman, tiba-tiba saya merasa menjadi makhluk yang dicurigai jadi maling.

Setelah landing, semua orang bergegas mengambil barangnya dan keluar terburu-buru. Dua orang bule yang duduk diseberang saya, “mencolong” majalah milik maskapai dan memasukkan ke dalam tasnya. Saya hanya tersenyum, pasangan ini benar-benar maling atau mereka tau kalau mereka tak termasuk dalam ancaman denda itu. Pintar sekali mereka. Lagi pula yang diancam denda 10 juta hanyalah pelampung. Masih banyak barang-barang di pesawat yang bisa dibawa pulang dan tak terancam denda atau kurungan.

Ayo sikat mang….