HAMBATAN TERBERAT dalam membiasakan lari adalah meneguhkan niat di pagi hari. Malam sebelumnya sudah niat untuk berlari selepas bangun pagi. Semua sudah disiapkan, pokoknya besok pagi siap berlari.

Tapi tak semudah itu ternyata fergusso. Begitu tersadar dari tidur malam sewaktu fajar mulai hadir, badan masih enak dibawa bermalasan. Lelap lagi adalah godaan terbesarnya. Meskipun malam sebelumnya sudah berniat lari, tapi situasi di pagi hari berbeda cerita. Berbagai kalkulasi mulai berdentangan di kepala. “Ah…, hari ini istirahat dulu lah. Larinya jadi besok saja,” begitu suara bergema menguasai diri.

Pagi esoknya, situasi ogah berlari tetap terulang. Kekuatan gravitasi di tempat tidur meningkat berkali lipat. Kelopak mata turut merayu untuk menunda lagi lari esok hari.

Aku yakin situasi ini pasti dialami oleh kebanyakan pelari. Terutama pelari pemula dan amatiran sepertiku. Rasanya berat sekali memulai lari, apalagi di pagi hari.

Padahal, rasa malas dan berat itu hanya ada sebelum kita mulai bergerak. Lima menit setelah berlarian perasaan bahagia karena hormon endorfin mulai membanjiri tubuh kita. Bahkan di kilometer pertama kita jadi geli sendiri mengingat-ingat sikap malas beberapa waktu sebelum berlari. Hayo para pelari, merasakan hal yang sama kan?

Hambatan memulai ini hampir sama dengan menulis. Di dunia menulis, hambatan memulai ini disebut dengan writer’s block dan di dunia belari terminologi yang dipakai hampir sama: runner’s block. Sama seperti writer’s block, hambatan itu sesungguhnya hanya ada dalam pikiran kita. Tetapi benar-benar mampu menguasai diri. Satu-satunya cara untuk mengatasi jenis hambatan seperti ini adalah menjadi lebih besar dibandingkan sang penghambat.

Maksudnya, kita harus merasa lebih kuat dulu sehingga hambatan tersebut tidak keburu menguasai diri kita sendiri. Coba ingat-ingat atau rasakan kembali, ketika menghadapi runner’s block itu kita pasti sulit sekali lepas darinya. Tapi begitu lepas, hambatan tadi seolah-olah tak berarti sama sekali. Ia hanya penghalang semu. Tapi sungguh mampu menguasai diri kita.

Runner’s block akan semakin menjadi jika lari kita jadikan sebagai kegiatan yang membebani. Harus bisa berlari di pace tertentu sebagai contoh. Sebagai pemula kita hanya sanggup berlari dengan pace 9 misalnya (9 menit untuk menempuh 1 km), sementara teman-teman kita kebanyakan sudah berlari di pace 5 atau 6. Beban terlalu besar untuk kita pikul jika ingin loncat dari pace 9 ke pace 5. Prosesnya tidak secepat dan semudah itu. Kita masih perlu menyesuaikan banyak hal. Yang penting adalah kalaupun suatu saat nanti kita bisa berlari di pace 5, maka berlari di kecepatan tersebut harus nyaman untuk tubuh kita. Yang bikin tidak nyaman adalah ingin cepat-cepat loncat dari pace bebek ke pace kijang.

Keinginan untuk menyamai jarak lari teman-teman pelari lain juga bisa menjadi penyebab menguatnya runner’s block. Bayangkan, misalnya kita baru sanggup berlari nyaman 5 kilometer dan ingin sekali lari half marathon (21 km). Percaya deh, ini adalah loncatan yang tidak sehat. Terlalu berat tubuh dan mental kita melompat dari satu beban ke beban lain dengan disparitas yang begitu besar.

Intinya, kitalah yang paling paham kadar nyaman dalam berlari. Tak perlu dulu membandingkan diri dengan orang lain. Berlari adalah tentang mengalahkan diri sendiri, bukan mengalahkan orang lain. Memang ada saatnya kita sudah pada fase layak tarung dengan orang lain. Tapi di tahap awal, jangan lakukan itu karena engkau akan trauma dengan berlari. Atau paling tidak, runner’s block yang engkau rasakan di setiap akan berlari semakin menjadi.

Kuncinya adalah mempertahankan kenyamanan. Pelari konsisten bukan tidak mengalami lagi runner’s block tetapi sudah berhasil menjadikan lari sebagai aktivitas yang nyaman dan menyenangkan. Sementara pelari kambuhan masih belum berhasil menemukan rasa nyaman tersebut.

Yuk berlari nyaman. Salam pelari siput.

Credit foto: https://unsplash.com/@ndmphotography

BAGIKAN
Berita sebelumyaUtang yang Tertunda
Berita berikutnyaLima Pil Pahit Bisnis

LEAVE A REPLY