NOFITIKASI email saya menunjukkan email masuk dari Tim Kompas Gramedia Lestari yang akan menghelat event kebanggaan rutin mereka: LESTARI SUMMIT 2026. Tahun lalu saya ikuti penuh rangkaian acara Lestari Summit 2025 dari pagi hingga malam, mewakili kontingen Indonesia Society of Sustainability Professionals (IS2P). Mungkin karena sudah terdata, tahun ini panitia mengundang kembali untuk ikut acara berikutnya dari database peserta tahun sebelumnya.
Namanya juga diundang, tentu tak elok jika didiamkan saja bukan? Apalagi sebagai penggiat sustainability, lulus dari program magister sustainability science, dan bekerja di bidang sustainability, kesempatan ini barang berharga bagi saya. Jika pun keiikutsertaan harus berbayar, dengan sukarela saya akan mendaftar. Maka, undangan resmi lewat email itu segera saya tindaklanjuti. Satu kursi peserta Lestari Summit 2026 sudah ditangan. Seperti tahun lalu, saya sudah menyiapkan diri duduk menyimak seluruh rangkaian acara. Memang hanya jadi peserta saja, hanya mampu menyimak para pembicara hebat sesuai bidangnya.
Setelah mendapat konfirmasi reservasi, jadwal seharian penuh langsung saya blok. Eh…, ternyata ada jadwal rapat yang diajukan klien untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa di hari yang sama. Ini rapat penting karena jadwal klien tersebut yang sungguh padat sangat akhir-akhir ini sehingga usulan jadwal rapat tersebut memecah kebuntuan pekerjaan yang perlu segera di-release.
Tapi saya sudah dapat kesempatan menghadiri Lestari Summit 2026. Meski cuma jadi beban bagi panitia karena acara ini tidak berbayar, peserta yang hadir adalah undangan yang menikmati gratis fasilitas yang diberikan, tapi bagi saya acara ini sungguh penting. Jadi, dengan berbagai jurus negosiasi jadwal, saya meminta untuk diagendakan ulang di lain hari. Apakah negosiasi jadwal tersebut berhasil? Sayangnya tidak kawan…, saya harus memilih antara menghadiri Lestari Summit 2026 atau kembali dalam ketidakpastian penyelesaian pekerjaan. Dengan sepenuh hati, saya memilih undangan yang sudah saya konfirmasi dengan sadar. Hadir atau tidaknya saya tentu sama sekali tidak berpengaruh pada acara tersebut, tapi menghargai orang yang sudah mengundang adalah sebuah prinsip. Dan…, undangan Lestari Summit 2026 sudah terlebih dahulu saya konfirmasi.
Lalu, sehari sebelum gelaran Lestari Summit 2026, saya mendapat email resmi kembali. QR Code tanda masuk adalah email yang dinanti. Tapi panitia sedikit bercanda dengan membatalkan kehadiran saya. Emailnya bernada sopan dengan inti pesan sebagai berikut:
- Mengapresiasi telah mengisi RSVP Lestari Summit 2026. Penting! Sebelum menyampaikan kabar kurang baik harus diawali sikap simpatik terlebih dahulu, catat…
- Setelah dilakukan kurasi, RSVP saya tidak dapat diakomodasi. Hm… berarti ada yang menilai layak atau tidak layaknya seseorang ikut duduk di acara tersebut atau tidak.
- Alasan pembatalan RSVP: panitia harus mengakomodir representasi pihak lain dan karena ruangan terbatas maka harus ada yang dipotong. Oh…, baiklah…
- Akan diundang untuk kesempatan berikutnya. Tutup dengan kalimat simpatik berikutnya, penting.
Mahir betul panitia menyusun narasi penghapusan daftar peserta. Sejenak saya sempat kecewa, terutama ketika ada yang ”dikorbankan”. Tapi kejadian ini tak terlalu berguna untuk dibawa kecewa. Ini acara gratisan, bukan berbayar, posisi saya sangat lemah. Terus…, dari sudut pandang panitia saya bukanlah siapa-siapa yang layak dipertahankan sebagai peserta sehingga paling mudah untuk digeser demi kepentingan yang lebih lebih rasional. Mungkin juga panitia meminta IS2P untuk mencoret beberapa nama dari kontingennya dan saya masuk ke daftar yang layak coret. Apa pun kejadian di baliknya, yang sudah jadi kepastian adalah saya batal berangkat.
Maka, kembali ke judul, peristiwa ini cukup dimaknai sebagai peristiwa menggelitik saja. Saya masih belum bisa jadi orang yang diperhitungan di bidang ini, maka harus berusaha lebih giat lagi. Alih-alih bersikap kecewa, saya memandang penghapusan RSVP ini adalah pengingat untuk memperbaiki diri.
