UNTUK kesekian kali, aku dengar lagi ungkapan “Kalau ingin kaya ya jadi pengusaha, jangan jadi karyawan atau PNS”.  Setiap mendengar hal ini aku merasa geli sendiri. Berapa besar sih persentase pengusaha yang benar-benar jadi kaya karena pilihan hidupnya itu? Memang aku belum punya data (masih nyari maksudnya). Tapi aku yakin, persentasenya kecil saja. Justru lebih banyak pengusaha yang masih bergelut dalam ombang-ambing untung dan rugi.

Memang, untuk memiliki harta melimpah dan sanggup beli ini itu, jalan yang paling masuk akal adalah jadi pengusaha. Tapi tentu saja dengan catatan ia pengusaha yang akumulasi keuntungannya sudah positif. Padahal, untung dan rugi dalam bisnis bagaikan musim kemarau dan musim hujan di negara tropis. Selalu datang bergantian, saling bertukar keadaan. Kalau sedang untung, alhamdulillah hati jadi senang dan pikiran tetap tenang. Tapi saat musim rugi datang, aduhai… pusingnya setengah mati.

Kondisi yang dihadapi pengusaha di “musim” rugi inilah yang jarang diketahui orang kebanyakan. Mungkin saja penyebabnya saat kita meraup untung mudah untuk terlihat dan mudah pula memperlihatkannya (pamer). Berbeda saat musim rugi melanda, kita cenderung akan menutupinya. Padahal sudah kehabisan jurus ngutang kesana kemari untuk mengamankan dana lancar.

Menurutku, kemampuan untuk tetap waras saat musim untung maupun musim rugi tiba adalah inti dari seni menjadi seorang enterpreneur. Di musim untung tetap waras untuk tidak lengah dan selalu bertindak rasional. Tidak belanja ini-itu yang tak penting. Sebab, seringkali kala kita dalam kondisi puasa panjang, saat dahaga yang sudah lama itu terbasuhkan, ada hasrat yang ikut-ikutan menggejolak.

Juga tetap waras juga ketika musim rugi menghadang. Sebab, kita tidak boleh mengajak karyawan ikut-ikutan sengsara. Seorang enterpreneur harus mau menanggung kesengsaraan itu sendirian. Nah…, kondisi inilah yang jarang diketahui oleh mereka yang belum merasakan menjadi enterpreneur.

Endurance seorang pebisnis akan terlatih saat menghadapi kedua musim ini. Apalah jadinya kalau enterpreneur cengeng saat laporan keuangan merah (rugi)? Cukuplah menangis sendiri, tapi tetap tampil tegar di hadapan semua orang.

Dalam setahun umumnya kita melewati dua musim. Sejak kecil kita sudah berdamai dengan kedua musim tersebut. Saat hujan harus rela kehujanan, bahkan kebanjiran. Bila kemarau tiba, jalanan penuh debu dan sulitnya mendapat air. Maka, dalam berbisnis kita pun harus berdamai dengan situasi ketika untung dan rugi.

Photo credit: https://unsplash.com/@worthyofelegance

LEAVE A REPLY